I Like Your Sexy Lips

I Like Your Sexy Lips
Bab 43



"Kamu jahat! Kamu jahat, Aleh.... Aku mau pergi aja dari sini! Kamu jahat!'' pekik Rose terisak sembari terus memukuli tubuhu tegap Alex.


Ya, ketika malam tiba. Rose terbangun dari tidur, karena memang ia tiba tiba saja merasa tubuhnya sangat berat. Lantas saat kelopak mata mulai terbuka sedikit, ia dikejutkan dengan pemandangan tubuh besar Alex yang masih menindinya,


Tak ayal, itu membuat Rose mendorong Alex, hingga terguling ke sisi tempat tidur yang kosong disebelah kanannya. Setelah itu ia berusaha bangkit untuk mengambil posisi duduk di atas tempat tidur, tetapi dua matanya hampir terpelocok keluar, mana kala tubuhnya terpampang nyata tanpa sehelai benang pun.


Alhasil, ketergesaan pun terjadi dalam diri Rose, dan setelah ketelitian juga hadir membantunya, maka beginilah sikap yang ditunjukkan si gadis ber bibir seksi nan tebal itu.


"Bangun! Aku mau pulang, ALex! Aku mau pergi dari sini!'' histeris Rose sekali lagi, berhasil membuat Alex sedikit bergerak.


Oh Tuhan.... Terbuat dari apa yang ada di dalam isi kepala Rose? Jika ia pun ingin pergi dari sana akibat perbuatan Alex yang dianggap sangat keterlaluan, maka kenapa pula ia harus membangungkan sang CEO?


Hem, Rose memang aneh.


Serangan demi serangan, bahkan tak henti hentinya Rose lakukan, padahal sudah jelas kedua mata Alex telah melihatnya.


"Auw, Ros---''


"Apa?! Kamu jahat! Kenapa kamu tega sama aku, Tuan Alexander The Laode?! Aku mau pul---''


"Sayang kamu kenapa sih?''


"Kenapa apanya?! Aku kan sudah bilang gak usah main tusuk tusukan dulu! Kenapa kamu jahat dan perawanin aku sekarang?! Terus kalau aku hamil gimana sama kuliahku? Gimana sama mamamu? Gimana nasib anakku kalau ternyata Bapaknya pasti lebih milih harta orang---Hemph! Lex,---Hemph!'' repetan panjang layaknya rel kereta api itu pun tercekat ditenggorokan. Penyebabnya jelas karena Alex tak suka dengan opini Rose yang mengatakan jika dirinya pasti akan meninggalkannya, sehingga hukkuman pun dijalankan.


"Argh,,,," bahkan kini tangan Alex sudah mulai membelai dan ia membiarkan teriakan itu terjadi.


"Aku akan menghukummu lebih dari ini, jika kamu terus berpikiran jelek tentangku! Harusnya aku yang bertanya, mengapa si bajingan itu bisa ada bersamamu dan hampir mengambil hak yang kumiliki lebih dulu, hah?!'' sabdiwara pun dimulai.


Yah, begitulah. Akibat dari rasa bingung di dala isi kepala, mau tak mau kini Alex balik memarahi Rose. Terpaksa pula ia memasukkan jarinya kembali ke si dedek kesayangannya, sebab ia kembali menginginkan suasana panas itu lagi.


Menurutnya Rose harus terus diberi pemahaman bahwa permainan tusuk menusuk itu adalah hal paling nikmat pertama yang ada di bumi, apalagi jika dilakukan atas dasar suka sama suka dan bertabur rasa cinta.


Oh tidak! Cuci saja otak mesum CEO gila satu ini dengan detergen dan berikan juga cairan pemutih sebanyak banyaknya.


Samapi sampai Rose tak bisa lagi mengontrol rasa nyeri berpadu dengan kenikmatan dari titik inti dan melengkuhlah tubuh kebelakang.


"Jawab aku! Kenapa kamu berciuman dengan Boy?! Kenapa dia bisa sampai masuk ke dalam apartemenku dan kenapa kamu bisa telanjang di depan sia?! Kamu itu milik aku! Apa kamu lupa?!''


Ya, Tuhan!


Kenapa mulut sang CEO bisa seperti itu? Hati Rose seketika patah di sana, padahal jelas sekali Alex paham jika semua yang terjadi pada sang kekasih adalah reaksi dari obat perangsang. Kini wanita yang tak dapat disebut sebagai gadis itu diam seribu bahasa, tetapi air matanya di kedua kelopak pipi putih menjadi jawaban atas sikap sandiwara yang terjadi.


"Sayang...." Alex segera melepas permainan olahraganya dari si dedek, berniat menyentuhnya.


Namun, Rose sudah lebih dulu menepis lengan kekar ALex, dan terus terisak membuat laki laki itu merasa sedang di giring ke pintu neraka.


"Sayang, aku minta maaf. Kamu kenapa malah menangis? Sayang, aku bakaln jelasin sama kamu maksud aku tadi, ya? Tapi kamu berhenti dulu nangisnya ini. Aku gak sengaja ngelakuin ini semua, sayang. Itu karena kamu di kasih minuman yang mengandung obat perangsang di dalamnya. Boy gila itu pelakunya dan dia hampir perkosa kamu dalam apartemen ini. Untung Jhonny ngeliat kalian berdua pas lagi ciuman gitu di jalan mau sini, jadi dia---- Loh! Kok makin kenceng nangisnya, sayang?''


Sekakmat!


Alex benar benar semakin membuat Rose merasa sangat terpukul, berdosa sekaligus jijik pada tubuhnya dalam waktu yang bersamaan. Bahkan setelah penjelasan panjang lebar itu ia dengar, pita suaranya seolah rusak dan tak berfungsi dengan baik selain mengeluarkan bunyi isak yang memilukan.


"Sayang... Tolong katakan apapun. Jangan diam ja kayak gini. Aku akan bertanggung jawab sama apa yang sudah aku buat, tapi please jangan nangis lagi ya?'' ucap Alex membawa Rose ke dalam dada bidangnya.


Namun, dua puluh menit pun Rose tak kunjung mau bicara, dan lima menit berikutnya mata gadis itu sudah terkatup rapat dan melayang ke alam mimpi.


"Sayang.... Jangan hukum aku. Tolong jangan berpikir untuk mogok bicara ya? Setelah aku beresin si brengsek itu, aku bakalan bicara sama mama soal hubungan kita. Jadi tolong kamu tenang ya, sayang? Aku janji. Aku janji!'' tekad Alex dalam hati.


Alex pun membaringkan tubuh Rose yang masih tidak mengenakan apapun di tempat tidur, merapikan bantal di bagian kepalanya, membenarkan letak selimut hangat yang sudah ia tutupi sampai sebatas dada Rose dan dengan langkah gontai ia masuk ke dalam kamar mandi.


"Maafkan aku, Sayang. Tapi ini jalan satu satunya. Aku akan memperjuangkan hubungan ini lagi, seperti dulua aku berusaha mati matian membuat Nani layak bersanding denganku.  Jadi tolong ebrtahan di samping aku, Sayang. Jangan berpikir untuk pergi seperti dia,'' sekali lagi suara hati Alex berharap, saat air hangat dari pancuran kamar mandi mengalis di tubuh tegapnya.


Hanya sepuluh menit Alex beraksi dalam kamar mandi, dan keluarlah ia dari sana setelahnya. Langkahnya berjalan menuju ke tempat di mana Rose boasa menyimpan boxer dan baju kaos miliknya, tetapi jantungnya lagi lagi hampir melompat keluar karena tak mendapati Rose di tempat tidur.


"ROSE!" teriak Alex saat melihat.....