
"Lex...."
"Hah? Iya, sayang?"
"Kamu ngelamun? Katanya mau apa tadi?"
"Ah, iya. Itu.... Anu...."
"Anu apa?"
"Saling berolahraga, sayang. Namanya yang saling bercinta ya itu namanya. Kalau dibuku kamus bahasa lainnya, jurus enam sembilan."
"Hah? Jurus enam sembilan? Serius? Emang kita mau silat, Lex? Makanya pakai jurus segala?'' tanya Rose diantara aksi saling melempar kata yang mereka lakukan dan hal itu sukses membuat Alex tertawa keras.
"Ih, kok malah ketawa sih? Aku serius nanya?!"
"Hahaha.... Soalnya kamu itu lucu terus bikin gemas bangat, sayang. Jurus itu maksud aku ya namanya gaya bercinta gitu, cantik. Jadi gaya enam sembilan itu adalah aksi dalam bercinta bersama, tidak sampai seperti yang kamu pikirkan." jelas Alex mulai mendekati Rose.
"Aku ajarin ya. Soalnya aku gak bawa handphone tadi. Jadi gak bisa kasih lihat kamu yang ada seperti apa." katanya sembari merebahkan tubuhnya.
Rose pun menuruti dan bersiap untuk memulai, Tapi sekali lagi sang CEO menghentikan pergerakan itu.
"Bukan kayak begitu, sayang. Itu salah." ucap Alex sekali lagi sambil mengajarinya langsung dan Ternyata ia benar benar mengajarkan Rose sesuai dengan apa yang ia kehendaki.
Rose pun merona mendengar perkataan Alex, dan pelan tapi pasti, ia melakukan sesuai arahan sang CEO.
"Nah, gitu dong. Ayo sayang, Kamu mulai lakukan seperti yang biasa ya? nanti aku juga buat yang seperti tadi sama punya kamu." ujar Alex menarik tangan Rose.
Alhasil, Rose pun kini sudah berada tepat di depan Alex dan si gadis cantik juga melakukan hal yang sama. Apalagi jika bukan kebiasaannya tentang mengelus dan memainkan sang jun seperti pekerjaannya atau profesinya saat ini.
"Hm... Aromanya, God! Wangi sekali seperti parfum. Untuk kedua kalinya aku pengen banget ngelakuin hal kayak gini lagi, sejak si brengsek Nina pergi ninggalin aku. Dan lihat, belum apa apa udah semakin wet aja nih. Aku yakin bakal kecanduan lagi nih kayak dulu." Batin Alex terus mengamati benda yang begitu menggoda dan menggiurkan di matanya.
Bingung dengan dirinya yang terus saja duduk dan tanpa mendapatkan sebuah aba aba, Rose pun mengeluarkan cicitannya. "Lex....."
"Hah?" sahut Alex sedikit terkejut, karena memang dirinya saat ini sedang berada di dalam dunia khayalan tingkat tinggi.
"Ck! Ngelamun lagi ya? Terus aku ini harus ngapain, Alex? Capek tahu harus dengan posisi begini terus!'' omel Rose dan Alex kembali tergelak.
"Hahaha.... Siap, sayang. Kita mulai ya? satu dua tiga ....Eum.... Slurp..." Alex merasa bodoh dan kikuk di waktu yang bersamaan, lantas setelah ia berhenti tertawa, ia pun melakukan aksinya di sana.
"Alex! Ough...." pekik Rose secara tiba tiba.
Rose yang gemas pun segera melakukan aksi untuk si jun seperti biasanya dan kini keduanya seakan berlomba untuk saling merasakan dan memainkan satu sama lain.
"Ach.... Enak, sayang!" racau Alex pada akhirnya. Ia lantas kembali menikmati permainan itu.
"Ugh.... Ini udah semakin semakin aja nih, sayang!" racau Alex mengelus elus manja hingga membuat Rose bermanja manja.
"Tapi enak kan, sayang?" sahut Alex lagi, belum ingin berhenti melakukan itu.
"Ssh, Lex.... Ah!'' Rose pun memejamkan kedua netranya dan kali ini semuanya benar benar nyata, bukan hanya sekedar mimpi belaka.
Tangan Rose terus melakukan olahraga untuk si jun dengan perlahan dan ia pun mendapat nikmat yang baru pertama kali dirasakan sepanjang sembilan belas tahun hidup di dunia. Tak pernah ia bayangkan akan melakukan hal tersebut secepat ini, lebih lebih lawan mainnya adalah seorang CEO muda, tampan dan sangat menggiurkan.
"Sayang, dicolek lagi itu. Kok jadi gak semangat gitu? Kenapa? Enak ya?" goda Alex berhenti sejenak.
"Iya, Lex....Ini aku urut la---- Ough... Alex.... Ach!" teriak Rose benar benar lunglai.
Namun, ego dalam pikiran diisi kepala Rose tampaknya mulai berteriak akibat melihat tuannya mulai terkapar lemas, dan terus saja teriakan semangat terlontar hingga membuat gadis itu akhirnya mulai kembali melakukan tugasnya.
Rose kembali melakukan olahraga lagi dan lagi. Dan karena rasa geli yang terus ia dapatkan, maka sesekali ia menggelitikinya dengan jail.
"Ouh.... Sayang, enak!" racau Alex lagi.
Alex terus melanjutkan kegiatannya mengelus dan menikmati indahnya Rose layaknya seperti bunga rose, hingga akhirnya dunia gadis itu tiba tiba saja mengerucut ke satu titik.
"Ah.... Alex.... A--aku ma--mau... ouh .... Aku mau bua----, Lex. Aku----- Ough!" racau Rose melenggok lenggok ke arah belakang.
Sang gadis perawan pun mendapatkan apa yang orang katakan surga dunia untuk pertama kalinya.l
"Ugh.... Sayang.... Oh, my God! Udah lama aku gak ngerasain hasil olahraga seperti ini. Jadi pengen nambah." kekeh Alex.
"Ach, Alex! Udah dong, ah!" pekik Rose berusaha menjauh.
"Egh, gak mau. Enak aja. Jadi kamu jangan curang ya? Sekarang harus kamu harus olahraga. Ayo lakukan olahraga lagi sayang?'' celetuk Alex di depan Rose.
"Iya, tapi aku kan udah, sayang. Nanti aku gak konsen loh, Lex. Ayolah, Lex. Kayak biasanya aja biar cepat ya? kamu gak ingat mamamu? kalau tiba tiba datang kesini lagi gimana?'' jawab Rose membuat Alex terbelalak, mengingat bagaimana aksi aksi heroik Milea mengganggu kesenangannya sejak dulu.
"Sial! Benar juga. Ya udah, kamu turun deh sayang." perintah Alex yang langsung di patuhi oleh Rose.
Alex pun berganti posisi dan kini Rose sudah tepat sasaran untuk melakukan olahraga untuk si jun yang sudah tak karuan. Gadis itu lantas dengan penuh kelembutan melakukan olahraga itu lagi untuk membuat Alex mendapatkan apa yang dia inginkan itu.
"Ough.... Ini enak bangat, sayang!" racau Alex menyugar rambut Rose dengan lembut.
"Cepetan, Sayang! Soalnya si jun udah semakin---- Ouh!'' Alex tang sanggup berkata apa apa lagi akibat rasa nikmat yang menguasai dirinya saat ini.
Alex hanya bisa saja terus menyugar rambut panjang Rose yang hitam legam, dengan mata tertutup dan sesekali terbuka menatap gadis kesayangannya itu. Sungguh, jutaan rasa beredar di sana. Tentang masa depan yang entah apakah bisa ia gapai untuk mereka berdua nantinya.
Tak jauh berbeda, di tengah aksi yang Rose lakukan pada Alex, ia juga sudah memikirkan segala sesuatunya. Ia yakin hatinya akan benar benar sakit dan rusak dalam waktu bersamaan, karena entah bagaimana hal tersebut bisa terjadi, perasaanya pada sang CEO nyaris sama banyaknya dengan cara dirinya mencintai mendiang kedua orang tuanya.
Rose pun membatin sembari terus melakukan olahraga untuk sang jun. "Aku tau, aku ini gembel yang gak pantas buat kamu, Lex. Setelah ini, mungkin aku akan berusaha menjaga hatiku supaya hubungan kita ini hanya sebatas------"