Habibillah Hawaari

Habibillah Hawaari
Proses



Ricky membaca lembaran demi lembaran file CV yang berada pada layar laptopnya. Pria itu baru saja mengecek notice pesan email masuk dilayar handphone. Namun, karena kurang puas untuk membaca di handphone. Pria itu berinisiatif membuka laptopnya agar lebih jelas. Sebenarnya bukan itu saja yang membuatnya begitu semangat membuka file itu, tapi si pengirim email yang membuatnya lebih semangat untuk membaca di layar laptopnya. Tidak ada angin dan hujan, tiba-tiba Billa mengirim email kepadanya. Satu yang pasti membuatnya begitu yakin, email ini pasti sebuah jawaban pikirnya sedikit deg-degan.


Betapa terkejutnya Ricky saat mengetahui isi dari email miliknya. Sebuah file yang terdiri dari beberapa lembaran. Ricky mulai membacanya perlahan, tidak ada satu katapun yang terlewati. Sebuah CV milik Billa terpampang jelas pada layar laptopnya.


"Apa ini artinya aku diterima ?" gumamnya lirih memandangi halaman terakhir CV milik Billa.


"Pak Ricky yang terhormat, segera turun kebawah, Ayahmu sudah kelaparan ingin sarapan, tapi kamu malah asyik di depan laptop." Omel Ibu Negara pada anaknya. "Eh, siapa ini ?" tanya Ibu Nadia terkejut melihat sebuah foto seorang gadis cantik tampak terpampang jelas dilayar laptop milik anaknya. "Aku tidak asing dengan wajahnya. Apa ini foto Billa secara jelas ?" Ricky mengangguk pelan seraya beranjak keluar dari kamarnya. "Ricky Irawan!" Teriak Ibu Nadia kesal karena putranya justru meninggalkan kamar saat Ia benar-benar penasaran kenapa foto calon menantunya sudah berada ditangannya. Pintu kamar Ricky tidak pernah dikunci dari dalam, hal itu dikarenakan Ibu Nadia akan kesulitan membangunkan putranya jika pagi tiba. Ricky sering sekali tidur larut malam dengan segala pekerjaan yang menumpuk, membuatnya lelah dan tidur kembali setelah sholat subuh dimasjid bersama Ayahnya.


"Ibu Nadia, kita selesaikan sarapannya dulu baru kita bahas apa yang anda lihat di laptopku." Ucap Ricky cuek sambil menuangkan nasi goreng pada piringnya. Membuat mulut Ibu Nadia yang ingin berbicara merapat kembali. Ayah Roby jelas menangkap sesuatu yang berbeda. Namun, tidak ingin tergesa Ayah Roby memilih menunggu waktu yang tepat sesuai instruksi putra tunggalnya. Ketiga orang penting itu melahap sarapannya dengan tenang, tidak ada sesi tanya menjawab. Seolah ingin segera mengetahui sebenarnya ada apa.


"Kenapa foto calon menantuku ada di laptop milikmu ?" tanya Ibu Nadia sudah tidak tahan ingin mengintrogasi putranya setelah melihat putranya dan suaminya sudah menyelesaikan sarapan. Ayah Roby menghela napasnya lantaran sudah mengetahui akar dari masalah pagi ini. Dirinya cukup menyimak percakapan antara istrinya dan putra tunggalnya.


"Karena dia yang mengirimkan kepadaku." jawab Ricky datar tetap cuek sambil mengemil buah yang sudah di potong kecil dari Ibunya.


"Jawab dengan detail. Apa CV mu berhasil diterima ?" tanya Ayah Roby mulai terpancing ingin mengorek lebih dalam. Kedua orangtua itu sungguh sudah tidak sabar menantikan putranya berumah tangga. Selain itu, mereka ingin sekali melihat perempuan mana yang akan mengurusi kehidupan putranya dan memberikan cucu. Calon penerus bisnis dan kampus milik keluarga Irawan itu.


"Tadi malam dia mengirim email kepadaku, tetapi aku baru mengetahuinya tadi pagi saat terbangun sholat malam. Aku juga tidak mengerti, apakah aku diterima atau tidak, tetapi Billa justru mengirimi file CV miliknya kepadaku. Bukankah itu artinya aku diterima dan dia ingin aku mempelajari CV miliknya ?" ujar Ricky mencari arti dari email milik Billa.


"Hubungi dia sekarang, tanyakan dengan sopan maksud dari email-nya." Usul Ayah Roby yang langsung mendapat persetujuan dari istrinya. Ricky menghela napasnya karena itu bukan solusi.


"Ayah dan Ibu sekarang lanjutkan aktivitasnya. Biar ini menjadi urusanku. Nanti akan aku kabari lagi perkembangannya." Ricky beranjak naik ke kamarnya setelah mengucapkan pendapatnya. Membuat kedua orangtua itu tersenyum penuh arti.


"Aku yakin Billa menerimanya, kita doakan semoga dugaan kita benar." Ucap Ayah Roby semangat membuat Ibu Nadia juga tersenyum senang.


Ricky menatap foto milik Billa dengan perasaan penuh kegundahan. Dirinya benar-benar tidak memahami apakah Billa menerimanya atau tidak. Gadis itu bahkan tidak mengucapkan apapun selain mengirim sebuah file CV kepada nya. Pria itu jelas ingin sekali menghubunginya, tetapi hatinya berkata untuk menunggu sampai Billa menghubunginya. Ricky meraih ponselnya dan memencet sebuah nomor milik seseorang yang akan bisa memberikan pencerahan untuknya saat ini.


"Assalamualaikum Ky, ada apa menelpon pagi-pagi" ucap Zaid dengan suara khas bangun tidur.


"Sudah bangun subuh tadi, tapi tidur lagi setelah melakukan aktivitas ranjang dengan istriku." Ricky mengumpat kesal mendengar penuturan sahabatnya. "Haha, sorry bro. Pumpung libur, dan jarang sekali memiliki waktu seperti ini bersama istriku " Ucap Zaid sengaja meledek temannya yang masih jomblo.


"Aku tidak butuh info darimu. Sekarang bangunlah dan fokus dengan ucapanku."


"Baiklah, ada apa ?" tanya Zaid serius mendengarkan penuturan sahabatnya yang sedang meminta penjelasan.


"Dia menerimamu, dia ingin kamu mempelajari CV miliknya. Bukankah CV kalian harus saling dipelajari ?"


"Hey, jangan membuatku melayang sekarang. Aku tidak ingin nantinya aku kecewa karena jawabannya bukan seperti itu." Zaid menghela napasnya ingin memukul pria yang sedang galau disebrang sana.


"Dengarkan aku, ketika seorang wanita sudah mendapatkan CV milik laki-laki terlebih dahulu. Itu artinya dia yang menentukan akan berlanjut atau tidak prosesnya. Jika CV berhenti tanpa pihak perempuan memberikan balik CV miliknya. Maka pihak perempuan biasanya akan menghubungi perantara untuk tidak menindaklanjuti atau mundur dari proses ta'aruf. Lain halnya dengan kasusmu. Kalian melakukan proses tanpa perantara, dan pihak perempuan mengirim CV nya sendiri untuk dipelajari. Dari sini faham artinya apa ?"


Ricky tersenyum senang mulai memahami penjelasan dari sahabatnya. Pria itu lantas menutup sambungan ponselnya setelah mengucapkan terima kasih untuk penjelasan. Pria itu jelas sangat bahagia. Membuatnya beranjak dari kasur lebar miliknya dan bersujud syukur kepada Allah. Hal itu dilakukan Ricky secara spontan. Dalam sujudnya dia melafalkan sebuah doa untuk kehidupannya. Tanpa sadar air matanya jatuh membasahi kedua pipinya yang masih memancarkan senyuman.


"Terima kasih Ya Allah, terima kasih atas kesempatannya. Terima kasih juga telah mempertimbangkan CV milikku Billa." Ucapnya senang lalu menghapus air mata yang sempat jatuh.


Ding.


{"Assalamualaikum Pak, maaf menggangu waktu Bapak di hari libur. Insyaallah saya melanjutkan proses CV Bapak. Silahkan pelajari CV milik saya. Saya akan menunggu jawaban dari Bapak. Jika nantinya proses ini berlanjut dengan Bapak menjawab CV saya. Maka tunjuklah seseorang untuk menjadi perantara kita dalam berproses. Terima kasih"}~ Sekertaris Kelas A prodi Paud


Ricky tersenyum senang dengan untaian syukur yang selalu terucap sejak tadi. Alhamdulillah, satu kata yang selalu diucapkannya dengan senyuman terus mengembang disudut bibirnya.


{"Waalaikumussalam, Terima kasih Dek, sungguh aku sangat bersyukur dengan kabar bahagia ini. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan menjadi Imam terbaikmu kelak. Aku akan mempelajari CV mu. Aku tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menjawab CV mu. Nanti akan ada seseorang yang menjadi perantara proses kita."}~ Pak Ricky Dosen Mentopen