Habibillah Hawaari

Habibillah Hawaari
Oleh-oleh



Ricky mengambil beberapa barang yang dibawa khusus untuk kelompok bimbingannya didalam mobilnya setelah selesai menyantap makan siang bersama. Sementara itu, Billa dan teman-teman lainnya bergegas membereskan sisa makanan agar ruang tengah itu kembali bersih dan rapih, kondisi ruangan yang sempit dan terbatas harus bisa cekatan membersihkan agar bisa digunakan kembali.


"Bill, biar gue yang cuci piringnya. Lu kan tadi udah beresin ruangan." Sanggah Febri yang disetujui oleh Eka.


"Siap, kalau butuh bantuan panggil saja aku ya." Billa melangkah pergi bergabung dengan teman-temannya untuk melihat barang yang dibawa oleh DPL nya.


"Ini adalah barang-barang saya yang sudah tidak terpakai. Fungsinya masih bagus dan pasti dibutuhkan oleh kalian selama KKN." Ujar Ricky sambil meletakan sebuah printer beserta peralatan lainnya.


"Wah, Bapak benar sekali. Kami baru saja ingin mengambil alat ini untuk proker kita kedepannya dikosan. Terima kasih banyak ya Pak. Alat ini sangat membantu kami disini" Ucap Alir dan teman-temannya bersamaan kepada Dosen tampannya itu dengan antusias.


"Gak jadi balik kita Bro, Alhamdulillah udah dikasih sama Pak Ricky" ucap Raka sumringah. Ricky menatap wanita yang sejak tadi terlihat asyik mengobrol dengan teman disampingnya. Hingga tanpa sengaja kedua netra itu bertemu saling memandang beberapa detik.


Billa mengalihkan pandangan terlebih dahulu tatkala sadar saat lengannya disenggol pelan oleh Tiwi.


"Bill, nanti sore temenin ngambil kain bekas di konveksi sebelah yuk" ajak Tiwi bisik-bisik ditelinga teman dekatnya. Billa mengangguk pelan sambil mengacungkan jempolnya kearah Tiwi.


Cukup lama Ricky singgah di posko dua satu dua binaannya untuk memberikan arahan dan sarannya kepada Mahasiswanya. Tepat pukul setengah tiga pria itu pamit untuk pulang. Sebenarnya Ricky ingin sekali menyapa gadisnya, sekuat mungkin pria itu mencoba untuk tidak memanggilnya khusus, terlebih banyak mata yang memperhatikannya.


"Saya pamit dulu, insyaallah jika ada waktu saya akan menyempatkan datang menjenguk kalian. Sehat-sehat kalian, jaga sopan santunnya. Assalamualaikum" ujarnya hangat melambaikan tangan kepada mahasiswanya yang kini juga melambaikan tangan kearah Ricky.


"Waalaikumussalam, Siap Pak, hati-hati dijalan dan Semoga selamat sampai tujuan."Jawab Alir mewakili teman-teman lainnya.


"Huft.., sulit sekali. Padahal bisa melihat tapi gak bisa nyapa" gumam Ricky setelah berada didalam mobilnya. Pria itu tidak langsung menghidupkan mobilnya, diambilnya benda pipih kesayangan sejuta umat dan mulai memainkan jarinya dengan lincah pada layar ponselnya.


"Dek" ucapnya senang lantaran panggilannya dijawab oleh seorang gadis yang kini bisa dilihat dari dalam mobilnya.


"Kenapa Pak, apa ada yang tertinggal ?" jawab Billa was-was lantaran calon suaminya itu nekat menghubunginya.


"Hem, selama hampir tiga jam aku disini. Sedetikpun aku gak bisa nyapa kamu. Tersenyumlah, aku melihatnya dari dalam mobil." Ujar Ricky mulai tidak bisa mengontrol perasaannya dari dalam mobil. Billa melongo mendengar penuturan konyol calon suaminya. Gadis itu menuruti keinginannya dengan tersenyum tipis menghadap mobil Dosennya. Teman-teman Billa sudah mulai masuk rumah untuk mencoba alat pemberian dari Dosennya. Hanya ada beberapa teman perempuan yang sedang duduk lumayan jauh dari Billa sambil memainkan ponselnya.


"Kenapa pelit sekali senyumnya" Billa mendengus kesal dan melangkah masuk.


"Dek, jangan masuk dulu." Ucapnya yang langsung membuat langkah Billa terhenti dan memutar tubuhnya menghadap mobil Dosennya yang terlihat diseberang jalan.


"Huft.., Baiklah, jaga dirimu baik-baik. Terutama hatimu, jangan dengarkan gombalan receh dari teman-teman lelakimu. Tersenyumlah sekali lagi, setidaknya aku membawa oleh-oleh saat pulang ke rumah Dek" Billa mengernyit heran menangkap ucapan dari calonnya. Tidak ambil pusing, Billa langsung tersenyum hangat menatap sebuah mobil yang mulai menghidupkan mesinnya.


"Assalamualaikum Habibillah Hawaari" ucap Ricky pelan namun mampu menembus relung hati milik Billa dengan hangat. Billa menghela napasnya lega sembari melangkah masuk setelah menjawab salam dari calonnya.


Ricky mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sepanjang perjalanan pria itu terus tersenyum sambil mengingat wajah imut gadisnya yang sedang tersenyum hangat.


"Rasanya aku tidak sabar untuk segera menikah, kamu membuatku resah Dek" gumam Ricky sambil menyetir mobilnya dengan santai.


Ding.


{"Assalamualaikum Iky"}~ Mutia


Ricky membaca sekilas pesan dilayar handphonenya tanpa berniat untuk membuka chat dan membalasnya. Ada perasaan kesal terhadap wanita yang dulu memenuhi hatinya, Pria itu memang sudah memaafkan perbuatan mantannya setelah Mutia menjelaskan kronologi yang sebenarnya saat makan siang bersama tempo lalu. Tapi untuk kembali merajut kasih, Ricky jelas menolaknya.


"Kenapa kamu harus kembali muncul dihadapan ku setelah sekian lama. Delapan tahun aku bahkan mulai melupakan dan tak mengenalimu. Dengan gampangnya kamu muncul sekarang." Gumam Ricky kesal menatap lurus jalanan dihadapannya.


Di sebuah rumah sakit, seorang gadis yang baru saja keluar dari ruangan kerjanya memandangi ponsel miliknya mengharapkan sebuah balasan dari pria yang masih memenuhi hatinya.


"Dokter Mutia, apa anda sudah selesai tugas hari ini ?" sapa seorang pria yang juga Dokter kandungan rekan sejawatnya.


"Eh, iya Dok. Sudah selesai, mohon maaf sebelumnya saya buru-buru. Sampai bertemu lain waktu." Ucap Mutia bergegas mengindari pria yang kini menatapnya dengan sendu.


"Kamu tidak berubah, selalu tidak pernah menganggap ku" ujarnya sendu melanjutkan langkah menuju ruangan.


Khaira Mutia Putri, adalah seorang wanita anggun dan sangat cantik. Karirnya dalam dunia kesehatan baru berjalan beberapa bulan yang lalu setelah dirinya berhasil mendapatkan gelar spesialis kandungan. Sejak diputuskan sepihak oleh mantannya yang bernama Ricky, gadis itu belum memiliki kekasih kembali. Segala mimpi dan harapannya pupus saat Ricky dengan marah dan emosi meninggalkannya begitu saja setelah kelulusan pada program strata satu di Singapura. Gadis itu mulai mencari keberadaan Ricky melalui teman-teman, sahabatnya bahkan kedua orangtua Ricky. Namun sayangnya, semua seolah menutupi keberadaan Ricky saat itu.


Gadis itu melanjutkan pendidikannya setelah mendapatkan gelar Doktornya dengan menempuh program profesi dan spesialis kandungan yang menghabiskan waktu kurang lebih enam tahun lamanya, Gadis itu kembali pulang ke kota asalnya dan memulai karirnya di Rumah sakit Bumi Medika. Tanpa sepengetahuannya, Pria yang sejak dulu dicari, juga telah kembali di kota yang sama tempatnya pertama kali Keduanya kenal. Perasaannya yang masih sama, membuatnya kembali berusaha berjuang untuk mendapatkan cinta Ricky kembali.


"Iky, kenapa kamu begitu dingin kepadaku sekarang, aku pikir setelah aku menjelaskan segalanya kepadamu saat itu, kita akan kembali bersama seperti dulu" gumamnya lirih menghapus air matanya yang sempat jatuh saat kembali menatap foto kenangan keduanya saat masih bersama. Tidak mudah bagi Mutia melewati Pendidikannya yang sulit dengan hati yang masih kacau. Rasa bersalahnya kepada mantan kekasihnya jelas menghantui perjalanannya selama ini.


"Cukup lama aku menantikan waktu dimana aku bisa menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi dulu, tapi kamu sama sekali tidak mengindahkan penjelasan dariku Iky" gumamnya lirih kembali menangis sendu didalam mobilnya.