Habibillah Hawaari

Habibillah Hawaari
Pendekatan



Ricky menoleh kearah Istrinya, keduanya saling menatap dalam membaca perasaan masing-masing pada bola mata yang terpancar sendu.


"Katakan, aku siap mendengarkan apapun pendapatmu Dek" Billa menghela napasnya dalam sebelum mengatakan sesuatu kepada pria yang kini tengah menantinya dengan sabar.


"Sebenarnya Aku.., Aku belum siap hamil"ujarnya lirih menunduk dalam takut menatap suaminya yang kini begitu kaget mendengar pernyataan yang sebenarnya telah lama dipikirkan. Ricky memang sudah mempersiapkan mental sebelumnya, ucapan Reza dan Ayahnya begitu terngiang saat pria itu baru saja melangkah pada pelaminan. Namun, dia tidak menyangka. Ternyata mendengar langsung pernyataan Istrinya tentang belum siap menerima momongan sangat sesedih ini.


"Baiklah, Kita akan tetap liburan ya.., sayang sekali jika pengajuan cuti liburku diabaikan begitu saja. Minimal, kita bisa saling memahami dan mengenal satu sama lain." Billa tidak menyangka, ternyata pria dihadapannya saat ini begitu pengertian dan sangat menerima pendapatnya.


"Kakak gak marah ?" Ricky tersenyum lembut seraya mengelus wajah Istrinya yang ayu.


"Tidak mungkin aku bisa marah denganmu, Kita bahkan baru menikah kemarin." Billa tersenyum hangat yang langsung membuat Ricky menatapnya dengan lekat.


"Tersenyumlah selalu, aku sangat menyukai senyuman itu." Ucapan Ricky jelas membuat Billa grogi dan malu. Perempuan itu segera mengalihkan pandangannya keluar jendela. Namun, Ricky dengan sigap menarik tubuh Istrinya hingga menabraknya, kedua wajah mereka sangat dekat, nyaris tanpa sekat dan mampu merasakan hembusan napas masing-masing.


"Jangan salahkan aku jika aku hilaf." Ujar Ricky sebelum mencium lembut bibir ranum milik Istrinya yang berwarna merah muda. Billa yang mulanya terkejut, kini membiarkan suaminya bebas mengeksplor bibirnya. Keduanya hanyut dalam balutan kasih, sama-sama merasakan kecapan rasa bibir pasangan yang begitu manis dan membuat candu.


"Kak" ujar Billa lirih mengatur napasnya yang mulai sesak dan naik turun saat tautan kedua bibir itu terlepas.


"Maaf" Ricky tersenyum hangat mencium kening Istrinya yang saat ini begitu malu bahkan wajahnya sudah merah merona. "Kita bicarakan lebih detail lagi saat sudah sampai ya." Billa mengangguk lega saat telah mengungkapkan keinginannya untuk menunda kehamilan. Gadis itu bahkan sudah mulai terbuka dan memulai percakapan setelah hampir satu jam menempuh perjalanan diam seribu bahasa.


"Boleh aku tahu, kenapa Kakak bisa memilihku untuk mengajukan CV ?" tanya Billa tanpa malu ketika keduanya sedang beristirahat di masjid setelah menunaikan kewajiban sholat ashar.


"Hafalan." Jawab Ricky singkat menatap Istrinya yang juga tengah menatapnya heran.


"Hafalan ?"


"Hem, jika seseorang sudah mempunyai hafalan dan dia mampu menjaganya dengan baik bahkan setelah lepas dari komunitasnya. Maka ketahuilah, sesungguhnya dia tengah berjuang agar apa yang telah diraihnya sedang dipertahankan bahkan diperjuangkan untuk tetap ada di hati dan berusaha menambahnya. Dan kita tahu, menjaganya lebih sulit dibandingkan ketika baru memulai." Billa terperangah mendengar penuturan gamblang dari mulut suaminya. Perempuan itu tidak menyangka, sosok pria dihadapannya begitu banyak kejutan tersimpan didalamnya.


Satu yang membuat Billa kini begitu terpesona dengan suaminya, bahwa Ikhwan yang bukan lulusan pondok juga bisa melebihi kategori lulusan Pondok. Billa bahkan mulai mengenali suaminya, pria yang kini menjadi suaminya itu begitu rajin mengerjakan sholat Sunnah dan mengulang hafalannya secara diam-diam, nyaris melebihi para lelaki yang notabenenya lulusan pondok justru kebanyakan lepas dari yang namanya Sunnah dan hanya menjalankan kewajiban itupun cuma-cuma tanpa menikmati Ibadah.


"Apa yang membuat Kakak Hijrah ?" Ricky tersenyum lembut sembari mengelus kepala Istrinya yang terbalut Hijab.


"Awalnya memang bukan karena Allah, tapi setelah kembali bertemu dengan sahabat Kakak, Zaid dan Reza membuat Kakak buka mata dan hati untuk mengenal konsep dasar tauhid yang sesungguhnya. Bagaimanapun, Kakak merasa bersyukur. Dengan adanya ujian, kita bisa belajar bahkan mampu mengubah jalan hidup menjadi lebih baik." Billa tersenyum hangat mendengar penuturan dari suaminya.


"Ternyata begitu dahsyat ujian itu ya.., sampai membuat Kakak akhirnya hijrah seperti sekarang." Celetuk Billa tanpa menghadap suaminya yang saat ini sedang menutupi rasa gugupnya.


"Kita lanjutkan lagi yuk perjalanannya. Insyaallah sebentar lagi kita sampai" Billa mengangguk setuju lalu meraih tangan suaminya untuk digenggam. Ricky merasa sangat bersyukur, perempuan yang dulunya cuek dan sangat sulit didekatinya sekarang telah halal baginya.


"Dia temanku." Jawab Billa singkat berusaha menutupi rasa was-was didalam hatinya yang sangat mengganggunya saat ini.


"Bukankah dia juga datang saat pernikahan kita ?" tanya Ricky saat sudah memasuki mobilnya dan mulai menghidupkan mesin untuk melanjutkan perjalanan.


"Hem" sikap Billa yang tiba-tiba diam tanpa minat membicarakan nama Syafik jelas membuat tanda tanya untuk Ricky.


"Jika memang belum siap menceritakan tidak apa-apa Dek" Billa hanya tersenyum canggung dan mulai menatap suaminya yang sedang fokus menyetir.


"Lalu dalam bentuk apa ujian yang sudah membuat Kakak memutuskan untuk hijrah ?" Ricky yang mulanya fokus menyetir langsung menoleh kearah Istrinya yang kini tengah menatapnya dalam.


"Kebodohan" Billa terkekeh lucu mendengar penuturan dari suaminya.


"MaaSyaAllaah, aku sangat bangga. Ternyata Kakak berhijrah karena merasa bodoh dengan agama kita. Lalu Kakak memutuskan untuk belajar sampai bisa seperti saat ini." Ricky hanya tersenyum getir menanggapi ucapan Istrinya. Baginya, masa lalunya tentang Mutia hanya kebodohan karena telah menyia-nyiakan waktu untuk berbuat dosa bahkan zina dengan lawan jenis.


Keduanya terus mengobrol hingga Billa merasakan kantuk dan tertidur pulas di kursi mobilnya. Ricky membenarkan posisi Istrinya agar tidak sakit ketika bangun lalu melanjutkan menyetir mobilnya.


"MaaSyaAllaah, terima kasih ya Rabb."Ucapnya dalam hati begitu bahagia mendapatkan Istri seperti Billa. Bagi Ricky tidak ada rasa bahagia yang melebihi perasaannya saat ini saat menemukan Istri Idamannya yang Sholihah tengah hadir menemani hidupnya.


Ding


Ponsel Billa yang saat itu masih dalam genggaman tangannya membuat Billa terganggu namun tidak sampai membangunkannya. Bukan tipe Ricky begitu kepo dengan urusan orang, namun. Saat ini perempuan disampingnya bukanlah orang lain, melainkan Istrinya sendiri. Pria itu tiba-tiba kepo maksimal sampai menghentikan mobilnya ditepi jalan dan mengambil ponsel milik Istrinya secara perlahan.


{"Annisa"}~Syafik


Ricky yang membaca pesan tersebut dibuat tak percaya dengan kelakuan laki-laki yang sempat menyapanya pada pesta pernikahannya kemarin malam. Ricky yang geram dengan kelakuan Syafik yang centil tersebut segera mengecek ponsel Istrinya dengan bebas. Billa memang tidak menggunakan sandi ataupun mengunci Ponselnya setelah pulang dari KKN.


"Jadi dia dulunya pernah mengajak Billa menikah" gumam Ricky lirih setelah membaca percakapan yang ada di ponsel Billa namun tidak sepenuhnya.


"Kamu bahkan tetap cuek dan tegas saat menjawab pesan dari temanmu. Pantas saja kepadaku lebih cuek." Ucapnya lagi lalu mengembalikan ponsel Billa tepat dipangkuan Istrinya. Ricky sengaja tidak membaca percakapan lama antara Istrinya dan Syafik lantaran pria itu meyakini, suatu saat. Billa akan menceritakan dengan sendirinya tentang Syafik.


"Aku tahu, kamu tidak mungkin hanya sebatas teman dulunya." Ucapnya dalam hati tanpa merasa cemburu sedikitpun karena Ricky paham itu hanya masa lalu Billa. Lain halnya jika Syafik tetap berusaha mendekati Billa padahal tahu status perempuan itu kini telah menjadi Istri sah dari Ricky Irawan.


"Kalau berani, coba saja. Lihat akibatnya anak muda." Gumamnya lirih sembari meneruskan perjalanannya yang sebentar lagi akan sampai.