Habibillah Hawaari

Habibillah Hawaari
Pernyataan jilid dua



Dan disinilah mereka berempat berada, di sebuah kafe yang tidak terlalu ramai, cukup untuk membahas masalah masing-masing. Rere bangkit dan diikuti oleh pemuda yang sejak lama menatap nya sendu. Billa tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, terlihat jelas penyesalan dari wajah lelaki itu. Gadis itu menghirup udara pelan dan menghembuskan dengan kasar. Matanya menatap kolam ikan yang berada di samping tempat duduk nya.


"Mau ngomong apa kamu. ?"


Sesaat hanya ada keheningan diantara keduanya. Zafran bahkan masih memainkan ponselnya tidak menghiraukan pertanyaan Billa.


Billa tidak peduli, bahkan dirinya jelas tidak berteman dengan lelaki yang berada tepat di hadapannya ini.


"Aku hanya ingin memastikan sesuatu kepadamu, apa kamu sudah menikah.?"


"Belum." ujarnya singkat, tanpa mau menatap lawan bicaranya yang sudah dipastikan sedang memperhatikan nya dengan lekat.


"Sudah di khitbah.?"


Gadis itu tidak ada niat untuk menjawab, dirinya justru bangkit dan hendak melangkah pergi. Dadanya sangat sesak dengan pertanyaan macam itu. Mudah sekali bagi mereka para lelaki menanyakan hal yang intim seperti itu. Tidakkah mereka berfikir bahwa hati perempuan sangat lah lemah. Diberikan sedikit perhatian saja mudah goyah. Billa cukup sadar atas tindakannya.


"Aku ingin menghalalkan mu bill." Dunia seolah berhenti, mendadak kaki itu berat sekali untuk melangkah, kakinya lemas dan kepalanya pusing. Spontan Billa memegang kursi yang berada di dekatnya untuk menyangga beban tubuhnya yang mendadak tidak ada tenaga. 'Astaghfirullah' batinnya.


"Duduklah, aku serius dengan ucapan ku" ucapnya tegas seraya memberikan segelas minuman yang sudah di pesan nya.


Billa meneguknya dan mulai mengatur nafasnya. Menghirup udara pelan dan menghembuskan nya secara teratur. Hal itu terus di ulang sampai mendapatkan ketenangan.


"Maafkan aku, seharusnya aku tidak mengatakan sekarang. Tidak perlu menjawab sekarang, beristikharah lah, aku memberikan waktu untuk menjawab hanya seminggu. Di dalam file ini ada biodataku lengkap. Tolong pelajarilah, aku memang ingin menikah muda." Ujarnya gamblang.


Billa masih enggan menjawab segala penyataan yang di lontarkan oleh Zafran. Hatinya begitu sesak dan sulit untuk berfikir jernih. 'Yaa Rabb, kenapa engkau memberikan kejutan yang tidak pernah terlintas di benakku' batinnya.


Billa menerima flashdisk milik Zafran, membuat si empunya tersenyum dan menunduk.


'Aku begitu mengagumimu Billa, semoga Allah menjawab segala do'aku selama ini' batinnya.


Keduanya larut dalam pikiran masing-masing, hingga suara adzan berkumandang menyadarkan kedua nya untuk menjawab setiap lafadz adzan yang di kumandangkan. Sampai tepukan bahu seorang perempuan yang di kenali nya membuat Billa menoleh dan tersenyum hangat kepadanya.


"Ayo bill, udah selesai kan urusannya,?"


"Udah, ke masjid dulu Re, habis itu langsung pulang. Aku pusing sekali" ujarnya sambil berdiri.


Keduanya tidak ada yang ingin mengucapkan salam perpisahan kepada kedua pemuda yang sama-sama menatap kedua perempuan yang sudah mencuri perhatian nya.


"Kamu kenapa kok lemes banget.?"


"Laper" jawabnya asal.


"Masih kuat nahan makan enggak ? atau kita makan di masjid habis sholat.?"


"Sama" ujar Rere sambil menghidupkan motor nya. Keduanya mencari masjid yang paling dekat untuk menunaikan kewajiban nya. Kedua gadis itu melenggang masuk ke dalam masjid dan melaksanakan sholat dengan berjamaah bersama warga sekitar. Keduanya larut dalam munajat masing-masing. Walaupun Rere bukan berasal dari pondok, tapi sepertinya perempuan itu sudah di didik oleh kedua orang tuanya dengan disiplin dan mengutamakan kewajiban umat muslim.


Setelah sholat kedua gadis itu melipir ke teras masjid, Rere mengambil dua porsi makanan yang sempat mereka beli tadi dan mengambil 1 botol mineral yang tersedia di jok motornya.


"Kamu selalu bawa minum di motormu.?"


"Hem, aku membelinya tadi siang waktu di kampus, Cukup kan buat minum kita berdua. kalo haus nanti minum di kosan segalon." Ujarnya sambil membuka nasi bungkus isi pecel ayam.


Billa tidak menjawabnya melainkan hanya mengacungkan jempol dua kepada teman kosannya itu. Keduanya makan dengan tenang, tidak ada obrolan di tengah-tengah mereka menyantap makanan. Asyik dalam pikiran masing-masing, hingga tanpa sadar keduanya merampungkan makan dan melipat kertas bekas nasi dan lauk itu kemudian memasukannya kedalam plastik bekas bungkusannya. Billa mengambil sampah mereka berdua dan melangkah untuk dibuang ke tong sampah yang sudah tersedia di halaman masjid.


"Duduk dulu, turunkan nasi dulu baru habis itu kita pulang"


Billa menurut dan duduk di samping Rere seraya menyalakan ponsel nya. Ada dua notice masuk kedalam wa nya. Pertama dari Ratna dan yang kedua dari kakaknya. Billa tidak ada niat membuka pesan tersebut. Terlalu lelah dan malas menanggapinya. Gadis itu menutup ponselnya dan menyandarkan punggungnya pada tembok untuk mengistirahatkan badannya yang lelah. Begitu pula dengan Rere, tidak ada yang mau membuka obrolan dan saling curhat. Mereka para gadis yang cuek dan tidak mau mencampuri urusan masing-masing.


"Ayo bill, jangan kelamaan. Aku rasanya ngantuk pengen tidur." Ujarnya seraya bangkit dan melenggang menuju motor.


Billa membututi temannya itu dan naik ke jok dalam diam. Sebenarnya keduanya sama-sama penasaran apa yang terjadi pada masing-masing, kenapa keduanya nampak lelah dan bimbang. Namun keduanya terlalu lelah jika harus membahasnya sekarang. Motor Rere melaju sedang, angin malam membuat keduanya semakin dingin karena sama-sama tidak memakai jaket. Gemerlap lampu malam yang menghiasi jalanan membuat keduanya rileks dan melupakan apa yang di alaminya tadi sore. Keduanya sampai di kosan tepat kumandang adzan isya menyapa.


"Thanks Re, selamat rehat. Aku masuk ke kamar ya."


"Iya, sama-sama."


Billa lantas masuk ke dalam kamar mandi dan bersih-bersih tubuhnya yang lengket. Setelah segar gadis itu langsung melaksanakan empat rakaat sholat isya dengan tenang. Hatinya terlalu kaget menerima pernyataan yang tidak seharusnya dia terima pada awal perkuliahan nya. Billa lantas merapihkan alat sholat dan merangkak ke atas kasurnya. Tangannya bergerak untuk membuka ponsel dan membalas pesan sang kakak.


"Aku baru pulang bang, Alhamdulillah aku sehat. Umma dan Buya bagaimana kabarnya.?"


"Buya dan umma sehat, insyaallah pekan depan kami mau berkunjung ke kosan kamu dek"


"Yes, makasih ya bang. Titip salam untuk umma dan Buya. katakan pada mereka aku menunggunya."


"Okey, istirahatlah dek, Assalamualaikum. dibumbui emoit love."


"Hem, balas dengan emoit peluk."


Gadis itu lantas membalas chat dari teman dekatnya di kampus, siapa lagi kalau bukan Ratna. Sampai pukul sembilan malam, gadis itu masih belum bisa tidur. Membuat nya bangkit dari kasur dan mengambil flashdisk milik Zafran. Sebenarnya gadis itu enggan untuk mempelajari biodata milik Zafran, daripada tidak bisa tidur lebih baik iseng membukanya saja. Lembar demi lembar Billa membaca profil Zafran. Fakta mengejutkan ternyata pemuda itu jurusan bahasa Inggris. Billa lantas membuka halaman berikutnya dan mulai membaca kembali profil Zafran, hatinya tercekat saat mengetahui fakta baru tentang Zafran.


.


"Aku harus bagaimana." Ujarnya sambil menggigit bibir bawahnya.