Habibillah Hawaari

Habibillah Hawaari
Iky



Billa hanya tersenyum menanggapi pertanyaan dari teman barunya, tidak masalah bukan kalau tidak mau menjawab. Toh keduanya baru ketemu dan rasanya tak pantas jika harus berbagi layaknya teman dekat.


"Sorry kalau pertanyaan gue ngawur. Tapi serius deh, cincin kamu itu limited edition." Papar Tiwi mulai membuka handphone untuk menunjukan gambar yang ada diponselnya. Billa terperangah ketika mengetahui fakta bahwa cincin yang dikenakan olehnya memang memiliki harga yang fantastis.


"Maafkan aku Tiwi, temanku sudah menungguku diparkir motor. Kebetulan dia tadi aku jemput. Jadi maaf kalau aku duluan ya.." pamit Billa begitu saja tanpa menunggu balasan dari teman barunya.


"Aneh sekali, kenapa sikapnya tiba-tiba berubah. Kenapa harus malu kalau memang sudah tunangan. Toh itu bukan aib. Aku saja PD." Ucapnya sambil melihat cincin yang melingkar dijari manisnya begitu cantik dan mewah.


Billa melangkah buru-buru kearah parkir khusus Mahasiswa, fakta bahwa DPL kelompok poskonya adalah calon suaminya begitu membuat pikirannya tidak tenang. Entah itu sebuah kebetulan atau memang sengaja Billa benar-benar tidak habis pikir.


"Apa aku harus bertanya langsung dengannya" gumam Billa lirih sambil terus berjalan tanpa memperhatikan sekitar.


"Billa" ucap seorang pria dengan suara beratnya. Billa langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sumber suara. Gadis itu cukup kaget saat melihat dengan nyata calon suaminya sekaligus Dosennya sudah berada di sampingnya dengan jarak hanya satu meter.


"Kamu kenapa Dek ?" Ricky menatap gadisnya yang kini tengah menghindari tatapannya.


"Hanya kaget, kenapa Bapak bisa menunjukan wajah dengan santai." Celetuk Billa langsung menutup mulutnya karena asal berbicara. Ricky tersenyum tipis mendengar penuturan calon istrinya.


"Sudah tahu dimana lokasi KKN nya ?" pancing Ricky dengan terus menatap wajah ayu calon istrinya yang sudah lama sekali tidak bisa melihatnya. Hampir satu bulan Ricky tidak bertukar kabar maupun bertemu dengan Billa. Ada perasaan yang tidak bisa digambarkan begitu melihat gadisnya sedang berjalan kearah parkir. Tanpa pikir panjang Ricky memutuskan untuk menghampiri Billa dengan memanggil namanya.


"Bukankah Bapak pasti yang lebih tahu ?" jawab Billa kesal sambil melanjutkan langkahnya.


"Apa kamu marah karena aku ditunjuk sebagai DPL kelompok posko kalian ?" Billa menghentikan langkahnya dan memberanikan diri untuk menatap pria dihadapannya.


"Memangnya siapa aku boleh marah dengan keputusan para petinggi kampus ?" tanya Billa dengan raut wajah kesalnya. Untuk pertama kalinya Ricky melihat wajah ayu gadis dihadapannya ditekuk dan itu membuat wajah Billa semakin imut dan sangat menggemaskan.


"Jangan cemberut seperti itu, kamu membuatku ingin segera mengikatmu dengan ikatan halal. Selamat KKN Dek, jaga kesehatan. Semoga harimu selalu menyenangkan bersama teman-teman barumu. Aku sendiri yang memilih kelompok untuk posko kalian. Ini semua untuk kebaikanmu dalam bergaul." Ujar Ricky dengan gamblang, tanpa Ricky sadari, perbuatannya yang menggunakan kekuasaan menimbulkan rasa yang amat kecewa di hati Billa. Gadis itu tidak menjawab pernyataan dari calon suaminya. Billa lebih memilih pergi dari pada semakin kesal kepada Dosennya itu.


"Apa aku salah bicara ?" gumam Ricky menatap kepergian gadisnya yang begitu terlihat marah. Pria itu tidak mengejar atau memanggil Billa, dia sangat sadar ini masih di area kampus. Sudah menghampiri Mahasiswinya dan mengobrol di area terbuka saja banyak pasang mata yang melihatnya dengan tatapan berbeda.


"Bill, dari mana saja sih, aku sudah lama menunggumu disini. Mana panas. Ayok ke kantin atau jalan dulu kemana. Aku haus." Ucap Ratna seperti Radio rusak. Billa menghela napasnya dalam dan mulai menenangkan rasa kesalnya dengan tenang.


"Baiklah, ayo kita mampir di cafe saja. Sekaligus aku ingin bertanya sesuatu kepadamu." Ratna mengangguk setuju dan mulai memakai helm yang diberikan teman dekatnya.


"Permisi Pak, ada tamu yang sudah menunggu di ruangan Bapak. Beliau bilang sudah membuat janji dengan Bapak." Ucap salah satu staf kampus yang menghampirinya saat akan melangkah.


"Baiklah, saya juga mau keruangan. Terima kasih infonya." Ucap Ricky dengan ekspresi datar dan melangkah lebar menuju ruangannya.


"Hai Iky" ucap seorang wanita cantik dan anggun menghampirinya dan akan memeluknya. Namun sayang, dengan sigap pria itu mundur kebelakang dan menstop pergerakan wanita itu dengan kode yang diberikan oleh tangan Ricky.


"Apa kamu tidak kangen denganku ?" tanya wanita itu dengan lembut bahkan terdengar kecewa dengan penolakan dari pria dingin dihadapannya.


"Jika tidak ada keperluan mengenai kampus. Silahkan pergi dari ruangan saya, ini adalah Institusi Pendidikan, bukan sebuah cafe untuk mengobrol atau hanya bersapa tidak jelas." Ucapan tajam Ricky tentu saja semakin membuat wanita cantik itu kecewa, bahkan meneteskan air matanya karena begitu terkejut dengan sikap pria yang dulunya begitu lembut dan hangat terhadapnya.


"Ricky.., aku -"


"Pak Ricky, apa anda sedang kedatangan tamu ?" ucap seorang laki-laki yang sudah tidak lagi muda melenggang masuk dan langsung menepuk pundak Ricky dengan keras. "Jika tidak, ikut saya keruangan. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Ini masih jam kerja. Bukan jam bersapa ria tanpa mengenal tempat dan waktu." Ucapnya lagi tak kalah pedas dari ucapan Ricky.


"Tunggu saya di ruangan Anda Pak, saya akan segera datang. Maaf telah membuatmu harus mengunjungi ruangan saya sebelumnya"


"Tidak masalah" ucapnya singkat dan segera melangkah keluar tanpa mau melihat wanita yang sejak tadi menatapnya dengan sendu.


"Maaf sebelumnya, aku harus keruangan beliau. Seperti yang kamu dengar dan lihat. Beliau sudah menyuruhku segera menghadapnya." Wanita itu mengangguk sendu bahkan dengan cepat menghapus air matanya dengan punggung tangannya.


"Sampaikan maaf kepada beliau karena telah berkunjung tanpa mengenal waktu dan tempat. Dan aku juga meminta maaf karena sudah mengganggu pekerjaanmu."Ujarnya lalu melangkah pergi tanpa mendengar jawaban dari Ricky.


Ricky melangkah gontai menuju ruangan atasannya yang faktanya adalah Ayahnya sendiri. Ada perasaan bersalah saat melihat wanita yang tadi datang keruangannya secara tidak langsung di usir olehnya sekaligus Ayahnya.


"Permisi" ucapnya ketika memasuki ruangan Ayahnya yang lebih lebar dari ruangannya


"Ayah tidak habis pikir denganmu Ki! Kenapa kamu membiarkan wanita itu datang keruanganmu begitu saja. Sudah Ayah beritahu kalau tunjuklah salah satu staf untuk menjadi asistenmu agar tidak terjadi lagi kejadian seperti ini." Ujar Ayah Roby semakin kesal lantaran putranya tidak mendengarkan arahannya kesekian kalinya. Bukan hanya sekali dua kali ada seorang wanita berkunjung seperti tadi. Itulah yang membuat Ayahnya memberi saran agar memiliki asisten sepertinya untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan.


"Apa Ayah tidak menyadari siapa wanita itu ?" tanya Ricky tanpa menjawab ocehan dari Ayahnya.


"Tentu saja tahu, Ayah tidak mau dengar penolakanmu tentang asisten. Biar Ayah yang mengurusnya, kamu hanya terima beres." Ucapnya kesal dan langsung menghubungi asistennya untuk mengurus keinginannya. "Tidak usah membahas wanita tadi, cepat duduk dan lihat berkas itu. Pelajari dan kerjakan dengan semaksimal mungkin. Ayah mengandalkan putra Ayah satu-satunya." Ujarnya gamblang dan kembali fokus pada berkas dihadapannya.