I Like Your Sexy Lips

I Like Your Sexy Lips
Bab 28



"Ini kampusnya, Jhon?''


"Iya, Lo kan dulu SMK jurusan Akuntansi. Jadi gue sarinin lo masuk jurusan ekonomi akuntansi ajalah, Biar lo gak ribet, benar gak?'' sahut Jhonny dan diberi anggukan oleh Rose.


Jhonny pun melepaskan sabuk pengamannya dan berniat turun dari mobil.


"Jhon, tapi disni gak mahal biaya kuliahnya? Ini kan Trissakti, Jhon. Yang aku tahu kuliah disni itu super mahal.''


"Yaelah, Rose. Lo kan bukan muslim. Jadi gue bawa lo kesini. Lagian, disini itu ada teman baik gue. Jadi kalau seandainya sulit buat lo masuk sini, gue bisa tanya tanya sama dia bagaimana cara masuk lewat jendela kampus ini tau,'' jelas Jhonny, masih membuat Rose sedikit cemas.


"Jhon, tapi-----''


"Biayanya kan udah Bos yang bayar, Rose. Lagian lo kan kerja, bantuin dia pret prot *****. Ngapain lo mikir lagi dari mana biayanya? Kalo emang nanti si Bos udah gak mau pakai lo lagi, ya tinggal cari kerjaan aja yang modelnya kayak begitu. Benar kan?'' sahut Jhonny membuat hatinya pedih seketika.


"Kamu dengar, Lex? Jhonny orang terdekat kamu aja mikirnya aku ini hanya sekedar pemuas nafsu. Apalagi mama kamu?" batin Rose menatap lurus gedung kmapus di depannya.


"Woi! Ngelamun lo?''


"Ah, Gak. Ak--aku cuma bayangin kalau lulus aja dari sini itu rasanya gimana nanti.;; jawab Rose asal.


Jhonny tersenyum mendengar penuturan Rose. Tak dapat dipungkiri bahwa ia sangat salut dengan tujuan hidup gadis di sebelahnya itu.


"Lo harus terus berjuang, Rose. Gue yakin lo pasti bisa jadi orang sukses nanti. Yah, emang cara lo meraih cita cita salah di mata orang banyak. Tapi menurut gue, itu jauh lebih mulia daripada lo cari duit hanya untuk gaya hidup alias foya foya. Benar kan?" ujar Jhonny dan rona sedih Rose pun hilang berganti dengan keceriaan.


"Kalau gitu ayo kita turun?'' seru Rose bergegas membuka pintu mobil.


Sayangnya, Rose lupa melepas sabuk pengaman yang ia kenakan, sehingga gadis itu pun sukses menjadi ejekan Jhonny sekali lagi.


"Ya ampun. Rose! itu sabuk pengamannya mau lo bawa ke mana?''


"Egh, lupa!''


"Pea nya jangan dibawa sampai ke kampus nanti ya, Rose. Bahaya kalau sampai itu menyangkut hubungan kalian sama si Bos. Bisa dapat hukuma terus lo nanti.'' ujar Jhonny dan Rose tidak mengerti sama sekali apa maksudnya.


"Kamu bilang apa sih, Jhon?'' tanya Rose setelah ia turun dan menutup pintu mobil.


"Apaan?''


"Itu tadi. Kamu bilang hubungan aku sama Alex bakalan bahaya kan? Apanya yang bahaya?''


"Ya, kepolosan kamu itulah, Rose. Apa lagi emangnya? Nih ya, aku bilangin. Si Bos itu orangnya cemburuan bangat, terus kalau kemauannya gk dituruti? Beugh, kacau deh kita. Aku tuh, kalau disuruh apa apa masih malas gerak? Ampun dah, hilang jatah duit rokok gu----''


Bingo!


Jhonny terdiam diantara langkah kaki mereka yang terus berada di atas jalanan menuju pintu utama kampus. Dalam hati ia membenarkan perkataan Rose, sekaligus kasihan memikirkan jika hal tersebut terjadi padanya.


"Jangan sampailah itu terjadi, Rose. Gue juga bakalan marah kalau seandainya si Bos bakalan mainin lo kayak begitu. Hanya saja lo harus tau satu hal, Rose,'' jawab Jhonny berusaha jujur di sana.


"Apaan?''


"Gue ngerasa si Bos itu udah jatuh cinta sama lo. Soalnya, selama ini dia gak pernah betah sama satu mulut, bahkan pas dia masih pacaran sama Mba Nani dan hampir menikah, dia tetap aja gitu bayar cewek sana sini buat dipakai bantuin kebutuhan khususnya itu. Dia gak pernah minta Mbak Nani buat tolongin gitu. Ya, persis deh kayak telur ayam gitu. Dia jaga bangat. Sayangnya aja ternyata malah dia diselingkuhi, miris nasib si Bos,'' jelas Jhonny dan rose bergeming di tempatnya.


'Kamu serius, Jhon?''


"Lah? Sepuluh risu gue mah. Astaga nih cewek. Gemes gue lama lama,'' kekeh Jhonny, tapi tak membuat Rose ikut tertawa.


"Terus gimana sama kelanjutan hubungan mereka, Jhon? Apa mereka masih ketemuan?'' selidik Rose yang penasaran.


"Ya, Gaklah. Mbak Nani itu kan sudah nikah sama selingkuhannya. Habis katanya hamil gitu. Jelas bencilah Bos sama tuh cewek. Orang dijaga, gak disentuh, Eh malah haus belaian laki laki lain. Mana mati matian minta restu sama Nyonya lagi waktu itu. Sakit bangat deh kalau gue yang jadi si Bos,'' jawab Jhonny menarik tangan Rose.


"Kasihan sekali,'' gumam Rose yang diberi anggukan kepala oleh Jhonny.


"Makanya itu lo baik baik deh sama si Bos. Dia itu sebenarnya kesepian. Tapi belakangan ini, gue udah lihat tuh dia mulai kembali kayak dulu lagi. Humoris, terus lebih banyak ketawa juga. Walaupun tetap galaknya gak hilang hilang, sih. Bawaan emaknya kali,'' kekeh Jhonny yang langsung diberi senyuman oleh Rose.


"Nah tuh, rame bangat. Loket pendaftarannya masih buka, Rose! Beruntung nih kita. Ayp deh tanya tanya.'' sahut Jhonny menunjuk arah ke kanan.


"Wah, iya. Hayo!'' girang Rose, setengah berlari menuju loket pendaftaran yang terlihat ramai.


Naasnya gadis cantik itu tak melihat jalan dengan baik, sehingga dia hampir saja terjatuh akibat menabrak seorang lelaki tampan, calon pendaftar juga.


"Argh!''


"Gak jatuh kali, Neng. Jadi gak usah histeris gitu.'' kekeh orang itu, di sela tangannya yang menahan bobot tubuh Rose.


"Egh, iy...iya!'' kikuk membuka kembali kedua matanya. Ia kembali berdiri dengan benar, tapi Jhonny sudah lebih dulu menarik pergelangan tangan Rose.


"Apa lo lohat lihat? Jangan macam macam ya sama cewek gue?!'' ancam Jhonny menarik tangan Rose.


Mereka pun berjalan ke arah loket, tetapi tidak dengan lelaki tadi. Ia masih saja berdiri memperhatikan Rose dari kejauhan, dan menyeringai akibat hatinya yang bergejolak saat bersentuhan dengan gadis itu tadi.


"Cantik. Sayang aja pacarnya galak. Udah gitu jelek lagi. Ya jelaslah dia kaget pas tau gue yang nabrak. Orang gue ganteng maksimal gini. Tajir lagi. Cewek mana sih yang gak mau sama gue?'' kekehnya dalam hati. "Gue harus kenalan sama dia hari ini juga. Well, tunggu aja sebentar lagi. Begitu tuh cowok bego lengah, gue harus kenalan dan minta nomor teleponnya. Semoga aja juga dia masuk fakultas ekonomi dan ambil jurusan akuntansi kayak gue.''