
Ketika Billa sampai kosan ternyata dikejutkan dengan mobil kakaknya yang sudah terparkir rapih di halaman kosannya. Billa kira abangnya akan datang setelah ashar. Reza sudah memperhatikan adiknya dari jauh sebelum memarkirkan motor nya di samping mobil miliknya. Reza menyambutnya dengan tangan terbuka siap untuk memeluk adiknya. Billa pun tak kalah menyambut sang kakak dengan mengangkat sudut bibirnya menjadi sebuah senyuman yang manis.
"Kenapa lama sekali hem ? " ujarnya sambil memeluk erat adik kesayangannya.
"Kenapa repot-repot kesini sih bang, kan jauh. Lewat handphone juga bisa" ujarnya seraya menyeret Reza untuk duduk di ruang tamu.
"Abang gak puas kalo gak lihat langsung pernyataan itu keluar dari mulut kecilmu itu" jawabnya tegas. Reza faham jika ini pasti akan membuat Billa kaget. Reza merupakan laki-laki yang sangat tegas, perintahnya mutlak harus di ikuti. Billa bahkan sering merasa di atur oleh kakaknya. .
"Ada apa bang ?" tanya Billa tak kalah tegas. Matanya menyorot netra milik Reza dengan penuh pertanyaan.
"Berjanjilah untuk menyelesaikan pendidikan mu tanpa ada yang namanya dekat dengan laki-laki apalagi pacaran" ujarnya gamblang sambil terus menatap lekat Billa. Tangannya terulur mengusap kepala Billa dengan sayang. Seolah ingin memberitahukan Billa bahwa dia sangat menyayanginya.
"Kenapa ?" Tanya Billa sambil terus membalas tatapan Reza yang dalam. Ada secuil hati yang mulai tercubit dengan perkataan kakaknya. Bagaimana tidak, sedangkan dia justru akan menerima CV milik Syafik. Lelaki Sholih itu sukses membuat Billa kepikiran. 'Astaghfirullah, belum apa-apa sudah di pasang tembok tinggi sama bang Reza. Sepertinya kamu harus berjuang lebih keras fik' batin Billa sambil tersenyum.
"Kok kenapa ? ya karena Abang mau kamu selesaikan kuliahmu dulu. Aku ingin kamu menikmati hidupmu dulu dengan bebas selama kuliah ini, bebas lah berkarya tapi tidak dengan pergaulan bebas yang menjerumuskan ya dek" ucapnya lembut.
Billa tidak langsung menjawab pertanyaan kakaknya. Dia hanya tersenyum kemudian mengalihkan topik pembicaraan yang lain untuk di bahas.
"Bang Reza sudah makan ? titipan ku di belikan enggak ?" tanyanya beruntun sambil mengambil bingkisan yang sudah di letakan di meja tepat depan mereka duduk.
"Sudah, kamu makanlah dulu. Abang mau ke masjid untuk sholat ashar." Ujarnya sambil berlalu keluar kosan.
Billa hanya mengangguk dan tersenyum lega saat kakaknya ternyata tidak membahas prihal yang sangat ingin Billa hindari.
Bukan tanpa sebab Reza tidak melanjutkan obrolannya dengan sang adik, Reza sangat mengenal adiknya. Dia sangat patuh atas apapun perintah nya. Jadi tidak harus di paksa atau memberikan nasehat banyak lagi, toh Billa pun sudah faham karena dia lulusan pondok pikirnya. Didikan di pondok bahkan sangat membatasi interaksi lawan jenis. Reza yakin Billa pun pasti akan membatasi dirinya dengan lawan jenis ketika di kampus. Karakter itu sudah pasti melekat pada adiknya itu. Ditambah sikap cuek yang juga dimiliki oleh Billa. Justru Reza sekarang merasa bodoh atas perintahnya. 'Kenapa juga musti bilang kaya gitu, toh Billa pasti sudah bisa membedakan mana yang terbaik untuk pendidikan nya dan urusan itu pasti di nomor duakan' batinnya sambil terus berjalan seraya tersenyum.
*
"Abang pamit dulu ya.., umma tadi pesan untuk sholat tepat waktu, jangan tinggalkan sholat dan tetap teguh pada ilmu yang sudah di dapatkan saat di pondok" ucap Reza sambil mencubit pipi chubby milik adiknya.
"Siap, aku juga titip umma ya bang, jangan sering meninggalkannya terlalu larut, beliau pasti menunggu Abang pulang walaupun Abang pulang larut." Jawabnya sendu.
"Iya dek, inget pesan Abang ya.., Assalamualaikum" Jawabnya sambil memeluk adiknya dan mulai beranjak memasuki mobilnya.
"Waalaikumussalam" ucap Billa sambil tersenyum dan melambaikan tangannya kepada sang kakak.
Sebenarnya Billa ingin mengatakan dengan jujur kepada umma dan Buya tanpa ada yang di sembunyikan tentang apa yang di telah di alaminya saat awal masuk kuliah. Tapi itu tidak mungkin, gadis itu akan jujur ketika nanti sudah libur kuliah atau setelah Billa memberikan keputusan nya kepada syafik.
*
"Baru masuk sudah dapet tugas bikin makalah, mana kita gak sekelompok pula. Menyebalkan banget ya bill" curhatnya sambil menyeruput es teh yang baru datang setelah memesannya.
"Ck, kamu ni semua dosen di bilang menyebalkan, Ratna, kita bahkan baru masuk kuliah kamu sudah ngedumbel kaya gini. Apalagi pekan depan yang mungkin kita sudah presentasi dan membuka diskusi seperti yang di peragakan saat di kelas" ujarnya sambil mengunyah bakso yang sudah lumayan hangat.
Ratna tidak menjawab langsung nasehat yang di ucapkan Billa melainkan menyenggol bahu Billa dengan keras dan melirik sengit teman dekatnya itu.
"Apaan sih Rat, jadi tumpah kan kuahnya. Padahal udah di racik pas tadi" ujarnya kesal. Billa bahkan semakin kesal saat Ratna tidak meminta maaf melainkan memainkan ponselnya secara khusyuk.
"Assalamualaikum" ucap seseorang yang telah duduk di bangku seberangnya sambil menyodorkan brosur. Billa mendongak dan menatap malas Zafran. Pemuda itu tersenyum melihat Billa yang sepertinya sedang kesal sambil mengelap kuah bakso yang sudah sedikit tumpah.
"Waalaikumussalam, aduh, kenapa harus aku sih. Kamu mending suruh yang lain. Yang telaten sama hal beginian. Brosur kemaren aja masih belum habis." Jawab Billa sambil menyodorkan kembali brosur milik UKM nya tersebut. Zafran tidak marah sama sekali ketika Billa dengan spontan menolak untuk membagikannya. Zafran hendak menjawab namun keburu terdengar suara Ratna yang dari tadi memperhatikan keduanya dengan lekat.
"Biar aku saja yang menyebarkan brosur nya., Billa orangnya cuek. Jadi serahkan kepadaku insyaallah besok sudah berada ke tangan para mahasiswa fakultas tarbiyah" ucap Ratna seraya mengambil bingkisan yang sudah dapat di tebak isi nya adalah brosur UKM binaan dakwah.
"Okey, terima kasih Ratna. Semoga Allah membalas kebaikanmu." Jawab Zafran sambil tersenyum.
"Mulai besok, kalau ada brosur lagi hubungi saja Ratna. Aku benar-benar tidak telaten dengan kegiatan menyebarkan brosur."
"Tunggu dulu, maksudmu selama ini kalian kontekan melalui seluler untuk membahas brosur begitu?" tanya Ratna dengan muka penuh tanda tanya dan tidak percaya dengan apa yang di lihat dan di dengar.
"Tidak"
"Iya "
ucap keduanya bersamaan. Membuat Ratna dengan reflek menutup mulutnya dan memandang Zafran dan Billa secara bergantian.
"Jangan percaya dengan dia, aku hanya membantunya itu pun baru dua kali. Ini yang ketiga kalinya. Dan aku tidak mau lagi membantunya. Aku benar-benar tidak telaten untuk melakukan menyebarkan brosur." Ujarnya gamblang.
"Baiklah, jika itu mau mu. Aku tidak akan mengganggu mu lagi. Untuk seterusnya biarkan Ratna yang membantuku untuk membagikan brosur kepada mahasiswa baru." Jawab Zafran sambil berdiri melangkah meninggalkan Billa dan Ratna tanpa mengucapkan salam.
'Dasar aneh, datang mengucap salam. Pulang seenak jidat.' Batin Billa.