Habibillah Hawaari

Habibillah Hawaari
Keramas



Billa terbangun lesu tepat saat Adzan subuh berkumandang, netranya mulai terbuka lebar saat mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Betapa malunya Billa saat melihat pemandangan dihadapannya saat ini. Ricky keluar dari kamar mandi dalam keadaan bugar dan sangat rapih. Pria itu memang terbangun lebih dahulu, sudut bibirnya terangkat membuat senyuman saat netranya melihat Istrinya telah bangun dan berusaha menutupi tubuh polosnya.


"Sudah bangun.., mau dibantu Dek ?" ujarnya mendekati Istrinya dan duduk ditepi ranjang.


"Tidak perlu Kak, lebih baik Kakak sekarang ke masjid. Aku bisa sendiri." Billa jelas sangat malu, kondisinya yang polos tanpa sehelai benang pun dan banyak tanda merah sana sini membuatnya lebih memilih berjalan sendiri ketimbang malu berkali lipat.


"Yakin ?" goda Ricky semakin mendekat dan mencium kening Istrinya dengan senyuman yang tak pernah luntur.


"Aku malu, lebih baik Kakak berangkat sekarang. Abang Reza dan Buya pasti sudah berangkat." Dorong Billa agar suaminya cepat berangkat ke masjid. Tanpa Billa duga, Ricky justru mengangkat tubuh mungilnya yang terbalut selimut menuju kamar mandi. Pria itu jelas faham, aktivitasnya tadi malam pasti telah membuat Istrinya kesulitan berjalan. Pria itu bahkan melakukannya bukan hanya sekali. Faktor umur dan nafsu halal jelas menjadi alasan pria itu begitu minat untuk menggagahi Istrinya berkali-kali.


"Mandilah, Kakak akan berangkat sekarang." Ricky mengelus pipi chubby Istrinya dan meninggalkan wanitanya untuk mandi besar.


"Aw"gumam Billa lirih saat berusaha berjalan untuk membersihkan diri."Astaga!, Kak Ricky benar-benar, bagaimana ini. Semuanya merah, ini pasti sangat ketara." Keluh Billa saat meneliti tubuh polosnya yang begitu banyak tanda merah di sana-sini.


Ricky keluar dari kamar milik Billa dengan senyuman yang terus mengembang, Pria itu jelas sangat bahagia saat ini. Penantian yang panjang akhirnya bisa ditunaikan sesuai dengan harapan.


"Keramas terus pokoknya ya.." celetuk Reza memukul bahu Adik Iparnya saat berpapasan keluar dari kamarnya.


"Eh, situ juga keramas tuh." Ejek Ricky mengangkat peci milik Reza sembari terkekeh senang.


"Harus dong, namanya juga lagi usaha." Kilah Reza merangkul sahabatnya untuk sama-sama berjalan menuju masjid. Sementara Buya telah lebih dahulu berangkat saat adzan berkumandang.


"Kenapa gak Honey moon Za, lebih fokus dan juga lebih bisa mengenali pasangan"


"Seharusnya begitu, tapi berhubung mepet ngurusin Billa mau nikah jadi dicancel." Ricky menghentikan langkahnya dan menatap lekat sahabatnya yang juga ikut berhenti.


"Astaghfirullah, maaf Brother. Sebagai gantinya, kamu boleh memilih tempat sesukamu. Biar aku yang membayar." Reza terkekeh geli mendengarkan kompensasi dari sahabatnya.


"Baiklah, Bagaimana kalau kita barengan saja ?"


"Enggak!" jawab Ricky cepat dan melangkah lebih cepat tak mau mendengarkan penuturan dari sahabatnya yang menginginkan bulan madu berbarengan. Reza hanya terkekeh geli melihat tingkah sahabatnya yang tidak pernah berubah. Ricky memang selalu memiliki privasi yang ketat dalam urusan apapun. Diantara mereka bertiga, hanya Ricky yang selalu menjaga privasinya tanpa ingin sahabatnya mengetahui.


Keduanya mengikuti sholat subuh berjamaah bersama warga sekitar,usai sholat, Reza merangkul sahabatnya yang kini berjalan beriringan dengannya dan juga Buya.


"Nak Ricky, apa kalian jadi berangkat hari ini. ?" Tanya Buya Reyhan yang lebih dahulu berjalan tepat didepannya.


"Insyaallah Iya Pak, mengingat waktu cuti saya hanya tiga hari. Jadi sebisa mungkin dimanfaatkan dengan baik." Buya mengangguk mengerti sembari menatap menantunya yang begitu sopan.


"Maaf jika nanti Billa belum sepenuhnya bisa menjadi Istri yang baik. Dia masih sangat muda. Buya titip Billa ya Nak." Ricky mengangguk mantap sembari tersenyum hangat.


"Tiga hari memangnya cukup Ky ?" tanya Reza Menoel lengan Iparnya yang berjalan disampingnya.


"Full time selama tiga hari ibadah, selebihnya bisa dilakukan setiap malam untuk ikhtiar" Balas Ricky yang lengannya langsung dipukul oleh Reza.


"Tanyakan dulu pada Billa, dia siap apa belum punya momongan. Kumohon jangan memaksanya " Pinta Reza sungguh-sungguh. Ricky hanya mengangguk mengerti sebagai jawaban. Buya Reyhan hanya menyimak obrolan anak sulungnya dan juga menantunya yang begitu terbuka tanpa malu sedikitpun.


"Pak"


"Panggil Buya, kamu adalah menantuku sekaligus putra keduaku." Sanggah Buya Reyhan saat Ricky hendak mengutarakan sesuatu.


"Buya, Rencananya setelah kami pulang dari liburan. Billa akan saya bawa langsung untuk tinggal dirumah saya pribadi." Buya Reyhan jelas sudah mempersiapkan segala kemungkinan tentang kehidupan putrinya setelah menikah. Billa yang memang anak bungsu, dalam adat Jawa memang seharusnya tinggal bersama orangtuanya. Namun, dalam kaidah Islam, tidak ada aturan khusus untuk tempat tinggal anak bungsu. Buya jelas mengetahui hak suami terhadap Istri. Itulah sebabnya, Buya Reyhan tidak mempermasalahkan tentang tempat tinggal putrinya.


"Billa sudah menjadi hak kamu Nak, Buya dan Umma hanya berharap. Sering-seringlah untuk mengunjungi kami." Ricky mengangguk pasti dan tersenyum lega saat mertuanya memberi izin untuknya membawa Istrinya.


Tanpa terasa, ketiga pria berbeda usia itu telah sampai dan memasuki ruang tamu setelah mengucapkan salam yang menggema sebelum masuk. Ricky dan Reza langsung masuk kamar setelah bercengkrama sebentar dengan Buya dan Umma di ruang tengah.


"Dek" panggil Ricky lembut setelah masuk kedalam kamar Istrinya tidak menemukan Billa di ranjangnya. Sajadah perempuan itu juga masih tergeletak dilantai dengan Kitab yang diletakan diatas meja khusus mengaji


"Kemana Billa"gumam Ricky lirih berjalan menuju kamar mandi, namun kosong.


"Kakak kenapa ?" suara lembut milik Billa jelas membuat Ricky berbalik dan mendekat kearah Istrinya yang tengah membawa secangkir teh dan roti.


"Dari mana saja ?" tanya Ricky lembut membantu Istrinya meletakan nampan diatas meja.


"Aku membuat Teh untuk Kakak, silahkan diminum selagi hangat " Ricky tersenyum lembut menatap netra Istrinya yang kini tengah menghindari tatapan suaminya.


"Terima kasih, Dek. Aku mau ngomong sebentar. Sini." Ajak Ricky menggandeng tangan Istrinya untuk duduk disampingnya. Billa menurut meskipun kesulitan saat berjalan.


"Masih sakit ya.., maaf" Billa hanya tersenyum malu tanpa mau membalas tatapan suaminya.


"Dek, kita akan liburan selama tiga hari, kamu tidak perlu menyiapkan barang-barang. Semuanya sudah disiapkan oleh Ibu Nadia jauh hari sebelum kita menikah. Nanti siang kita berangkat, kamu tidak masalah kan Dek ?" Sebenarnya Billa cukup terkejut dengan penuturan dari suaminya. Kondisi keduanya yang memang belum saling mengenal dan jarang komunikasi membuat Billa tidak mengetahui keinginan Ricky setelah menikah.


Billa mengangguk pelan seraya tersenyum tipis yang menandakan menyetujui penuturan suaminya.


"Terima kasih sayang" Ricky menarik tubuh mungil Istrinya kedalam pelukannya. Pria itu mencium kening Istrinya dengan lembut tanpa mengetahui wajah Billa yang kini sudah seperti tomat merona setelah mendengar kata sayang yang disematkan untuknya.