
ALex masuk ke dalam taksi dan meminta supir itu menuju ke Changi Airport. Suasana jalanan di kota Singapura begitu lengang, sehingga hanya setengah jam waktu yang diperlukan untuk sampai ke sana. Akan tetapi sepanjang perjalanan tadi, Alex sudah lebih dulu menghubungi eseorang karena ingin menyewa sebuah pesawat jet pribadi untuk pulang ke Indonesia.
Kini setelah sampai di Changi Airport, ALex segera turun dan membayar ongkos taksi dengan dolar singapura yang ada di dompetnya, lalu menuju pesawat pribadi yang telah disewanya. Namun, langkah kakinya sedikit terhenti, karena ponsel miliknya berdering.
"Duh, siapa lagi ini?'' umpat Alex mengambil benda pipih di saku celananya.
"Halo, Pak? Bapak dimana? Ini kita semua lagi nungguin bapak di depan restoran.'' ucap Ira yang bertanya kepada atasannya itu.
"Jangan bawel! Udah kalian pulang duluan aja! Saya masih ada urusan lain yang lebih penting. Jadi gak perlu nungguin saya pulang!'' ketus Alex, mematikan saluran ponselnya.
Alex kemudian naik ke atas pesawat dan masuk ke dalam. Ia lantas memasang sabuk pengaman, setelah menemukan tempat yang menurutnya nyaman. Tak lama kemudian, pesawat jet itu pun segera lepas landas meninggalkan Changi Airport Singapura, dengan tujuan Soekarno-Hatta Airport Jakarta.
Dua jam berlalu dengan keadaan wajah cantik Rose yang bergentayangan di isi kepala Alex, maka mendaratlah pesawat tersebut di tanah air.
Dengan langkah mantap, Alex menuju ke pintu keluar pesawat, lalu terus berjalan melewati pintu kedatangan bandara dan segera mencari taksi. Di dalam kendaraan umum tersebut, Alex pun mengeluarkan ponselnya dengan tujuan menghubungi Jhonny.
Tut tut tut tut.......
"Hallo, Jhon. Elo dimana?''
"Gue di Sidoarjo, Bos. Katanya gue disuruh menyelidiki Manager Engineering yang menyabotase kemarin itu, Bos?'' ucap Jhonny di sela sela suara mesin yang sangat berisik.
"Trus si Rose gimana?''
"Lah, katanya Pak Toni yang harus gantiin gue, Bos? Ya sudah, kemarin malam langsung gue whatsapp dia biar pagi pagi gak langsung ke rumah Nyonya duluan. Lupa ya, Bos?''
"Oh iya, benar. Lupa gue.'' sahut Alex sambil menepuk kening datarnya. "Ya udah deh, Gue mau telepon Pak Toni sekarang. Lo perhatikan terus gerak gerik i pengacau itu! Nanti gue bicara sama pengacara kantor dulu biar kita bisa langsung buat laporan setelah Luke kasih bukti bukti penyelidikannya ke kita. Gue tadi keburu kesel sama dia pas rapat, jadi langsung cabut aja gitu. Gak sempat minta itu file.''
"Ya, sih Bos! Kalo gitu ngapain gue ke Sidoarjo sekarang, Bos? Gue padahal udah ngopi bareng Kasat, Reskrim Poltabes Surabaya tadi pagi, Bos. Katanya siang ini kami bakalan langsung gerak cepat untuk tangkap si gila itu, Bos! Lah, malah----"
"Ck! Udah lo diam aja dulu. Dia kerja dari jaman Papa masih baru merangkak, Jhon. Banyak hal yang dia ketahui tentang bagian Engineering pabrik, bahkan sampai ke bagian produksi segala. Luke dan detektifnya bilang, Indikasinya mengarah ke oknum lain yang posisinya sama seperti dia itu ikut bergabung dalam sabotase ini. Jadi harus lebih teliti, Jhon. Jangan gegabah dan harus bawa bukti bukti akurat biar hukumannya juga gak main main!'' jelas Alex.
"Terus gue harus gimana dong sekarang, Bos?''
"Ya, lo pantau aja deh. Habis itu mau langsung balik ke Jakarta juga boleh. Mau nyari lobang disitu baru pulang juga boleh. Terserah lo deh. Asal lo tolong jangan pulang hari ini, soalnya gue lagi di jalan mau ketemu sama cewek gue. Jadi----''
"Wah! Seriusan nih, Bos? gitu kok kemarin lagaknya----"
"Oncom! Cewek yang gue maksud ya si Rose, bego! Lo pikir siapa? Gue di Jakarta nih sekarang! Oncom lo emang!''
"Astaga! Jadi Bos udah pulang? Wah, benaran jatuh cinta deh nih kayaknya si Bos,'' sahut Jhonny terkekej keras. "Ya udah deh, selamat bersenang senang dengan bermandikan kenikmatan yang HQQ ya, Bos? Gue juga bakalan nyari satu deh.''
"Sialan lo! Ya udah, gue matikan dulu nih. Mau telepon Pak Toni gue! Lo hati hati!'' sahut Alex mematikan sambungan telepon. Setelahnya, lalu ia mencari nomor ponsel Pak Toni yang berprofesi sebagai supir pribadi sang ibu.
Tut.... tut.... tut....
Sambungan telepon pun tersambung, dan suara Pak Toni terdengar setelahnya. "Halo, Pak ALex.''
"Ini, Pak. Lagi di kampusnya Non Rose. Saya nungguin Non ujian, Pak. Soalnya baru tahu Jakarta. Jadi saya takut dia tersesat saat pulang dari sini.''
"Oh, ya udah tungguin ya Pak? Aku mau kesana sekarang. Di Trissakti, kan?''
"Loh! Bapak udah di Jakar---"
"Sstt..... Diem diem ya, Pak? Jangan bilang sama Mama. Pokoknya Bapak tunggu aja disitu. Jangan bawa mobilnya kemana mana, soalnya aku pakai taksi ini. Jadi kalau udah sampe sana baru aku telepon lagi ya, Pak?''
"Baik, Pak. Siap!''
Klik
Sambungan telepon pun terputus. ALex langsung menyuruh supir taksi menuju ke Universitas Trissakti, tempat dimana Rose sedang mengikuti ujian penerimaan Mahasiswa/Mahasiswi baru.
Sesampainya di sana, Alex tak lagi menelepon Pak Toni. Hal itu tentu saja karena mata sang CEO itu telah menangkap kendaraan pria itu, yang sedang menikmati semangkok bakso tepat di depan gerbang kampus.
"Pak, mana kunci mobilnya? Pak Toni pulang aja. Biar aku yang nungguin Rose pulang,'' titah Alex, tanpa basa basi, langsung menyentuh pundak Pak Toni.
"Ukhuk ukhuk...''
"Astaga, Pak!''
"Akhuk! Ma...af, Pak. Saya----"
"Maaf, Pak. Aku gak sengaja. Lagi makan, ya?'' kikuk Alex yang berhasil membuat Pak Toni tersedak pentolan bakso.
"Eh, iya. Saya belum sarapan pagi tadi, Pak.''
"Iya udah, Bapak makan aja dulu di sini, Aku tungguin Rose di mobil. Takut ketahuan Mama, kali aja lewat gitu. Jadi nanti bapak langsung pulang aja. Gak usah ke rumah Mama lagi.''
"Pulang? Gak salah tuh, Pak? Masa saya makan gaji buta?'' jawab Pak Toni dengan nada takut.
"Sudah, gak apa apa. Pak Toni pulang aja. Aku mau ngasih kejutan buat Rose. Makanya aku yang nungguin. Gitu, Pak.''
"Oh, gitu. Baik, Pak. Kalo gitu nanti habis makan saya langsung pulang aja ke rumah saya, Pak,'' ucap Pak Toni memberikan kunci mobil pada sang majikan.
Satu jam berlalu, Alex masih setia menunggu di mobil yang biasa Jhonny kendarai. Dari kejauhan ia melihat sosok Rose sedang berjalan seorang diri dan satu senyuman manis terbit dibibirnya.
"Nah, Jun! Itu kesayangan kamu udah kelihatan tuh! Sebentar lagi kita kasih dia kejutan, ya?'' gumam Alex ke si Jun nya.
Sayangnya, ternyata senyuman bak matahari terbit di pagi hari itu hanya sebentar terjadi. Hal tersebut karena kedua netra hitam Alex melihat sesosok laki laki yang dengan gampangnya langsung menyampirkan lengannya di bahu Rose.
"Sialan! Siapa tuh cowok? Enak aja dia dekat dekat sama Rose! Pake acara ngerangkul segala lagi!'' umpat Alex dalam hati.
Sesampainya di depan mobil yang biasa Jhonny pakai, Rose belum mengetahui jika di dalam sana ada Alex yang sedang menunggu. Pria itu tak bermaksud keluar, karena memang ia ingin memberi kejutan sebagai permintaan maafnya pada Rose.