I Like Your Sexy Lips

I Like Your Sexy Lips
Bab 71



"Tolong, Nak. Anak saya sedang kritis karena kebodohan saya. Jadi tolong bawa saya bertemu dengan Rose. Saya tidak bermaksud jahat lagi kali ini. Saya bisa telepon suami saya di Jakarta kalo memang kamu gak percaya, tapi tolong bantu dulu. Nanti saya kasih kamu uang buat beli apapun yang kamu mau ya?'' tangis Nyonya Milea tak dapat ia sembunyikan lagi di antara dua kelopak matanya yang lelah, akibat belum tidur juga.


"Saya gak butuh apa apa, Bu. Saya hanya ingin menjaga amanat dari sepupu saya yang namanya Riri itu. Lagipula saya ini calon perawat, Bu. Jelaslah saya khawatir kalo ibu mau macam macamin Rose. Kan dia sedang mengandung cucu ibu. Siapa yang tahu kalo ternyata ibu niatnya jelek! Saya ikutan berdosa juga karena menuntun ibu melakukan dosa dengan mempertemukan Rose lagi. Ya kan?'' opini Nia, dan semakin deras pula hujan air mata dari dua kelopak mata Nyonya Milea.


"Sa--saya gak sejahat itu, Nak," bibir Nyonya Milea bergetar dan hatinya seperti terasa ditusuk saat Nia menuduhnya akan membunuh bayi dalam kandungan Rose.


Alhasil karena rasa bersalah telah membuat Nyonya Milea menangis hingga sesenggukan seperti itu, maka kini Nia pun menutup pintu rumahnya dan bergegas mengambil sendal jepit yang berada tak jauh dari sana.


"Ya, sudah. Mari saya antar kalo gitu, Bu. Maaf kalo ibu tersinggung dengan omongan saya. Tapi itu karena saya kasihan sama Rose, Bu. Dia sampai bikin jajanan pasar, terus dititip di kios depan kosannya itu, Bu. Malah kami rencana mau sewa satu kios di pasar Kliwon, biar dia bisa jualan sepatu atau baju baju. Soalnya kan kalo jualan makanan enggak tahan lama. Ibu gak kasihan kalo sampai dia kerja keras tanpa suami dan gedein anaknya sendirian?''


"Maaf, Nak. Saya khilaf kemarin kemarin." hanya kalimat itu yang bisa Nyonya Milea jawab, sementara mereka berjalan menuju tempat kos Rose.


"Semoga aja anak ibu cepat sembuh ya? Maaf saya dari tadi sudah sok nasehati orang tua, Bu. Saya cuma kasihan aja," lirih Nia hampir tak terdengar, ''Ini kosannya Rose, Bu. Jadi mau dibangunkan sekarang atau kapan? Soalnya udah adzan itu, Bu. Saya takut dimarahi ibu kalo gak ikut sholat subuh."


"Kalo gitu biar saya aja yang bangunkan, Nak. Makasih kamu udah mau bantuin, Saya utang budi banyak sama kamu dan Riri yang sudah mau membantu Rose, Nak." sahut Nyonya Milea dan kali ini terdengar sangat tulus di telinga Nia.


Tak lama kemudian, Nia pun kembali ke rumahnya dan meninggalkan Nyonya Milea sendirian di depan pintu kosan Rose.


"Ya, Tuhan..... Apa yang harus aku katakan nanti?" batin Nyonya Milea komat kamit, yang tak segera mengetuk pintu kamar.


Keraguan timbul dalam hati Nyonya Milea saat tangan kanannya sudah ingin mengetuk pintu tersebut dan disaat yang bersamaan, ternyata si pemilik kosan sudah lebih dulu membuka milik huniannya dan suara berisik pun terdengar.


"Astaga!''


Prang!


Itu jelas disebabkan oleh rasa terkejut Rose, sampai membuat tungkai lengannya lunglai dan seluruh jajanan yang siap dijual tercecer bersama nampan bambu ke atas lantai semen di depan pintu kos.


Namun, Rose lebih memilih mundur dan secepat kilat menutup pintu kosan, Tapi aksi iy rupanya terhalang oleh tumpukan jajanan pasar dan tangan ibu kandung Alexander The Laode yang ikut mengambil bagian.


"Alex kecelakaan, Rose! Dia butuh kamu. Dia butuh anak dalam kandunganmu dan saya butuh permohonan maaf darimu, Nak. Tolong percaya dengan omongan saya, Rose. Buka pintunya dulu!" pekik Nyonya Milea, masih melakukan aksi saling mendorong pintu di sana.


"Saya tidak bohong, Rose! Alex dioperasi karena tabrakan di pintu tol waktu mau ke rumah Riri mau cariin kamu, dan sekarang entah dia sudah sadar atau belum dari operasinya. Ayo kita pulang, Sayang. Dia butuh kamu dan kami semua butuh kalian berdua. Sungguh....."


Alhasil, dorongan dari dalam pun melemah tiba tiba dan dengan begitu Nyonya Milea pun berhasil menjadi pemenangnya.


"Rose!'' histeris Nyonya Milea membuka lebar kedua tangan dan segera memberi satu pelukan dengan derai air matanya di sana.


Namun, Rose tak membalas apapun perkataan dan perlakuan Nyonya Milea, selain ikut menangis dan kaku seperti mayat dalam pelukan calon ibu mertuanya.


"Rose! Rose? Rose!''


Ternyata itu karena kesadaran Rose Van Houteen hilang dari raganya dan teriakan Nyonya Milea menggema keras hingga membuat supir taksi yang menunggu, lebih dulu muncul diikuti beberapa penghuni kos lain dari arah belakang.


"Pak! Calon menantu saya pingsan, Pak. Tolong bantu saya bawa ke dalam taksi terus kita langsung ke rumah sakit, Pak. Takut kenapa kenapa, soalnya dia lagi hamil ini!''


"Ya, udah! Dek, tolong bantu bapak angkat temannya ini dulu!" panik sang supir meminta bantuan.


Tak lama kemudian, majulah taksi tersebut menuju rumah sakit terdekat dan pikiran Nyonya Milea benar benar kacau saat itu.


"Tuhan tolong.... Jangan sampai terjadi apa apa dengan bayi dalam perutnya! Alex bisa marah besar kalo sampai kenapa napa ini! Aku juga belum siap kehilangan calon cucu pertamaku, Tuhan, tolong!''