Habibillah Hawaari

Habibillah Hawaari
Bimbang



Billa menunduk diam saat dirinya kini sudah berada didalam ruangan berhadapan dengan Dosennya. Tidak ada yang berani memulai berbicara setelah perempuan cantik yang selalu tersenyum tadi keluar dari ruangan sang Dosen. Sebenarnya Billa sangat penasaran siapa perempuan yang sepertinya tidak ada rasa takut sedikitpun pada pria dihadapannya saat ini.


"Apa kabar Dek ?" ucap Ricky mengawali percakapan keduanya saat sudah lumayan lama dirinya menikmati wajah gadisnya yang sedang menunduk diam. Billa mengangkat wajahnya yang datar untuk menatap lawan bicaranya.


"Alhamdulillah baik Pak. Saya disini ingin mengantarkan tugas akhir perkuliahan sebelum UAS pekan depan." Ujar Billa seraya menyerahkan benda kecil yang diyakini sebuah flashdisk diatas meja milik Dosennya.


"Terima kasih. Jangan salah faham dengan kejadian tadi. Dia hanya seorang wanita yang terus mengganggu saya dari sebelum kita kenal." Tutur Ricky menatap lekat gadisnya yang kini kembali menunduk diam.


"Saya percaya. Saya mohon izin keluar Pak. Tugas saya sudah selesai. Teman-teman mengucapkan terima kasih kepada Bapak karena telah mengajarkan kami banyak hal mengenai mata kuliah metodologi penelitian." Ucap Billa sebelum beranjak berdiri.


"Sama-sama. Tunggu Dek, ini ada hadiah dari saya selama keluar kota. Jangan menolaknya. Terimalah, itu juga ada hadiah dari Ayah saya untuk kamu." Billa menatap Dosennya yang kini juga sedang menatapnya dengan tersenyum hangat.


"Baiklah, ucapkan rasa terima kasih saya kepada Ibu dan Ayah Bapak karena selalu memberikan kejutan kepada saya." Ucap Billa pada akhirnya karena menolak pun rasanya sangat tidak sopan apalagi ada pemberian dari Ayah Dosennya.


"Apa kamu mau membalas kejutan itu ?" Billa mengangguk pelan seraya menatap Dosennya yang semakin tersenyum lebar.


"Insyaallah, nanti akan saya balas kejutan yang sudah diberikan kepada saya." Ujarnya mulai beranjak.


"Datanglah pada undangan makan malam Ibu saya. Dek, Ibu dan Ayah saya sangat menunggu kedatangan mu. Saya janji, hanya sebatas makan malam." Billa yang sudah melangkah keluar kembali menatap Dosennya yang kini berjalan mendekat dan berhenti sekitar tiga langkah dari tempat Billa berdiri.


"Maafkan saya Pak, tidaklah baik bagi kita berdua untuk bertemu malam tanpa ada sebuah hubungan yang sah. Lebih baik kita jauhi perkara yang mengundang sebuah mudhorot untuk kita berdua." Usai mengatakan penolakan undangan itu dengan tegas. Billa melangkah keluar dengan langkah pasti sambil mengucapkan salam saat sudah sampai di pintu keluar.


"Assalamualaikum" ucapnya dingin berjalan menjauh tanpa menunggu jawaban dari Dosennya.


"Waalaikumussalam. Susah sekali mendekatimu, aku bahkan masih ingin melihat wajahmu Billa." Gumam Ricky menatap kepergian gadisnya yang semakin menjauh.


"Apa dia yang bernama Billa ?" tanya seorang pria yang sudah tidak lagi muda dengan pembawaan yang luar biasa berwibawa. Ricky mengangguk lemah seraya berjalan kembali duduk di kursi kerjanya.


"Ada urusan apa Ayah sampai datang keruangan ku ?" tanya Ricky tanpa menatap Ayahnya yang kini sudah duduk menatapnya lekat dihadapannya.


"Cantik sekali. Pantas kamu begitu terpesona dengannya. Dia bahkan menolak undangan dari Ibumu. Benar-benar wanita yang berkarakter." Ricky membalas tatapan Ayahnya dengan sendu. Pria itu jelas sangat menyukai gadis yang sudah mencuri perhatiannya. Tetapi dia juga sebenarnya tidak sanggup jika harus mendengar penolakan untuk CV nya.


"Hem, serahkan segalanya pada Allah. Jangan berharap kepada manusia. Dia bisa saja membuatmu terluka karena rasamu yang begitu dalam. Kuatlah dalam berdoa supaya Allah benar-benar membalik hatinya untuk menerimamu." Ucap Ayah bijaksana dengan terus menatap lekat putranya yang begitu terlihat loyo.


"Doakan aku juga Ayah. Agar kekuatan Doaku semakin besar karena dibantu oleh kedua orangtuaku." Ujar Ricky yang langsung mendapatkan acungan jempol dari Ayahnya.


"Kenapa dia kemari lagi ?" pertanyaan yang langsung membuat Ricky menatap kembali netra Ayahnya.


"Apa Ayah melihatnya ?" Ayah Roby mengangguk pelan seraya beranjak mendekati putranya yang terlihat begitu kesal.


"Lain kali, jika dia berkunjung kembali. Langsung panggil bagian keamanan. Aku juga tidak mau memiliki menantu seperti seorang seles. Ricky tertawa kecil mendengar penuturan dari Ayahnya. Benar yang dikatakan oleh Ayah Roby, Karina jelas-jelas selalu datang menawarkan diri untuk dinikahi dengan dandanan yang over. Tak jarang wanita itu juga bersikap diluar batas pada Ricky yang jelas-jelas menolaknya mentah-mentah. Namun sayang, Karina adalah sosok yang pantang menyerah. Meskipun mendapatkan penolakan kasar. Tidak membuatnya sakit hati atau patah semangat mengejar pria yang sangat dicintainya.


"Aku tidak pernah menyangka Karina bisa nekat seperti itu." Gumam Ricky yang mulai mengingat pertemanan yang terjalin kuat antara dirinya dan Karina. Namun sayang, sikap Ricky yang sopan dan selalu membantu sebisa mungkin disalah artikan oleh Karina. Hingga gadis cantik itu memberanikan diri mengungkapkan isi hatinya. Ricky jelas menolaknya, lantaran benar-benar tidak ada rasa sedikitpun pada teman dekatnya kecuali menganggapnya sebagai teman. Semenjak itu Ricky tidak pernah lagi mau bertemu atau menerima ajakan Karina untuk sekedar mengobrol. Sikap Karin yang agresif dan tidak tahu malu dengan penampilannya, membuat Ricky benar-benar muak dan tak segan mengusir mantan teman dekatnya itu.


"Itu juga salahmu, karena dulu kamu terlalu baik padanya. Wanita itu makhluk yang berperasaan. Jadi wajar saja jika dia baper oleh sikapmu." Celetuk Ayah Roby sambil menepuk pundak putranya pelan.


"Aku dulu bahkan sangat sopan kepadanya Ayah. Tidak pernah sekalipun aku menyentuhnya saat kami masih berteman." Ujar Ricky membela diri. Walaupun Ricky bukanlah lulusan pondok, dia jelas sangat religius karena pergaulannya dengan teman-teman dekatnya yang mayoritas adalah aktivis.


"Baiklah, kita anggap saja dia memang begitu terobsesi denganmu" Ricky menghela nafasnya kasar saat mengingat tadi Billa sempat melihat penampilan Karin saat keluar dari ruangannya. Beruntung Billa percaya dengan ucapan Ricky mengenai Karina.


"Untung saja tadi Billa percaya dengan ucapan ku, ngomong-ngomong Ayah kenapa bisa sampai di ruanganku ?" tanya Ricky kedua kalinya menatap wajah Ayahnya yang kini juga sedang menatapnya datar.


"Ibumu menelfon Ayah, katanya putranya tidak mengangkat teleponnya berkali-kali. Ibu Nadia memastikan calon menantunya datang atau tidak pada undangannya." Tutur Ayah Roby hati-hati. Ricky menghela nafasnya kasar sambil melemparkan pulpennya kelantai dengan kuat.


"Ayah sudah mengetahuinya bukan. Apa boleh kalau aku langsung melamarnya saja ?" ucap Ricky frustasi dan bingung harus bagaimana agar Billa mau menjadi istrinya.


"Sudah Ayah katakan jangan seperti itu. Kita serahkan saja pada Allah. Yakinlah Ricky dengan kekuatan Doa" ucap Ayah tegas menatap netra putranya tajam.


"Baiklah. Aku tidak akan mendekatinya lagi. Aku hanya akan mendekati pemilik hatinya. Semoga usaha ini berhasil Ayah" gumam Ricky menatap kearah luar jendela pada ruangannya. Ayah Roby menepuk pundak putranya dengan kuat menandakan memberikan dukungan penuh atas keputusannya.