
Ricky menatap lurus pemandangan diluar jendela kamarnya dengan perasaan yang sulit di mengerti. Hatinya mulai bimbang dengan perasaannya yang mulai tak tentu saat ini. Mungkinkah ini adalah sebuah godaan akhir akan menikah. Memori kenangan masa lalunya kini mulai mengusik ketenangan hatinya yang sempat dikuburnya rapat. Sakit hatinya dan perasaannya yang dulu pernah dirasakan kini kembali hadir begitu saja. Tidak banyak yang mengetahui pria itu begitu sulit melupakan perasaannya dulu. Hingga waktulah yang membuatnya perlahan menguburnya, namun sayang. Kehadiran seseorang hari ini membuatnya kembali harus mengingat dan tanpa sadar hatinya mulai diliputi rasa tak tenang.
"Sial! " ucapnya kesal dengan dirinya sendiri. Pria itu beranjak keluar dari kamarnya dan segera berlari kecil kearah halaman samping. Ricky membuka bajunya dengan kasar dan segera menceburkan dirinya ke kolam renang itu. Hawa dingin malam itu langsung menusuk kulit dan tulangnya yang bersamaan dengan menusuk hatinya yang mulai tidak sehat.
Cukup lama pria itu menenangkan diri dengan bermain air di kolam renang, hingga sebuah tangan lembut menyentuh pundaknya sambil memberikan handuk tebal ditangan kanannya.
"Ada apa..?" ucapnya mulai merasakan hal yang tidak biasa pada putranya. Aktivitas Ricky berenang malam hari tentu saja menjadi sebuah pertanyaan dibenak Ibunya saat melihat langsung putranya begitu minat meluapkan emosi lewat air.
"Mutia" gumamnya lirih namun masih terdengar jelas ditelinga Ibunya.
"Buang nama itu jauh-jauh mulai sekarang, Billa jauh lebih baik daripada wanita itu." Ucap Ibu Nadia sambil mengangkat tangan putranya yang terdapat sebuah cincin pertunangannya dengan Billa.
"Lihat ini, kamu bahkan sudah mengikatnya. Kurang lebih satu bulan lagi kalian akan resmi. Kamu akan mempermalukan Ibu dan Ayah pada keluarga Billa ?" Ibu Nadia benar-benar emosi dengan sikap putra tunggalnya saat ini. Keributan kecil itu jelas terdengar ditelinga Ayah Roby saat akan ke dapur menyusul Istrinya yang tak kunjung kembali ke kamar.
"Tinggalkan Billa sekarang juga dan keluar dari rumahku saat ini juga. Biarkan Billa mendapat laki-laki yang lebih baik daripada kamu, Ayah sendiri yang akan mencarikan pria untuknya." Ujar Ayah Roby degan tegas. Ibu Nadia dan Ricky langsung menoleh kearah sumber suara dan menatap Ayah Roby dengan tatapan yang berbeda.
"Baiklah, Ibu setuju. Jika kamu memilih wanita itu maka keluarlah dari rumah ini. Karena Billa yang akan menjadi putriku nantinya. Ibu dan Ayah yang akan mencarikan langsung pria untuk anak Ibu." Ucap Ibu Nadia setuju dengan pemikiran suaminya.
"Haha, kalian pikir Billa adalah boneka yang bisa sesuka hati dipermainkan seperti ini. Lagi pula memangnya siapa yang akan memilih Mutia. Aku bahkan hanya menyebutkan namanya. Bukan berarti aku akan menikahinya dan memilihnya. Cukup hanya satu kali aku terluka dengan perempuan itu." Ujarnya jengkel dan langsung naik ke kamarnya. Ayah Roby dan Ibu Nadia saling melirik setelah mendengar pernyataan putra tunggalnya.
"Kau tahu bukan, dia wanita yang seperti apa. Buah tidak akan jauh dari pohonnya, kita harus bertindak setelah ini. Ku dengar dia sudah kembali ke kota ini dan sudah menjadi Dokter." Ucap Ibu Nadia menatap lekat netra suaminya yang kini terlihat datar.
"Hmm, aku akan memikirkannya." Ujarnya lalu menggandeng tangan istrinya untuk kembali ke kamar.
# Flash back
"Hai Iky, Bagaimana kabarmu selama ini.?" ucap Mutia mengawali percakapan keduanya setelah sekian lama tidak bertemu. Terakhir bertemu saat Mutia berkunjung ke ruangan Ricky di kampus namun diusir halus oleh Ricky sekaligus Ayahnya.
"Baik, Bagaimana denganmu ?" Balas Ricky tanpa menatap wanita yang sejak tadi menatapnya dengan lekat.
"Aku baik, Iky, tolong maafkan aku selama ini. Kumohon, beri aku kesempatan lagi. Aku tidak akan mengecewakanmu untuk kedua kalinya. Kamu masih mencintaiku kan ?" Ujarnya lemah dan mulai meneteskan air matanya begitu saja. Ricky menghela napasnya kasar dan mulai menatap mata yang selalu membuatnya bergetar dulu.
"Jangan menangis, aku sudah memaafkan semuanya. Tapi tidak dengan kata cinta. Dua tahun bukanlah waktu yang cepat untuk aku melupakan segalanya tentang kamu. Butuh waktu bertahun-tahun lamanya aku mengubur luka yang kamu gores dengan perlahan." Jawabnya mulai jengah ketika mengingat penghianatan yang dilakukan oleh wanita dihadapannya saat ini. Keduanya bertemu saat masih sekolah Dasar dan menjalin sahabat dengan Zaid dan Reza. Namun, saat kelulusan keduanya sama-sama pindah, Ricky pindah ke luar negeri sedangkan Mutia pindah ke luar kota.
Keduanya dipertemukan kembali saat menempuh pendidikan di perguruan tinggi Singapura. Mutia mengambil jurusan kedokteran sedangkan Ricky di Fakultas Pendidikan, awalnya mereka hanya menjalin hubungan persahabatan yang telah lama hilang, namun. Seiring berjalannya waktu keduanya memutuskan untuk menjalin hubungan lebih dalam. Hampir dua tahun keduanya menjalin hubungan tanpa sepengetahuan Zaid dan Reza. Namun, saat kelulusan Ricky mencoba melamar Mutia dengan menyiapkan makan malam romantis disebuah restoran mahal. Disaat bersamaan, Ricky dibuat terkejut saat melihat kekasihnya sedang bergandengan tangan mesra bersama rekan sesama jurusannya yang sempat dikenalkan oleh Mutia.
Ricky berusaha menepis pemikiran buruk yang menyerang hati dan pikirannya terhadap kekasihnya. Namun hal itu langsung terjawab saat dirinya mencoba untuk menghubungi Mutia untuk bertemu makan malam, justru Mutia menolak dan berbohong akan pergi makan bersama kedua orangtuanya yang menjenguk. Padahal, jelas saja perempuan itu sedang duduk dihadapannya sambil bergandengan mesra tanpa sepengetahuannya. Mulai saat itu juga Ricky memutuskan hubungannya dengan Mutia dan segera melanjutkan pendidikannya di Belanda untuk mengubur luka yang masih menganga saat itu.
"Iky, kamu salah paham. Aku tidak menjalin hubungan apapun dengan Darren. Kami hanya berteman biasa dan apa yang kamu lihat malam itu tidak seperti yang kamu kira." Ujarnya mulai menjelaskan alasan keduanya bertengkar dan Ricky meninggalkannya setelah mengatakan putus.
"Lalu ?" pancing Ricky mencoba mendengarkan alasan wanita yang dulu begitu dicintainya untuk menjelaskan secara detail.
"Aku hanya berteman dekat dengannya, selama ini dia yang sudah membantuku melewati banyaknya tugas yang sangat sulit bagiku. Malam itu, aku hanya menuruti keinginannya untuk menemani makan malam setelah beberapa kali aku menundanya sebagai rasa balas budiku atas kebaikannya membantuku. Aku tidak bisa langsung pergi meninggalkannya padahal dia sudah menantikan makan malam itu sangat lama. Maafkan aku karena harus melakukan hal bodoh itu Iky, hatiku masih sepenuhnya milikmu. Perasaan ini masih sama sampai saat ini. Beri aku kesempatan lagi Iky." Ujarnya gamblang dengan air mata yang terus menetes dihadapan Ricky.