
Sekakmat!!
Tubuh Alex sedang menegang di sana. Kini ia baru sadar dengan apa yang sudah dikatakan, setelah wajah ibunya muncul seketika.
"Apa? Kenapa diam aja, hah? Lepasin aku kalo gitu!'' kembali Rose memberontak, minta dilepaskan.
"Kita lihat vidio CCTV nya dari hape saja, sayang? Nanti aku minta sama ----"
"Gak mau! Bisa aja kamu suruh orang kantor kirimin CCTV yang kemarin atau bulan lalu punya!''
Hening! Rose memang gadis yang polos, tetapi ia tidak bodoh. Mau tak mau Alex pun tak bisa lagi mengelak, sebab jatuh cinta telah membutakan semua rasa takutnya pada sang ibu.
"Ya, udah. Ayo kita ke kantorku sekarang!''
Alex mengurai pelukannya, menatap dua bola mata indah Rose untuk beberapa detik, lalu menggandeng pergelangan kekasihnya agar melangkah menuju ke mobil.
"Lepasin! Bukan berarti kita udah baikan, ya? lagian aku bukan si Mbah Tua. Jadi aku masih bisa berjalan sendiri!"
"Ya ampun, sayang. Ini kan kita mau ke kantor. Jangan sensi gitu dong. Kamu kalo kayak gini bikin aku tambah gemes, kan.... Bawaannya pengen aku kecup aja sekarang sampe banjir."
Blush.....
Merah lah pipi Rose seketika itu juga, tetapi keegoisan mengalahkan segalanya, dan si cantik memilih untuk lebih dulu melangkah.
"Ya, ampun! Mati gue kalo si Sayang marahnya pake acara bersambung sampai besok. Lah, si Jun udah gak karuan dari tadi. Seandainya hari ini jatahku ditunda sampai besok, apa gak nyut nyutan lagi ini kepala?" gumam Alex dalam hati sembari melangkah lebar juga.
Kedua pasangan yang baru saja beradu mulut hebat itupun melesat ke kantor utama The Laode Corporation, dan sepanjang perjalan Rose hanya diam tanpa mau bersuara.
"Sayang..... Kamu jangan marah marah terus dong sama aku. Itu kan foto lama, sayang. Percaya dong sama aku. Itu pasti kerjaan si mantan sekretaris gila yang naksir berat sama aku. Aku yakin seribu persen." Alex tak henti hentinya berceloteh sepanjang perjalanan.
******* nafas kasar pun akhirnya terdengar juga di telinga Alex, sehingga ia pun berhenti untuk melanjutkan perkataannya.
"Enak banget ya kamu. Tiap hari bisa terus hepi hepi. Di kantor ada yang bisa kamu suruh suruh buat memuaskan si Jun. Terus pulang kantor, ada pacar kamu juga yang bisa di suruh. Tapi sayang, dia cuma dapat bekas mouth dari wanita lain!''
CIT......
"Aduh! Mati aku!'' pekik Rose.
Hal tersebut karena kaki Alex dengan cekatan menginjak pedal rem, dan penyebab utamanya tentu saja ocehan pedas Rose yang membuat jantungnya hampir saja melompat keluar.
"Aku bukan seperti itu, Rose Van Houteen! Aku cinta sama kamu. Sejak kita ketemu, Aku bahkan gak pernah mau berbagi tubuhku ini dengan wanita lain. Jadi tolong hargai perasaanku!''
Sungguh! Saat itu rona merah tua tiba tiba saja tersembur dari wajah cantik Rose. Untung saja beberapa kendaraan lain di belakang mobil Alex terus membunyikan klakson, sehingga kini mereka kembali bergerak. Kendati demikian, atmosfer dalam mobil tak lagi bisa diselamatkan Alex.
Emosinya sangat tidak stabil saat ini, dan bukan Rose yang sangat dipersalahkan. Akan tetapi si genit Ira adalah orangnya.
"Awas lo, ******! Gue akan buat lo tahu siapa gue yang sebenarnya nanti!" batin Alex mengamuk.
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di Basemen The Laode Corporation. Dari tempat tersebut pula, Alex menyeret Rose dengan kasar menuju lantai sepuluh. Tujuannya hanya satu, yaitu membawa sang pujaan hati menuju tempat dimana puluhan layar televisi berukuran delapan belas inch itu berada. Dari sana mereka dapat melihat, aktivitas apa saja yang terjadi di setiap sudut The Laode Corporation.
"Lex, sakit! Lepasin tangan ak----"
"Aku gak akan lepasin, Rose! Jangan minta aku lakukan hal bodoh itu, sampai kapan pun juga! Kamu milikku dan begitu juga sebaliknya, aku adalah punyamu selamanya!" tekan Alex saat Rose merengek minta di lepas.
Sekali lagi mulut Rose tidak dapat merangkai perkataan apapun untuk membahas ocehan Alex, selain tersipu malu dengan wajah merah muda berseri. Langkah mereka kini sudah sampai di lobby kantor. Akan tetapi, entah dewi fortuna dari mana yang sedang menghinggapi hubungan keduanya, ternyata kini si biang onar muncul dari arah depan dengan sedikit terseok akibat kardus besar yang berisi setumpuk barang pribadinya.
"Alex! Jangan, Lex! Udah, Dia itu perempuan, Lex!" itu yang Rose katakan sembari memeluk erat tubuh Alex dari belakang. Sementara Ira sendiri sudah sangat ketakutan, hingga akhirnya ia berdiri dibelakang Jhonny saat pria itu menghampiri tuannya.
"Tolong gue, Jhon! Tolong gue...." rengek Ira.
Dengan sengaja Jhonny pun mengambil kesempatan, lalu ia segera membawa tubuh Ira dalam pelukannya.
"Sini gue peluk aja. Gue bantuin keluar dari mulut raja monster, tapi jatah gue dapat tiga kali, Lo ngerti kan manis? Senjata gue akan masuk ke lobang pertahanan kamu, bukan cuma ke mouth kamu kayak si Bos. Ngerti kan?!'' bisik Jhonny yang langsung diberi anggukan spontan oleh Ira.
"Brengsek lo berdua! Cepat lo suruh perempuan biadab ini jelasin sama cewek gue, Jhon! Lepasin gak tuh si Ira?!" amuk Alex berusaha melepaskan pelukan erat Rose, sekaligus ingin menerkam Ira yang jahat.
Sayangnya Jhonny tetap tidak mau melepaskan Ira, dan memilih memainkan matanya sebelah kepada Rose.
"Sialan! Mata lo gue colok nanti, Jhon!''
"Ampun, Bos! Gue lagi ngasih kode itu ke Rose, supaya dia jangan lepasin si Bos." ucap Jhonny terkekeh. "Masalah Ira kita tanyain baik baik apa maksud dia ya, Bos? Gak boleh laki laki itu mukul cewek, gak baik!'' masih Jhonny berusaha mencegah.
"Oke, sekarang jadi lo jelasin, ******! Cepat lo bilang kalau itu foto lama yang sengaja lo ambil diam diam waktu itu biar cewek gue dengar, Ira! Lo itu wanita ular, jadi jangan sok mimpi ketinggian buat dapatin gue!''
"Bos! udah, Bos. Dia punya gue sekarang jadi tanyanya sopan dikit dong----''
"Brengsek! Jhonny....."
"Eh! Iya iya, Bos! Ampun, Bos. Ya udah, Ira. Lo jelasin udah gih. Biar habis ini gue ajak terbang. Masa lo emang gak mau gue belai, dari pipi mulus lo sampai pangkal----"
"Sialan" Jhonny!" Dan begitulah selanjutnya. Alex berusaha memaksa Ira untuk bicara, mengomeli Jhonny dan kepercayaan Rose pun kini tumbuh kembali.
Ira menceritakan satu per satu kejadian yang dengan sengaja ia lakukan di depan ketiganya. Namun, itu berlangsung di dalam ruangan elit milik sang CEO, The Laode Corporation.
Setelah Ira minta maaf, Johnny membawa keluar sekretaris genit itu keluar dari sana dan kini tinggallah sepasang anak manusia di mabuk asmara itu di sana.
"Udah percaya kan, sayang?'' Alex membelai surai hitam Rose, lalu mencium sesekali wangi lavender yang keluar dari sana.
Sayangnya Rose tak segera menjawab pertanyaan Alex, melainkan sibuk terpaku akibat pemandangan gedung gedung bertingkat yang terlihat dari dinding kaca di depannya.
"Sayang.... Aku gigit kamu nih lama lama." bisik Alex menjulurkan tounge nya di daun telinga Rose.
"Ah, Ge... geli, Ih!"
"Ya, habis kamu, sih. Ditanya malah ngeliatin gedung aja terus. Jawab dong, sayang. Kita udah baikan kan?" Alex pun merengek.
Dengan satu senyuman, Rose pun berbalik menatap ketampanan wajah Alex dan mengangguk cepat di sana.
"Iya, calon suamiku. Kita udah baikan dari tadi. Aku udah gak marah lagi sama kamu." tentu saja Alex ikut tersenyum lebar menampilkan deretan gigi putihnya.
"Kalau udah gak marah, aku mau kamu duduk di atas meja kerja aku sekarang."
"Argh! Alex.... tapi ini---''
"Sstt... Ini impian aku sejak lama, sayang. Kamu nurut aja ya? Biasa.... yang mantap bakalan kamu dapatkan sebentar lagi, tapi syaratnya harus nurut sama calon suami kamu ini. Oke?" ujar Alex menampilkan kabut gairahnya.
Alarm tanda waspada kini berdering kencang di dalam otak Rose, tetapi Alex sudah lebih dulu membuka kancing jeans sang gadis itu.
"Ini impianku, sayang. Aku mau kamu menikmati diatas meja kerjaku, sayang. Dan jangan lupa panggil nama aku terus sampai sesuatu yang benar benar kamu tunggu itu out ya, sayang?''