
"Astaghfirullah Kamu ngapain nelfon dia ?" Tanya Billa dengan polosnya. Tangannya bergerak cepat ingin mengambil handphone milik Ratna, tentu saja di halangi oleh sang pemilik ponsel. Hingga suara berat menghentikan aksi keduanya yang konyol memperebutkan ponsel.
"Sebenarnya kalian sedang apa, kenapa berisik sekali" ucap Zafran ketika mendengar keributan dua wanita yang dikenalnya itu. Billa menyorot tajam ke arah teman dekatnya yang kelewat usil. Kesalnya semakin jadi ketika mengetahui ternyata panggilan telepon nya di loud speaker oleh Ratna.
"Zafran, Ada yang nanyain kamu terus nih" Billa segera merebut paksa ponsel temannya dan segera mengakhiri panggilan yang hanya sampai 7 detik itu.
"Kamu apaan sih Rat, Ngeselin banget."Ujarnya melangkah pergi meninggalkan teman dekatnya itu. Masa bodoh dengan somay dan es teh nya. Biar saja temannya yang usil itu yang membayar. Billa terus berjalan memasuki gedung perkuliahan jurusannya. Gadis itu memasuki kelas dan duduk di kursi seraya menelungkup kan wajahnya diatas meja. Sementara Ratna terus mengomel sepanjang jalan karena temannya meninggalkan dirinya begitu saja.
"Billa sensi banget sih, Lagi dapet kah. Main pergi gitu aja. Tadinya kan cuman mau nelfon Zafran doang nanya kabar sama perkuliahan disana kaya apa. Kenapa malah Billa yang sensi." Ujarnya berbicara dengan dirinya sendiri sambil melangkah kegedung perkuliahan jurusannya itu.
"Bill, Kok ngambek sih" Teriak Ratna saat memasuki kelas dan berjalan kearah Billa. "Tadikan niatnya cuman nanya kabar sama perkuliahan disana. Kenapa kamu yang marah sih" Ucapnya kesal mengeluarkan uneg-uneg nya yang sempat tertunda karena Billa pergi begitu saja. Ratna langsung duduk di samping kursi milik Billa. Menoel lengan teman dekatnya yang sepertinya sedang pura-pura tidur..
"Jangan ngambek dong.. aku serius tadi nelfon karena pengen nanya itu ke Zafran. Lagian aku nelfon pas kita udah selesai ngomongin tuh anak kok. Dia gak denger obrolan kita Bo." Ujarnya menjelaskan. Billa mendongak ke arah teman dekatnya itu seraya melirik sengit, tangannya mencubit pipi chubby Ratna karena gemas dengan tingkah temannya.
"Aku gak ngambek. Lagian ngapain nelfon sih, moment nya pas banget aku lagi nanyain dia, kan jadi salah paham."
"Sorry.. hehe" ucapnya sambil mengelus pipinya yang lumayan sakit bekas cubitan gemas dari Billa.
Keduanya asik mengobrol bersama. Pekan ini perkuliahan belum aktif dikarenakan memberi waktu Mahasiswa untuk mengurus Administrasi semester baru dan mempersiapkan berkas untuk mengikuti perkuliahan seperti menyusun KRS dan lain sebagainya. Billa dan Ratna memang sengaja masih ingin berlama-lama di kampusnya.
"Kajian kita belum aktif ya ?" tanya Billa sambil mengamati brosur yang dibagikan oleh Ratna ditangannya.
"Belumlah, Rencananya bakal aktif lagi berbarengan dengan perkuliahan kalau sudah aktif." Ratna selalu up date mengenai informasi kegiatan di kampus. Dirinya benar-benar menikmati perkuliahan dengan senang hati. Gadis itu bahkan mengikuti banyak agenda dari UKM yang di ikuti. Tak heran Ratna selalu update tentang perkembangan kampusnya.
.
Ding.
{"Assalamualaikum, Tadi kenapa di matikan ?" }~ Zafran
Billa merogoh ponselnya yang diletakan didalam tas. Gadis itu cukup terkejut ketika melihat nama yang tertera dari pengirim pesan. Billa mencoba bersikap tenang karena jika sampai Ratna mengetahui Zafran sedang mengiriminya pesan, entah bagaimana kehebohan yang akan terjadi nantinya. Billa sengaja mengabaikan pesan Zafran lantaran tidak ingin Ratna memergokinya sedang berbalas pesan dengan Zafran. Sungguh Billa sangat malu dengan apa yang dilakukannya saat ini.
"Yuk, Kamu bawa motor kan ?" Ratna mengangguk sambil membereskan barang-barang nya yang tergeletak di meja. Keduanya berjalan beriringan sambil terus bercerita hingga tiba di halaman parkir. Mereka berpisah dengan mengendarai motor masing-masing dan melaju pulang beriringan.
"Sampai jumpa besok Rat, Assalamualaikum"teriak Billa ketika motornya harus berbeda jalur dengan Ratna. Ratna mengangguk pasti dan mengklakson motornya pertanda dirinya pamit terus melaju.
Billa sampai dikosan tepat adzan Dzuhur berkumandang, Billa lantas memparkirkan motornya masuk kedalam kemudian masuk kedalam kamarnya yang nyaman. Gadis itu tidak langsung beranjak untuk sholat. Melainkan rebahan sambil menghidupkan pendingin ruangan. Cuaca yang panas siang itu benar-benar membuat tubuhnya lengket dan gerah. Namun karena lelah, Billa mencoba istirahat sebentar sambil memainkan ponselnya.
'Bales enggak ya..,' batin Billa menimbang baik buruknya sebuah komunikasi. Perempuan yang belum genap berusia dua puluh tahun itu kini mencoba untuk belajar dari sebuah pengalaman. Hatinya yang terkadang Masih merasa sesak ketika sendirian, membuatnya bertekad untuk tidak lagi bermain dengan perasaan dan janji. Tidak bermaksud untuk sombong atau mengabaikan pesan Zafran, malainkan hanya untuk menjaga hatinya agar tidak lagi merasa sakit saat dekat dengan lawan jenis. Billa mencoba membalas pesan Zafran dengan singkat. Gadis itu benar-benar ingin menjaga jarak dengan lawan jenisnya.
{"Waalaikumussalam, Tidak apa-apa" )~Calon Ibu Anakku.
Zafran yang kebetulan baru saja bersiap untuk beranjak pergi ke kampus barunya tersenyum hangat ketika melihat nama seseorang yang memberi pesan di ponselnya. Pria itu lantas membuka ponselnya, niat hati ingin membalas tetapi ia kurungkan kembali. Zafran sadar jika ini terus berlanjut akan membuatnya susah untuk move on dari perempuan yang sudah mencuri perhatian nya itu. Tujuan Zafran memilih Madinah untuk memulai kuliahnya kembali salah satunya adalah berupaya melupakan Billa. Melihat jam di pergelangan tangannya sudah menunjukan pukul delapan lewat lima belas menit membuat pria itu buru-buru melangkah pergi. 'Disana pasti sudah Dzuhur, Billa pasti baru pulang dari kampus. Sedangkan aku malah baru mau berangkat' batinnya berdialog sendiri sambil tersenyum.
*
{Billa, Besok temani aku menghadap Pak Ghufron ya.., Besok kita ambil absen Dosen seluruh mata kuliah dan absen kelas kita."}~Ratna
{Baiklah, Sekarang ayo tidur."}~Billa.
{Tidurlah, Aku masih ingin melek"}~Ratna
{Oke..}~Billa
Billa tersenyum ketika membaca pesan dari teman usilnya. Dia meletakkan ponselnya setelah membalas pesan teman dekatnya di meja belajar dekat ranjang mungilnya. Gadis itu baru saja melaksanakan sholat isya kewajiban setiap Muslim. Merebahkan tubuh mungilnya dan menatap langit-langit kamar yang berwarna putih bersih. Sungguh sangat sulit bagi Billa menghapus kenangan yang sangat simple dan sedikit mengenai Syafik. Hubungan yang dijalin dengan mengatasnamakan janji dengan tidak pernah bertemu, hanya bertukar lewat handphone dan bercerita lewat Vidio Call saat Syafik memiliki waktu senggang. Benar-benar Billa ingat dengan jelas. Mungkin hanya karena sedikit. Membuatnya mudah sekali teringat dengan hal apapun tentang kedunya saat dekat. Gadis itu mencoba memiringkan tubuhnya dengan meringkuk dalam diam. Hingga terdengar suara ketukan pintu yang nyaring membuatnya menghapus air matanya yang jatuh dan bergerak jalan membukakan pintu.
"Rere!" Teriak nya senang. Keduanya saling memeluk erat mengungkapkan rindu lewat pelukan. Mereka berjalan bersama ke ruang TV untuk mengobrol. Rere baru saja sampai setelah perjalanan panjang pulang dari liburan.
"Bill, Aku dapet titipan loh buat kamu" Billa menautkan kedua alisnya memandang teman kosannya itu yang sedang mengeluarkan sesuatu yang katanya sebuah titipan untuknya.