
" Hai, sayang. Aku udah kangen bangat sama olahraga yang kamu lakukan. " lirih Alex bersuara seperti anak balita, tanpa rasa berdosa, membuat Rose tidak dapat lagi menahan diri untuk tak menertawakan tingkah sang CEO.
" Kamu tuh, Jun. Kayaknya sehari gak bisa deh kalau gak ketemu sama kamu. Kamu ini gak kasihan apa sama tuanmu? " sahut Rose ikut bersuara seperti yang Alex lakukan.
" Makanya ayo cepat dibantuin ya, sayang. Biar si jun gak menyiksa aku terus. Mau kan? " perintah Alex secara halus, melempar rayuan maut dengan cara memegang lembut dagu cantik Rose.
Tak lama kemudian, Rose pun melakukan hal seperti sebelum sebelumnya untuk Alex, lalu tidak lama kemudian si Jun sudah melakukan olahraga.
" Ough, God! Ini luar biasa, Rose.... Ugh.... Nikmat bangat sayang.... Enak bangat! Ach, Yes! " tentu saja Alex mulai meracau tak jelas, akibat dari permainan olahraga wanita cantik dan kesayangannya itu.
Tak ada yang lebih nikmat daripada itu menurut Alex untuk saat ini, karena memang dirinya belum pernah beraksi lebih. Melakukan hal yang lebih meski hal tersebut sangat ingin ia lakukan. Ada perasaan tak rela yang selalu merongrong di dalam hatinya, terutama jika harus mencampakkan ketika berhasil merenggut kesucian.
Rose pun terkekeh dalam hati mendengar seruan nikmat Alex, mempraktekkan apa yang sudah sang CEO ajarkan padanya.
Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Alex benar benar sangat mengerang. Bahkan intonasi suaranya semakin melengking. " Ugh... Sialan! Enak banget, sayang. Ugh....Yes! Yang lebih lagi dong, say---- Yeach.... kayak gitu! Iya, sayang!---- Ouh, shitt! "
Rose terus saja melakukan olahraga bersama si jun itu tanpa mau mempedulikan suara frontal Alex, hingga lima menit waktu sudah bergulir dan menyisakan gejolak yang semakin terasa disekitar sana.
Brak!
Brak!
Brak!
Brak!
Sialnya tak lama kemudian suara keras dari gedoran pintu utama apartemen terdengar di telinga Rose, sehingga dia pun berhenti.
" Pop! Lex, itu apaan ya? Kok keras bangat mukulin pintu apartemennya? " tanya Rose menampakkan keningnya yang berkerut dalam.
" Ck! Ini pasti ulah si Jhonny! Mau apa sih tuh orang malam malam gini datang kesini? Gangguin orang lagi asyik aja! Sial benar! Argh! " Alex yang sedang menunggu pelepasan dengan sangat kesal harus menerima keadaan yang menjengkelkan itu. Mengeluh dan mengumpat keras di hadapan Rose.
"Bukan kali, Lex. Jhonny bilang malam ini tuh dia mau ke Depok ke tempat emaknya gitu tadi. Jadi gak mungkinlah yang diluar itu dia. Coba aja kamu telepon nomornya aja dulu." sahut Rose, yang semakin khawatir, bahkan kini ia sudah berdiri dari posisi duduknya.
Brak!
Brak!
Brak!
Brak!
Brak!
Brak!
Suara gebrakan di pintu hunian milik Alex bahkan terdengar lebih banyak daripada sebelumnya, tetapi yang dilakukan sang tuan adalah sebaliknya, mencoba untuk tidak peduli sama sekali.
"Ya udah, aku telepon dulu deh. Tapi kamu jangan berhenti lagi dong, sayang. Kok malah berhenti, sih? Si jun tadi padahal udah mau selesai tuh. Masih mau, kan?" jawab Alex membelai pipi Rose dengan lembut, setelah ia pun ikut berdiri seperti gadis di hadapannya.
Brak!
Brak!
Brak!
Brak!
"Ck! Tapi, Lex? Itu pintunya aja masih bunyi bunyi terus tuh. Gimana dong? Jangan jangan yang ada di depan sana polisi lagi? Aku takut, Alex! Gimana dong kalau kita digerebek massa?" cicit Rose yang mulai bawel akibat melihat tingkah santai Alex.
Tak tahu harus berkata apa di tengah rasa sakit yang masih bergumul di dalam dirinya, Alex pun mencoba menenangkan Rose. "Sayang, itu mungkin orang mabuk yang salah nomor apartemen kali. Soalnya, dulu dulu oas aku tinggal disini, emang kayak gitu tabiat tetangga sebelah tuh. Dia orangnya suka mabuk mabukan gitu di klub malam, terus pas pulangnya nyasar deh kayak sek----"
Brak!
Brak!
Brak!
Brak!
"Tuh kan, sayang? Kamu coba pikir deh. Masa ada orang waras dan normal yang mukulin pintu apartemen dengan keras begitu tengah malam begini? Udah gitu kayak orang lagi kesurupan setan aja gaya gedor gedornya, kan? Cuma orang mabuk aja kali yang kayak gitu bawaannya, sayang. Ya gak, sih?" sambung Alex menjelaskan opsinya, setelah beberapa detik lalu ucapannya sempat terhenti akibat suara keras dari balik pintu kembali terdengar sebanyak empat kali.
Rose pun melontarkan pertanyaan atas rasa ragu yang bergelayut manja di dalam isi kepalanya. "Beneran, Lex? Itu beneran----"
"Beneran, sayang. Kamu gak percaya sama aku?" membuat Alex semakin pusing harus menjawab apa, tetapi dia berusaha untuk tetap tenang.
Alex menggunakan cara tarik ulur dan membuat Rose merasa bersalah di sana. "Ck! Bukan gitu, Lex...."
"Lah, terus kenapa masih nanya lagi? Emangnya ada untungnya kalau aku bohongin kamu?" Lebih lebih ketika wajah meragukan itu masih terpampang jelas di kedua bola mata Alex.
Keduanya pun kini terlibat pada percakapan singkat. "Em.... Gak...."
"Nah, kan? jadi gimana? Kamu gak mau lagi bantuin si jun ya?" tentang dua opsi. Percaya dan tidak percaya.
"Ya, bukan gitu, Lex. Aku pasti bantuin kok." Alex yang merasa semakin terdesak, semakin keras memutar otaknya untuk bisa kembali merasakan nikmatnya belaian dari sang Rose, dan ia pun berhasil.
"Kalau gitu kamu tunggu apalagi, sayang? Ayo buruan. Kalau terus kayak gini sakit bangat, sayang...."
Rose berkata, ia akan menyanggupi apa yang Alex inginkan tentang kebutuhannya itu. Jadi, itulah sebabnya mengapa kini telapak tangan laki laki itu meraih pergelangan tangan si cantik, dan mengajaknya untuk kembali duduk.
Rose lalu melanjutkan aksinya lagi akan tetapi untuk kesekian kalinya suara gedoran pintu membuatnya merasa tak nyaman. Demikian juga dengan Alex, yang semakin merasa kesal di sana.
Brak!
Brak!
Brak!
"Lex... katanya mau telepon bang Johnny tadi? Kok malah merem melek aja, sih?" hanya saja rasa nikmat yang timbul dari bibir Rose membuatnya bisa menepis semua bunyi keras dari arah pintu apartemen itu. Namun, berbeda hal nya dengan Rose, hingga dirinya terpaksa menghentikan aktivitas panas tersebut untuk mengeluarkan pertanyaan.
"Maaf, sayang. Iya ini aku marahin dia nih. Ganggu kesenangan orang aja!" gerutu Alex menyalakan ponselnya.
Namun, alangkah terkejutnya Alex ketika melihat ada satu notifikasi pesan di ponselnya dan ternyata pengirimnya sang ibu.
Dengan cepat Alex segera membuka dan membaca pesan itu, kemudian terbelalak akibat isi pesan yang lagi lagi membuat jantungnya hampir copot.
Massage from Mama.
Alex! Kamu mau buka pintu apartemen kamu ini sekarang juga atau mama bakal minta tolong pengelola apartemen untuk cari tahu cari tahu berapa kode akses yang sudah kamu ganti ini! Mama, gak main main ya, Lex! Kami juga bakalan mama coret dari kartu keluarga Van Laode!
"Sayang, cu....kup say--- Ough, yeah! Cukup, sayang. Mama ada di lu--- Ach.... Mama... ada di luar, sayang." racau Alex, akhirnya membuat Rose berhenti melakukannya.
Tak pelak, kedua bola mata Rose pun membesar, bahkan nyaris terpelocok keluar. "Terus gimana, Lex?"
Serupa dengan Rose, tak ada pilihan yang paling aman untuk Alex selain mencari tempat persembunyian. "Mama gak bisa masuk soalnya kode pintu apartemen ini kamu ubah. Jadi----"
"Bukan aku yang mau. Itu Johnny yang kasih saran, Lex. Katanya emang karena mantan mantan kamu udah pada tahu kode itu. Jadi pas dia suruh ganti kode yang baru, ya aku mau mau aja." potong Rose memberi penjelasan, karena ia jelas tidak mau disalahkan dalam hal itu. Entah di pandangan Alex, maupun dirinya jika harus benar benar terpaksa ketemu sama ibu kandung sang CEo nanti.
Brak!
Brak!
Brak!
Brak!
Sadar akan kekesalannya di tengah gedoran pintu yang ibunya lakukan, Alex kini langsung menjawabnya. "Iya. gak apa apa, sayang. Untung juga kamu udah ganti kodenya itu. Cuma sekarang ini kamu harus sembunyi dulu ya, sayang? Soalnya mama bilang dia mau ketemu sama pengelola apartemen ini di bawah untuk tanyain kunci cadangan apartemen ini."
"Ya! Seriusan ini, Lex? Aduh! Gimana dong? Aku bakalan diomeli gak ya? Atau dijambak?" tanya Rose yang benar benar ketakutan hingga kedua matanya pun mulai memerah.
Sadar akan ketakutan Rose, dengan cepat Alex pun memberi jawaban untuk menenangkan gadis itu, karena memang bukan seperti ini yang dia mau.
"Gak sampai gitu juga, sayang. Biasanya cewek bayaranku yang lain itu suka dimarahin efek dikira mereka godain aku gitu. Ya udah kamu jangan panik ya? Mendingan kamu sembunyi di.... Ah! di bawah kolong tempat tidur aja-----"
"Apa? Kok dibawah kolong tempat tidur? Itu pengap bangat, Alex!" potong Rose yang sudah mengeluarkan beberapa buliran air mata dari kelopak matanya.
Auto panik, Alex langsung mengusapnya dengan kedua ibu jarinya dan kembali membujuk Rose. "Sayang, jangan nangis dong. Aku gak bermaksud buat kamu sesak nafas atau gimana, Badan kamu kan kecil, sayang. Jadi gak apa apa dulu ya kalau kamu ngumpet di sana?"
Alex menatap sedih ke arah Rose, tak tahu harus bagaimana lagi menghadapi sikap ibunya yang terlalu egois. Gadis itu segera menyeka bibirnya dengan kaos yang ia kenakan, lalu merunduk dan segera masuk ke kolong tempat tidur.