Habibillah Hawaari

Habibillah Hawaari
Sedikit Kecewa



Ricky membangunkan Istrinya dengan lembut, saat mobilnya sudah terparkir rapih dihalaman Villa puncak milik keluarga Irawan. Pria itu begitu menikmati wajah indah Istrinya saat sedang terlelap, lama tak kunjung bangun membuat Ricky semakin tertarik untuk membangunkan dengan cara lain.


Pria itu dengan senang hati mencium wajah Istrinya bertubi-tubi hingga membuat Billa terbangun kaget.


"Kak" Billa menahan wajah suaminya untuk berhenti menciumnya dengan tangan kanannya. Malu, itulah yang saat ini tengah dirasakan oleh Billa. Wajahnya yang kusut saat baru bangun tidur tentu saja menjadi salah satu faktor malunya.


"Hanya dengan cara ini kamu bangun, aku sudah membangunkan dengan cara lembut tetapi justru kamu seperti di Nina bobok saja." Billa menutup wajahnya saat Ricky hendak menciumnya kembali. Keduanya terkekeh lalu keluar dari mobilnya secara bersamaan.


"Insyaallah kita akan liburan disini selama tiga hari dari sekarang Dek" ucap Ricky saat meraih tangan Istrinya lalu membawanya masuk kedalam.


"Selamat malam Tuan, silahkan beristirahat. Saya sudah menyiapkan kebutuhan Tuan Ricky dan Nyonya Billa dikamar." Sambut Mbok Arum tersenyum ramah menyapa kedua majikannya yang begitu serasi.


"Terima kasih banyak Mbok, perkenalkan. Ini Billa Istri saya, dan Billa. Ini Mbok Arum yang senantiasa menjaga Villa keluarga kita selama ini."


"Salam kenal Mbok, saya Billa. Maaf telah merepotkan Mbok sebelumnya." Sapa Billa ramah meraih tangan perempuan yang tak lagi muda itu lalu menciumnya dengan Takzim.


"MaaSyaAllaah Nyonya, tidak perlu seperti itu. Seharusnya saya yang melakukan itu." Billa hanya tersenyum hangat sembari menggeleng pelan dan mencoba memeluk perempuan dihadapannya yang membuatnya teringat dengan Neneknya yang telah tiada.


"Aku akan menganggap Mbok sebagai Nenekku, jangan memanggilku dengan sebutan Nyonya, panggil saja Billa Mbok." Ujar Billa menghormati perempuan dihadapannya yang lebih tua daripada usia Ibunya.


"Walah.., bisa dicubit Nyonya Nadia kalau tahu nanti, bagaimana kalau Mbak Billa?" tawar Mbok Arum yang langsung di setujui oleh Billa dan juga Ricky.


"Baiklah, kami masuk dulu ya Mbok, kami tidak membawa perlengkapan. Mbok bawa beberapa cemilan saja yang masih ada dimobil." Tutur Ricky menggandeng tangan Istrinya setelah berpamitan sopan dengan pengurus Villa tersebut.


Ricky memasuki kamar mandi setelah menjelaskan kebutuhan Billa dan miliknya telah tertata rapih pada sebuah ruangan khusus dikamar tersebut.


"MaaSyaAllaah.., keluarga Pak Ricky memang keren, kamar ini saja besarnya tiga kali lipat dari kamarku"Gumam Billa menatap keliling kamar yang akan ditempatinya bersama dengan Ricky selama liburan. Perempuan itu berjalan kearah jendela melihat pemandangan yang terlihat begitu indah, sungguh ciptaan Allah tidak ada yang menandingi. Hawa dingin langsung menembus setelan gamis yang dikenakannya saat Billa membuka jendela kamar itu.


"Dingin sekali" ucapnya lirih lalu menutup kembali jendela tersebut dan mulai memilih pakaian yang telah disediakan oleh mertuanya sendiri.


"Apa ini!" ucapnya kaget saat melihat begitu banyak gaun malam berjejer rapih dihadapannya, tidak ada piyama tidur yang sopan satupun dalam lemari tersebut.


"Astaghfirullah, tubuhku memang halal untuk suamiku. Tapi jika aku mengenakan pakaian seperti ini dihadapannya selama tiga hari kedepan, bisa dipastikan aku mungkin akan positif nantinya." Gumamnya lirih tanpa menyadari keberadaan suaminya yang tengah memperhatikannya sejak tadi.


"Kalau begitu pakai ini Dek" Billa terkejut kaget saat tangan kekar suaminya membuka lemari sebelahnya untuk mengambil kaos dan juga celana pendek miliknya.


"Mandilah, kita akan makan malam setelah menunaikan sholat Isya berjamaah." Ucapnya pada akhirnya lalu keluar dari ruangan itu dan membiarkan Billa berdiri dengan memegang setelan kaos yang diberikan oleh suaminya.


"Kak Ricky pasti kecewa" ujarnya menyesal lalu beranjak untuk masuk ke kamar mandi.


"Kalau tahu begini, lebih baik tadi bawa baju saja dari rumah. Serba salahkan. Ummaa!" teriaknya pelan berjalan mondar-mandir didalam kamar mandi.


Sementara Ricky, pria itu lebih dewasa dalam menyikapi Istrinya yang memang belum siap untuk hamil. Ricky membuka laptopnya lalu menyibukkan diri sambil menunggu Istrinya mandi.


Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuat netra Ricky mengalihkan pandangan dari layar laptopnya, pria itu terperangah lucu melihat langsung bagaimana Istrinya kini tengah berpakaian yang kedodoran.


"Kak.." Ujarnya malu langsung berlari menuju ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut bersih yang terpasang pada ranjang besar itu. Ricky yang melihat tingkah konyol Billa hanya tersenyum lucu lalu beranjak mendekati Istrinya.


"Kita beli besok ya.., maaf. Ibu Nadia tidak tahu, beliau kira kamu sudah siap menerima momongan. Makanya mempersiapkan pakaian yang minim bahan seperti tadi." Billa mengangkat wajahnya memberanikan diri menatap suaminya yang tengah memperhatikannya.


"Bukan salah Ibu Kak, tapi aku. Seharusnya aku sudah siap. Bisakah kita menundanya sampai aku lulus." Ucap Billa pada akhirnya.


"Dek.., anak adalah sebuah anugerah terindah bagi pasangan yang belum memilikinya. Banyak pasangan diluar sana yang begitu sabar menanti kehadirannya untuk melengkapi kebahagiaan keduanya. Kakak tidak akan memaksamu jika itu keinginanmu Dek, tapi. Kakak mohon jangan membencinya jika nanti apa yang Adek rencanakan ternyata Allah berkehendak lain." Billa mengangguk paham bahwa suaminya sebenarnya begitu menginginkan sosok anak.


"Apa aku boleh meminum Pil penunda kehamilan ?" tanya Billa takut menunduk dalam semakin menarik selimutnya untuk memberi kekuatan pada dirinya sendiri. Ricky menghela napasnya pelan mencoba menahan gejolak sesak didalam hatinya atas permintaan Istrinya.


"Kita sholat dulu ya.. habis itu makan malam. Kita akan bahas tuntas setelahnya. Okey ?" Ya, Ricky memang mengulur waktu supaya dapat memberikan nasehat yang lebih halus untuk Billa agar Istrinya tidak memakai Pil tersebut.


Keduanya bersiap memakai perlengkapan sholat yang telah disiapkan lengkap oleh Ricky sebelumnya. Ricky dengan penuh penghayatan membacakan surat yang menggugah suasana hatinya dan Istrinya untuk merasakan betapa nikmatnya hidup yang dijalani mereka berdua saat ini. Tanpa sadar, Billa yang mendengar khusyuk lantunan ayat demi ayat dari suaminya menangis sendu merampungkan sholatnya dengan hikmat.


Billa meraih tangan suaminya lalu menciumnya dengan Takzim, tak lupa Ricky selalu memberikan ciuman hangatnya tepat pada kening Istrinya dan selalu menyempatkan doa kebaikan untuk rumah tangganya tepat diatas kepala Istrinya.


"Kita makan malam dikamar saja ya.., sepertinya kamu sangat lelah jika harus turun kebawah." Ucap Ricky lembut menatap Istrinya yang terlihat murung saat ini.


"Iya Kak" Billa yang sedang bingung harus menyikapi rasa takutnya saat ini, lebih memilih membereskan peralatan sholatnya dengan rapih dan beranjak menuju kasur tanpa berpamitan dengan suaminya yang sejak tadi memperhatikan aktivitasnya dengan lekat.


"Dek.." ucapnya lembut menghampiri Istrinya dan duduk tepat dihadapannya.