I Like Your Sexy Lips

I Like Your Sexy Lips
Bab 1



" Oh, tidak! Ugh .... ayo sayang, Ugh .... ini enak! Ya, seperti itu sayang!! Ough ... Sittt .... " suara seorang pria berusia dua puluh lima tahun bernama Alexander Van Laode.


Ia terus saja memegangi kepala wanita yang sedang memberikan kenikmatan surga dunia, kesukaannya. Namun, satu insiden tak diinginkan tiba tiba terjadi di sana.


" Argh! Sialan, lo! Sakit, goblok! " teriak Alex yang langsung saja menjambak kepala si wanita pekerja wanita malam itu.


" Ampun .... Lepaskan! Ampun! Tolong lepaskan ---- "


" Bego! Udah gue bilang jangan pakai gigi, kan? Argh! Kenapa lo masih pakai gigi ajah, sih? Hah? Lo sengaja kan biar gue suruh cepat pulang?! Bego bangat sih lo jadi cewek! Dasar sialan! " amuk Alex mengeluarkan sejumlah caci dan makian, bahkan ia juga tak segan untuk semakin keras menjambak rambut wanita tersebut.


" Arg!!! Ng--Ngak Om! Gue---''


" Cuih! Apa lo bilang tadi? Om? Sejak kapan gue nikah sama tante lo, hah?! " potong Alex mendorong wanita itu, hingga terjerembab ke lantai kamar hotel yang dingin.


Alex pun secepat kilat melaksanakan aksinya untuk melakukannya lagi dan kembali menjambak rambut si wanita bayaran.


" Cepat, lo lakuin itu sekarang! Ayo cepat, goblok! Ough, yes! " teriak Alex langsung saat si wanita bayaran itu sudah mulai melakukan aksinya.


" Emph! Emph ! "


Wanita itu hanya bisa mengeram dan menahan perlakuan gila Alex di sana. Tak ingin disiksa lagi dengan sejumlah hal hal menakutkan, ia pun mengikuti perkataan Alex dan berusaha melakukan seperti apa yang dia mau. Dirinya juga menumpu tubuhnya yang sedang berlutut di depan Alex dengan kedua tangan.


Sementara itu Alex sendiri, sibuk memandunya seperti seorang hamba yang mendapat hukuman.


Sampai menit ke delapan Alex belum juga merasakan hal nikmat yang sedari tadi ia cari. Namun pada akhirnya di menit ke sembilan, mengerang juga.


" Ough ... Yeah ... yang lembut, sayang! Good .... Terus! Yah... seperti itu, ough, yes. " racau Alex tak karuan.


Seluruh ruangan kamar hotel itu, kini hanya berisi teriakan nikmat, Alex. Ia pun mulai dapat menikmati permainan gila yang sejak masa remaja selalu menjadi kegemaran utamanya, tetapi dirinya kembali berbuat kasar pada wanita bayarannya, karena hal yang sama seperti tadi terulang kembali.


" Argh! Brengsek lo! Gue udah bikang jangan pakai gigi sialanmu itu lagi, kan? Kenapa masih aja lo pakai, hah?! " teriak Alex mendorong sang ****** hingga membentur tembok.


" Lo emang sengaja, kan? Lo pengen buat gue marah, kan? Jawab, bego! Dasar sialan! "


Plak!


Sampai sampai satu tamparan terlepas begitu saja dan saat itu juga wanita pekerja tersebut pingsan, setelah tubuh kecilnya terlebih dulu membentur tembok.


" Heh, bangun! Lo budeg ya? Gue bilang cepatan bangun, cewek tolol! " bentak Alex menjamah wanita itu.


Namun, Alex tak juga mendapatkan balasan dari amarah yang sudah dilontarkannya, sehingga sekali lagi ia memuntahkan kekesalannya.


" ****! Dasar cewek germo setan! cewek bego begini di kasih ke gue! lihat aja lo nanti. Gue bakal hancurin bisnis sialan lo ini! " amuk Alex yang langsung melangkah ke meja nakas, disamping tempat tidur.


Di sana Alex pun mengambil ponselnya dan mulai menghubungi germo yang sekitar tiga jam lalu sudah bertransaksi dengannya.


tutt tuttt tuttttt


" Halo, "


" Halo, lo dimana, hah? Cepat bawa cewek bego ini keluar dari kamar ini. Lo tau apa? Dia pingsan disini! " sahut Alex tanpa mau basa basi, saat panggilan teleponnya tersambung.


" Astaga, bro! Kenapa bisa begitu ya, bro? Soalnya cewek itu---"


Alhasil dengan gelagapan sang germo pun dengan secepat mungkin membalas semua komplain dari pelanggan tetap nya itu.


" Am...pu...n... Bro. Ane pikir bro mau yang perawan. Makanya ane kasih--- "


" Brengsek! gue doyan di sayang dan dielus manja doang, bego! Lo suruh gue perkosa anak perawan orang yang nanti taunya cuma rebahan doang? Sialan benar lo! Cepat loh datang kesini dan bawa nih cewek keluar dari kamar hotel. Gue gak mau lagi pakai barang dari lo selamanya! Puas lo, sialan?! " Namun, Alex dengan tidak sabaran memotong ocehan germo waria itu dan juga mematikan panggilan teleponnya.


Alex lantas secepat mungkin mencari nomor ponsel wanita janda yang sejak dulu selalu memberi pelayanan yang terbaik baginya.


Tut ....


Tut....


Tut....


Tut.....


Tut....


" Astaga! Kenapa lama bangat sih, angkat telepon gue? Biasanya kalau gue telepon si tante girang, cepat gitu deh diangkatnya! " Hanya saja suara dering dering panjang saja yang Alex dapatkan di sana.


Mematikan panggilan telepon dengan menekan tombol merah, hal tersebut ternyata membuat seorang Alexander Van Laode berhenti sampai disitu saja.


" Gue coba sekali lagi, deh. Gila aja barang gue udah tegang begini harus main sama sabun hotel terus! sudah dari kemarin gue di Singapura main sama sabun efek takut sama banci, masa sekarang harus gitu lagi, sih? Ogah banget! " gerutu Alex sembari terus saja bermain dengan layar ponselnya. Menekan kembali nomor ponsel janda yang selama ini selalu menjadi langganannya.


Tut.....


Tut....


Tut.....


" Halo, Say? " saat sambungan telepon pun tersambung pada nada dering, perasaan lega pun menyeruak dalam batin Alex, bahkan amarah yang sedari tadi meluap tak terdengar lagi.


Alex dengan suara lembutnya membuat wanita di ujung saluran itu mengembangkan seulas senyum manisnya.


" Halo, tante cantik... Tante cantik ada dimana sih sekarang? Aku ada perlu bangat nih. Lagi pusing gitu. Ditempat biasa yuk tante, sayang? Soalnya aku---- "


" Aduh .... Maaf ya, Sayangku yang paling ganteng, Tante sudah gak kerja lagi sama mami Dinda, sayang. Soalnya itu, Sayang... " Namun, ternyata wanita yang ternyata bernama Windi itu mendengar maksud dari sang pelanggan setia, ia dengan cepat memotong ucapannya.


Hanya saja entah kenapa ujung kalimat Windi terdengar sangat menggantung di kedua indera pendengaran Alex. Jadi ia pun dengan cepat menjawabnya.


" Itu apa sih, tanteku yang cantik? lagi ada pelanggan, ya? Udah deh disuruh pulang aja yuh laki, nanti bakal aku bayar tika kali lipat dari tarif biasanya deh, mau ya tante sayang?"


" Aduh, sayangku yang ganteng ini. Mau bangat deh dikasih duit tiga kali lipat. Apalagi duitnya dalam bentuk dolar ya, kan? Hehehe... Cuma tante kali ini beneran gak bisa bangat, sayang. Bukan karena lagi ada pelanggan, sayang. Jadi ceritanya begini, Tante baru aja menikah. Gitu, sayang. Jadi suami tante sudah gak kasih ijin buat kerja yang begituan lagi mulai dari sekarang. Maaf ya, ganteng? " sempat terkekeh sebentar, Windi pun sempat menjawab di ujung telepon, bahkan dengan rinci ia memberikan penjelasan pada Alex tentang status barunya yang baru saja sudah menjadi seorang istri.


Alhasil, beberapa detik mereka saling sahut menyahut, menjelaskan dan juga melakukan tawar menawar. " Aduh, Tante sayang. Terus jun ini sudah tegang mau diapain dong, tante sayang? Masa aku harus olahraga sendiri lagi? "


" Hahahaha .... Ya, jangan olahraga sendiri dong ganteng, cari aja cewek lain yang bisa dipakai mouth sama tongue serta bibirnya buat mengelus dan menyayangi harta berhargamu ya, kan? Beres toh? "


Alex menceritakan keadaannya yang sedang super duper tegang untuk saat ini. Tetapi Windi malah semakin keras menertawakannya, sebelum mencetuskan sebuah ide dari isi kepalanya.