Habibillah Hawaari

Habibillah Hawaari
Malam Kedua



Keduanya kini tengah merampungkan makan malamnya dengan khusyuk setelah Ricky dengan lembut membujuk Istrinya yang sedang mode diam. Pria itu sebenarnya tidak menyangka, dibalik kesempurnaan yang dimiliki Billa, terdapat sikapnya yang masih kekanak-kanakan. Bukan membenci ataupun menyesali Karena telah menikahinya, justru Ricky semakin menyukai Istrinya yang menurutnya sangat wajar dan fitrah perempuan ingin dimengerti.


Meskipun Billa tidak banyak bicara, namun. Perempuan itu tetap menjalankan perannya sebagai Istri melayani suaminya saat makan. Perempuan itu juga tak segan menawarkan lauk kepada Ricky jika ingin menambah.


"Terima kasih Dek" ucapnya lirih setelah menghabiskan porsi makanannya. Billa mengangguk pelan sebagai jawaban, kini baik Billa maupun Ricky sama-sama diam setelah Billa lebih dulu membereskan bekas makan malam Keduanya dan membantu Mbok Arum membawanya ke dapur.


"Kak" panggil Billa pelan memberanikan diri memulai percakapan setelah keduanya diam cukup lama dibalik selimut ranjang.


"Iya ?" Ricky yang mulanya fokus pada laptop dipangkuannya segera menoleh dan menggeser laptopnya dari hadapannya.


"Kakak belum menjawab pertanyaan tentang pil KB, aku janji. Setelah aku lulus, aku tidak akan menggunakannya lagi." Ucapnya lirih berharap suaminya mau menuruti keinginannya.


"Baiklah, aku setuju dengan opsi menunda kehamilan, tapi tidak dengan mengkonsumsi pil KB." Billa menatap suaminya yang kini serius menatapnya juga.


"Lalu bagaimana jika aku hamil Kak" tetap ngeyel ingin meminum Pil agar aman dan tidak kebobolan.


"Kita akan melakukannya dengan hati-hati, jika nanti dia hadir pada rahim ini. Maka itu adalah takdir yang sudah Allah tetapkan." Billa mendengus kesal dengan jawaban suaminya yang intinya ingin segera memliki anak.


"Sayang.." bujuk Ricky pada akhirnya lantaran Billa justru tidur dengan posisi membelakanginya. "Astaghfirullah, beginilah resikonya jika punya Istri masih belum lulus Ky, sabar.." ucapnya dalam hati memperluas rasa sabarnya untuk menghadapi perempuan.


Ricky memeluk Istrinya dari belakang dengan menenggelamkan wajahnya tepat di belakang tengkuk Istrinya, Billa yang memang belum tidur langsung membuka matanya lebar merasakan sensasi geli yang luar biasa saat hembusan napas suaminya mengenai leher jenjangnya.


"Dek" panggil Ricky lembut mencoba membalikan tubuh Istrinya untuk berhadapan dengannya. Billa langsung menutup matanya rapat saat tangan kekar itu berhasil memindah posisinya untuk berhadapan dengan suaminya. Gemuruh hebat didalam dadanya jelas begitu terasa saat Ricky tanpa segan menempelkan bibir tebalnya pada bibirnya yang tipis. Pria itu jelas merindukan penyatuan yang sempat dirasakan kemarin malam saat keduanya baru saja resmi menikah, ditambah suasana puncak yang begitu dingin membuat nalurinya begitu menginginkannya lagi.


"Ahh" Desah Billa saat satu tangan Ricky berhasil menerobos masuk kedalam kaosnya dan memainkan salah satu gundukan milik Istrinya, Billa yang mulanya kaku dan tidak menginginkan hal itu terjadi lagi, kini mulai menikmati sentuhan lembut yang memabukkan hasil dari perbuatan suaminya. Keduanya saling membalas setiap sentuhan agresif tanpa melepaskan tautan bibir keduanya.


"Kak" Billa menahan tangan suaminya saat merasakan suaminya akan melepaskan pakaiannya yang masih utuh pada tubuhnya.


"Aku menginginkanmu Dek" gumam Ricky menatap netra Istrinya dengan penuh minat, Billa yang memahami suaminya telah dipenuhi kabut gairah tak kuasa menolak ajakan Ricky yang terlihat begitu menginginkannya.


Lama menunggu jawaban dari Istrinya, Ricky segera duduk dan merapihkan pakaiannya lalu beranjak turun setelah mengambil laptopnya yang masih menyala disamping ranjangnya.


"Kak"panggil Billa lirih membuat langkah Ricky terhenti tanpa membalikan tubuhnya yang kini membelakangi Istrinya.


Sementara Billa, perempuan itu jelas merasa bersalah. Dia jelas paham bagaimana hukum menolak ketika suaminya memintanya untuk berhubungan. Didalamnya jelas tersimpan begitu besar pahala, namun bukan karena menyia-nyiakan pahala itu Billa merasa bersalah, tapi karena ganjaran bagi seorang Istri yang menolak suaminya adalah dilaknat sampai suaminya memaafkan.


"Aku harus menemuinya" ucapnya yakin segera mengganti bajunya dengan gamis dan hijab lebar lalu keluar kamar mencari keberadaan suaminya yang kini tengah mengerjakan sesuatu dihadapan laptopnya. Billa berjalan pelan menatap punggung Ricky yang sudah terlihat dari kejauhan. Ya, Ricky lebih memilih menyibukkan diri diruang tengah yang langsung menembus balkon ketimbang terus memikirkan keinginannya yang tidak terkabul malam ini.


Pria itu terkejut bukan main saat merasakan seseorang yang dikenali aroma tubuhnya kini memeluknya dari belakang dengan posesif. Ricky langsung membalikan tubuhnya dan benar dugaannya, Istrinya kini berhambur sendu kedalam pelukannya.


"Maaf" Gumamnya lirih semakin tenggelam kedalam dada bidang suaminya. Ricky tersenyum senang mengelus mahkota Istrinya yang terbalut oleh hijabnya yang syar'i.


"Aku sudah memaafkannya" Billa memberanikan diri menatap wajah suaminya yang terlampau lebih tinggi dari postur tubuhnya. Keduanya saling menatap dalam hingga wajah mereka begitu dekat dan saling memeluk mesra. Entah siapa yang memulainya, kini kedua bibir itu bertemu kembali saling bertautan mesra, merasakan gejolak asmara yang begitu menggebu dan penuh minat.


"Kak"gumam Billa lirih meremas kaos suaminya saat tautan bibirnya terlepas. Ricky mengusap lembut bibir Istrinya yang selalu membuatnya candu dan penuh minat.


"Kita lanjutkan didalam, bahaya jika sampai ketahuan Mbok Arum." Bisiknya lirih tepat ditelinga wanitanya yang langsung membuat tubuh Billa meremang geli.


Ricky menabrak tubuh Istrinya saat Billa baru saja menutup pintu kamarnya, dengan penuh hasrat pria itu kembali mencium bibir ranum Istrinya yang begitu menggoda. Sementara Billa, perempuan itu kini pasrah dan menyerahkan segala kehendak suaminya kepada sang pemilik takdir. Dengan lembut pria itu menggendong Istrinya ala pengantin baru untuk direbahkan diatas ranjang.


"Ah" Desah Billa tak tertahan saat merasakan sensasi panas dan geli ketika suaminya dengan lihai memainkan kedua gundukan miliknya yang kini tak tertutupi apapun.


"Kak" gumamnya lagi saat Ricky dengan lembut menjamah seluruh tubuhnya penuh kelembutan.


"Aku akan melakukannya pelan sayang" ucapnya kembali membungkam bibir Istrinya dan memainkan aset Istrinya dengan lembut.


"Ahh, emmphh" Billa mengerang nikmat saat Ricky dengan lihai menyentuh titik sensitif milik Istrinya. Pria itu benar-benar haus dan begitu minat akan penyatuan. Bagaimana tidak, setelah penantian panjangnya selama hampir kepala tiga, kini pria itu sudah menikah dan baru saja merasakan nikmatnya ibadah tersebut.


"Kak, sakit!" teriak Billa mencengkeram bahu Ricky saat pria itu kembali melakukan penyatuan pada malam kedua mereka. Ricky mencium kening Istrinya dan kembali ******* bibirnya untuk membuat Istrinya merasa rileks. Rasa sakit yang dirasakan kini menyatu dengan rasa nikmat yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Keduanya saling membalas setiap sentuhan dan begitu menikmati permainan yang baru saja dilakukan.


"Bissmillah"ucap Ricky dalam hati berharap jutaan benihnya mampu menembus dinding rahim milik Istrinya. Pria itu tersenyum lembut saat mengakhiri permainannya dan mencium lembut kening Istrinya yang telah tergulai lemas di pelukannya.


"Terima kasih Dek" Billa hanya mengangguk pasrah tanpa mau membuka kedua matanya yang begitu berat. Perempuan itu langsung tertidur pulas lantaran lelah karena perjalanan dan juga melayani suaminya yang begitu liar memangsa tubuhnya.