
Suara merdu milik Billa memenuhi ruangan kamar yang di setel kedap suara tersebut, kini baik Ricky maupun Billa tak segan melakukan sesi bercinta mereka dengan berbagai gaya untuk memuaskan hasrat masing-masing.
"Emmmmpptt, Kak., a-aku mau-" Ricky kembali melahap bibir mungil Istrinya yang kini tengah mendapatkan pelepasan untuk kedua kalinya.
"Sayang.., bisakah kamu membantu suamimu ?" bisik Ricky tepat di telinga Billa dengan lembut sembari mengecup ringan dan membuat sensasi geli langsung menjalar ke seluruh tubuh Billa.
Kini, permainan di ambil alih oleh Billa, meskipun awalnya malu dan kaku, perempuan itu akhirnya mampu membuat Ricky mengerang nikmat ketika mencapai ******* dalam sesi percintaan pagi menjelas siang tersebut.
"Yah.. ahh, oh good Baby. Emmmppphhh" Billa tersenyum lembut saat melihat wajah tampan suaminya kini terpejam menikmati puncak dari aktivitas ranjang.
"Terima kasih sayang" ucap Ricky membawa istri kecilnya dalam pelukannya. Sementara Billa hanya mengangguk lemah lantaran begitu lelah melayani suaminya yang lumayan menguras tenaga.
Ting.
Ricky menggeliat sembari membuka matanya untuk mencari benda pipih kesayangan Istrinya. Laki-laki itu begitu paham dengan nada notice milik Billa hingga terbangun saat mendengarnya dengan jelas.
"Astaghfirullah, masih berani menggangu Istriku ternyata." Ucap Ricky lirih sembari membenahi selimut milik Istrinya yang masih tertidur lelap di sampingnya. Ricky menyambar cepat ponselnya dan menghubungi orang kepercayaannya untuk memantau posisi dari target yang sudah di tetapkan sejak beberapa hari yang lalu.
"Kirimkan lokasi secepatnya, besok aku akan pulang."
"Baik Pak"
Ricky mengakhiri sambungan ponselnya lalu menatap teduh wajah Istrinya yang benar-benar masih tertidur lelap. Pria itu sudah tidak lagi menemukan kantuknya dan memutuskan untuk mandi junub dan melaksanakan sholat malam. Hari masih begitu dini untuk melakukan aktivitas, pria itu masih belum menemukan kantuknya. Sadar besok akan melakukan perjalanan jauh, Ricky memutar murotal hafalan surat yang sering di dengarnya ketika susah tidur. Lambat laun sayup-sayup matanya menutup dengan posisi masih memeluk tubuh Istrinya yang polos.
"Emm" Billa terbangun lantaran mendengar suara orang yang mengaji dan sangat familiar di telinganya. Perempuan itu langsung membuka matanya dan menatap wajah tampan suaminya yang terlihat lebih segar bahkan rambutnya masih sedikit basah.
"MaaSyaAllaah, bersyukurnya aku. Tadi pasti dia terbangun dan sulit tidur." Gumamnya lirih lalu bangkit untuk membersihkan diri. Diliriknya sajadah yang masih membentang rapih membuat senyum manis Billa terbit sekilas.
'Dia pasti juga sholat malam tadi, aku jadi penasaran. Sebenarnya dia bangun jam berapa?' ucap Billa dalam hati sembari melihat kearah suaminya yang kini tertidur lelap. Setelah membersihkan diri, Billa segera melaksanakan dua rakaat sholat malam dan satu raka'at witir.
"Aku sudah tidak mengantuk, Kakak bilang hari ini akan pulang. Lebih baik aku bersiap-siap agar nanti sudah tidak repot untuk beres-beres lagi." Ujarnya melipat mukenah dan mulai bersiap-siap membereskan keperluan untuk pulang.
***
"Dek,kita pulang sekarang ya.." ucap Ricky disela-sela saat keduanya sedang menyantap sarapan yang telah di masak oleh Istrinya dan Mbok Arum.
"Iya Kak, aku juga mau ngejar laporan KKN." Ricky tersenyum lembut sembari menggenggam tangan istrinya.
"Santai, DPL nya saja masih disini. Gak akan mengajukan pertemuan sebelum laporan Istriku selesai." Billa mencebikan bibirnya mendengar penuturan suaminya.
"Jangan seperti itu, jalankan sesuai dengan prosedur kampus Kak. Aku tidak ingin di cap sebagai mahasiswa yang hanya mengandalkan status suami." Ujarnya sendu mendadak tidak selera menghabiskan sisa makanan yang ada dalam piringnya.
"Begitu juga dengan pembimbing skripsi. Aku mohon alihkan saja aku dengan dosen pembimbing yang lain Kak. Bukan karena tidak menghargai atau tidak menyukai kamu sebagai Dosen pembimbingku. Tapi lebih ingin menghindari dari segala omongan yang akan keluar dari mulut mereka setelah mengetahui kamu adalah suamiku."Ricky menatap lekat netra Istrinya yang mulai berkaca-kaca.
"Baiklah, aku akan alihkan dosen pembimbing yang akan membantumu dengan baik dalam mengerjakan skripsi. Jangan menolaknya, insyaallah dia yang terbaik selama aku mengenal dosen lainnya." Mendengar hal tersebut Billa mendadak deg-degan lantaran takut dengan Dosen pengganti yang akan membimbingnya ternyata jauh lebih killer dari suaminya.
"Emm" Billa mengangguk ragu yang membuat suaminya tersenyum lucu karena paham dengan pikiran dari Istri kecilnya.
Setelah menyelesaikan sarapan, keduanya segera berpamitan dengan kedua orang yang di tugaskan oleh keluarga Ricky untuk menjaga Villa tersebut.
"Kapan-kapan main lagi ya Mbak Billa.. Mbok Arum tunggu kedatangannya" Billa memeluk hangat perempuan yang sudah tidak lagi muda tersebut dengan mengangguk setuju.
"Kami pamit ya Mbok, semoga Allah jaga Mbok Arum dan Pak Damar selalu."
"Aamiin. Hati-hati di jalan ya Mbak. Semoga selamat sampai tujuan."
"Ini kuncinya Mbok, saya berangkat dulu. Titip Villa ini ya Pak, Mbok" ucap Ricky sebelum beranjak melangkah menuju mobil yang sudah keluar dari garasi villa tersebut.
"Siap Tuan" ucap kedua orang yang dipercaya oleh keluarganya cukup lama.
"Assalamualaikum" Billa dan Ricky memasuki mobilnya dan langsung melakukan perjalanan santai karena hari masih begitu pagi.
"Sayang, ada yang mau di beli dulu tidak ?" tawar Ricky ketika tengah mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Kita mampir dulu deh Kak, aku mau bawa oleh-oleh buat Mama sama Papa dan juga teman-teman kelompok KKN."
"Oke, kita mampir dulu di toko oleh-oleh kalau begitu."
Kedua pasangan pengantin baru itu kembali melajukan mobilnya setelah membeli beberapa makanan khas daerah tersebut untuk dijadikan oleh-oleh.
Ting.
Billa mengambil ponselnya dan melihat isi pesan yang telah terpampang jelas dilayar ponselnya. Perempuan itu mengerutkan keningnya lantaran bingung dengan isi pesan yang baru saja di baca olehnya.
"Siapa ?" tanya Ricky dingin sembari fokus menyetir tanpa menoleh kearah Istrinya.
"Syafik, tapi kenapa pesannya seolah-olah aku dan dia sudah berbalas pesan lama" gumam Billa lirih namun masih bisa di dengar oleh suaminya. Jangan di tanya bagaimana kesalnya Ricky saat mengetahui lagi-lagi Istrinya di ganggu oleh pemuda yang kalah jauh darinya.
"Apa yang dia katakan ?" Billa menoleh kearah suaminya yang kini terlihat seperti menahan marah. Bukan menjawab pertanyaan dari Ricky, justru Billa menggenggam erat tangan suaminya sebagai bentuk kasih sayangnya dalam menenangkan hati suaminya yang tengah marah.
"Dia masa laluku, aku akan memblokir nomornya sekarang. Jangan pernah berfikir aku akan meladeninya. " Ucap Billa tegas dan langsung bergerak cepat memblokir nomor orang yang dulu sempat memenuhi hatinya.