
"Terus enak gak?'' goda Guen The Laode.
"Enak bangat, Pap. Alex tadi pas sebelum kesini sih, pengen nambah lagi. Cuma Rose kan kemarin kemarin gak mau Alex ajak main tusuk tusukkan. Sampai teman kampusnya yang gila itu kasih minum dia obat perangsang dulu baru Alex bisa gituin dia. Makanya, tadi langsung Alex bawa kesini. Soalnya dia mau bunuh diri, Pap. Alex bisa gila kalau gak ada dia lagi."
"Dari cerita yang Papa tangkap, sepertinya itu hanya karena keadaan. Coba kamu tempatkan dirimu diposisi pacar kamu itu, Lex. Kamu tidak punya orang tua lagi, kamu juga hidup numpang sama pamanmu, terus tiba tiba pamanmu mau nikahin kamu, sampai di ujung kamu tiba ditempat yang harus kehilangan hal paling berharga dalam hidupmu. Apa yang akan kamu lakukan? Kalo Papa sih, jelas gak akan kuat kalau gak ada Mamamu. Papa tidak bisa hidup susah dan saat kami kembali ke Indonesia pun, pikiran Papa untuk menceraikan Mamamu dan kembali ke Madrid itu sangat besar dulu," kenang Guen The Laode. "Walaupun dia keras dalam hal mendidikmu, tetapi itu semua dia lakukan demi kebaikan kamu. Dia tidak ingi kamu mendapatkan pendamping hidup yang salah. Mamamu ingin wanita itu nantinya bisa menjadi penopang hidupmu di kala rapuh. Ketika perusahaan sedang bermasalah, dia bisa membantu meringankan dengan beberapa ide segarnya dan tentu saja menjadi obu yang baik untuk anak anakmu. Itulah sebabnya, mengapa dia begitu protektif sama kamu, Lex. Karena hanya kamu yang kami miliki. Dia sudah tidak dapat lagi mendapatkan apa yang dia inginkan sejak Papa menderita Varises di organ vital. Kualitas ****** Papa pun kata Dokter sangat buruk dan-----"
"Cukup, Pa. Alex sudah tahu kisah hidup papa dan mama yang itu. Jangan buat diri papa merasa bersalah terus. Bagaimanapun, Papa adalah kepala rumah tangga di keluarga ini. Jangan karena Papa yang tidak bisa keinginan Mama, maka sikap mudah mengalah itu terus terusan terjadi. Alex gak mau Papa diam aja saat Mama mendominasi apa yang menurut papa benar. Itu salah dan untuk opini papa tentang sikap mama yang super memilih soal pendamping hidup Alex, mungkin ada benarnya juga. Tapi Alex gak bisa menerima apa yang mama mau untuk saat ini, Pap. Bisa gila kalau disuruh harus ninggalin Rose dari hidup Alex sekarang. Gak bisa, Pap." lirih Alex benar benar nampak down dengan pandangan matanya yang jauh menerawang ke depan.
"Kalau gitu, kamu hamilin aja dia. Gampang kan?" sahut Guen sukses membuat Alex kembali keluar dari dunia khayalnya.
"Lah, terus kalau mama masih tetap gak kasih ijin----"
"Gak mungkin! Papa paling tau seperti apa Mamamu itu. Dia sangat ingin punya cucu, efek yang papa ceritain tadi tuh soal sakitnya papa. Asal aja nanti kamu harus selalu rajin kasih pengertian sama Rose," sahut Guen membuat Alex kebingungan.
"Maksudnya apa, Pap?''
"Ya kasih pengertian kalau anak kalian bakalan nempel terus sama Omanya dong. Apalagi? Bisa aja kan Rose gak terima kalau mama sering ajak anak kalian tinggal disini, atau tidur bareng kami berdua. Benar kan?''
"Itu malah lebih baik kali, Pap. Jadi Alex sama Rose bisa sering sering berdua. Iya kan?'' sahut Alex membuat kedua pria itu kembali tertawa lepas.
"Kamu paham yang saya katakan dari tadi?''
"Pa....paham, Bu." sahut Rose menahan air matanya.
"Suami saya tidak bisa memberi keturunan lagi dam sudah saya ceritakan juga detail keluarga saya padamu. Saya ingin menantu yang bisa membuat hidup anak saya lebih baik, karena kalau seandainya The Laode Corporation tiba tiba jatuh bangkrut dan terlilit hutang, sudah sangat jelas tidak akan ada lagi yang bisa dipertahankan selain merelakan kerja keras kami disita oleh orang orang," ujar Nyonya Milea kembali memberikan opininya. "Jika seandainya Alex menikah dengan anak dari salah satu kolega bisnis kami, tentu saja ada harapan untuk melebur perusahaan agar Alex tetap bisa hidup layak dari pada dia masuk penjara bukan? Kamu kan Mahasiswi Ekonomi. Harusnya kamu tahu dong sedikit tentang bisnis seperti apa. Iya kan?" Lalu pecahlah bendungan air mata yang sejak tadi di tahan Rose.
Perkataan Nyonya Milea memang tidak bisa ia salahkan, karena kemungkinan itu bisa saja terjadi di kemudian hari.
Sementara Rose hanyalah anak yatim piatu, dan apa yang akan bisa ia lakukan ketika The Laode Corporation benar benar di ambang kehancuran?
"Sa--saya permisi pulang dulu kalau begitu, Bu!''
"Silahkan. Saya tidak mengusirmu dari rumah ini. Saya hanya bercerita dan pikirkan apa yang saya katakan sejak tadi, jika memang kamu benar benar mencintai anak saya!'' tegas Nyonya Milea dan Rose hanya menganggukkan kepalanya. Ia masih sempat mengambil telapak tangan ibu kandung Alex, dan mencium punggung tangan si Nyonya rumah sebelum berlalu dari sana.
"Kamu sebenarnya baik, Rose Van Houteen. Kamu juga asli keturunan Tionghoa sepertiku. Hanya saja kamu bisa menunjang apapun seperti aku saat Guen harus di usir dari keluarga The Laode dulu. Ibu mana yang akan rela melihat anaknya hidup menderita. Mungkin itu masih bisa aku ampuni dan merangkul kembali kalian ketika kemarahanku mulai mereda. Tapi jika perusahaan sampai jatuh bangkrut? Apa kamu juga bisa memberi modal seperti yang papaku lakukan untuk Guen dulu? Hidup Alex jelas akan susah, Rose. Bahkan aku dan suamiku pun akan ikut terkena imbasnya, karena papaku sudah meninggal dan tidak mungkin aku meminta harta bagian saudaraku yang lain sementara mereka juga punya keluarga masing masing. Hidup itu harus berpikir realistis dan aku lakukan ini demi bisa membuat kebahagiaan itu terus ada dalam keluargaku."