
"Alhamdulillah kelar juga ujian semester ini, gila cenat cenut kepalaku pas inget soal tentang teori perkembangan kognitif Jean Piaget. Pusing boo" ucap Ratna sambil menopang kan kepala di meja kelas.
"Kenapa di inget sih, tadi kan cuman suruh jelasin sesuai persepsi kita, gak usah di jawab isi teorinya" ujarnya cuek.
"Ya kali aku jawab tanpa mengingat akarnya dulu, bisa-bisa mengarang bebas malah jadi novel dong jawabanku" Billa hanya tersenyum tipis menanggapi teman dekatnya yang super cerewet itu.
.
Hari ini adalah terakhir ujian setelah hampir 2 Minggu seluruh mahasiswa mengikuti ujian akhir semester perkuliahan. Inilah yang di nanti hampir seluruh mahasiswa, liburan semester adalah libur paling membahagiakan. Masa libur yang panjang sangat di nantikan oleh mahasiswa yang merantau. Hal itupun berlaku bagi Billa dan Ratna. Sorak kemeriahan dikelas menyambut liburan sangat ramai dan happy. Ratna sebagai kosma kelas memberikan instruksi kepada teman sekelasnya supaya ketika liburan jangan lupa untuk mengisi KRS sesuai info langsung darinya. Sebagai kosma, Ratna harus sering mengecek perkembangan jadwal kampus sesuai kalender akademik yang terdapat di situs kampus.
"Rat, gimana acara pendakian, jadi kagak ?" ujar salah satu temannya di kelas.
"Aku sih yes, kita semalem aja nginepnya, jangan kelamaan. Kita ini cewek semua booo" Mahasiswa jurusan Paud memang mayoritas perempuan, bahkan dikelas Billa tidak ada seorang laki-laki satupun.
"Kita star di depan kampus ya, gak usah pada bawa kendaraan. Aku udah pesen Tayo untuk acara kita. Persiapkan segala keperluan kalian dengan baik ya guys. Jangan lupa bawa makanan instan saja. Nanti akan ada pemandu untuk acara kita dari komunitas gunung pendaki itu sendiri. Ucap Ratna mengomando kan acara yang di angguki serempak oleh teman sekelasnya.
Usai memberikan arahan, satu persatu meninggalkan kelas karena hari sudah semakin sore. Billa keluar kelas bersama Ratna, mereka akan membeli kebutuhan yang akan dibawa acara mendaki besok.
"Kamu yang bawa motornya Bill, aku capek banget koar-koar di kelas oy" Billa nurut, tanpa pikir panjang kedua perempuan yang semakin solid itu melajukan motornya ke sebuah minimarket dekat kosan Billa. Keduanya segera masuk dan memilih beberapa Snack dan makanan instan untuk bisa di makan saat pendakian nanti.
.
Cukup sore Billa pulang ke kosan, membawa banyak belanjaan menjadi sorotan teman kosannya yang justru sudah mulai packing barang untuk di bawa liburan pulang kampung.
"Bill, kamu mau bawain oleh-oleh ya ?" tanya Rere yang sempat berpapasan dengannya.
"Mau ada acara besok re, kemungkinan lusa baru pulang." Ujarnya seraya masuk ke kamarnya sendiri. Usai membereskan barang bawaan yang hendak di bawa besok, Billa langsung melesat ke kamar mandi, cukup 15 menit perempuan itu menyegarkan badannya yang lengket, setelah merasa segar gadis itu langsung menunaikan kewajiban sholat Maghrib. Aktivitas yang padat membuatnya ingin sekali rebahan sambil menunggu adzan isya. Suara pekikan handphone terdengar sangat nyaring, Billa segera mengangkat nya karena kebetulan sedang memainkan benda pipih itu sambil rebahan.
"Assalamualaikum bang" ucapnya semangat,
"Waalaikumussalam dek, kamu udah libur belum kuliahnya ?"
"Ada-ada saja, enggak usah. Gimana pula nanti Abang ngomongnya sama Buya dan Umma. Pulang besok dek, Abang tunggu dirumah" Perintahnya mutlak tak bisa di tawar menawar. Bahkan langsung memutuskan panggilan telepon nya sepihak, membuat gadis itu sangat kesal dan ingin menangis. Semua orang pasti akan merasa kesal jika acara yang sudah di persiapkan dan pastinya seru dibatalkan karena terhalang izin. Terkadang Billa merasa Abang nya terlalu keras dalam mendidik nya. Padahal Buya saja tidak sekaku itu dalam melarang dan memerintahkan Billa.
"Aku harus konfirmasi ke Ratna sekarang. Ini Snack di bawa pulang aja kali, kalo di tinggal malah kelamaan balik ke kost nya" gumamnya lirih. Saat sibuk menyiapkan barang-barang yang akan di bawa pulang, suara handphone nya kembali memekik. 'Zafran' ucapnya dalam hati. Tanpa menunggu lama Billa segera mengangkat panggilan itu.
"Assalamualaikum Zafran, ada apa ?"
suara lembut dan penuh penekanan dikalimat terakhir membuat nyali Zafran kembali menciut, sepertinya memang harus menyiapkan mental jika ingin mengobrol lebih dalam dengan Billa.
"Waalaikumussalam, Bill,- Kalimat yang menggantung membuat Billa mengernyit heran dengan sikap Zafran. Gadis itu juga ikut terdiam sampai suara Zafran terdengar kembali.
"Apa kabar ?" ucapnya pada akhirnya.
"Alhamdulillah baik, bagaimana kabarmu ?" Zafran tersenyum ketika mendengar pertanyaan yang terlontar dari gadisnya. Suara Billa pun tidak seperti saat salam yang penuh dengan penekanan.
"Alhamdulillah baik, apakah kamu sudah pulang ?"
"Insyaallah besok aku pulang, oh iya Zaf, ada yang ingin aku tanyakan kepadamu. Jawab lah dengan jujur ya" Zafran mengangguk seolah Billa mengetahui dirinya yang tengah mengangguk sekarang.
"Ada apa ?" ucapnya cukup penasaran.
"Selama 1 semester ini ada yang mengantar sarapan saat aku ada kelas pagi lewat kurir. Ratna bilang saat ditanya siapa yang telah mengirim, pak kurir hanya mengatakan privasi dan makanan itu halal serta sehat..-
"Bukan aku" jawabnya cepat, bahkan Billa sampai terkejut saat Zafran memotong perkataannya tanpa mendengarkan sampai selesai. Kini keduanya sama-sama hening. Yang satunya memikirkan kalau bukan Zafran yang mengirim siapa, dan yang satunya berfikir mungkinkah ada yang mengagumi Billa selain dirinya. Membuat Zafran benar-benar takut kehilangan sebelum memulai.
"Baiklah, jika bukan kamu. Lalu kenapa sekarang menelponku malam-malam ?"
"Bolehkah aku mengunjungi rumahmu saat liburan nanti ?" ujarnya hati-hati. Billa menghela nafas kasar dan memijat pelipisnya yang terasa nyut-nyutan dengan sikap Zafran. Sudah Billa katakan kalau dirinya saat ini tengah menunggu seseorang, membuat Billa berfikir lebih baik menceritakan tentang Syafik kepada Zafran. Billa tidak ingin Zafran menunggunya lagi.
"Zafran maafkan aku, aku sedang menunggu seseorang yang tengah menyelesaikan pendidikannya juga di kota lain. Kami sepakat untuk melangsungkan akad saat nanti sudah menyelesaikan studi kami masing-masing. Jadi jangan menungguku lagi, diluar sana banyak perempuan yang sangat anggun dan Sholihah bahkan sepadan dengan mu Zaf." Cukup gamblang Billa menceritakan tentang dirinya yang tak bisa lagi menerima Zafran. Membuat seonggok daging merasa tercubit, nafas milik Zafran sesak dan tubuhnya membeku seketika. Dia tidak percaya bahwa dirinya kalah sebelum mencoba. Tidak ini bukan soal kalah dan menang, Zafran saja yang mengharapkan manusia. Bukankah Sudah Allah katakan, Jangan berharap kepada manusia, berharap lah kepada pemiliknya. Karena Dialah pemilik hati manusia. Lagi mudah membolak-balikan hati nya.