
Reza merupakan teman dekat dari kedua pria yang kini sedang duduk dihadapannya beserta Ibu dan Ayahnya. Ketiganya merupakan teman dekat saat menempuh pendidikan sekolah dasar. Reza dan Zaid tetap bertemu saat keduanya menempuh pendidikan disebuah pesantren. Sedangkan Ricky saat itu lebih memilih melanjutkan pendidikan diluar negeri mengikuti kedua orangtuanya yang sedang menempuh pendidikan tinggi juga guna mempersiapkan diri untuk melanjutkan perjuangan kakeknya memimpin kampus dan bisnisnya.
"Aku insyaallah akan menikah bulan depan. Kebetulan kalian disini, wajib datang pada acara sakral itu." Ucap Reza menjawab pertanyaan dari Ricky.
"Jadi kalian sudah saling mengenal. Alhamdulillah, Umma dan Buya sangat bersyukur kalau begitu. Nak Ricky lah yang nantinya akan menjadi saudara ipar kamu Reza." Ujar Buya Rehan menjawab pertanyaan dari Putranya.
"Wohoooo.. benar-benar kamu ya. Mulai sekarang latihan panggil aku Abang" guyon Reza melempar satu buah anggur yang berada dihadapannya kearah teman dekatnya Ricky.
"Siap Abang Reza." Ucapnya yang langsung mengundang gelak tawa renyah satu ruangan siang itu.
"Takdir Allah memang tidak pernah ada yang mengetahui. Ternyata kita dipertemukan kembali bukan hanya menjadi sahabat dekat. Tetapi lebih dari itu." Ucap Reza menatap Ricky yang juga sedang menatapnya sambil tersenyum senang. "Hem, aku rasanya seperti mendapatkan sekarung emas saat mengetahui dari luar rumah rupanya kamu yang bersilaturahim hari ini. Jika tahu begini, aku tidak perlu sampai kesal dengan Adikku." Ricky terkejut mendengar penuturan sahabatnya.
"Maksudmu dengan kesal apa ?" tanya Ricky spontan dengan raut wajah cemas.
"Santai brother. Sudah aku beri lampu hijau kalian detik ini juga. Kamu tidak tahu bagaimana aku begitu menyayangi Adikku. Rasanya kesal sekali saat mengetahui ada seorang pria asing yang dengan entengnya ingin mengajaknya nikah sebelum dia lulus." Ujarnya mengeluarkan uneg-uneg dalam hatinya kepada orang yang tepat. Sementara Ricky merasa bersalah dengan sahabatnya karena memang merasa benar apa yang diucapkan sahabatnya.
"Maafkan aku Bung. Tidakkah kamu tahu, Adikmu benar-benar membuatku sulit untuk berfikir jernih jika dia bukan dalam dekapanku. Banyak pria yang menyukainya. Tentu saja termasuk aku. Kamu pilih aku atau mereka yang juga baru memasuki bangku kuliah." Ucap Ricky yang langsung mendapat lirikan sengit dari Zaid. Dari ketiga pria itu Zaid adalah sosok yang paling peka dengan situasi luar dalam. Tak jarang kedua pria itu menjadikan Zaid sebagai teman curhatnya sekaligus meminta solusi.
"Haha, tentu saja kamu. Aku percaya jika Adikku ditangan mu, pasti kamu akan mendidiknya dan menjadikannya bidadari." Kedua orangtua Reza hanya menyimak obrolan ketiga pemuda seumuran itu.
"Jadi kapan kedua orangtuamu akan bersilaturahim kemari Nak." Tanya Buya Rehan menatap calon menantunya dengan lembut.
"Insyaallah secepatnya Pak. Saya bersyukur sekali keluarga Bapak menyambut kedatangan saya hari ini dengan terbuka. Terima kasih untuk jamuannya Bu.." Kedua orangtua Billa tersenyum ramah setelah mendengar penuturan calon menantunya.
"Baiklah, kami tunggu hari baik itu. Semoga Allah mudahkan niat kalian " Ucap Umma lembut yang langsung di aamiini oleh semua orang yang berada di ruang tamu itu.
Billa sibuk di dapur menyiapkan jamuan makan siang untuk kedua tamu didepan dibantu oleh asisten rumahnya Mbok Arum.
"Mbok, Billa kembali ke kamar ya.., Badanku lengket, aku akan mandi sebentar."Ujarnya pamit kepada asistennya yang sedang menyiapkan piring dan sendok untuk makan siang.
"Iya mbak, lagipula ini sudah selesai. Terima kasih sudah membantu saya di dapur dari tadi mbak. Calon suami Mbak Billa pasti seneng banget sama Mbak Billa, rajin, Sholihah, pintar masak, pintar. Wah paket komplit"
"Mbok Arum berlebihan. Tidak boleh memuji seseorang sampai seperti itu. Hati manusia itu terkadang sehat dan sakit. Jika hati itu sakit bisa jadi dia yang dipuji akan merasa ujub terhadap dirinya sendiri. Dan itu tidak diperbolehkan."
"Ujub itu apa Mbak ?" tanya Mbok Arum penasaran.
"Merasa lebih baik daripada yang lainnya, atau lebih tepatnya membanggakan diri sendiri" terang Billa singkat dan langsung beranjak memasuki kamarnya.
"Siapa yang paket komplit Mbok?" tanya Umma sedikit mendengar gumaman asisten yang sudah lama membantu mengurus rumahnya.
"Itu Bu.. Mbak Billa paket komplit. Hehe." Umma hanya tersenyum ramah mendengar penuturan asistennya.
"Mbok, semuanya sudah siap kan, tamu kita akan makan siang sebentar lagi." Ujarnya sambil memeriksa hidangan yang sudah disiapkan rapih diatas meja.
"Alhamdulillah sudah Bu, tadi dibantu sama Mbak Billa makanya cepet."
"Sekarang dimana Billa ?"
"Sedang mandi Bu, katanya badannya lengket." Umma hanya tersenyum lalu meninggalkan ruang makan untuk mengajak para pria itu makan siang.
"Nak Zaid dan Nak Ricky, Ibu dan Billa sudah menyiapkan masakan untuk dicicipi. Mari makan siang bersama sekarang, Nak Ricky sekalian nyobain masakan putri Ibu ya.." Ucap Umma seraya mempersilahkan para tamu untuk menuju ruang makan.
"MaaSyaAllaah... tidak salah pilih nih, sudah masih muda, pintar masak, Sholihah. Kurang apa lagi coba Za ?" ucap Zaid mulai guyon meledek sahabatnya yang nampak sumringah setelah mendengar gadisnya mencoba memasak untuk menjamu dirinya.
"Kurang cukup umur, haha." Ricky melemparkan bantal sofanya kearah Reza yang juga ikut meledeknya. Buya dan Umma hanya menggeleng kecil melihat tingkah ketiga pria dihadapannya.
" Sudah-sudah, aku tahu Ky. Kamu pasti tidak sabar mencicipi olahan Adikku. Jadi ayo, makanlah yang banyak." Ujar Reza melangkah dahulu mengawali Kedua tamu tersebut. Ricky dan Zaid mengekor Reza yang sudah lebih dahulu masuk menuju ruangan makan. Sekilas Ricky tersenyum tipis saat memasuki ruangan tersebut, ucapan Ibu gadisnya kembali terngiang, Billa membantu Ibunya memasak untuknya.
'Sekarang kamu membantu Ibumu untuk menjamuku. Insyaallah segera, kamu akan melayaniku memasak setiap hari. Sungguh aku sangat bersyukur dengan semua yang ada padamu Billa.' Ucapnya didalam hati sambil terus membayangkan wajah gadisnya.
"Sudah Ky, jangan senyum-senyum terus. Ambil nasi dan lauknya. Kubilang Pumpung mencicipi masakan Adikku." Ledek Reza lagi seraya menyuapkan makanan kedalam mulutnya.
"Reza.., berhenti meledek Nak Ricky. Kemarin saja kamu marah. Sekarang begitu bahagia." Sindir Buya yang langsung ditertawakan oleh kedua sahabatnya.
"Jangan mencari Adikku, dia tidak akan muncul dihadapan kita saat ini. Tidak diperbolehkan bertemu sampai pada tahap khitbah." Ucap Reza mengingatkan saat Ricky mencoba mencari Adiknya.
"Kalau begitu secepatnya aku akan datang bersama kedua orangtuaku untuk melamar Billa. Kalau besok bagaimana ?" jawab Ricky semangat.
"Hey, beri jeda kepada pihak kami. Setidaknya tunggu pendapat Billa." Usul Reza yang langsung disetujui oleh semua orang diruangan itu.
"Begini Reza, mereka tidak mungkin saling chating seterusnya saat keadaan belum mahram. Bagaimana kalau melalui kamu. Jadi biar Ricky menghubungimu jika ada keperluan mengenai Adikmu. Begitu pula dengan Billa, saat ingin menghubungi Ricky, dia melalui kamu saja. Kita menghindari campur tangan setan dalam proses ini." Ucap Zaid gamblang yang langsung disambut baik oleh semua orang.
"Baiklah, aku setuju. Mulai hari ini, jangan pernah menghubungi Adikku. Nanti aku juga akan mengatakan kepada Billa. Tahan sampai kalian halal, hubungi aku selaku perantara kalian sampai kalian menjadi mahram." Ricky mengangguk setuju dan melanjutkan makan siangnya.