I Like Your Sexy Lips

I Like Your Sexy Lips
Bab 29



Alex melangkahkan kakinya menuju ke lantai atas penthouse miliknya. Bangunan itu berada di negeri singa dan merupakan salah satu aset milik Nyonya Milea, Ibu Alex yang berasal dari sana.


Hari ini perasaan Alex sedang tidak bagus. Ia memikirkan masalah pekerjaan yang disabotase oleh karyawannya sendiri dan dirinya sedikit tidak terima ketika harus orang lain yang lebih dulu menyelidiki dan mengetahuinya.


Sial!


Setelah berhasil membuka pintu utama penthouse, Alex lantas masuk ke kamar dan menghempaskan tubuhnya ke sofa yang berada di dalam ruangan itu.


"Argh! Bangsat! Punya karyawan kerjanya gak ada yang benar! Kalau gini caranya papa bisa marah dan bilang kerjaan gue gak becus kan? Kampret!" teriak Alex mengacak kasar rambutnya.


Diraihnya benda pipih dari dalam saku celana, dengan maksud ingin memeriksa notifikasi yang masuk ke dalam ponsel tersebut, sekaligus sedikit menghibur diri. Sayangnya wajah cantik Rose kini menjadi objek penglihatannya karena foto si bibir seksi nan cantik itu ia gunakan sebagai wallpaper di ponselnya.


"Kamu sekarang lagi ngapain, Rose? Aku kangen sama kamu, sayang. Apa kamu masih marah sama aku?'' batin Alex terus menatap wajah cantik Rose.


Bertepatan dengan itu, si Jun yang berada di sana ikut menggeliat di sana dan membuat Alex semakin frustasi.


"Kamu tuh ya! Ikutan aja kalau aku lagi ngebatin Rose. Ganguan tau gak sih, kalau bangunnya tiba tiba terus begini? Mau cari Rose dimana coba? Dia kan di Jakarta! Nyebelin aja lo!'' gerutu Alex menepuknya perlahan.


Namun hal itu sukses membuat si Jun semakin tak karuan dan Alex pun tak punya pilihan lain selain mencoba meloloskan hal yang bergejolak.


"Telepon Jhonny deh. Kepo gue pengen tahu Rose lagi ngapain?" gumam Alex tersenyum simpul. Ia mengotak atik ponselnya dengan segera dan panggilan pun tersambung.


Tut tut tut.....


"Iya, Bos? Ada apa nih?!''


"Dimana lo sekarang?" tanya Alex penasaran.


"Di apartemen, Bos."


Alex mengerutkan keningnya, "Di apartemen mana? Lo di apartemen Rose maksudnya gitu?''


"Ya iyalah, Bos."


"Woy! Ngapain lo malem malem di sana?Awas kalau lo berani macam macam sama dia ya? Gue gorok lo!'' amuk Alex kepada Jhonny, dengan kedua netranya yang melotot seolah olah Jhonny sedang berada di hadapannya.


"Yaelah si Bos! Siapa juga yang macam macam. Orang gue habis anterin Rose buat beli beberapa buku di Gramedia tadi. Soalnya kan, besok dia mau ikut ujian untuk tes gitu, Bos. Gue daftarin dia masuk ke Almamater Bos dulu, Trissakti," jelas Jhonny.


"Lo serius?''


"Sepuluh rius, Bos. Ya ampun gak percaya bangat si Bos ini. Kan dia gak bawa buku apa apa tuh buat di baca baca, pas dengar pendaftaran gelombang terakhir juga tetap pakai ujian masuk? Dia langsung kebingungan, Bos. Jadi disarankan sama teman barunya buat beli buku ke toko buku aja. Egh, tadi malah mau dianterin pas gue gak sengaja kebelet pi---''


"Teman siapa? Cewek apa Cowok?"


Glek!


"Aduh! Mati gue, kelepasan!''


"Woe! Lo budek ya? Teman cewek apa cowok, Jhon?!" tanya Alex meninggikan suaranya.


Jhonny semakin gugup saat hendak berbicara, tetapi ia terpaksa jujur kepada Alex daripada ia bertanya langsung kepada Rose dan ia ketahuan berbohong.


"Te....teman cowok, Bos."


"Brengsek! Jadi lo biarin dia pergi ke toko buku sama tuh laki?!''


"Astaga! Ng...gak Bos! Makanya dengerin dulu gue ngomong. Jangan main sambar aja kayak geledek gitu!''


Jhonny segera berlari ke dapur apartemen, menuang segelas air putih dingin dari dalam kulkas dan meneguknya sampai tandas.


"Woi, Jhon!''


"Sabar, Bos. Haus tadi, Bos. Maafin ya?" jawab Alex mengeluarkan cengirannya.


Alex menghela nafas kasar dan suara Jhonny kembali terdengar.


"Dia perginya sama gue dong, Bos. Tadi kan gue kebelet kencing, makanya tuh cowok ngira si Rose sendirian aja di sana dan mau ajak dia ke toko buku karena Rose nanya nanya soal materi ujian masuk nanti tentang apa aja. Jadi sama tuh cowok, dia sarankan untuk cari bahan belajar malam ini ke toko buku dan langsung nawarin kalau mau nebeng. Tapi kan ada gue Bos. Ya udah, gitu aja sih ceritanya." jelas Jhonny.


"Oh! Kirain! Awas lo ya kalau sampai gak jagain cewek gue baik baik?!''


"Gue jagain, Bos. Tenang aja. Makanya ini sekarang gue masih disini. Kan ini juga jagain namanya." ucap Jhonny membuat Alex kembali tersulut.


"Egh, gak bisa gitu! Lo tidur di unit gue yang lain aja. Gak boleh disitu. Gue gak mau ngambil resiko!'' perintah Alex membuat Jhonny mengumpat majikannya itu dalam hati.


"Ya ampun, Bos. Gak gitu juga kali. Gue tahu bangat kok, Rose itu punya Bos. Dikit lagi deh gue ke sebelahnya ya Bos? Tunggu si Zaskia datang dulu, Bos."


"Tuh, kan! Apa gue bilang. Mana bisa lo sehari gak nusuk! Gimana gue gak takut lo berdua dalam satu apartemen dengan cewek gue. Setan lo itu udah overdosis! Sekarang mana Rose?'' sahut Alex dan Jhonny terkekeh kecil.


"Udah tidur, Bos!''


"Masih sore udah tidur, jam berapa ini? Eh, tapi lo tahu dari mana dia udah tidur? Lo ngintipin Rose?" Alex melihat arloji dipergelangan tangannya sembari terus saja mengomeli Jhonny.


"Ya, ampun! Bos ini udah kayak ibu ibu hamil aja deh. Lah kan ini udah malem, Bos. Tuh udah jam sebelas. Ya pastinya si Rose udah tidurlah, Bos!''


"Oh, iya. Benar juga." sahut Alex menurunkan nada bicaranya.


"Kenapa, Bos? kangen ya? Ponselnya gak bisa ditelepon buat vidio call gituan ya, Bos?''


"Sialan! Sok tau lo! Sopan ya kalau ngomong sama gue? Potong nih gaji lo nanti! Mau?''


"Ancamannya yang lain dong, Bos. Sekali kali ngajakin gue party enak enak kek gitu. Potong gaji terus aja kalau salah." gerutu Jhonny membuat Alex terbelalak di ujung telepon.


"Oncom! Ancaman itu berarti hukuman kali. Masa gue kasih hukuman pesta enak enak buat lo? Yang benar aja. Enak di lo, gak enak di gue dong?''


Jhonny tertawa lepas seketika itu juga. Alex yang tak suka mendengar dirinya ditertawakan pun lekas berbicara kembali, dan kali ini perkataan sang CEO benar benar mengejutkan Jhonny.


"Woi, Jhon, gimana ya ini? si Jun udah gak karuan nih. Rose jauh lagi. Ck!" Dan semakin puka Jhonny meledak tawanya, bahkan hingga dua titik air keluar di sudut matanya efek terpingkal tersebut.


"Ck! Lo bisa diam gak? Cepetan bantuin gue, oncom!''


"Yaelah, gitu aja kok repot sih, Bos. Kan si Ira ada disitu. Suruh ajah dia yang bantuin. Beres kan, Bos? Atau pakai karet ajah, Bos!'' suara Jhonny masih terkekeh.


"Apa lo bilang? Gila aja lo! Emang gue laki laki apaan harus pakai karet segala! Ogah! Gak mau gue!''


"Ya, udah. Suruh si Ira aja kayak biasanya. Lagian kan sering juga Bos suruh di kantor juga kan, sampai pernah dulu gue juga yabg bersihin tuh gara gara si Ira kaget pas gue masuk keruangan Bos?" ujar Johnny terus saja mengejek tuannya.


"Sialan lo! Jangan sampai lo ceritain itu pas gue ada sama Rose, ya? gue gorok beneran lo!" kesal Alex.


"Ampun, Bos. Bercanda kali. Tapi beneran deh, Bos. Mendingan suruh aja dia. Gue janji gak bakalan ember ke Rose kok, Bos. Daripada kepalanya nyut nyutan terus."


"Ck! Gak ah, Males! si Jun itu sekarang pilih pilih tau. Dia bilang ke gue, kalo dia itu cocoknya sama si Rose aja."


"Apa?!!!!! Hahaha... kurang ase----"