
Dua hari pasca kemarahan besar yang terjadi di dalam apartemen akibat ulah Rose, Alex baru akan masuk ke kantor. Hal itu juga disebabkan karena kemarin hari minggu, sehingga ia memilih tak mau pergi kemana mana.
Seharian kemarin Alex pergunakan untuk menjalan rencananya agar Rose dapat segera mengandung, dan tentu saja hal tersbut dilakukan setelah ribuan permintaan maaf Alex ungkapkan atas kebodohannya menyakiti sang kekasih.
Apakah Rose memaafkan kesalahan Alex? tentu saja ia memaafkannya. Namun, hal itu tidak membuatnya berhenti memikirkan perkataan Nyonya Milea, tentang jodoh terbaik bagi anak semata wayangnya.
Itulah sebabnya, mengapa hari ini Rose berniat melakukan hal lain yang ada di isi kepalanya, agar rencana cepat hamil itu gagal terlaksana.
"Sayang, kamu yakin bakal diantar Jhonny aja ke kampus?'' tanya Alex, berdiri di depan Rose yang sedang mengikat dasi di lehernya.
"Bukannya kamu yang nyuruh dia buat awasi aku 24 jam? kenapa masih bertanya kayak gitu lagi?'' sindir Rose secara halus.
"Ya, bukan gitu maksudnya. Tapi----''
"Tapi apa? Ngeles aja. Udahlah sana ke kantor. Nih, dasinya udah rapih. Aku hari ini ada kuis sama mau ngumpulin tugas yang kemarin. Untung aja Riri mau ngasih contekan, jadi tinggal aku copy paste. Coba kalo gak? Aku telan kamu hidup hidup!'' kesal Rose membalikkan tubuhnya.
"Sayang, maafin aku ya? Kan itu demi kelancaran rencana kita biar kamu cepat hamil dan---''
"Kita? Kamu aja kali. Bukan aku!'' sanggah Rose berusaha melepaskan pelukan ALex.
Alex pun tertawa keras, akibat gerutuan Rose yang masih saja tidak suka dengan ide cepat hamil tersebut.
"Kamu kalo ngambek makin cantik deh, sayang.''
"Gombal! Lepasin, ih!'' rengek Rose, tapi Alex semakin mengeratkan pelukannya.
"Satu kali lagi yuk, sayang? Morning ****. Mau ya? Nih, si Jun udah on the way keras maksimal,'' bisik Alex tepat ditelinga Rose. Ia bahkan segera menjulurkan lidahnya di daun telinga kekasihnya, dan memulai aksi nakalnya.
"Alex, ach.... Nanti aku terlam---Ough...'' desah Rose tak kuat menahan gelenyar nikmat yang Alex cipatakan, Ia bahkan semakin pasrah ketika Alex menggiring kakinya ke tempat tidur dan juga tak kuasa lagi menahan segala serangan saat satu persatu sudah terlepas begitu saja.
"Ough....''
Erangan bahkan terus saja terdengar di seluruh penjuru kamar dan tentu saja itu adalah bunyi yang berasal dari pita suara Rose.
"Kamu harus cepat hamil, sayang.... Ssstt....'' lirih Alex terus memainkan olahraga yang biasanya mereka lakukan bersama. "Aku ingin kita menikah secepatnya! Ugh, Sayang....'' lanjut Alex lagi lagi melontarkan harapan di sela aktivitas panas itu.
Alhasil, jelas tersebut adalah mimpi buruk untuk seorang Nyonya Milea, yang ternyata saat itu sudah berada di apartemen anaknya bersama Jhonny.
"Tuh, Nyonya. Saya bilang juga apa kan? Gak baik Nyonya paksa saya untuk masukin sandi pintu apartemen ini. Jadinya kan Nyonya lihatin Bos lagi---"
"Sstt... diam kamu, Jhon! Jangan sok nasehati saya!'' kesal Nyonya Milea di depan pintu kamar yang sempat ia buka untuk mengintip tadi.
"Ye, Nyonya. Gitu aja kok marah sih? Mendinngan Nyonya pulang aja deh. Bos sama Rose itu udah gak bisa dipisahkan lagi, Nya. udah sampai main tusuk tusukkan gitu malah. Kalo dulu sama si Nani kan belum. Jadi si Bos jatuhnya ketagihan kali, Nya. Mendingan dinikahin aja biar Nyonya cepat punya cucu. Lagian juga Rose masih perawan kok pas ditusuk, kan saya yang bawa spreinya ke tempat londry jadi saya gak sebgaja lihat waktu itu.'' cerita Jhonny cengengesan.
Tanpa aba aba, Nyonya Milea langsung pergi meninggalkan apartemen Alex dengan ribuan kekesalan dalam hati, hingga Jhonny sedikit terkejut di sana.
"Loh, Nyonya cantik? Mau kemana, Nya?'' kekeh Jhonny menertawakan kepergian ibu tuannya.
Nyonya Milea pun semakin emosi, tetapi ia lebih memilih terus menjauh dan meredam emosinya dengan cara lain.
Awas aja kamu, Rose Van Houteen! Saya kan sudah suruh kamu menjauh dari anak saya?! Kenapa kamu terus saja menyodorkan tubuh sialanmu itu ke Alex, Hah?!" amuk Nyonya Milea sepanjang lorong di lantai tujuh belas menuju lift. "Aku akan pakai cara lain yang lebih jitu. Jadi jangan salahkan aku kalo kamu lebih terluka lagi nanti!''
########
"Ayo, Rose. Lo bilang mau ada kuis apa tuh? Cerdas cermat ya? Kok lama sih?" gerutu Jhonny dari ruang apartemen, akibat menunggu Rose yang baru selesai mengikat tali sepatu kets.
"Bukan cerdas cermat. Tapi kayak ujian tanya jawab karena udah selesai satu bab dalam buku----"
"Ah, ribet! Gue gak ngerti, Rose. Ayo cepetan deh. Bos aja udah sampe kali tuh di kantor. Lo pake acara mandi ulang aja. Habis ngapain sih, kok pake acara mandi ulang lagi?''
Bingo!
Jhonny kali ini seolah berubah menjadi badut ulang tahun di sana. Wajah Rose memerah akibat pertanyaan konyol tentang mandi dua kali tersebut, tetapi bibir gadis itu tidak mau menjawab selain memberi seulas senyumnya.
"Ayo, Jhon. Kamu keluar dulu deh. Aku mau ganti sandi pintu ini biar kamu gak tahu."
"Loh kenapa?'' tanya Jhonny terkejut.
"Ya biar kamu gak tahu dong sama sandi barunya nanti apa. Kan kamu tadi cerita kalo ibunya Alex datang kesini, karena paksa paksa kamu bukain pintu, jadi ya harus diganti sandinya. Gak dengar tadi Alex bilang apa?''
"Iya, sih. Si Bos suruh lo ganti karena lo masih mau mandi lagi," sahut Jhonny yang langsung diberi aba aba pengusiran dari Rose dengan kibasan tangannya.
Alhasil, sandi pintu di unit apartemen itu pun kini tergantikan dengan yang baru, dan ini juga salah satu niat yang ada di dalam hati Rose saat Alex terus memaksanya untuk segera hamil.
"Beres. Sekarang tinggal hape ini aku matikan dan tinggalin di apartemen aja. Kan ada si Jhonny juga di kampus. Kalo Alex ada perlu, tanyain aja ke si Jhonny. Habis itu, nanti sore aku harus pulang duluan, terus ngusir Johnny cepat cepat dari sini dan ini hape gak boleh aku aktifkan sampai besok! Biarin aja Alex gak bisa masuk. Siapa suruh maksa aku biar cepat punya anak. Pasti habis ini ibunya bakal tambah marah sama aku. Kan kata Jhonny biasanya langsung marah atau tampar itu cewek cewek yang lagi asyik asyik kan sama Alex. Kenapa kok tadi malah pulang gitu aja? Jelaslah aku yang bakalan kena sasarannya ini nanti? Mau sampai kapan aku kayak gini? Kasih pelajaran aja ke Alex sedikit. Biar dia tahu, kalo menikah itu harus pake cara baik baik dan sabar cari restu orang tua. Bukan dengan cara harus cepat cepat hamil, Capek deh." batin Rose sembari keluar dari pintu dan menghampiri Jhonny. Mereka berdua lantas meluncur ke arah kampus dan Rose segera berlari menuju ke kelasnya.
"Lama amat sih! Hampir aja lo telat!" tegur Riri.
"Maaf, Ri. Jalan macet." kekeh Rose.
"Lo udah belajar belum? Gue gak mau kasih contekan lagi. Lo kan udah penjarain si Boy!''
"Bukan aku kali, tapi Alex. Kok kamu bisa suka sama orang kayak gitu sih, Ri? Lupain dia. Dia itu penjahat kelamin tau! Gak dengar apa kesaksian cewek apoteker itu di kantor polisi? Boy beli obat sama dia tapi belum bayar udah kabur aja. Langsung dibius lagi pas habis berhubungan badan. Gitu kok kamu masih kepikiran dia sih, Ri? Sama si Jhonny ajalah kalo takut kelamaan jadi jomblo nestapa," bisik Rose cekikikan.
Riri pun memajukan bibirnya dan tak lagi menoleh ke arah Rose, karena memang lembar soal dan lembar jawaban yang dibagikan dari depan sudah sampai padanya.