Habibillah Hawaari

Habibillah Hawaari
Anindita Aulia Renata



Billa memarkirkan motornya di garasi rumahnya dengan tenang. Sore ini gadis itu baru saja sampai di rumah orangtuanya.


"Assalamualaikum umma.." Teriaknya senang dengan langkah pasti memasuki rumah yang tidak terkunci.


"Waalaikumussalam sayang, anak umma sudah pulang, kemari nak" Ujarnya seraya memeluk putri bungsunya dengan lembut. Billa hanya mengangguk dan membalas pelukan sang ibu dengan erat. Usai menguraikan pelukan nya Billa meraih tangan ibunya dan Salim dengan takzim.


"Kemana Buya dan Abang umma.. " ucapnya sambil membawa barangnya masuk kedalam kamar, menyisihkan Snack untuk pergi mendaki namun dibatalkan karena sang kakak melarangnya.


"Abang mu belum pulang, kalau Buya lagi keluar sebentar membeli pulsa, kamu lekas mandi dan makan. Umma sudah menyiapkan menu kesukaanmu." Inilah yang Billa tunggu-tunggu. Perhatian ibunya ketika Billa pulang ke rumah, ibunya selalu memasak masakan kesukaannya jika gadis itu dirumah. Billa nurut, dia pun melesat ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang letih dan sangat lengket karena keringat. Cukup 10 menit gadis itu mengguyur tubuhnya, setelah selesai mandi, gadis itu merasa haus dan ingin mengambil air dingin untuk membasuh tenggorokan nya yang terasa kering.


"Dek, Alhamdulillah sudah pulang.. " ucap Reza seraya mengacak-acak rambut adiknya yang masih basah.


"Apaan sih bang, kan jadi lecek" merapihkan kembali rambut yang kusut karena ulah kakaknya. Reza tidak menyahut justru langsung tersenyum ketika melihat raut muka adiknya yang kesal.


"Abang tau kamu marah, tenang saja. Abang tidak akan melarangmu untuk melakukan ini dan itu lagi setelah liburan ini" ucapnya cukup membuat Billa menengok kearah kakaknya dan menatap Reza meminta kejelasan.


"Mulai tahun ajaran baru besok, Abang membebaskan mu untuk melakukan yang ingin kamu lakukan selama belajar di kampus. Gunakan izin ini untuk menambah wawasan dan pengalaman baru yang bermanfaat dan menyenangkan. Buat kenangan indah semasa kuliah." ujarnya sambil tersenyum. Billa di buat melongo dengan perkataan kakaknya yang tiba-tiba berubah. Namun hanya sesaat, gadis itu langsung berlari kearah kakaknya dan memeluk sang kakak dengan erat.


"Terima kasih bang, aku akan membuatnya sangat berarti dan patut di kenang ketika nanti sudah lulus" ucapnya haru sambil memeluk sang kakak dengan erat. Reza mengelus sayang mahkota adiknya dan mengurai pelukan untuk melihat ekspresi wajah sang adik yang terlihat senang sekarang.


"Jaga kepercayaan yang Abang dan orangtua kita berikan dengan baik ya dek." Billa mengangguk mantab dan menarik kakaknya untuk duduk di kursi makan.


"Ayo, aku sudah lapar. Kakak mau makan apa ?" Beginilah Billa jika sudah di turuti keinginan nya. Dia akan melakukan hal yang menggemaskan untuk membalas kebaikan yang diberikan untuknya.


"Apa kita tidak menunggu Buya dan Umma ?"


"Tidak perlu menunggu kami, karena kami juga akan makan malam sekarang" ucap Buya rehan yang sedang berjalan ke arah meja makan dan di susul oleh ibu mereka dengan senyuman mengembang di wajah keduanya. Makan malam yang biasanya dilakukan setelah sholat Maghrib. Kini mereka mulai hampir menjelang Maghrib. Wajah kebahagiaan Buya dan Umma terpancar jelas karena anak-anak nya yang berkumpul sore ini.


"Bagaimana kuliahmu Bill?" tanya Buya setelah menyelesaikan makan malamnya dengan tenang.


"Alhamdulillah berjalan lancar Buya, semua berkat doa yang Buya dan Umma panjatkan setiap hari." ujarnya tersenyum lembut menatap kedua orangtuanya yang juga tersenyum ramah kepada putri bungsu mereka.


"Reza, bagaimana dengan rencana mu untuk melamar Dita nak," tanya Buya menatap serius Reza. Reza menghela nafasnya dengan berat. Menatap adiknya yang sudah di pastikan kaget dengan pertanyaan sang ayah kepada kakaknya.


"Seperti nya Billa ketinggalan info nih" sindir Billa kesal menatap Abangnya yang kini juga menatapnya lekat.


"Abang mau ngomong malam ini rencananya sama kamu, tapi Buya keburu nanya." ujarnya membela diri.


"Abangmu insyaallah sudah menemukan calon istrinya nak, kamu juga insyaallah suka dengan pilihan kakakmu" ujar umma memberikan pengertian dengan lembut kepada Billa. Billa hanya tersenyum dan mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi selama dirinya pergi.


"Insyaallah Reza sedang menunggu jawaban dari pihak perempuan Buya. Setelah dia menjawab, Reza akan beritahu kabar selanjutnya kepada Buya dan Umma"


"Hem, aku enggak nih ?" sindir Billa ketus.


"Kamu juga dong," ujarnya gemas sambil mencubit pipi chubby milik Billa.


.


Usai menyelesaikan makan malam dan obrolan ringan semuanya beranjak dari kursi makan masing-masing. Billa sibuk membantu umma membereskan piring kotor dan membersihkannya sebelum menuju ke kamar untuk melakukan kewajiban sholat Maghrib. Sedangkan Reza dan Buya sudah beranjak menuju masjid untuk sholat berjamaah. Setelah merampungkan pekerjaan ringan di dapur bersama ibunya. Billa kembali ke kamar dan langsung melesat ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.


.


Billa merampungkan sholat nya dengan khusyuk, tangannya terulur mengambil benda kecil kesayangan umat Islam itu untuk di baca dengan baik dan benar. Hingga ketukan pintu terdengar membuatnya mencukupkan untuk membacanya dan mulai beranjak membuka pintu dengan mukena yang masih terpakai.


"Abang ngapain ?" memperhatikan kakaknya yang sedang menatapnya setelah pintu dibuka.


"Kamu mau muroja'ah ya ?"


"Enggak sih, cuman baca saja. Masuklah kalau Abang mau ngomong" sepertinya Billa paham kenapa abangnya baru pulang dari masjid langsung menemuinya. Keduanya memasuki kamar Billa tanpa menutup pintu kamarnya. Billa mulai membereskan peralatan sholat nya dan menyusul Reza yang sudah duduk terlebih dahulu di bibir ranjang.


"Dek, Maaf karena belum mengatakan hal apapun kepadamu"


"Iya, aku tahu pasti ada alasan nya kenapa belum kasih tau sampe sekarang"


"Dia Anindita Aulia Renata -"


Deg.


Billa tidak lagi mampu mendengar kan abangnya yang sedang menceritakan tentang sosok yang akan menjadi kakak iparnya. Gadis itu seolah ngeblank dengan segala apapun yang di ucapkan kakaknya. Billa masih sangat ingat seperti apa sosok wanita itu. Gadis yang semena-mena dan pernah membullynya ketika Billa menjadi santri baru di pondok nya.


"Maaf kan aku bang, kita bicarakan lagi ini besok ya, Billa pusing banget, gak konsen dengan semua yang Abang bicarakan sekarang" ujarnya bangkit dan mulai bersiap untuk rebahan. Reza yang mulai membaca situasi yang tidak biasanya. Mulai mengerti ada sesuatu yang tidak beres dengan nama itu. Karena sejak Reza menyebutkan nama itu ekspresi wajah adiknya yang teduh itu berubah menjadi muram. Hal itulah yang membuatnya ragu untuk terus berbicara.


"Baiklah, mungkin karena kamu kelelahan setelah perjalanan yang lumayan jauh" ujarnya tersenyum sambil mengelus mahkota adiknya.


'Aku tidak mungkin menerimanya sebagai kakak iparku'' batinnya sendu.