Habibillah Hawaari

Habibillah Hawaari
Brongkos



Ricky menghampiri kedua orangtuanya dengan senyuman full diwajahnya yang tampan. Pria dewasa itu sangat bersyukur, di umur hampir berkepala tiga dengan izin Allah telah mendapatkan calon istrinya. Betapa beruntungnya pria dewasa itu yang mendapatkan daun muda sekaligus Mahasiswinya sendiri.


"Ehem, ada yang senyum-senyum terus sejak masuk. Sepertinya ada kabar baik" Ricky yang mendengar penuturan Ibunya tentu saja langsung duduk disampingnya dan meraih tangan Ibunya dengan lembut.


"Sebentar lagi Calon menantu Ibu akan segera hadir ditengah-tengah keluarga Irawan. Terima kasih untuk doa yang selalu digaungkan untuk putramu. Ini semua pasti berkat kekuatan doa dari seorang Ibu dan Ayah." Ujarnya senang sekaligus terharu karena tidak pernah menyangka akan sampai dititik ini.


"Alhamdulillah, Ayah dan Ibu sudah menebaknya. Semoga Allah mudahkan niat baikmu Nak, Sekarang katakan, Kapan kami akan bertemu dengan calon besan kami dan bersilaturahim Kerumah calon menantu Ibu ?"


"Secepatnya, aku sudah tidak ingin menundanya." Ayah Roby yang sejak tadi hanya menyimak, begitu merasa senang akhirnya putra tunggalnya akan menikah.


"Ayah harap, dia yang pertama dan terakhir untuk hidupmu Ky. Satu-satunya Ibu dari cucuku" Ricky mengangguk sebagai jawaban. Keluarga Irawan benar-benar menyambut baik kabar bahagia ini. Ibu Nadia sudah tidak sabar akan mengadakan acara yang besar guna memperkenalkan dan memamerkan menantu cantik.


Setelah mendengarkan wejangan kecil dari Ayah dan Ibunya Ricky langsung beranjak ke kamarnya. Pria itu sudah tidak sabar memberikan jawaban kepada gadisnya. Namun, pria itu cukup sadar diri. Segala keputusan harus dengan melibatkan peran Allah. Ricky mengambil wudhu dan melaksanakan sholat istikharah guna menetapkan kembali pilihan hatinya. Dengan siap lahir batin pria itu mulai membuka laptop dan membalas CV milik Billa dengan bait kata yang tersusun menembus relung hati milik Billa.


Billa yang saat itu tengah bermain ponsel menatap notice dari sebuah email milik Dosennya. Gadis itu bangkit dari kasurnya dan mulai membaca email yang telah dikirimkan untuknya. Gadis itu nampak tersenyum lembut setelah membaca sebuah pesan singkat dari pria dewasa itu.


Ding.


{"Assalamualaikum Dek, bagaimana kabarnya.. aku sudah mempelajari CV milikmu. Kamu pasti sudah membaca email yang baru saja aku kirim. Semoga cukup jelas dan dapat kamu pahami. Meskipun kita sudah mengetahui wajah kita satu sama lain, Bagaimana menurutmu kalau kita masuk pada tahap Nadzor ?" }~


{"Baiklah, Besok Insyaallah saya akan bersilaturahim dengan seseorang yang sudah saya tunjuk sebagai perantara kita nantinya. Jaga dirimu baik-baik, semoga Allah mudahkan niat baik ini."}~


{"Siap Pak"}~


Ricky menghela napasnya dalam saat membaca pesan singkat milik Billa. Gadis itu benar-benar akan berbicara panjang jika harus dilakukan. Tidak dengan basa basi. Billa bukanlah orang seperti itu.


Billa sudah memberitahu kepada Buya dan Umma tentang niat dari Dosennya hari ini. Umma mulai menyiapkan beberapa cemilan dan memasak ringan untuk menyambut tamu asing yang kelak akan menjadi bagian dari keluarga Hawaari.


"Wah, tumben sekali Umma masak sayur brongkos. Apa akan ada hari besar ?" tanya Reza saat mencium semerbak harum masakan Umma yang begitu lezat saat memasak sayur khas milik warga Yogya. Umma menyambut pria yang akan menjadi calon menantunya dengan masakan khas berupa Brongkos daging sapi.


"Iya nak, calon adik ipar mu akan datang sore nanti. Kamu usahakan pulang cepat agar bisa bertemu dengannya." Reza yang sedang mencicipi sayur kesukaannya langsung berhenti mengunyah dan mendengarkan penuturan Umma dengan mengangguk pelan sebagai jawaban.


"Baiklah, aku usahakan untuk pulang awal hari ini. Billa dimana Umma ?" ujarnya sambil menengok kanan dan kiri mencari keberadaan Adik satu-satunya.


"Alhamdulillah, dia baru saja pulang dari pasar menemani mbok Arum untuk belanja. Pasti capek, makanya sekarang istirahat." Jawab Umma benar apa adanya. Pagi tadi gadis itu mendapat tugas dari Umma untuk membeli banyak sayuran untuk menyambut kedatangan tamunya.