
" Coba kamu sekarang bantuin gue! " titah lembut Alex dan Rose pun menuruti perintah Alex.
" Terus kamu lakukan olahraga seperti ini, Bisa, kan? " sekali lagi dia harus mengajarinya dan masih saja gadis itu hanya menurut dan manggut dengan perkataan Tuan CEO. Kendati mengetahui hal tersebut adalah hal yang salah, tetap saja ia melakukannya.
Rose bekerja dan itu membuat Alex dan itu benar benar sukses membuat sang tuan seolah mendapatkan sesuatu di padang gurun.
" Emh, kamu lakukan olahraga itu sekarang ya, sayang. look this, Coba kamu buat yang aku ajarin tadi. " pinta Alex.
Tak ada yang lebih nikmat lagi sekarang bagi seorang Alexander The Laode, selain menikmati hal yang selalu ia lakukan itu. Jauh dari lubuk hati, sejujurnya ia ingin sekali seperti pria normal lainnya yang bisa dengan leluasa saling mencintai dengan seorang wanita seperti pada umumnya. Namun, hal tersebut tidak juga buat dirinya perbuat. Ada beberapa pertimbangan di dalam kepalanya, termasuk salah satunya adalah menyerahkan keperjakaannya untuk wanita yang tepat.
" Emh, ough, Rose. Ssstt... Aku suka. Ah.... " Sekali lagi Rose menurut dan mulai, Membuatnya mengeluarkan suara sebegitu lembutnya.
" Udah cukup. Sekarang kamu lakukan olahraga yang lain lagi seperti yang, ya? Dengan lembut tapi. Kamu mau kan, sayang? Jangan sampai sesuatu terjadi yang membuatku merasakan tidak enak. Ayo sekarang kamu coba. " jelas Alex menatap Rose agar gadis itu menatap ke arah dimana dirinya berada. Namun, tatapan mata sendu itu membuat hati sang CEO tiba tiba saja bergetar.
Hal itu bahkan sempat membuat jeda terjadi sekitar lima detik lamanya, lalu sekali lagi Rose adalah orang yang menyadarkan Alex dari segala khayalan indahnya tentang masa depan.
" Se--sekarang ya, Pak? "
" Eh! Iya, iya, sayang. Sekarang ya? Bisa kan? " tanya Alex bersamaan dengan aksi gelagapan nya.
Lima menit pun berlalu begitu saja dengan keadaan Rose masih saja mengelus si jun. Pria dua puluh lima tahun itu mulai mengajarkan bagaimana cara berolahraga untuk dirinya.
Perlahan tapi pasti, Rose pun mulai beraksi lalu terdengarlah suara Alex yang meracau kenikmatan.
" Oh.. Enak, sayang! Nikmat bangat lagi! Ah... "
Nafas Alex semakin memburu, karena ternyata Rose menuruti apa yang ia katakan tadi, Membuat mengeluarkan suara suara pun terdengar hingga berkali kali.
" Sayang? Oh, Ya! Seperti yang tadi it-- Ough.... Iya gitu! Uh...."
Alex juga membelai rambut panjang Rose yang kini sudah berurai, dan sama sekali tak ada satupun perlakuan kasar dari laki laki dua puluh lima tahun itu di sana.
" Ayo, honey. semangat, ya? Itu mantap bangat, Sa---- Ah... Enak, sayang! Nikmat... " Alex bahkan dengan senang hati mengajari Rose segala hal permainan olarahrags lain yang menjadi kesukaannya, tetapi gadis itu lebih dulu membuatnya meracau keras, sebelum ia selesai mengeluarkan semua kata katanya.
Alex terus saja mengelus rambut Rose. Menikmati apa yang sudah diberikan padanya.
" Kamu pintar, Rose. Aku suk--- Ouh.... gila! Aku suka bangat caramu. Ini tuh benar benar nik---! " racau Alex yang kini sudah benar benar melupakan segalanya.
Perlakuan lembut berpadu dengan kenikmatan yang Rose berikan, membuat Alex terbang tinggi ke angkasa. Tentu saja hal itulah yang selalu ia cari selama ini. Merasakan kenikmatan surga dunia, meski hanya sekedar pemanasan belaka.
Mata Alex yang terpejam erat, entah mengapa tiba tiba saja membayangkan bagaimana jika hal kesukaannya itu bisa ia terima di setiapnya pulang kerja. Membuatnya mencari ide agar segalanya dapat terealisasi.
" Teruskan, sayang! Uh.... Kamu memang the best, Rose. Ouh.... Yeah.... "
Selama kurang lebih lima belas menit lamanya, Alex menikmati permainan lembut Rose. Sampai tiba waktunya untuk meledakkan semuanya.
" Sayang ... Akh....sayang ... Ka--kamu ma---- ya, sa---, Oh --- Yeah--- Ah ah ah... " pinta Alex yang sudah bersiap.
Rose hanya bisa mengangguk, sembari masih terus melakukan apa yang Alex inginkan.
" Rose! "
Anehnya, hanya namanya yang Rose dengar dari mulut Alex, lengkap dengan nafas memburu dari hidung ketika laki laki itu mengeluarkannya. Sementara si gadis cantik, ia merasa sangat terkejut dengan itu semua.
Setelahnya Alex membelai rambut hitam Rose yang panjang dengan satu senyuman terbit bersama barisan gigih putihnya.
" Aku puas bangat, sayang. Kamu benar benar sudah buat kepalaku gak sakit lagi. Ayo duduk sini. " ujar Alex meminta Rose untuk kembali duduk di dekatnya.
Rose lagi lagi menuruti permintaan Alex dan entah untuk yang keberapa kali, mata mereka saling bersitatap. Sang CEO dengan debaran jantungnya. Sedangkan si gadis cantik sendiri, ia mencoba menghentikan letupan di hatinya.
Jika beberapa saat lalu, lima detik berlalu begitu saja untuk aksi saling tatap di antara mereka, maka kali ini nyaris satu menit di pakai keduanya untuk memuja satu sama lain di dalam hati masing masing.
"Kamu cantik bangat, Rose... Aku suka melihat wajah naturalmu yang gak pake bedak sama sekali." batin Alex di dalam hatinya.
" Bapak tampan sekali. Benar benar berkarisma. Em, tapi kenapa ya dia harus nyuruh aku kayak tadi? apa jangan jangan sebentar lagi aku bakalan dia ajak tidur bareng? " Berbagai macam pertanyaan Rose lontarkan dalam hatinya.
Jika tadi Rose yang beberapa kali menyadari aksi saling tatap itu, maka kini Alex turut mengambil bagian untuk menyadarkan mereka berdua kembali ke dunia nyata.
" Kamu nanti mau tinggal dimana, hm? "
" Belum tahu, Pak. Eh, Lex. " jawab Rose kikuk sambil mengusap lengannya.
" Kok belum tahu? " tanya Alex merasa heran.
" Iya, Pak. Aku belum tahu mau tinggal dimana. Memangnya tadi Tante Windi gak cerita pas di telepon?" Rose pun mencoba untuk menjelaskan.
" Aku ini kan--- Uhuk uhuk uhuk... " tiba tiba saja ia terbatuk dan Alex dengan cekatan membuka tutup botol air mineral diatas meja sofa yang dekat dengannya.
" Eh, maaf maaf. Lupa tadi. Ini minum dulu. " ujar Alex dengan cepat menyodorkan air mineral.
Rose pun langsung meneguk isi air di botol itu hingga tersisa setengah dan Alex tertawa dalam hati melihat hal itu, karena tiba tiba saja lupa diri setelah mendapat perlakuan memuaskan gadis cantik di hadapannya.