Habibillah Hawaari

Habibillah Hawaari
Ayah Roby kompak dengan Putranya



Ricky terus menunjukkan senyumnya sepanjang perjalanan menuju kediaman Irawan. Pria dewasa itu tengah mengingat saat dirinya mengantarkan wanita yang disukainya sampai kosan dengan selamat. Pria itu bahkan melarang Billa membayar nasi pecel ayam saat Billa ingin membayarnya. Langkah kakinya terhenti saat netranya menangkap bayangan seorang wanita yang ingin sekali dihindari tengah berbincang dengan Ibu dan Ayahnya diruang tamu. Ya, pria itu cukup lihai dalam menembus jalanan, dalam waktu hanya lima belas menit mobilnya sudah terparkir dibagasi mewah kediaman Irawan. Ricky menyorot tajam kepada Ayah Roby yang terlihat dari luar pintu, putranya sedang menatapnya seolah sangat tidak berkenan adanya tamu. Sadar tengah disorot, Ayah Roby izin keluar dan menemui putranya yang terlihat kesal sambil menenteng Pecel Ayam.


"Ayah kenapa membiarkan wanita itu masuk kedalam ?" tanya Ricky menatap Ayahnya kesal.


"Dia datang sendiri mencari mu. Ayah sudah katakan kamu sedang tidak dirumah, tapi seperti yang kamu lihat. Wanita itu dengan percaya dirinya mau menunggumu diruang tamu. Mau tidak mau Ayah dan Ibu keluar menghormati tamu. Bagaimanapun kita adalah pendidik yang menjunjung tinggi etika." Tutur Ayah Roby bijaksana. Ricky melengos mendengar penuturan Ayahnya. Rasa kesal karena kejadian tadi pagi saat di kampus belum sembuh, ditambah malam-malam main tanpa kenal waktu. Bahkan seharusnya digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sebagai umat muslim jelas punya sebuah kewajiban saat Maghrib datang.


"Ayah dan Ibu sudah sholat ?" Ayah Roby mengangguk sambil menepuk pundak anaknya yang terlihat begitu kesal.


"Kamu sendiri sudah sholat ?" Ricky mengangguk sebagai jawaban. Tanpa diduga Ricky masuk dengan mengucapkan salam tanpa melihat wanita yang sejak dirinya datang sebenarnya sudah mengetahui.


"Hai Iki, apa kabar ?" bukannya menjawab salam, Karin justru menanyakan kabar. Ibu Nadia menggelengkan kepalanya pelan saat mengetahui putranya terlihat emosi. Ricky tidak menjawab pertanyaan Karin, pria itu justru langsung masuk setelah mencium takzim tangan Ibunya.


"Yah.. kok dicuekin sih.., apa Ricky kalau dirumah seperti itu Tante ?"


"Tidak, seperti yang kamu lihat. Dia sangat sopan dan beretika baik tatkala berhadapan dengan orang yang juga beretika baik. Karin, maafkan Ricky, dia benar-benar lelah seharian mengajar. Mungkin dia tidak akan mau menemui kamu saat ini" ucap Ibu Nadia begitu lembut menahan kesal dengan wanita yang datang tidak mengenal waktu itu. Karin berkunjung tepat adzan Maghrib berkumandang, mau tidak mau Ibu Nadia menyuruh asisten rumahnya untuk mempersilahkan masuk keruang tamu. Gadis itu bahkan sudah di tawari sholat, namun menolak dengan alasan nanti dulu.


"Begitu ya Tante, apa dia masih marah karena aku tadi bersikap berlebihan saat dikampus ?" tanya Karin terlihat sendu.


"Memangnya kamu tadi ke kampus lagi ?" Karin mengangguk seraya menunduk lesu. Ibu Nadia menghela nafasnya pelan lantaran tidak tahu lagi harus menyikapi bagaimana.


"Sekarang sholat dulu ya, kamu bahkan belum sholat. Tidak baik menunda kewajiban." Karin menatap Ibu dari pria yang begitu dia cintai dengan lekat.


"Apa Ricky menyukai wanita yang thaat ?" Ibu Nadia mengangguk pelan seraya tersenyum hangat.


"Benar, dia begitu menyukai wanita yang thaat dengan agama dan memiliki sikap yang baik. Karin, cinta tidak bisa dipaksakan. Diluar sana banyak pria yang menyukaimu nak, kamu harus mulai membuka hati untuk mereka. " Tutur Ibu Nadia lembut mencoba memberikan pemahaman kepada wanita yang begitu mencintai putranya.


"Jika aku berubah, apa Ricky akan membuka hatinya untukku ?" tanya Karina dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Aku tidak bisa melupakan cintaku yang begitu besar kepada Ricky Tante, aku minta maaf karena selalu bersikap semauku sendiri selama ini. Sampaikan maaf ku kepada Ricky Tante." Ucapnya mengusap air mata yang jatuh setelah mengurai pelukan eratnya. Ibu Nadia mengangguk pelan seraya mengusap lembut mahkota wanita yang mencintai putranya.


"Sayang... perhatikanlah antara cinta dan obsesi. Jangan sampai cintamu yang suci terkalahkan dengan rasa obsesi ingin memiliki. Tante harap Karina mulai saat ini berubah. Tante akan sangat senang jika kamu seperti dulu lagi. Jadilah diri sendiri nak. " Karin menunduk dalam merasakan malu yang luar biasa dengan sikapnya selama ini. Gadis itu pamit dengan Ibu Nadia setelah menunaikan sholat Magrib di mushola kediaman Irawan. Ricky benar-benar tidak menemui Karin, pria itu begitu masuk rumah langsung keruang makan untuk makan malam dengan pecel ayam yang telah dibeli tadi bersama Billa. Usai makan, Ricky langsung naik lantai atas dan masuk ke kamar untuk bersih-bersih.


"Habibillah Hawaari" ucapnya lirih sambil mengetik nama pada benda pipih kesayangan sejuta umat ditangannya dengan lihai. Pria itu tengah mencari medsos milik gadis yang disukainya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman saat menemukan akun milik Billa.


"MaaSyaAllaah, tak ada foto. Bagus sekali. Tidak usah mengumbar foto di media sosial. Aku juga tidak rela wajahmu terpampang dinikmati banyak orang" ujarnya berbicara sendiri sambil meneliti akun gadisnya. Pria itu sungguh melupakan tentang kedatangan Karin. Rasa kecewa dan kesalnya dengan sikap Karin membuatnya begitu menutup diri terhadap Karin.


"Hah, tanganku gatal ingin mengirimkan pesan saat ini." Ricky tersenyum geli terhadap dirinya sendiri saat mulai mengetik dan menghapus lagi pesan yang akan dikirimkan untuk Billa.


"Ayolah Ricky, serahkan pada Allah. Toh CV mu sudah ditangannya. Cukup berdoa yang kuat, semoga dikabulkan." Gumamnya menasehati diri sendiri lalu beranjak keluar menuju ruang kerjanya.


"Ricky, apa Ibu dan Ayah mengajarimu bersikap seperti itu jika ada tamu ?" Tegur Ibu Nadia ketika melihat putranya hendak memasuki ruang kerjanya.


"Ibu Nadia yang terhormat, aku benar-benar tidak ingin membahas tentang dia. Lagipula siapa yang membenarkan dia datang diwaktu yang tidak tepat ? Maghrib bukannya sholat dirumah, baca Alquran, membenahi diri malah keluyuran dirumah pria." Ucapnya kesal dan mulai membuka pintu kerjanya.


"Sayang.., tidak seharusnya kamu bersikap seperti itu kepada tamu. Setidaknya temui sebentar lalu masuk."


"Buat apa ditemui kalau nantinya perempuan itu akan menahan Ricky seperti yang sudah-sudah ?" jawab Ayah Roby menatap lekat istrinya yang kaget saat mendengar jawaban dari suaminya. Ayah Roby jelas membela putranya.


"Mas, kok kamu malah ngajarin begitu."


"Dia bukan pelajar yang harus diajari sekarang. Dengar baik-baik Ibu Nadia. Kalaupun nantinya Karin berubah, aku tidak mau memiliki menantu model sepertinya." Ucap Ayah Roby tegas lalu melangkah pergi memasuki ruang kerja putranya.