
"Hah? kok bisa dua kali sih, Lex?!"
"Ya, karena tadi itu kan si junior belum kelar. Jadi hari ini sama besok sama dengan dua kan sayang? Gimana? Satu tambah satu, dua kan sayang?" balas Alex mencari pembenaran atas keinginan konyolnya dan hal itu berhasil membuat bibir Rose tercebik.
"Ck! Kamu tuh banyak maunya ya? Sekali aja belum tentu keluar malah minta dua kali. Gimana kalau pas lagi gituan, mama kamu datang lagi? Pasti gak bakal bisa keluar lagi tuh si junior?" kekeh Rose meledek.
"Ye.... Jangan gitu dong doainnya. Bisa mati muda nih kalau si junior gak nyembur - nyembur." jawab Alex mengerutkan wajahnya dan keningnya.
Tak ayal, Rose pun semakin keras menertawakan Alex. Namun, kali ini sang CEO pun ikut tertawa, membayangkan bagaimana nasibnya jika besok sang ibu benar benar melakukan hal yang sama seperti tadi.
"Ya udah, deh. Met bobo sayang, Have a sweet dream."
"You too. bye bye....."
Klik
Sambungan telepon ponsel pun terputus dan Alex kembali menenangkan si junior yang masih aja tegang.
"Kamu sabar dulu ya junior? Besok pagi kamu bakal nyembur sampai dua kali kok. Tadi kamu dengar sendiri kan, si bibir seksi itu mau isapin kamu dua kali?" ucap Alex terkekeh sembari mengelus junior sakti miliknya. Ia lantas masuk ke kamar mandi dan berniat mengguyur tubuhnya dengan air dingin agar daging ajaib itu bisa kembali melemas.
********
Pagi pagi sekali, Alex sudah bangun dan segera melenggang ke kamar mandi. Ia bahkan mengabaikan ponselnya yang terus saja berdering, karena tidak ada hal lain selain ia bertemu dengan Rose.
Bayangan wajah si cantik Rose serta bibir tebal nan seksinya yang sibuk mengurut dan mengemut si junior adalah penyebab mengapa ia begitu bersemangat, lebih lebih saat dirinya mengingat janji gadis itu. Apalagi jika bukan tentang acara isap mengisap miliknya sampai dua kali.
"Kita mandi dulu ya junior? Habis itu kita goes ketempat Rose mu yang caem. Aku mau buat kamu wangi biar dia betah dekat dekat sama kita berdua terus. Benar, kan?" kekah Alex yang sudah tak mengenakan sehelai apapun. Sehari belakangan ini, entah mengapa hidup benar benar penuh warna bagi sang CEO muda itu.
Kucuran air hangat pun kian membasahi tubuh atletis itu dan terjadilah aksi bersih bersih ala Alex di sana.
"Udah ah, cukup. Jangan lama lama mandinya nanti mama keburu bangun." gumam Alex lekas mengambil handuk bersih yang tersedia di dalam laci kamar mandi.
Alex pun langsung buru buru ke luar kamar dan langsung saja ia masuk ke dalam walk in closed miliknya. Di sana berbagai setelan suite sudah tersedia. Biasanya Alex tinggal memilih hendak memakai yang mana, lalu mencari sendiri pasangan dasi yang cocok untuk memadupadankannya.
"Hari ini aku gak mau pakai kemeja kayak biasanya ah. Biar kelihatan muda, pakai kaos sama celana jeans aja. Nanti di luarnya baru deh tambahkan jas. Bosan kalau pakaian formal terus. Aku ini kan masih muda. Iya kan, junior?'' gumam Alex berbicara dengan miliknya dibawah sana, seperti biasa.
Ya begitulah Alex The Laode. Sejak memasuki masa pubertas ia paling suka mengajak kejantanannya bercerita berbagai hal, terutama tentang para wanita yang sudah dirinya bayar untuk memuaskannya.
Kali ini Alex ingin sekali berkata kata pada si junior alasan kenapa tiba tiba saja dirinya berganti style. Namun, logikanya dia seolah tak mau menerima kenyataan, jika ia melakukannya karena ingin tampak lebih muda dan gaul di depan Rose. Oleh sebab itu dia secepat kilat memakai pakaiannya.
Lima menit berlalu, Kini Alex sudah tampak rapih dengan kaos berleher V, celana jeans ala anak jaman sekarang yang area lututnya terdapat beberapa sobekan, jas hitam dan tak lupa sepatu kets putih yang ia beli ketika meeting di singapura kemarin.
Alex lantas segera keluar dari walk in closed, lalu berjalan pelan menuju pintu kamar dan menutupnya dengan sangat hati hati.
"Tuh! Pintu kamar mama sama papa masih tertutup rapat. Coba kita lihat ke bawah ya, junior?" batinnya berjalan ke pagar pembatas lantai dua.
Kepala laki laki dua puluh lima tahun itu sibuk celingukan ke kiri dan ke kanan, lalu segera ia berlari ke arah tangga setelah telinganya tak mendengar bunyi berisik apapun.
"Selamat! Papa sama Mama belum bangun beneran, euy!' batin Alex terkekeh dan melangkah lebar menuruni anak tangga.
Kini sampailah Alex di depan pintu utama rumah mewah milik keluarga the laode itu. Namun, alangkah terkejutnya ia, ketika pintu berdaun ganda itu sudah lebih dulu terbuka, sebelum tangannya menarik hendelnya.
Brugh.
"Aduh! sakit!" teriak Alex memegangi kepala dan bokongnya secara bergantian.
"Astaga, Bos Alex?! Kenapa bisa ada di depan pintu pagi pagi begini, sih?" pekik Jhonny tak kalah terkejutnya dengan sang majikan.
Jhonny yang tak sengaja dalang dari kejadian itu pun lekas lekas menghampiri sang tuan, tetapi Alex sudah lebih dulu menarik tangannya hingga ia ikut terjatuh ke lantai.
Hal itu membuat Johnny langsung bersuara keras. "Ampun, Bos! Ampun! Gue gak sengaja bos! Amp---- Hemph!''
"Sstt.... Berisik bangat! Gue suruh lo datang pagi pagi kesini itu bukan buat rempong kayak begini, bego! Gue mau ke apartemen mau ketemu Rose dan lo awasi semua gerak gerik mama disini. Ngerti lo, hah?" Alex yang pintar segera membekap mulut Jhonny, lalu berbisik sejumlah kalimat dengan nada sangat mengancam.
"Hemph! Hemph!" Jhonny yang mengerti pun dengan cepat menjawab perkataan Alex tetapi bukan berupa kalimat, melainkan suara suara tersendat akibat dari telapak tangan di mulutnya.
"Kalau si mama mulai curiga, Lo harus cepat laporan ke gue. Bukan malah bikin kepala gue sakit model gini! Sialan emang lo, Jhon!" bisik Alex melepas tangannya yang membungkam mulut Jhonny.
Jhonny pun secepat kilat menghirup oksigen sebanyak mungkin dan Alex kembali mengomelinya di sana. "Woi! Ngerti gak lo?"
"Ng--ngerti, Bos! Siap, Bos. Siap!" jawab Jhonny gelagapan.
Berbalik menghadap Jhonny yang masih terduduk di lantai, menurut si anak buah, Alex tak ubahnya seperti raksasa besar dan ia adalah seekor semut.
"Siap-siap! Awas aja lo gak becus lagi kerjanya ya, Jhon? Gue potong setengah gaji lo bulan ini nanti!" itulah alasannya kenapa Jhonny dengan gelagapan menjawab ucapan Alex, tetapi balasan yang ia dapatkan dari sang CEO adalah sebuah ancaman, sama seperti biasanya.
Dengan wajah memelas dan mengangkat dua ruas jarinya ke udara, Jhonny pun kembali memohon ampun pada Alex. "Yah! Jangan dong, bos. Gue janji gak bakalan ketiduran di pos security depan lagi deh, bos. Seriusan."
"Good!"