
"Rose....''
"Alah lo apaan sih, Boy. Udah sono jangan gangguin Rose lagi! Lo mendingan cabut deh, Eneg gue lihat muka pengen lo itu di sini. Dasar laki jablay! cari lobang itu bukan disini. Cih, ngeri gue,'' cerocos Riri mencibir Boy.
"Ck! Lo apaan sih, Ri. Gangguin kesenangan prang aja----, Loh, Rose! Lo kenapa?!'' Boy setengah berteriak saat melihat Rose yang sudah terisak disebelahnya.
"Astaga! Rose, lo kenapa?''
Riri juga ikut memekik, hingga beberapa pasang mata di sana mulai menatap mereka dengan tidak bersahabat. Namun, Rose tetap aja menangis dan itu disebabkan oleh sesuatu yang baru saja ia lihat dari ponselnya.
"Astaga! Apa apaan in---''
"Balikin, Ri! Jangan dilihat!" Rose merebut kembali ponselnya. Ia juga segera membereskan semua bukunya, lalu pergi dari pandangan mata Riri dan Boy.
"Rose! Rose, tung---"
"Lo disini aja! Dia lagi ada masalah!''
Dua tangan Riri menahan pergerakan Boy. Sedangkan Rose, Ia terus saja berlari mencari pintu keluar kampus dengan tujuan segera pulang ke apartemennya. Akan tetapi seribu langkahnya itu terhalang oleh tubuh besar seseorang dan dia adalah objek dari kesedihan yang Rose alami.
"Sayang? Kamu kena---''
"Kamu! Kamu ngapain kesini, hah?! Pergi! Pergi kamu dari sini laki laki bajingan! Pergi!" histeris Rose hingga urat di bagian lehernya pun terlihat di mata Alex.
"Loh, sayang? Aku salah apa sama kam---"
"Kamu bilang salah apa? Kamu tanya salah kamu dimana? Barusan kamu ngapain, hah?! Kamu ngapain barusan sama cewek yang rambutnya sebahu di kantormu!'' teriak Rose semakin murka dengan lelaki di depannya.
Namun, tampaknya Alex sama sekali tak mengerti dengan apa maksud Rose, dan dengan berani ia melangkah untuk memeluk tubuh kekasihnya.
"Jangan sentuh aku laki laki brengsek! Jangan sentuh aku!'' Rose mundur dan segera saku celana jens nya.
Benda pipih tersebut secepat kilat ia tekan dan gambar yang belum hilang dari layar ponsel itu pun ia arahkan ke depan mata Alex.
"Sayang, itu----''
"Aku mau kita putus!''
"Gak bisa! Sayang itu----"
"Aku bilang aku mau putus, Alex! Aku mau kita putus, biar setelah ini kamu bisa sepuasnya memuaskan si Jun kamu ke semua perempuan! Dasar penjahat kelamin! Pergi!''
*******
Di tangan kanannya sekarang terdapat selembar surat Pemutusan Hubungan Kerja bersama rincian uang pesangon yang akan ia terima, dan tentu saja semua akibat perintah sepihak dari sang CEO The Laode Corporation.
Oleh karena itu langkah Ira mulai bergerak dari tempatnya berdiri di depan ruangan HRD, menuju ruang kerja atasannya, Alexander The Laode.
Sang mantan sekretaris ingin melakukan aksi tidak terima atas pemecatannya atas secara sepihak pada Alex, tetapi ia belum beruntung karena ternyata orang yang di cari sedang tidak berada di tempat.
"Brengsek! Kemana dia? Pasti si gila itu lagi nyamperin cewek sialannya!" umpat Ira sekali lagi. "Baiklah! Jangan panggil naman gue Ira Ardinasti kalo gue gak bisa buat hubungan kalian hancur berantakan! Lo udah berani ngebangunin singa betina yang sedang tidur, jadi kali ini gue juga bakalan buat lo nyesel sama apa yang lo perbuat! Gue akan kirim foto gue waktu elusin dan muasin si burung beo lo ke cewek sok polos itu. Terus kita lihat bagaimana reaksi dia setelah ini!'' gumam Ira mengambil ponsel di dalam saku blazer kerjanya.
Masih dengan keadaan berdiri di ruangan sang CEO, Ira oun mengutak atik ponselnya. Ia mencari editan foto yang sempat ia ambil dari vidio berdurasi dua puluh menitan dalam ponsel dan tentu saja itu adalah rekaman yang ia buat dengan kamera tersembunyi, ketika Alex menyuruh dirinya membelai si Jun yang sudah tak karuan.
"Nah, ini dia!" senyum sinis Ira terbit seketika, "Untung aja dulu gue sempat ngerekam pakai kamera pulpen yang gue beli akibat efek kekinian itu, terus sempat aku foto ulang lagi pakai kamera hape pas vidionya gue kasih pause. Kalo gak? Bego deh gue namanya. Ya kan ini bisa jadi sumber duit gue juga. Rasain lo, Lex. Mau sampai dimana lo main main sama singa betina kayak gue! Mati lo sekarang!''
Ira menekan tombol send yang ada di layar ponselnya, setelah ia berhasil menemukan nomor ponsel Rose. Setelah jam sesudah pesan itu terkirim, kini Alex dan Rose pun sedang bertengkar hebat di pelataran kampus tempat gadis itu menuntut ilmu. Masalahnya tentu saja adalah karena kiriman foto oleh nomor yang tidak Rose ketahui. Dimana gambar tersebut memperlihatkan Alex sedang dipuaskan ria dengan wanita lain.
"Sayang, dengerin dulu! Itu tuh foto lama, sayang!''
"Pembohong! Aku gak percaya! " teriak Rose berusaha menghindari Alex.
"Ck! Percaya sama aku, sayang. Aku jujur ini gak bohong! Itu foto tuh sebelum aku ketemu sama kamu!'' Alex berusaha menggapai tangan sang kekasih.
"Aku gak percaya sama kamu, Alex! Aku gak percaya! Kamu bohong! Tuh lihat kemeja kamu, warna putih kan? Sekarang kamu pakai kemeja apa itu? Putih juga kan? Jadi mau nipu apa lagi kamu, hah?!''
"Ya, tapi itu warna celananya beda, sayang! Itu aku pakai setelan jas abu abu kan kalo gak salah! Lihat warna celananya coba. Terus lihat juga sekarang aku pakai celana apa? Aku pakai celana jeans dan itu celana kain, sayang! Aku hari ini ke kantor gak pakai jas. Cuma pakai kemeja putih ini, bawahan jeans sama sepatu kets biar kelihatan modis kayak gaya kamu yang pakai kemeja sama celana jeans juga," Alex menjelaskan panjang lebar.
Rose mencoba menyalakan kembali ponselnya, dan mulutnya pun bungkam beberapa detik untuk memastikan penjelasan Alex tadi. Mata Rose pun turut serta mengamati, dan apa yang CEO katakan itu memang benar adanya.
"Gak! Aku tetap gak percaya. Bisa aja kan kamu ganti baju setelah kesini? Mungkin aja kan celana kamu kotor atau apalah itu, terus kamu ganti pakai baju baju yang ada di mobil kamu itu. Minggu lalu kan aku lihat di bagasi mobil kamu ada beberapa baju saat kita ke puncak. Jadi aku tetap mau putus dan mau pulang aja ke Surabaya hari ini!'' Rose lantas berjalan tanpa mau menghiraukan kekasihnya lagi.
"****! Ira, Brengsek! Gue bakalan bikin perhitungan sama lo kalo sampai hubungan gue berantakan!'' batin Alex mengumpat.
Kaki pria dua puluh lima tahun itu pun melangkah lebar dengan tujuan mengejar Rose. Lantas setelah berhasil meraih pergelangan tangan gadisnya, ia lekas menarik masuk ke dalam pelukannya.
"Ayo ikut aku sekarang ke kantor aja, sayang. Aku mau buktikan sama kamu kalo foto ini udah lama. Di sana banyak kamera CCTV yang bisa jadi barang bukti biar kamu percaya sama aku. Lagi pula itu sekretaris tadi pagi aku pecat karena dia meluk meluk aku dari belakang. Aku gak suka makanya jadinya aku pecat. Kan aku sudah jadi milik kamu, sayang. Mau, ya?''
Pelukan serta penjelasan yang panjang lebar tersebut ternyata sedikit membuat amarah Rose mereda. Gadis dua puluh satu tahun itu pun berhenti memberontak dari pelukan Alex, tetapi tangannya belum ikut memeluk.
"Oke!! Ayo kita ke kantor kamu sekarang juga!''
Sekakmat!