Habibillah Hawaari

Habibillah Hawaari
Menundanya



Ricky yang sudah terbiasa melaksanakan sholat di sepertiga malamnya terbangun begitu saja tanpa menunggu alarm ponselnya berbunyi. Pria itu tersenyum bahagia melihat kekasih halalnya yang masih tertidur pulas dihadapannya.


"Terima kasih karena telah memilihku sayang, maaf karena belum bisa mengabulkan permintaanmu untuk menunda kehamilan. Aku taruhkan segala kehidupanku untuk membahagiakanmu kelak, jadi jangan khawatir tentang urusan anak meskipun kamu masih belum lulus." Ricky mencium kening Istrinya dan bergegas membersihkan tubuhnya untuk melaksanakan sholat malam.


Tanpa Ricky sadari, Billa sebenarnya sudah bangun terlebih dahulu sebelum pria itu terbangun. Rasa lelah yang masih melekat membuatnya enggan untuk beranjak dan memilih menatap maha karya Tuhan atas ketampanan yang dimiliki suaminya yang masih terlelap damai.


'Aku tahu, Kakak pasti akan melakukan apapun untuk membuatku nyaman saat buah hati kita nanti hadir. Tapi maaf, aku sudah bertekad untuk menundanya sebentar saja setidaknya sampai aku mendapatkan surat sidang skripsi.' Batin Billa meraih obat yang telah disiapkannya jauh hari sebelum menikah dengan suaminya.


"Bissmillah, Insyaallah aku akan berikan rahimku sepenuhnya untuk anak-anakmu kelak Kak, Ya Allah jagalah rahim ini untuk keturunanku dan suamiku. Aku tahu, ini sangat salah dan dosa karena menentang keinginan suamiku. Tapi sungguh, aku tidak bisa berkonsentrasi kelak jika janin itu datang sebelum aku lulus." Ucapnya lirih menunduk sedih setelah meminum pil penunda kehamilan dan menyimpan rapat sisa obat didalam tas kecilnya.


Ceklek.


Mata keduanya bertemu dengan pemikiran masing-masing, Billa yang merasa bersalah bercampur takut. Ricky yang begitu bahagia lantaran Istrinya sudah bangun setelah aktivitas ranjang yang sempat dilakukan mereka sebelum tidur.


"Sudah bangun.." Ricky mendekat dan langsung duduk berhadapan dengan Istrinya yang juga sedang duduk bersandar di kepala ranjang.


"Emm" Billa mengangguk sembari meremas jari jemarinya untuk menghilangkan rasa gugupnya.


"Masih sakit ?" Tanya Ricky lagi sembari membelai lembut wajah Istrinya yang terlihat sedang menutupi sesuatu.


"Sedikit. Kakak mau sholat tahajud ?" Ricky mengangguk pelan dan membawa tangan Istrinya kedalam dekapan tangan miliknya.


"Kita sholat bersama ya.., Kakak tunggu disini. Kita jama'ah sholatnya."


"Baiklah"


Perempuan itu segera beranjak menuju kamar mandi dengan berjalan perlahan. Sungguh, sesuatu dibawah sana begitu tidak nyaman dan linu untuk di ajak berjalan cepat. Sementara Ricky yang melihat cara jalan Istrinya mengulum senyum penuh dengan kemenangan.


'Cepat hadir ya Ricky junior' ucapnya dalam hati beranjak menggelar sajadah untuknya dan juga Istrinya.


Keduanya melaksanakan sholat malam secara berjamaah dengan khusyuk, setelah merampungkan sholat Sunnah yang begitu banyak pahala itu Ricky tidak kembali tidur, pria itu terlihat sibuk dengan laptopnya karena harus tetap mengontrol pekerjaan sebagai Dosennya. Sementara Billa, perempuan itu memilih kembali tidur pulas setelah membuatkan suaminya minuman hangat.


Ting.


Dering ponsel notice milik Istrinya jelas mencuri perhatian Ricky, pria itu begitu penasaran siapa gerangan yang telah mengirim pesan untuk Istrinya pada waktu sebelum subuh.


{"Assalamualaikum Annisa, maaf karena telah lancang mengirim pesan padamu lagi saat ini. Dua hari lagi Insyaallah aku akan kembali ke Bogor, tapi sebelum itu, aku ingin bertemu denganmu untuk meluruskan kesalahpahaman tentang hubungan kita dulu. Annisa, aku tetap mencintaimu."} ~


Ricky menatap tajam nomor pengirim pesan yang telah berani mengirim pesan untuk Istrinya tersebut, perasaan marah dan cemburu tentu mendominasi perasaannya saat ini. Pria dewasa itu segera menghapus pesan yang telah dibacanya dan meletakan kembali ponsel milik Istrinya pada tempatnya setelah mengirimkan nomor tersebut pada ponselnya.


Ting.


Belum reda rasa kesalnya, pria itu dibuat semakin geram saat mendengar nada dering notice pada ponsel milik Istrinya.


"Astaghfirullah, kalau itu ulah orang yang sama. Dia benar-benar ngajak ribut." Ujar Ricky serius kembali meraih ponsel Billa dan segera membukanya.


{"Kenapa tidak dibalas, sungguh aku orang yang sangat bodoh karena telah menyia-nyiakan bidadari sepertimu Annisa. Aku tahu, kamu pasti bangun untuk menjalan sholat malam. Kebiasaanmu tidak pernah berubah, tolong beri kepastian kepadaku, apa aku masih bisa bertemu denganmu untuk menjelaskan semuanya. ?"}~


{"Baiklah, dua hari lagi akan aku beritahu lokasi untuk kita bicara."}~


{"Terima kasih Annisa Habibillah Hawaari"}~


Ricky segera menghapus jejak chat yang masuk pada ponsel Istrinya agar Billa tidak mengetahui perbuatannya yang sudah membalas pesan orang yang menurutnya lancang.


"Wah, sepertinya anak yang lumayan menantang" gumam Ricky menahan rasa marah dalam hatinya. Pria itu segera masuk kedalam kamar mandi untuk mengambil wudhu dan menenangkan pikirannya yang kacau. Pria itu tidak lagi melanjutkan pekerjaannya justru ikut berbaring menyusul Istrinya yang telah pulas tanpa terganggu sedikitpun saat Ricky mulai menyentuh wajahnya dengan tangan.


"Maaf, tapi ini demi kebaikan dalam rumah tangga kita. Aku tidak rela kamu melangkahkan kaki untuk menemui pria itu. Jadi aku putuskan agar aku yang akan menemuinya." Gumam Ricky lirih membelai lembut mahkota Istrinya yang begitu harum menenangkan.


Billa terjaga terlebih dahulu saat mendengar adzan subuh berkumandang merdu pada ponselnya, suasana subuh yang begitu dingin langsung menembus kulit mulusnya saat terkena air wudhu. Perempuan itu langsung membangunkan suaminya setelah memakai mukena untuk melangsungkan sholat fajar qobla subuh.


"Kak.." panggil Billa lirih tepat ditelinga suaminya dan menggenggam pelan tangan kekar Ricky.


"Emm" Ricky menggeliat bangun dan mulai membuka matanya."MaaSyaAllaah, kamu sudah bangun sayang..?" ujarnya lirih lalu mengubah posisi agar duduk berhadapan dengan Istrinya yang sudah cantik dengan balutan mukena.


"Sudah Kak, ayo kita sholat. Aku akan sholat fajar terlebih dahulu. Baru setelahnya kita jama'ah ya.."


"Tidak mau kasih sesuatu dulu kah ?" pertanyaan Ricky langsung menghentikan pergerakan Billa yang hendak bangun. Perempuan itu mengerutkan keningnya pertanda sedang memikirkan maksud dari pertanyaan suaminya.


"Apa Kakak ingin kopi sekarang ?" Ricky tersenyum lucu bahkan langsung berhambur memeluk Istrinya dengan sayang.


"Mau, tapi nanti saja habis sholat. Maksud Kakak, apa kamu tidak ingin mencium Kakak sebelum kita sholat ?" Billa yang mendapatkan pernyataan dari suaminya jelas langsung salah tingkah dengan pipi yang bersemu merah.


"Apa aku harus melakukannya ?" Ricky mengurai pelukannya dan mengangguk pelan. Dengan perlahan perempuan itu segera mencium pipi milik suaminya dan berlari mengambil sajadah untuk menyiapkan sholat berjamaah.


"MaaSyaAllaah, indah sekali nikmatmu ya Rabb. Kalau tahu begini. Lebih baik nikah muda. Pagi-pagi sudah dapat ciuman. Halal pula." Ucap Ricky setelah tersenyum geli melihat tingkah gemas Istrinya dan beranjak berjalan menuju kamar mandi.