I Like Your Sexy Lips

I Like Your Sexy Lips
Bab 62



"Hoek....Ukhuk ukhuk... Hoek...."


"Tuh, kan Rose! Gue bilang juga apa! Lo itu lagi musim musimnya morning sickness alias mual muntah. Napain sihh lo ikutan gue sama Nia ke pasar Klewer? Gini deh jadinya!'' kesal Riri, mengurut tengkuk Rose.


"Maaf, Ri. Aku pengen ikutan nyari daster atau baby doll yang pas aja. Enggak maksud buat nyusahin kalian kok.''


"Iya, tapi kan----"


"Udah udah! Kamu ini apa toh, Ri? Biarin ajalah Rose mau ikutan. Dia itu bosal di dalam kosan terus. Wong kamu gak biarin dia main ke rumah kok. Ya bosanlah dia. Ibu hamil itu perlu udara segar, Riri. Apalagi dia kabur kayak gini dari cowoknya, tiba tiba bunuh diri dalam kosan giman---"Auw! Sakit, Ri!'' teriak Nia mengelus lengannya.


"Biarin sakit! Lo tuh kenapa ngomong bunuh diri segala?'' kesal Riri memarahi sepupunya, "Awas lo dengerin kata kata dia ya, Rose? Gue itu bukan maksud mau kurung lo dalam kosan. Tapi kalo lo ikutan main ke rumah sebelah tempat si Nia ini, Bisa tau Budeku kalo kamu hamil. Nah, apes deh aku kena omel Mamaku karena kabur ke Solo buat anterin lo. Kan gue ijinnya tiga hari ikutan mahasiswa bimbingan di puncak. Ini aja aku udah bilang Bude jangan bagi info ke Mama. Benar gak tuh, Nia?'' ujar Riri mencubit perut datar Nia.


"Aduh..... Tangan apa capit kepiting, sih?! Sakit tau!''


"Lo kasih tau ke Rose maksud gue barusan! Benar gak apa yang gue bilang?!''


"Udah, jangan bertengkar. Aku percaya kok sama kamu, Ri. Aku juga gak ada pikiran atau marah kali kalo kmau kunci di dalam kkosan selagi kamu main di rumah Nia. Kan cuma di depan kosan aja, Masa gitu aja aku harus merasa terkurung, ENggaklah. Aku gak gitu, Ri,'' sahut Rose masih memegangi perutnya.


"Good! Itu baru teman gue. Ya udah kalo gitu kita makan dulu aja deh ya? Di depan sana ada penjual bakso Solo tuh. Yang di bawah pohon beringin besar, depan toilet sama lapak lapak jenas itu loh, Nia. Masih ada kan?''


"Ck! Masih ingat aja kamu, Ri.'' kekeh Nia seketika. ''Ayo deh,'' ajaknya lebih dulu berjalan di depan dan menuntun kedua wanita lainnya.


"Kamu mau makan bakso kan, Rose? Aku lagi pengen soalnya. Atau kamu pengen makan apa?'' tanya Riri dan Rose bingung harus menjawab jujur atau tidak.


"Dia lagi pengen makan yang lain kali, Ri. Atau mau minum es campur aja, Rose?'' tawar Nia yang langsung diberi anggukan cepat oleh Rose.


"Ck! Lo kok ajarin dia yang macam macam sih, Nia! Mendingan juga jajan es krim kali daripada es campur! Lo niat buat dia melahirkan dengan cara operasu atau biar nanti Rose lahirannya di klinik tempat lo magang?'' amuk Riri dan Nia membalikkan tubuhnya.


"Egh, Riri! Jaga mulut kamu itu. Ini di pasar tau. WOng aku baikin Rose kok malah dituduh yang ndak - ndak, sih? Dasar kamu tuh pikiran jahat terus sama aku!'' kesal Nia berjalan sembari memajukan bibir bawahnya.


"Lo gak tau sih, Nia. Duit dari neneknya anak si Rose yang dua ratus juta ini, harus dipakai irit irit. Bapaknya si dedek bayi itu kan nanti gak ikut kasih nafkah dia sampai besar, boro boro kasih nafkah, gendong aja belum tentu bisa, ya kan? Jadi kalo bisa Rose harus jaga pola makan biar anaknya gak besar di dalam perut, terus bisa lahiran normal tanpa operasi! Emlo malah saranin makan es campur! Lo mahasiswi kesehatan bukan sih? Gue yang mahasiswi ekonomi aja tau soal ibu hamil jangan banyak minum es, selain es krim. Dasar!'' jawab Riri dan Nia langsung terdiam.


Sementara Rose lekas berlari ke toilet umum, yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri saat itu.


"Egh, Rose! Lo mau kemana?'' teriak Riri, yang ingin ikutan berlari.


"Kamu disini aja! Dia lagi mau muntah sekalian kencing kali. Memang toilet itu fungsinya apalagi?'' cegah Nia mencekal pergelangan tangan Riri.


Namun, apa yang Nia dan Riri pikirkan itu ternyata salah total, karena di dalam toilet kini Rose manangis sejadi jadinya.


"Nak, maafkan Mama ya, Sayang? Maaf kalo semuanya harus jadi kayak gini,'' batin Rose menguatkan embrio kecil dalam kandungannya, "Maafin aku juga, Lex. Aku terpaksa melakukan ini semua. Sekali lagi aku harap, Lex.... Aku hanya mau kamu bahagia. Hidup enak dan gak melarat kayak aku. Jadi kamu harus bahagia di sana ya, Les? kamu harus bahagia,'' tangis Rose semakin keras.


Sementara do tempat lain, Alex dengan tergesa menaiki tangga darurat apartemen menuju ke unit miliknya. Karena dia baru berpikir tentang hunian yang menjadi tempat sang kekasih untuk pulang, tatkala dulu sang ibu mengusirnya dari rumah mereka.


"Aku yakin kamu pasti ada di sana, Sayang. Kamu tungguin aku kan?'' seulas senyum terbit di wajah Alex saat mengingat wajah cantik Rose, "Bego bangat gue sampai bisa gak kepikiran apartemen! Dari kemarin kalo kamu ngambek sama aku, pasti pulang kesini kan? Maafin aku dari kemarin panik terus ya, Sayang. Aku janji kita bakalan menikah secepatnya biar mama gak bisa pisahkan kita lagi!'' tekad Alex terus berlari menaiki anak tangga darurat, akibat lift yang sedang mengalami perbaikan.


Beb beb beb beb......


Akan tetapi dalam perjalanan ke lantai tujuh belas, ponsel Alex pun berdering dan tertera nama Guen The Laode di sana yang tak lain papanya sendiri.


"Ck! Repot bangat sih, si Papa! Mau apalagi? Aku kan udah balik ke rumah! Tadi malam malah tidur di sana. Apalagi yang kurang?'' kesal Alex mengabaikan panggilan telepon dari sang ayah. Ia terus saja berjalan dengan langkah lebar menuju ke tempat tujuannya, kendati keluh di pelipis sudah sebesar biji jangung.


Alhasil, sampai juga Alex di tempat tujuannya dan segera saja ia berlari di sepanjang koridor lantai tujuh belas itu, hingga ke unit tempat di mana mereka tinggal bersama dulu.


Beb beb beb beb.....


Namun, ponsel pintar itu kembali berdering, dan kali ini dengan pasrah Alex menerima panggilan telepon dari sang ayah terkasih.


"Aduh, Pap! Apaan sih pagi pagi udah rep---"


"Kamu dimana, hah?! Di kantor lagi ada rapat Divisi penting yang akan membahas masalah pabrik di Sidoarjo, kenapa kamu gak datang?! Mau kamu ini apa, ALexander The Laode?! Kamu mau bikin papa mati cepat! Bukannya kamu sudah sepakat untuk ikut saran papa? Jadi kamu harus memikirkan bagaimana cara menaikkan kembali indeks harga saham perusahaan kita, biar Mama kamu gak sibuk mencarikan jodoh untuk kamu dari kalangan kolega bisnis kita! Bukan malah keluyuan terus seperti ini!'' amuk Guen, tanpa ada jeda sedikit pun.


"Maaf, Pap! Alex lupa sama rapat itu. Sekarang---"


"Lupa?! Heh, jawaban macam apa itu? Kamu dimana sekarnag?!'' sekali lagi Guen berteriak di ujung telepon.


"Ada di apartemen, Pap. Alex lupa kemarin cari Rose ke sini. Tunggu bentar ya, Pap? Nanti Alex nyusul. Papa udah di kantor kan, Pap? Tolong handle dulu sebentar ya Pap? Setengah jam lagi Alex bakalan sampai di sana,'' sahut Alex menutup sambungan telepon itu secara sepihak.


Embusan nafas kasar terdengar dari mulut dan dua lubang hidungnya, tetapi itu tak bisa mencegah si jari telunjuk kanan untuk terus menekan angka angka yang berada di panel pintu aparteman.


"Rose!!'' teriak Alex ketika pintu apartemen sudah terbuka, "Sayang, kamu di mana?!'' sekali lagi bunyi dari pita suara Alex semakin keras terdengar.


Langkahnya ikut tergesa mencari Rose di seluruh pelosok ruangan dalam apartemen mewah tersebut, tetapi apa mau dikata bila ternyata objek yang dicari memang tak berada di tempat tersebut.


PRANG!


PRANG!