Habibillah Hawaari

Habibillah Hawaari
Entahlah, Semoga saja bukan.



Ricky menatap datar pemandangan dihadapannya yang terlihat jelas dari kursi pengemudi mobilnya. Pria itu belum beranjak pergi dari parkiran kampusnya lantaran melihat gadisnya dan adik dari sahabatnya masih asyik mengobrol didekat deretan motor Mahasiswa yang terjejer rapih. Laki-laki itu meraih ponselnya dan menekan tombol Panggilan dengan salah satu nomor yang ada diponselnya. Tak butuh lama pria itu menunggu, panggilannya tersambung dengan orang yang dituju.


"Assalamualaikum Ky, Wohooo... tumben sekali menelpon, apa kabar bro ?" tanya seorang laki-laki begitu senang ketika sahabatnya menelpon.


"Waalaikumussalam, biasa aja sih, kaya gak pernah ditelpon aja. Alhamdulillah kabarku baik. Bagaimana denganmu ?" jawab Ricky dengan tatapan terus menatap laki-laki dan perempuan dihadapannya yang masih mengobrol.


"Alhamdulillah masih diberi umur. Kemana aja sih, nongkrong yuk. Pumpung hari ini aku udah kelar urusan kampus." Ajaknya antusias karena terlalu lama tidak bertemu dengan sahabatnya.


"Baiklah, aku juga ada yang ingin ditanyakan. Istrimu tidak masalah kalau kau main sebelum pulang ?" tanya Ricky serius ingin mendengar respon teman dekatnya yang baru menikah itu.


"Insyaallah dia tidak masalah, asal kasih kabar saja pulang telat karena bertemu kawan. Baiklah, kita bertemu ditempat biasa bro" Ricky mengangguk mantap dan segera mengakhiri panggilannya setelah mengucapkan salam. Pria itu segera menghidupkan mesin mobilnya setelah memastikan gadisnya telah mengakhiri pertemuannya dengan sosok laki-laki yang dikenalnya. Billa telah berlalu pulang saat Ricky masih menghubungi sahabatnya.


Setelah menempuh beberapa menit, pria dewasa itu sudah sampai dihalaman sebuah kafe yang cukup nyaman. Tempat favorit kedua sahabat itu saat ingin saling curhat, Ricky keluar dari mobil mewahnya dan langsung masuk kedalam karena melihat mobil teman dekatnya sudah ada dihalaman.


"Sorry lama, tadi memastikan sesuatu dulu" ujarnya santai sambil menepuk pundak sahabatnya dari belakang.


"Weh, memastikan apaan tuh ?" jawab teman dekatnya jahil ketika melihat raut wajah sahabatnya nampak galau.


"Bagaimana istrimu ? Apa kalian cocok walaupun bertemu dengan cara ta'aruf ?" Ricky tidak menjawab pertanyaan teman dekatnya lantaran tahu betul kalau temannya adalah sosok yang cukup peka dan begitu memahaminya.


"Alhamdulillah, dengan izin Allah rumah tanggaku berjalan sesuai dengan keinginanku. Satu hal yang begitu aku syukuri. Menikah tanpa pacaran adalah sebuah anugerah. Karena disitulah letak keindahan akan terpancar saat hubungan halal terjalin." Ricky ikut bahagia mendengar penuturan sahabatnya. Pria itu tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya menandakan setuju dengan perkataan teman dekatnya.


"Alhamdulillah, aku ikut senang mendengarnya, semoga Allah selalu menyertai bahtera rumah tanggamu." Doa Ricky tulus menatap temannya dengan senyum terus mengembang.


"Bagaimana dengan gadis itu ?" Ricky menghela napasnya pelan sebelum menjawab pertanyaan dari sahabatnya. Senyuman yang tadi terus dikeluarkan pudar dengan sendirinya.


"Kita bahas itu nanti, dia bahkan masih kuliah. Semoga Allah menjaganya dan mengabulkan harapanku." Ujarnya sendu menatap minuman yang sudah dipesankan oleh sahabatnya.


"Semoga Allah mengabulkan. Terus bangun komunikasi setiap malam dengan Allah. Hanya Dia yang bisa mengabulkan permohonan setiap hambanya. Masih rutin tahajud kan ?" Ucap sahabatnya begitu mengetahui luar dalam sosok Ricky Irawan. Keduanya bersahabat sejak mereka Sekolah Dasar. Meskipun keduanya tidak melanjutkan pada sebuah lembaga yang sama namun keduanya tetap menjaga komunikasi sampai saat ini.


"Tadinya dia kuliah di Kampusmu. Abah sudah menyuruh kuliah di kampus milikku, tetapi dia menolak. Tapi dia hanya semester satu saja kuliah di kampusmu. Habis itu dia pindah ke Madinah tempat kuliahku dulu." Ucap Zaid gamblang menatap sahabatnya yang terlihat menyimak sambil sesekali menyuapkan makanan yang tersaji dihadapannya.


"Kenapa pindah ? Apa tidak nyaman dengan kampusku ?" Zaid tertawa ringan mendengar pertanyaan sahabatnya.


"Bukan begitu. Dia patah hati karena CV nya ditolak oleh wanita incarannya. Dia ingin studinya tidak terganggu lantaran terus melihat wanita yang disukainya. Dia juga ingin wanita itu belajar dengan tenang di kampus. Aku dengar tadi pagi saat sarapan Zafran ingin menemui gadis itu untuk melihatnya di kampus." Ricky menghentikan aktivitas mengunyah makanannya dan menyandarkan punggungnya pada kursi yang sedang diduduki. Pria itu menghela napasnya kasar seraya menenangkan pikiran dan hatinya yang mulai tak tenang.


"Apa perempuan itu kuliah di kampusku ?" Zaid mengangguk pasti belum menyadari atas pertanyaan sahabatnya. Sementara Ricky semakin yakin bahwa Billa adalah sosok perempuan yang menjadi incaran adik sahabatnya.


"Ada apa tiba-tiba menanyakan Zaf-, tunggu." Ujarnya mulai mengerti arah pembicaraan dan pertanyaan sahabatnya. Zaid menatap sahabatnya yang kini terlihat datar tanpa ekspresi menatapnya lekat. "Astaghfirullah, apa gadis itu gadis yang sama dengan perempuan yang sudah kamu ajukan CV ?" tanya Zaid serius menatap temannya meminta kepastian.


"Entahlah, semoga bukan." Ucapnya cuek lalu meminum Es teh yang tersaji dihadapannya. Zaid terus menatap sahabatnya yang kini justru menghindari tatapan matanya.


"Hey, jangan menatapku seperti itu. Kamu sudah menikah masih saja ganjen denganku." Ujarnya guyon membuat Zaid langsung berdiri dan menindih lengan sahabatnya dengan lengan miliknya. Keduanya tertawa bersama saat saling menyenggol kan lengan kuat.


"Hey cukup. Aku hanya menyenggol pelan tapi kamu membalasnya seperti seorang musuh." Ricky tertawa lepas saat melihat temannya terjatuh dari kursi yang mereka duduki. Keduanya tertawa lucu ketika menyadari hal konyol yang telah mereka lakukan. Keduanya adalah calon pemilik kampus yang dirintis masing-masing oleh para leluhur mereka. Ricky dan Zaid memiliki cita-cita yang sama, yaitu mengabdikan diri sebagai pendidik.


"Aku merindukan masa-masa seperti ini. Kalau sudah menikah, banyak hal lagi yang bisa kita lakukan bersama dengan istri kita untuk bermain seperti ini." Tutur Zaid yang langsung mendapat lemparan bantal sofa dari Ricky.


"Segeralah menikah jika gadis ini menerimamu. Jangan menundanya lagi. Tidak baik menunda kebaikan terlalu lama." Ricky mengangguk pelan sebagai jawaban. Nasehat Zaid selalu diterima olehnya, bagi Ricky sahabatnya itu sudah dianggap seperti Kakak maupun Adiknya. Keduanya memiliki hubungan yang sangat erat. Bahkan Zaid tidak segan meminta pendapat Ricky saat ingin maju lebih dekat dengan calon istrinya dulu.


"Aku minta doa darimu, jangan lupa selipkan doa kebaikan untukku saat ini. Aku benar-benar ingin menikahinya." Gumamnya lirih tapi masih bisa didengar sahabatnya.


"Tidak kau minta juga aku doakan. Kawan, semoga kelak kita juga bisa hidup bertetangga saat di surganya kelak."


"Aamiin" Keduanya terus berbincang akrab, hingga terdengar suara yang sangat familiar bagi kedua pria yang tengah asyik bercerita.


"Kak Ricky apa kabar.. ?" Zaid dan Ricky menoleh ke sumber suara yang kini tengah berdiri diantara Zaid dengan dirinya dengan senyuman yang khas milik pemuda tampan itu.