
Ricky menunggu kedatangan sahabatnya dengan gusar, pria itu sedang menenangkan rasa gugupnya sejak semalaman. Pria itu sudah memberitahu Zaid mengenai kelanjutan prosesnya tanpa Nadzor.
"Sorry brother telat dikit, bagaimana sudah siap ?" ucap Zaid tergesa menghampiri sahabatnya yang sudah menunggu lama.
"Apa seperti ini rasanya ketika ingin bersilaturahim Kerumah calon mertua ?" Zaid terkekeh mendengar pertanyaan Ricky. Pria itu menepuk pundak sahabatnya sembari memberikan tips agar nanti ketika bertemu tetap tenang dan sukses tentunya.
"Tenangkan pikiranmu sekarang, kau ini dosen. Kita bahkan sering bertemu banyak orang dengan segala profesi." Ricky mengangguk mengerti dan mencoba menghembuskan napasnya perlahan. Kedua pria dewasa itu berjalan beriringan memasuki mobil untuk menuju kediaman Billa.
Kedua pria seumuran itu tengah mengamati rumah dengan desain sederhana namun tetap terlihat mewah. Dengan halaman cukup luas dan pekarangan yang banyak ditanami berbagai jenis buah-buahan. Ricky kembali mengecek pesan singkat yang dikirimkan Billa mengenai alamat rumahnya. Zaid yang sudah lelah menyetir menyenggol lengan milik sahabatnya karena sejak tadi terlihat bingung.
"Benar tidak ini rumahnya ?"
"Aku juga tidak faham, apa kita turun dan tanya dengan orang sekitar untuk memastikan ?" Zaid mengangguk setuju. Kedua pria tampan itu keluar dari mobilnya dan segera berjalan mencari keberadaan penduduk sekitar untuk bertanya.
"Tanya mereka saja." Tunjuk Zaid seraya mengarahkan tangannya kepada beberapa Ibu-ibu yang sedang duduk disalah satu warung kecil setempat.
"Aduh, kenapa harus para ibu negara sih. Tunggu Bapak itu mendekat saja. " Usul Ricky yang langsung disetujui oleh Zaid.
"Permisi Bapak, Assalamualaikum." Ucap Ricky mengangguk sopan dengan seorang pria tua yang kini menatapnya dari atas sampai bawah dengan tatapan heran.
"Waalaikumussalam, ada yang bisa dibantu Dek ?"
"Begini Pak, apa benar rumah dengan chat berwarna putih itu kediaman Bapak Rehan ?" ucap Ricky seraya menunjuk rumah yang dipagar sedang dengan berbagai jenis tanaman buah-buahan disekitarnya.
"Benar Dek, itu rumah Pak Rehan." Ujarnya sambil tersenyum ramah.
"Terima kasih Pak. Kalau begitu saya dan teman saya permisi pamit. Assalamualaikum"
"Waalaikumussalam."
Kedua pria dewasa itu jelas menjadi pusat perhatian para Ibu-ibu yang sedang duduk disalah satu warung kecil setempat.
Ricky menekan tombol bel yang terletak di ujung pagar. Pagar itu tidak dijaga oleh satpam rumah. Hanya ada Mbok Arum yang biasanya membersihkan halaman bersama dengan tuan rumah. Billa juga sering membantu asisten rumah tangganya itu untuk membersihkan pekarangan rumah. Nampak seorang pria paruh baya dengan rambut yang sudah memutih dan memakai peci putih keluar dari rumah berjalan mendekat.
"Assalamualaikum Pak," Ucap Ricky menyambut uluran tangan dari pria dihadapannya.
"Waalaikumussalam, sebentar ya Nak, saya buka dulu." Ucapnya ramah lengkap dengan senyuman yang meneduhkan. Ricky menoleh kearah sahabatnya yang kini juga sedang menatapnya.
"Oh Iya Pak, siap." Sahut Zaid segera berjalan kearah mobil yang terparkir ditepi jalan. Sementara Ricky mengikuti langkah pria paruh baya tersebut untuk memasuki rumah. Langkahnya terhenti saat netranya tidak sengaja melihat seorang gadis sedang berjalan santai membawa sebuah kresek putih ditangan kanannya sambil memainkan ponsel tanpa melihat jalanan yang sedang ramai. Belum sempat berucap, suara pria paruh baya di hadapannya sudah lebih dulu menegur Billa yang sedang asyik bermain ponsel sambil berjalan.
"Billa" teriaknya cukup kuat menatap gadis yang kini menoleh kearah mereka. "Jangan bermain ponsel saat sedang berjalan di pinggir jalan besar, bahaya." ucap Buya Rehan lagi. Billa terkejut saat netranya mulai sadar bahwa laki-laki disamping Ayahnya adalah Pria yang sejak tadi ditunggu oleh kedua orangtuanya. Billa segara mematikan ponselnya dan berjalan melipir lewat gerbang samping yang sudah terbuka. Gadis itu berjalan menunduk tanpa menoleh kembali dan segera memasuki rumah lewat samping.
"Mari masuk Nak." Ricky tersenyum lucu dan mengangguk pelan seraya mengikuti pria dihadapannya.
"Apa Bapak adalah Ayah dari Billa ?" tanya Ricky hati-hati saat keduanya sudah duduk saling berhadapan.
"Benar Nak, apa Anda yang bernama Ricky ?" tepat saat itu juga Zaid mengetuk pintu pelan setelah memarkir mobilnya dengan benar. "Masuklah Nak, mari duduk " Zaid mengangguk pelan seraya mengambil posisi duduk disamping Sahabatnya.
"Benar Pak, perkenalkan saya Ricky Irawan dan ini teman saya sekaligus wali sementara saya bernama Zaid." Buya Rehan tersenyum ramah menatap kedua pemuda dewasa itu dengan penuh kelembutan. Ketiga laki-laki berbeda usia itu nampak mengobrol akrab merasa nyambung dengan topik pembicaraan pagi menjelang siang itu. Seorang wanita tua tetapi penuh kesopanan dan parasnya yang teduh mengingatkan Ricky dengan sosok Billa menemui kedua tamu itu dengan senyum tak kalah ramah. Wanita itu menjamu tamunya dengan membawakan cemilan dibantu oleh Mbok Arum yang sedang membawa minuman hangat di tangannya.
"Silahkan diminum Tehnya Nak, pasti lelah karena perjalanan. Ini juga ada sedikit cemilan, semoga suka ya.." kedua pria itu serempak mengangguk dengan senyum ramah yang selalu menghiasi wajah mereka.
"Nak Ricky, ini istri saya. Ibu dari Billa." Ricky mengangguk ramah seraya menangkupkan kedua tangannya tanda salam antara lawan jenis yang belum mahram.
"MaaSyaAllaah, ternyata putri Bapak begitu mirip dengan Ibunya." Guyon Ricky menghilangkan gugup yang tiba-tiba datang setelah berkenalan dengan kedua orang tua Billa. Ibu dan Ayah Billa hanya tertawa kecil mendengar guyonan dari calon menantunya.
"Kedatangan kami kemari untuk menyambung silaturahim dengan keluarga Bapak dan Ibu selaku kedua orang tua mbak Billa. Inilah sosok pemuda yang berniat mempersunting putri Bapak dan Ibu. Beliau adalah sahabat sekaligus saudara saya dalam Islam. Insyaallah akhlaknya baik dan saya yakin mampu membimbing putri Bapak kedepannya." Ucap Zaid mengawali percakapan niat silaturahim keduanya.
"Kami menerima niat baik dari Nak Ricky Irawan. Seperti yang Nak Ricky ketahui. Putri kami sekarang masih sangat muda bahkan belum lulus kuliah. Akan ada banyak PR kelak untuk Nak Ricky. Saya selaku wali sahnya menyambut baik kedatangan Nak Ricky dan Nak Zaid." Ujar Buya Rehan menyambut niat baik dari calon menantunya.
"Zaid ! Ricky ! teriak seorang pria yang baru saja memasuki rumah dengan pakaian kerjanya. Obrolan mereka langsung terhenti saat mendengar teriakan pria yang kini tersenyum senang seraya mendekati kedua pria yang juga mulai mengingat wajah dari pria yang memanggil namanya.
"Reza! ucap kedua pria itu bersamaan menyapa Reza yang kini bersiap merangkul kedua temannya.
"Wohoooo, kalian apa kabar ?" ucap Reza seolah lupa dengan acara yang sedang berlangsung.
"Alhamdulillah baik. Bagaimana kabarmu. Kamu bilang akan menikah. Mana undangannya ?" tanya Ricky antusias menjawab pertanyaan Reza. Sementara Zaid menepuk pundak Reza dengan kuat lantaran tidak menyangka akan bertemu dirumah ini.
"Tunggu dulu. Apa kamu juga putra dari Bapak Rehan ?" tanya Zaid mulai sadar dengan kehadiran teman dekatnya.
"Haha, iya. Beliau orangtuaku. Dan mana diantara kalian yang akan menjadi calon Adik Iparku ?"