I Like Your Sexy Lips

I Like Your Sexy Lips
Bab 27



"Bagaimana bisa Anda memakai baja dengan kualitas nomor dua sementara dalam proposal yang anda berikan kemarin, tertulis jelas saya akan menerima mesin diesel buatan The Laode Corporation dengan baja nomor satu?! Sangat - sangat tidak berkualitas karena ternyata seluruh mesin buatan anda tidak dapat berfungsi dengan baik, Mr, Alex!'' amuk Luke Chang saat meeting baru saja dimulai. "Anda lihat sekarang apa hasilnya?! Di pabrik saya, keadaan stop produksi terjadi hampir enam jam akibat dari kerusakan ribuan mesin diesel yang kami order dari anda! Dan inilah alasan mengapa sampai saya menginginkan meeting mendadak ini segera terlaksana. Jelaskan! Tim yang anda bawa semua dari Jakarta ini salah satunya mengetahuinya, bukan?!'' lanjut Luke yang sungguh membuat Alex tak dapat menutupi amarahnya.


"Brengsek! Jelaskan ini semua padaku! Katakan siapa pelakunya, Badron!" Alex berdiri, dan langsung menarik kerah kemeja Manager Produksi di sampingnya.


"Sa....saya .... Saya tidak ta...tahu, Pak!'' gugup Badron yang langsung terduduk kembali di tempatnya, akibat Alex dengan kasar melepaskan cengkeramannya.


"Anda harusnya mencoba terlebih dahulu sebelum di kirim ke Kami, Pak ALex. Dan juga pencarian awal sabotase ini jelas berasal dari bagian engineering di pabrik anda yang memproduksi mesin mesin diesel ini!" Manager produksi Perusahaan Adara akhirnya angkat bicara setelah dipersilahkan berbicara oleh Tuannya - Luke Chang.


"Baiklah, Mr. Luke apa yang harus saya lakukan agar kerja sama kita ini tetap dapat berjaan dengan baik?" tanya Alex menyikut lengan Ira, seolah memberi kode agar semua perkataan rekanan bisnisnya itu dicatat ke dalam notulen rapat.


"Lima ribu mesin diesel baru yang benar benar dibuat sesuai kontrak kerja sama, Mr. Alex. Dan tolong diuji kelayakan mesin Anda sebelum dikirim kemari. Saya sendiri yang akan menyediakan kapal dan peti kemasnya agar tak terjadi kecurangan lagi!'' tegas Luke menekan suaranya.


Alex hanya bisa menghela nafas gusar dan itu berarti budget di bagian produksi akan kembali membengkak akibat kecurangan yang belum ia ketahui, karena pabrik tersebut berada di Sidoarjo.


"Baiklah, Mr, Luke. Tolong beri kami waktu untuk menyelesaikan permintaan Anda, dan juga jika diijinkan, apakah kami boleh mengambil kembali produk gagal itu?''


"Tentu Mr. Alex. Maka itu saya katakan tadi, bahwa saya sendirilah yang akan menyiapkan kapal tongkang dan juga peti kemasnya. Karena kapal itu akan berangkat dari Singapura menuju ke Jakarta, membawa barang barang gagal produksi ke perusahaan Anda. Saya beri fasilitas ini secara gratis! Anda tak perlu membayar sewanya, karena Istri saya tidak mau Adiknya saya teror!" sahut Luke menarik satu sudut bibirnya.


"Adik?!'' tanya Alex ikut terbelalak.


"Merry Claudia Chang adalah keponakan ibu anda, bukan?''


"Kamu suaminya Irres?'' Alex terlihat seperti orang tolol di tengah banyak pasang mata yang menatapnya.


"Tentu saja! Kamu pikir kenapa aku mau bekerja sama dengan playboy sepertimu jika bukan karena Irres? Lihat kan apa yang terjadi di perusahaanku? Cepat kau ganti barang tidak berkualitas milikmu dan cepat pula kau penjarakan Manager Engineering yang bekerja dari jaman Uncle Guen masih memimpin itu! Orangku sudah lebih dulu tahu daialah pelakunya!'' jawab Luke membongkar hasil penyelidikan yang sudah lebih dulu ia lakukan pada akhirnya.


"Kau yakin?''


"Kau telepon Irres dan tanyakan padanya saja, harusnya kau itu ikut bekerja terlebih dulu sebelum mengambil alih perusahaan papamu! Bukan hanya sibuk menjadi penjahat kelamin. Huh.... Adik Ipar yang payah!"


"Apa kau bilang?!'' pekik ALex menahan malu di depan para peserta meeting.


"Ck! Sudahlah. Kita lanjutkan besok pagi lagi meeting ini. Sekalian aku akan bawa bukti yang akurat tentang perkataanku tadi. Ingat! Irres sebulan lagi akan melahirkan anak pertamaku. Jadi jangan bekerja terlalu lama! Aku adalah pribadi yang sangat tidak bisa jika disuruh menunngu!'' sahut Luke, berdiri dan melenggang pergi dari ruangan rapat.


Alex pun mengacak rambutnya dengan kasar, dan helaan nafas berat ikut terdengar di sana.


"Aku akan memotong setengah gaji kalian, jika dalam sebulan lima rubu mesin diesel baru dengan bahan yang sesuai standart produksi kita itu tidak segera selesai!"


"Yah, Pak?'' seru beberapa karyawan yang tergabung dalam tim untuk perusahaan Adara itu serempak.


"Aku tidak main main! Kalian dengar yang Mr. Luke katakan tadi? Awasi dan tangkap si pengacau itu, sebelum dia kabur dan membawa lari uangku!" ucap Alex meninggikan suaranya.


***********


Rose kabur dari kamar mandi dengan tubuh yang sangat dingin dan bergetar. Sisa tangisannya masih saja terlihat, tetapi tak ada yang menenangkan kegalauan hatinya. Duduknya pun tak tenang di pinggir tempat tidur, akibat ponsel di atas meja nakas kiri menjadi objek pandangan kedua matanya.


"Aku salah! Aku sangat salah. Aku yakin setelah ini Alex pasti gak akan mau datang ke sini lagi, terus bagaimana sama kuliahku?" lagi lagi Rose masih saja berpikir tentang masa depannya.


Tangannya terulur ingin menyentuh ponsel pemberian sang CEO, tetapi pintu kamarnya lebih dulu menimbulkan bunyi yang sedikit mengejutkannya.


Tok tok tok tok.....


"Siapa itu?'' refleks Rose sedikit was was.


Hal tesebut tentu saja karena ia paham perangai Alex yang tidak akan mungkin masuk ke kamar dengan cara mengetuk pintu, dan pintu pun sedang tidak di kunci saat ini.


"Gue, Rose! Jhonny,'' sahut suara dari balik pintu.


"Oh, Tunggu sebentar. Aku ganti pakaian dulu!' Rose berteriak, lalu cepat berdiri menuju arah lemari pakaian.


Di apartemen tersebut memang tidak terdapat walk in closet, dan setelah ia menemukan pakaian apa yang ingin ia kenakan, melengganglah Rose menuju ke kamar mandi.


Jhonny pun membuka tudung saji dan membelalakkan mata akibat telor ceplok yang sukses membuat air liurnya hampir meleleh.


"Eh, buset! Ada nasi goreng pakai telor ceplok, Bro! Pakai sosis lagi! Coba kita rasain dikit nih sosis campur sambal botol. Enak gak ya?" Jhonny berkata sembari mengambil sepotong sosis dan juga meraih sambal botol yang terletak tak jauh dari situ.


Jhonny melumuri sosis goreng buatan Rose dengan sambal botol. Sayangnya saat makanan tersebut akan masuk ke dalam mulutnya, gadis itu sudah lebih dulu merebut sosis tadi dari tangan Jhonny.


"Ini punya aku, Jhonny. Aku buatkan untuk Alex tadi. Enak aja asal comot sembarangan. Kalau kamu mau, ada syaratnya,'' Rose terkekeh di sela ucapannya akibat wajah Jhonny yang masam.


"Ah, elo mah pelit bangat! Timbang sosis sepotong doang, pakai acara syarat segala. Kalau tadi gue mau ajakin lo kawin, abru deh tuh ada syaratnya kali. Yang pertama, harus pakai ****** biar jangan hamil duluan. Kedua, harus keluarin punya kamu duluan baru di tusuk. Gitu baru kece. Rose. Iya, gak?'' sahut Jhonny yang membuat Rose segera mengambil botol kecap dan hampir melemparnya.


"Maaf, Rose! Gue bercanda!'' kekeh Jhonny mencoba menghindar.


"Aku serius, Jhon. Kamu boleh makan semua nasi goreng ini tapi, kamu harus dengarkan cerita aku dulu,'' ujar Rose kini menampilkan waja sedihnya.


"Cerita? Udah kayak Kak Seto aja lo hobby bercerita. Cerita apaan nih? Dongeng bawang putih dan bawang merah?'' kekeh Jhonny menarik kursi meja makan dan duduk di sana.


Rose merengut tak menjawab perkataan Jhonny, tetapi ia pun akhirnya ikut mengambil tempat dan duduk di depan Jhonny.


"Ya, udah. Lo cerita dah sekarang. Sekalian juga nanti lo mau kuliah di kampus mana sama ambil jurusan apa? Soalnya tadi gue ditugasi sama si Bos buat----"


"Hah? Tugas? Tugas apaan, Jhon? Kok aku gak tahu?'' sanggah Rose.


"Ya tugas antarin lo daftar kuliah dong, apa lagi?'' sahut Jhonny menarik piring nasi goreng dan bersiap menyantapnya.


"Kamu serius, Jhon? Alex emang nyuruh kamu anterin aku buat daftar kuliah? Tapi tadi kami lagi marahan, Jhon. Aku buat salah karena gak mau melakukan itu sama aku.''


"Ukhuk ukhuk ukhuk ukhuk....'


Jhonny seketika tersedak nasi goreng dan telor ceplok akibat ucapan polos Rose, dan gadis itu pun segera membubuhkan air untuknya.


Namun, Jhonny tidak segera menjawab gerutuan Rose, melainkan terus saja meneguk air putih dalam gelas hingga tandas.


"Lo bilang apa tadi? Bos paksa lo buat ML?'' selidik Jhonny.


"ML? Apaan ML, Jhon? Makan Lumpia?''


"Astaga!'' ucap Jhonny tertawa keras. Ia benar benar tak menyangka jika gadis di depannya ini begitu polos, sekaligus semakin paham mengapa tuannya kini tergila gila pada Rose.


"Lo tuh ya, Rose. Polos banget, sih? Mana pintar masak. Nih habis nasi goreng lo sebentar lagi, pinter ngisep juga lagi. Pantesan aja si Bos hampir melakukan itu.'' lanjut Jhonny pecah tertawa, dan membiarkan Rose melemparnya dengan serbet makan di meja.


"Aku seriusan, Jhon. Dia tadi marah gak sih, pas keluar dari sini?'' serius Rose yang tergambar dari kerutan di kening datarnya.


"Iya sih, emang! Auranya gak banget deh tadi. Gue pikir kenapa? Eh, ternyata itu toh akibatnya. Emang kenapa kamu gak mau digituin? Enak tau. Beugh... Rasanya kayak melayang ke langit gitu deh.''


"Ya enak sih enak! Tapi kan aku masih perawan, Jhon. Lagian juga perjanjian yang ALex buat kemarin, gak pake acara begituan juga! kalau kaya gitu ya aku mana mau!"


"Yakin nih?'' tanya Jhonny mendesahkan suaranya. "Si jun Alex itu gede bangat loh, kalau udah tegang aja------''


"Loh, kok kamu tau? Jangan jangan-----''


"Gue masih doyan apem, Rose Van Houteen. Ampun dah nih anak!'' celetuk Jhonny tertawa keras.


"Ya habisnya kamu ngomong begitu. Ali kan jadi mikir yang enggak enggak.''


"Itu karena gue sering gak sengaja lihat, pas dia nyuruh aku ke kamar buat tolongin sesuatu, Rose. Tapi bukan tolongin itu ya kayak lo. Amit amit dah! Gue masih normal pake bangat. Seriusan kalo lo gak percaya, kita coab aja.''


"Pret! Aku bilangin sama Alex kamu ya? Mau?''


"Egh! Jangan jangan! Mati mendadak gue ntar!'' cegah Jhonny.


"Ya makanya jangan godain aku. Nanti dimarahin Alex lagi." Rose berujar sembari mengambil piring bekas makan Jhonny.


"Lah, biarin aja gue cuci sendiri. Lo mendingan siap siap sana ganti baju. Pakai kemeja sama celana jenas gitu kek, soalnya kita harus daftarin kamu kuliah dulu!''


"Sekarang, Jhon?''


"Astaga, Rose! Ini itu bulan September. Sebentar lagi pendaftarannya ditutup kali. Lo ini calon mahasiswi apa calon pelawak sih, Rose? Ya ampun! Polos iya, egh lucu juga. Bikin gue gemes pengen seret lo ke kamar.'' kekeh Jhonny membuat Rose berlari ke kamarnya.


"Dasar otak mesum tuh, Jhonny. Ngeri juga kalau serumah cuma berdua sama dia Mendingan cepetan deh perginya, biar habis itu dia pulang dari sini. Tapi Alex...." batin Rose meraih ponselnya, "Apa harus aku duluan yang telepon dia? Duh.... Aku takut tapi. Gimana kalau dia marah dan ngamuk ngamuk sama aku? Terus juga kalau dia gak mau datang lagi kesini gimana?''