
Zafran yang tengah duduk di bangku taman menunggu kedatangan seseorang yang dulunya pernah sangat dia cintai, samar-samar melihat bayangan seorang wanita yang saat ini memenuhi pikiran dan hatinya. 'Billa' batinnya menjerit, dia tidak berani menghampiri atau sekedar menyapa gadisnya. Dirinya tersenyum saat melihat Billa tersenyum ramah menyapa banyak muslimah yang bergerombol duduk dirumput hijau tepat disamping kolam ikan. Zafran mulai menyadari, pasti Billa akan menjadi tutor holaqoh sore ini untuk para mahasiswa baru yang mengikuti UKM binaan dakwah itu.
.
"Assalamualaikum Zafran" sapa seorang gadis dengan lembut dan anggun. Mendekat ke arah Zafran dan mulai mengambil posisi duduk dengan jarak sekitar satu meter.
"Waalaikumussalam" jawabnya dingin. Pria itu bahkan tidak mau melihat ke arah gadis cantik itu.
"Zafran..," gumamnya lirih, suaranya tercekat lantaran melihat perubahan sikap Zafran yang sepertinya sangat membenci dirinya terlihat nyata.
"Bicaralah sekarang Vi, aku harus segera pulang. Ummi menungguku dirumah." Pandangannya lurus ke depan menatap wanita yang sedang memulai kajian lingkup kecil atau yang biasa di sebut dengan holaqoh. Billa sedang membagi ilmu yang pernah dia dapatkan dari pondok dan berharap akan di terapkan oleh teman-temannya yang baru memulai hijrah.
"Maafkan aku, aku pergi tanpa pamit ataupun menjelaskan apapun kepadamu. Ibuku membutuhkanku Zafran, Ibu terpaksa menyetujui perjodohan ku dengan Raka. Ayah bangkrut dan harus mencari pinjaman dana untuk menyelamatkan usahanya. Kamu tau bukan itu usaha satu2nya yang kami punya" ujarnya gamblang.
Zafran memang sudah mengetahui bahwa ada seorang pemuda di desa Vika yang juga menyukai kekasihnya. Zafran bahkan sering membantu Vika untuk membesarkan usaha milik ayahnya. Yang membuat Zafran kecewa adalah, Vika pergi tanpa penjelasan, disaat dirinya benar-benar mencintai dalam. Puncaknya satu tahun lalu saat Zafran masih belum lulus SMA, keduanya bertemu tidak sengaja saat ibunya dan Vika berkerja di kantin sekolah milik pondok Zafran. Mereka diam-diam menjalin hubungan dekat dengan selalu bertukar lewat surat. Hal ini dikarenakan Zafran tidak diperbolehkan menggunakan handphone karena peraturan di pondoknya.
"Kenapa baru menjelaskan kepadaku sekarang ?" ujar nya seraya menatap lekat gadis yang dulu sangat dia sayang.
"Aku harus pergi saat itu juga karena rumahku di desa sudah di segel oleh bank. Sedangkan ayah sudah tinggal bersama keluarga Raka. Ibu menyuruh ku untuk segera berkemas tanpa mau mendengarkan keluhan ku untuk menulis pesan untukmu" Matanya mulai berkaca-kaca ketika mengingat nasib yang di alaminya satu tahun yang lalu.
"Baiklah, aku memaafkan mu. Sekarang dimana suamimu ?" Zafran mencoba untuk menekan rasa sabarnya ketika mengetahui fakta kekasihnya ternyata menjual dirinya untuk keluarga nya sendiri.
"Aku kabur dari rumah Za, perangainya begitu membuatku tertekan, ringan tangan dan selalu menghina keluargaku karena menjual ku demi usaha ayah agar tetap jalan." Pecah sudah tangis pilu yang sejak lama ia pendam sendiri. Hatinya begitu sesak ketika mengingat segala perlakuan buruk yang menimpa dirinya. Ibunya sudah meninggal tak lama setelah Vika menikah dengan Raka, sedangkan ayahnya benar-benar tidak peduli dengan kehidupan yang di jalani anak tunggalnya itu. Zafran memberikan sapu tangannya dan mulai membuka botol minum untuk di berikan kepada Vika.
"Menangis lah, jangan lagi di pendam. Sejak dulu kamu selalu memendam segalanya sendiri. Mulai sekarang berdiri lah dengan tegak, jangan lagi menunduk kepada siapapun. Yang harus kamu patuhi hanya 2, suami apabila dia mengajak kebaikan, dan Allah yang maha mengetahui segalanya. Selain mereka, jangan bersikap seperti makhluk nya yang paling buruk. Kamu juga memiliki Izzah yang tinggi di matanya." ucap Zafran tanpa melihat ke arah Vika, Zafran sadar jika dirinya menatapnya, dia tidak akan kuat untuk melihat gadis yang dulu sangat dia kagumi dan sayang mengalami penderitaan yang berat.
"Terima kasih Zafran, sudah mendengarkan penjelasan ku, apa aku sudah di maafkan"
"Sudah aku maafkan, sekarang katakan padaku selama kabur dari rumah kamu tinggal dimana ?"
Tanpa mereka sadari, di depan sana. Untuk pertama kalinya setelah 1 bulan kejadian yang di alami oleh keduanya Billa tidak pernah lagi mengetahui kabar Zafran, bahkan melihatnya pun tidak pernah. Sore ini setelah holaqoh nya membubarkan diri. Billa tidak sengaja melihat seseorang yang sangat dia kenal postur tubuhnya duduk bersama seorang muslimah yang anggun dan cantik. Keduanya terlihat akrab dan sangat dekat. Billa bersyukur mungkin Zafran memang sudah ingin menikah muda, mungkin saja perempuan itu calon istrinya.
Sejenak tanpa sadar netra mereka bertemu dan saling menatap lama. Zafran benar-benar menikmati tatapan mata teduh itu, sekilas Billa tersenyum dan menundukkan kepala seraya melambaikan tangan. Menandakan dirinya pamit dari kejauhan. Zafran yang sadar bahwa gadisnya baru saja berpamitan sekejap langsung berdiri dan melangkah pasti mengejar langkah Billa. Hingga suara Vika yang lembut menyadarkan atas apa yang dilakukannya secara spontan itu.
Zafran mengusap tengkuk nya yang tidak gatal dan melipat tangannya di dada.
"Maafkan aku Vika, sepertinya aku harus pergi sekarang. Kita bisa bertemu lagi kapan-kapan. Assalamualaikum" ucapnya sambil berlalu tanpa menunggu jawaban dari Vika.
'Aku sadar, aku sudah tidak sama lagi di matamu sekarang. Terima kasih telah memaafkan aku Zafran. Meskipun aku sudah tidak bisa lagi memilikimu. Tapi izinkan aku tetap menjaga cinta ini entah sampai kapan' batinnya sendu.
Zafran mengejar langkah Billa menuju parkiran, tetapi pria itu kalah cepat. Ternyata Billa sudah tidak ada di taman itu. Pria itu mengusap kepalanya frustasi. 'Aku yakin Billa pasti salah paham' batinnya kesal. Dia bisa melihat dari tatapan gadisnya yang mengisyaratkan sebuah jawaban dari sikapnya yang akhir2 ini menghilang.
"Apa aku telfon saja ya, tapi.. aduuh, kenapa pake liat segala sih" ucapnya bingung. Pria itu lantas masuk kedalam mobil dan mengarah pulang kerumah.
***
Billa merasa sangat lega ketika melihat Zafran sudah memiliki calon istri yang sangat cantik dan anggun. Hal ini membuktikan bahwa niatnya ingin menjadikannya istri adalah bukan hanya asal menawarkan, melainkan memang niat nya sungguh-sungguh untuk menyempurnakan agama.
"Alhamdulillah, semoga niatmu dipermudah oleh Allah Zafran" gumamnya lirih. Gadis itu lantas masuk ke kamar mandi, badannya lengket karena padatnya aktivitas yang dilalui.
.
Ding.
"Assalamualaikum Bill"
.