Habibillah Hawaari

Habibillah Hawaari
Gugup



Ricky terbangun dari tidurnya saat mendengar suara berisik ketukan dari pintu kamarnya. Pria itu dengan malas segera bangun dan membuka pintu kamarnya lebar. Ibunya tengah menatap putranya yang ternyata belum mandi bahkan baru bangun saat waktunya sarapan pagi.


"Begini yang katanya mau nikah ?" tanya Ibu Nadia menjewer telinga putranya yang kini menguap dengan menutup mulutnya.


"Aw, apaan sih Ibu Nadia. Pagi-pagi bikin rusuh." Ricky mengelus kupingnya dan segera beranjak menuju kasur. Pria itu memang bangun siang lantaran lembur karena harus menyelesaikan pekerjaannya secepatnya untuk bisa segera mengambil cuti libur untuk acaranya dan persiapan liburan yang direncakan setelah menikah.


"Kamu bisa-bisanya sudah mau jam delapan belum bangun." Omel Ibu Nadia menepuk pundak Ricky cukup kuat.


"Eh astaghfirullah.. sakit Bu, memangnya kenapa aku bangun siang. Toh hari ini juga libur tidak masuk kerja. Aku juga bangun siang tapi tetap sholat subuh tepat waktu bahkan berjamaah di masjid. Ibu Nadia terhormat, putramu ini lelah karena harus mengejar target." Omelnya tak kalah cerewet dari Ibu Negara.


"Sekarang Ibu minta kamu mandi, setelah ini kita memilih perhiasan untuk Billa. Ayah dan Ibu akan Kerumahnya untuk memberikan seserahan kepadanya nanti malam." Ricky yang mulanya malas-malasan berbaring diatas kasurnya kini kembali bangkit dan duduk disamping Ibunya.


"Really ?" Ibu Nadia mengangguk sembari mendorong putranya memasuki kamar mandinya.


"Boleh aku -"


"Tidak!, kau tidak boleh bertemu sampai hari dimana kau akad" Ucap Ibu Nadia sembari menutup pintu kamar mandi anaknya lalu keluar kamar menuju ruang makan untuk memulai sarapan tanpa putranya.


"Dimana anakku ?" tanya Ayah Roby melihat Istrinya hanya seorang diri tanpa putranya.


"Hey, dia putraku juga. Dia baru mau mandi, kita sarapan dulu saja. Biar dia nanti menyusul." Kedua pasangan suami istri itu memulai sarapannya tanpa putra tunggalnya.


"Kau sudah mengetahui bukan, Ricky membeli rumah mewah untuk ditempati setelah menikah"Ucap Ayah Roby disaat sela-sela sarapannya.


"Seharusnya kita mencegahnya, entah bagaimana rumah ini nantinya saat dia pergi. Kenapa mereka tidak tinggal disini saja. Aku bahkan sangat mengharapkan Billa tinggal bersama kita. Impianku mempunyai anak perempuan akan terwujud." Ayah Roby menghela napasnya dalam saat lagi-lagi Istrinya pasti selalu keberatan jika Ricky akhirnya akan pindah dari rumahnya.


"Kita tidak bisa egois Ibu Nadia, mereka pasti butuh privasi untuk saling beradaptasi. Kau tahu betul hubungan keduanya terjalin karena proses ta'aruf. Bukan pacaran yang sudah mengetahui masing-masing kekurangan maupun kelebihannya." Ibu Nadia menunduk sendu setelah membenarkan penjelasan dari suaminya.


"Mereka pasti akan sering menginap nantinya, doakan saja semoga menantu kita segera mengandung. Kita yang akan merawatnya nanti" Ibu Nadia yang mulanya sendu kini berubah semangat saat menyetujui ide dari suaminya. Ya, sebagai calon Nenek dan Kakek muda, mereka sangat antusias menunggu putranya memiliki momongan agar bisa menjadi penerus untuk keluarganya.


"Menikah saja belum sudah ngomongin cucu." Celetuk Ricky mengambil posisi duduk dekat Ayahnya begitu saja. Pria itu sudah memakai pakaian yang sangat rapih dan terlihat lebih segar.


"Sayang.., boleh tidak jika nanti Billa hamil. Anakmu biar Ibu dan Ayah yang merawatnya. Kalian bisa membuatnya lagi" Ricky yang sedang mengunyah makanannya seketika tersedak saat mendengar penuturan kedua orangtuanya yang begitu terang-terangan.


"Ibu Nadia yang terhormat, bisa tidak jangan membahas anak dulu. Lihatlah, aku saja belum mengetahui bagaimana rasanya membuatnya. Ibu sudah mengatakan yang aneh-aneh." Ujar Ricky begitu kesal dan segera melanjutkan sarapannya.


"Katakan padanya nanti saat kalian sudah menikah, untuk tidak menundanya ya.. untuk masalah perkuliahan yang belum kelar, tidak masalah jika harus mengambil cuti sementara. Jika diperlukan, Billa tetap melanjutkan kuliahnya tanpa beban. Biar Ibu yang mengurus cucu Ibu nanti." Ricky hanya menggelengkan kepalanya pelan saat Ibunya sudah berlebihan dalam membicarakan sesuatu.


"Bu, Ayah tidak setuju jika Ibu sepertinya akan mengatur kehidupan Billa nantinya. Biarkan mereka menentukan akan seperti apa kelak rumah tangganya. Jangan terlalu ikut masuk kedalam perkara inti dari rumah tangga Ricky."Kali ini Ricky mengangguk setuju dengan pendapat Ayahnya bahkan mengacungkan kedua jempol nya kepada Ayahnya.


"Ibu hanya khawatir, Ricky kan bujang tua. Kalau dia menundanya, bisa jadi nanti saat anaknya dewasa akan memanggilnya Kakek" celetuk Ibu Nadia sengaja membuat huru hara baru dengan meninggalkan kedua Ayah dan Anak itu setelah mengatakan lelucon tersebut.


"Ibu Nadia!" ucap keduanya serempak lalu terkekeh bersama setelahnya. Keluarga Ricky memang begitu harmonis. Saling mendukung, bahkan selalu memberikan masukan positif untuk setiap permasalahan yang dihadapi baik Ricky maupun kedua orangtuanya. Adapun segala percakapan Ibunya yang terkesan mengatur, tentu saja tidak akan terjadi jika tidak mendapat persetujuan dari Ricky dan Billa tentunya. Keluarga kecil itu segera melangkah keluar rumah untuk mempersiapkan segala keperluan untuk diberikan kepada pihak Billa saat malam nanti dalam acara seserahan.


*


Sementara itu, kini Billa tengah melakukan perawatan diri yang di antar langsung oleh Kakak Iparnya pada sebuah salon terdekat ditempat tinggalnya. Perempuan itu cukup memahami hak dan kewajiban yang harus diberikan pada suaminya sebagai seorang Istri nantinya.


"Mbak, kenapa aku gugup sekali. Padahal masih sekitar enam hari lagi acaranya." Ujarnya merasa tidak tenang dan deg-degan sepanjang waktu. Winda hanya tersenyum hangat menggenggam tangan Adik Iparnya yang mungil serta memberikan nasehat yang bisa diterima Billa dengan nyaman.


"Dek.., percayalah. Jika nanti hari itu tiba, semua rasa was-was dan gelisah yang kita rasakan akan hilang sendirinya saat kamu resmi menjadi seorang Istri. Sesungguhnya perasaan itu datang karena bisikan dari setan yang menggangu ketentraman hatimu saat akan menikah." Billa mengangguk mengerti dan mencoba menepis segala perasaan negatif yang dirasakannya.


"Apa Mbak juga merasakannya ?"


"Tentu saja, bahkan banyak sekali godaan yang datang tanpa diduga sama sekali" tuturnya lembut menatap netra Adik Iparnya yang kini mulai menyadari beberapa kejadian yang sama dengan Kakak Iparnya.


Ya,Hari sebelumnya. Syafik terus menghubunginya bahkan tak segan mengirim pesan kepadanya hanya untuk memastikan Billa sudah makan atau mengingatkan untuk sholat tepat waktu. Padahal tanpa diingatkan, Billa jauh lebih sadar untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim. Hingga puncaknya tadi malam, Syafik memberanikan diri menelpon Billa beberapa kali meskipun sudah ditolak berkali-kali olehnya.


Lelah karena terus dihubungi, Billa memutuskan untuk menerima panggilan tersebut untuk mengatakan jangan mengganggunya lagi. Namun sayang, Syafik lebih dahulu mengutarakan niatnya ingin datang kerumah untuk melamarnya langsung. Pria itu juga mengatakan sudah memutuskan hubungannya dengan Dita dan menceritakan pengkhianatan yang dilakukan oleh Dita kepadanya. Saat itu juga Billa menjawab semua pernyataan Syafik dengan memberitahukan dirinya yang akan menikah beberapa hari lagi.


"Astaghfirullah"ucapnya lirih saat mengingat betapa rumitnya tadi malam saat meyakinkan Syafik bahwa dirinya sudah bertunangan bahkan akan segera menikah namun Syafik hanya menganggap ucapannya bohong. Pria itu mengira semua ucapan Billa hanya untuk membuatnya tidak lagi mengharapkannya.


"Dek ?" panggil Winda saat melihat Adiknya hanya diam sembari melamun.