Habibillah Hawaari

Habibillah Hawaari
Di jemput.



Hari berlalu begitu cepat, program KKN tidak melulu di isi dengan kegiatan proker maupun individu. Sesekali berlibur untuk menenangkan pikiran adalah pilihan terbaik selama hampir dua pekan fokus pada proker kelompok maupun masing-masing. Akhir pekan ini, sesuai kesepakatan kelompok mereka akan mengunjungi tempat wisata air terjun pelangi yang cukup menarik para wisatawan yang berkunjung di desa tempat mereka KKN. Segalanya telah disiapkan dengan matang, mulai dari izin Bapak kepala Dusun, Lurah maupun Bapak Camat dan ketua RT maupun RW sudah diproses dan mendapat izin satu hari untuk bersenang-senang.


Berbeda dengan Billa, gadis itu nampak sedang membereskan beberapa perlengkapan kecil untuk dibawanya pulang ke rumah asalnya untuk menghadiri acara Kakaknya yang akan diselenggarakan tepatnya besok. Billa juga sudah mengantongi izin bersamaan dengan teman-temannya yang meminta izin untuk refreshing.


"Bill, didepan ada cowok gantengnya gak ketulungan nyariin elu. Pacar lu ganteng amat sih, mana keren gitu. Komplit sudah, jangan di lepas Bill." Ucap Dita dan segerombol teman perempuannya menyusul Billa dikamar yang sebelumnya sedang duduk santai di teras sambil menyaksikan teman-teman lainnya bertanding Badminton.


"Siapa ?" tanya Billa santai tanpa terkejut sama sekali dengan penuturan teman-temannya. Gadis itu sudah menebak, pria yang dimaksud oleh teman-temannya adalah Kakaknya sendiri.


"Itu bukan pacarku, tapi Kakakku" gumam Billa lirih sambil menenteng tas kecil dan Paper bag ditangan kanannya.


"What ?!, serius lu. Astaga, sumpah keren banget Abang lu." Celoteh teman-teman Billa sambil ikut berjalan keluar menemui Kakaknya yang saat itu tengah mengobrol bersama teman laki-laki Billa.


"Sudah siap Dek ?" ujar Reza menghampiri Adiknya yang baru saja keluar dari posko tersebut. Billa mengangguk sebagai jawaban dan segera berpamitan dengan teman-temannya yang sedang menatapnya saat ini.


"Teman-teman, seperti yang kalian tahu. Aku izin selama dua hari untuk kepentingan keluarga. Selamat bersenang-senang di Air terjun pelangi ya.." Ucap Billa melambaikan tangannya kepada teman-temannya


"Hati-hati dijalan ya.., kami menunggumu di posko. Jangan lupa bawa oleh-oleh yang banyak saat kembali." Ujar Raka yang langsung mendapat cibiran dari teman-teman lainnya. Billa hanya mengangguk sembari tersenyum dan masuk kedalam mobil Kakaknya.


"Saya bawa Billa dulu ya.., insyaallah hanya dua hari. Have fun untuk kegiatan kalian semua. Assalamualaikum" ucap Reza yang langsung membuat heboh kaum hawa.


"Waalaikumussalam Bang, hati-hati dijalan. Semoga selamat sampai tujuan." Jawab Alir mewakili teman-temannya.


"Gue gak nyangka, Abangnya Billa gantengnya full kaya Pak Ricky cuy. Astaga, pantesan mirip gitu ya sama Billa." Ujar Febri yang disetujui oleh teman-teman perempuannya.


"Sudah-sudah, kalian juga bakal patah hati kalo tahu kenapa Billa izin" celetuk Ridho yang langsung membuat penasaran kepada teman-teman perempuannya.


"Memangnya kenapa ?"tanya Puri penasaran.


"Yakin udah pada siap ?" ujarnya meledek sengaja membuat penasaran dengan teman-temannya.


"Abangnya mau nikah besok."Ucap Raka santai saat melintasi Ridho dan teman perempuannya yang duduk bergerombol.


"Astaga, beneran? Ya ampun... pupus sudah harapan memperbaiki keturunan." Teriak Dita yang memang sejak pertama melihat Reza begitu terpesona.


"Kalian mau tetap ngerumpi atau mau ikut kami pergi jalan-jalan ?" cicit Alir sambil memanaskan motornya dihalaman rumah.


"Weh, ikut dong. Cuss lah kita jalan-jalan hari ini. Air terjun pelangi, kami datang.." seloroh Tiwi yang diikuti oleh teman-temannya.


*


"Hey, apa ada noda di wajahku ?" ucap Reza saat menyadari Adiknya memperhatikannya.


"Tidak, apa Abang perawatan ?" tanya Billa sambil menyentuh pipi Kakaknya yang terlihat berisi.


"Tentu saja, bukan hanya perempuan yang mempersiapkan diri saat akan menikah, Lelaki juga wajib." Ujarnya sambil mengelus kepala Adiknya dengan sayang yang berbalut hijab.


"MaaSyaAllaah.. senangnya yang mau nikah. Apa Kakak sudah siap secara keseluruhan ?" tanya Billa mulai tertarik dengan mewawancarai Kakaknya.


"Sangat siap, Kakak sudah berumur Dek, sudah pantas menggendong momongan. Lain halnya dengan kamu. Ah sedihnya, kenapa harus menikah diusia dini sih Dek" keluh Reza mengelus tangan Billa dengan lembut.


"Mulai deh, jangan gitu dong.. Aku jadi ragu mau tetap lanjut." Cicit Billa yang langsung membuat Reza menoleh kearah Adiknya.


"Kita mampir dulu ya.. Abang lapar, mau kan makan Bakso dulu ?" ujar Reza yang sengaja ingin mengetahui perasaan Adiknya lebih dalam dengan keputusannya. Billa hanya mengangguk sembari tersenyum hangat kepada Kakaknya. Keduanya turun dari mobil dengan Reza menggandeng tangan Adiknya, mereka berjalan ke sebuah kedai yang berjualan dipinggir jalan.


"Bang, pesan dua porsi yang urat ya, satunya tanpa Mie." Ucap Reza yang begitu hafal dengan selera Adik satu-satunya. Billa hanya tersenyum ketika memperhatikan Kakaknya begitu mengerti tentangnya.


"Padahal kita udah jarang loh keluar bareng. Abang masih tahu banget seleraku, besok kalau sudah ada Ustadzah Winda harus mengutamakan Istri dulu ya.. hanya menjaga hatinya saja." Tutur Billa meledek Kakaknya yang baru saja duduk dihadapannya.


"Siap peri cantik." Guyon Reza menanggapi nasehat dari Adiknya. Keduanya tertawa ringan sambil terus meledek satu sama lain. Hingga pesanan keduanya datang mereka kembali terdiam menikmati Bakso hangat yang begitu menggugah selera sore itu.


"Dek, bagaimana perasaanmu terhadap Ricky sekarang ?" ucap Reza mengawali percakapan serius begitu saja setelah menyuapkan beberapa kali sendok di mulutnya.


"Aku belum ada rasa, hanya sebatas menghormati dia adalah calon suamiku yang telah aku pilih dengan berbagai proses." Jawab Billa santai sambil menikmati bakso miliknya.


"Kamu siap untuk berumah tangga sekarang ?" tanya Reza penasaran, pria itu memang belum membahas apapun sejak Billa memilih menerima sahabatnya untuk melangkah lebih dalam.


"Belum, tapi aku akan berusaha siap "jawabnya kembali santai dan sangat tenang.


"Jika memang belum siap, lalu kenapa harus menerimanya Dek. Persiapan kamu itu yang paling utama. Jangan dulu mengedepankan sebuah kebaikan, tapi dengarkan apa kata hatimu saat kamu melakukan istikharah Dek" jelas Reza menangkap keraguan dari Adiknya.


"Abang.., jika aku harus menunggu sampai siap, bisa jadi saat aku berumur kepala tiga. Aku juga belum menemukan kesiapan itu. Dan satu lagi, bukankah sebuah kesalahan dan akan menimbulkan sebuah kehancuran jika aku menolak orang yang Sholih ?" jawab Billa tenang menatap lekat netra Kakaknya yang saat itu juga tengah menatapnya.


"Aku tidak menyangka, Adikku begitu dewasa sekarang, Abang sangat bangga kepadamu. Setelah menikah, jika suamimu kelak mendukung karir jangan sia-siakan hal itu. Yayasan pendidikan kita menantimu Dek" Ujar Reza tersenyum hangat menatap Adiknya.


"Kalau aku gak tertarik sama Yayasan itu bagaimana ?" tanya Billa hati-hati dengan membalas tatapan Kakaknya yang terlihat raut wajahnya berubah serius.