
Billa meletakan mushaf mungilnya diatas meja belajarnya. Gadis itu baru saja mengulang hafalan dan sedikit menambah hafalan beberapa ayat setelah melakukan dua rakaat sholat duha. Aktivitas selama libur membuatnya bingung akan melakukan apa. Tadi pagi saat Buya dan Umma ingin ke ladang memanen jagung Billa ingin ikut namun tidak diperbolehkan. Sedangkan Abangnya sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya yang akan dilaksanakan kurang lebih satu bulan lagi.
Reza sudah membeli rumah berukuran sedang cukup mewah untuk tempat tinggalnya nanti jika sudah menikah. Keluarga Billa bisa dikatakan berkecukupan dengan bisnis milik Buya yang diolah langsung oleh Reza. Dan hasil pertanian dengan kebun dan sawah berhektar-hektar milik Keluarga Billa. Belum lagi Abangnya juga mendirikan sebuah yayasan pendidikan yang nantinya akan diserahkan untuk Billa.
"Bosan sekali dirumah sendirian. Buya dan Umma pasti sedang asyik memanen jagung manis di ladang. Kalau ikut kan gak jenuh gini." Ucapnya sambil menyalakan televisi diruang tengah. Gadis itu mengambil beberapa cemilan didalam kulkas dan mulai menonton kartun kesukaannya.
Ding.
{"Assalamualaikum Billa, Apa kabar ?"}~Ara
Billa tersenyum senang saat mengetahui sahabatnya telah menghubunginya kembali. Ara cukup lama tidak menghubunginya karena fokus dengan persiapan ujian semester. Kampus Ara berbeda dengan kampus milik Billa, jika sampai nilai tidak memenuhi standar maka siap-siap akan mendapat DO atau dikeluarkan. Ara berjuang keras untuk membuat nilainya stabil. Itu sebabnya kurang lebih dua bulan tidak memberi kabar Billa. Walaupun ada jatah menelpon, namun Ara lebih memilih digunakan untuk belajar. Billa pun memakluminya, gadis itu sangat mendukung keputusan Ara.
{"Waalaikumussalam, Alhamdulillah Khoir. Bagaimana kabarmu Ara,Apa sudah libur ?"}~
Keduanya asyik berbagi kabar dengan sambungan telepon, Billa memutuskan untuk memberi tahukan tentang CV milik Dosennya kepada sahabatnya.
"Ara, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan. Seharusnya aku memberi tahukan Umma dan Buya terlebih dahulu. Tapi karena waktu berbicara denganmu terbatas, maka tidak apa. Kamu dulu yang aku beritahu." Ucap Billa setelah keduanya memutuskan untuk terhubung melalui seluler.
"Aku sangat terharu, ada apa ? sepertinya serius sekali."
"Hem, aku menerima CV ta'aruf kurang lebih pada awal semester lima lalu. Dan aku baru saja memberikan jawabannya kemaren. Dengan izin Allah dan tentu saja dengan meminta petunjuk dan jawaban dari Allah. Tidak ada keraguan sedikitpun untukku dalam menjawab." Ara tersenyum senang saat mendengar penuturan sahabatnya.
"MaaSyaAllaah. Sebentar, kamu baru menjawab CV nya setelah kurang lebih enam bulan beliau memberikan CV miliknya kepadamu ?" Billa mengangguk pelan seolah Ara mengetahuinya. Padahal keduanya tidak melakukan Vidio call.
"Iya, beliau bilang sesuka hatiku menjawabnya kapan." Keduanya tertawa ringan saat Billa mulai menceritakan tentang pria yang mengajukan proses kepadanya.
"Terimalah dia Billa sayang. Insyaallah dia pria yang baik untukmu. Semoga proses kalian dipermudah. Apa Abang Reza sudah mengetahuinya ?"
"Belum, aku tidak tahu bagaimana memulainya. Untuk berbicara dengan Buya saja masih takut, apalagi dengan Bang Reza."
"Insyaallah jika itu kebaikan, maka Allah juga yang akan membantumu Billa.
"Terima kasih Ara, apa kamu belum libur ?"
"Hem, insyaallah liburan semester enam nanti aku diperbolehkan pulang. Tunggu aku ya..untuk liburan kali ini mungkin aku tidak pulang. Kau tahu Billa. Aku harus mengejar targetku agar nantinya mempermudah jalanku di semester enam."
"MaaSyaAllaah, Doa terbaik untukmu Ara. Jaga kesehatan. Aku menunggumu. Semoga Allah menjagamu disana." Keduanya menutup sambungan telepon setelah mengobrol banyak. Billa mematikan televisi yang sempat di tonton tadi dan beranjak menuju kamarnya.
"Billa." Gadis itu menghentikan langkahnya kaget saat mendengar suara Kakaknya memanggilnya dengan nada dingin. Billa menoleh ke sumber suara dan benar dugaannya, Abangnya tengah menatapnya tajam sambil menenteng beberapa bingkisan ditangan kanannya.
"Jelas kamu tidak dengar, kamu asyik bertelepon dengan sahabatmu Ara"
Deg.
Billa menelan salivanya dengan susah, gugup dan takut tentu saja Billa merasakannya saat ini. Dilain sisi dia merasa senang karena sekalian saja dibicarakan sekarang. Tapi melihat kemarahan dari wajah Abangnya membuat nyali Billa menciut karena selama ini tidak menceritakan apapun.
"Maaf." Ucap Billa menunduk lesu. Reza meletakkan bingkisan yang sempat dibeli untuk Adiknya di atas meja ruang Televisi. Pria dewasa itu tidak menggubris ucapan Adiknya. Kadung kesal dengan fakta yang baru saja didengar sendiri saat dirinya memasuki rumah. Reza sengaja tidak mengucapkan salam karena biasanya Billa sedang dikamar. Tapi saat masuk dirinya tidak sengaja mendengar percakapan yang membuatnya begitu kesal. Reza beranjak menuju kamar tanpa mengatakan apapun kepada Adiknya. Membuat Billa yakin bahwa Kakaknya telah mendengar semuanya.
"Billa, semester depan kamu KKN dimana Nak ?" tanya Buya Rehan setelah menyelesaikan makan malam bersama.
"Belum tahu Buya, sepertinya tidak keluar kota. Kemungkinan hanya beda kabupaten dengan kampus Billa." Reza hanya diam tanpa ikut berbicara sepatah katapun. Billa melirik Abangnya sendu lantaran baru kali ini Kakaknya itu terlihat marah dan tidak memperdulikannya.
"Reza, Bagaimana dengan persiapan acaranya. Sudah sampai mana ?" tanya Umma membuka percakapan dengan putranya itu karena merasa heran dengan sikap dinginnya.
"Alhamdulillah sudah beres Umma. Nanti, tidak usah memasak di sini. Aku sudah pesan katering dan menyiapkan segalanya. Aku tidak ingin merepotkan Umma."
"Baiklah, Semoga Allah mudahkan hajat kita nanti." Reza tersenyum hangat dan segera beranjak berdiri ingin meninggalkan ruang makan.
"Tunggu" ucap Billa pelan membuat langkah Reza terhenti tanpa membalikan badannya. Buya dan Umma yang juga ingin beranjak kembali duduk menatap putrinya yang kini menunduk tenang.
"Ada apa Nak ?" tanya Umma menatap lekat putrinya yang terlihat ingin mengatakan sesuatu.
"Ada yang ingin Billa sampaikan dengan Buya, Umma dan Abang." Ujarnya pelan namun mampu didengar oleh ketiga orang di ruangan itu.
"Aku permisi Buya. Ada hal yang harus aku selesaikan." Reza melangkah pergi menuju kamarnya tanpa menoleh kebelakang bahkan tidak menunggu jawaban dari Ayahnya. Sikap putranya tentu saja membuat kedua orangtua itu bingung, belum lagi saat tadi makan malam putranya itu diam seribu bahasa tanpa mengatakan apapun jika tidak ditanya.
"Kamu ingin mengatakan apa sayang ?" tanya Buya lembut menatap putrinya dengan lekat karena benar-benar merasakan hal yang berbeda.
"Buya..., jika nantinya ada seseorang datang melamar Billa dalam waktu dekat, apa Buya akan menerimanya ?" Buya dan Umma yang mendengar penuturan putri kecilnya begitu tidak menyangka tentang topik pembicaraan yang akan dibicarakan oleh putrinya.
"Tentu, jika pria itu Sholih dan bertanggung jawab maka tidak ada alasan untuk Buya menolaknya sayang." Ujar Buya tersenyum hangat menatap putrinya yang kini meneteskan air matanya. Billa tidak menyangka, jauh didalam pikirannya Buya nya pasti menolak, tapi sungguh tidak disangka Ayahnya justru berlapang dada. Sementara sang Ibu menatap putri kecilnya dengan sendu. Siapa yang menyangka putrinya sudah ada yang ingin melamarnya.
"Nak, apa kamu pacaran ?" tanya Umma berkata lembut sambil beranjak mendekati Billa.
"Tidak Umma.., kami berproses insyaallah dengan cara yang baik." Billa pun menceritakan segalanya tentang Dosennya kepada kedua orangtuanya.