
Billa menatap teman dekatnya dengan heran yang sejak tadi tidak berhenti mengunyah. Kedua wanita itu, kini sedang mampir ke sebuah restoran menuruti keinginan bumil.
"Bill, ngelamun terus. Dimakan atuh makanannya." Ucapnya memperhatikan Billa sambil mengunyah makanan yang sempat masuk kedalam mulutnya.
"Bumil kalau makan jangan sambil ngomong, iya nanti aku makan. Silahkan nikmati makananmu dengan tenang." Ujar Billa merasa lucu ketika melihat teman dekatnya sekarang sangat berisi dengan nafsu makan yang melebihi dari kebiasaannya.
"Ah, lega banget aku. Akhirnya makan juga, dari tadi lapar banget si Utun" ucap Ratna setelah meminum es teh dihadapannya.
"Utun ?" ucap Billa mengernyitkan dahi meminta penjelasan kepada teman dekatnya.
"Hehe, itu julukan untuk baby yang masih di dalam perutku, wkwkwk." Billa tersenyum lucu melihat tingkah Ratna.
"Apa kamu sudah selesai makan ?" tanya Billa menatap serius. Ratna mengangguk mantap dan membalas tatapan teman dekatnya.
"Sudah, terima kasih sudah selalu menemani kehamilanku. Aku sangat bersyukur memiliki teman seperti kamu Bill." Ujarnya tersenyum hangat dan memegang tangan milik Billa. Netranya tidak sengaja melihat sebuah cincin mewah melingkar cantik dijari mungil temannya.
"Ehem, Apa ada yang disembunyikan dariku selama liburan ?" pancing Ratna sambil menunjuk jari manis milik Billa yang saat itu diletakkan diatas meja. Billa mengangguk pasrah dan kembali menatap teman dekatnya.
"Aku sudah tunangan. Insyaallah setelah KKN nanti aku akan segera melangsungkan pernikahan." Ujarnya menatap teman dekatnya yang kini menatapnya juga dengan ekspresi terkejut.
"Serius !" ujarnya heboh. Ratna bahkan sampai pindah tempat duduk kesamping kursi milik Billa.
"Hem, makanya aku tadi bilang ingin bertanya sesuatu kepadamu." Ratna mengangguk mengerti.
"Baiklah, mau bertanya apa ?" ujarnya cukup antusias.
"Apa menjadi seorang istri dengan usia yang masih muda dan masih kuliah itu mudah ?" Ratna terkekeh mendengar pertanyaan dari Billa. Wanita itu kira Billa mungkin akan menanyakan hal-hal yang berbau ranjang atau malam pertama untuk berbagi tips. Ternyata bukan. Wanita itu langsung menatap teman dekatnya setelah berhenti tertawa.
"Tidak, jawabannya sangat tidak mudah. Kamu lihat aku sekarang, ditambah LDR yang kami alami membuatku sangat kesusahan apabila si Utun rewel ditengah malam. Kamu bayangkan saja saat dini hari terbangun cuma gara-gara ingin makan sate tapi tidak bisa ada yang disuruh keluar. Ingin go food tapi gak selera. Pengennya Ayah dari si Utun yang beliin." Ujarnya curhat seperti kereta.
"Apa aku tunda saja sampai lulus ya.." Gumam Billa lirih namun masih terdengar oleh teman dekatnya.
"Jangan, walaupun tidak mudah. Tapi bukankah sebuah kebaikan harus disegerakan." Billa menatap Ratna dengan raut wajah serius.
"Iya, itu memang benar. Tapi entah mengapa aku merasa ragu untuk melangkah kejenjang itu." Ratna menatap temannya dengan lekat.
"Tidak lah penting, aku hanya ingin bertanya itu saja. Sekarang ayo kita pulang. Kasian kamu sejak tadi tidak istirahat" Ucap Billa mengalihkan topik pembicaraan keduanya.
"Jangan mengalihkan pembicaraan Billa. Siapa laki-laki itu ?" tanya Ratna mulai jengkel dan mencubit kecil tangan teman dekatnya.
"Aw, sakit tahu. Nanti kamu juga tahu sendiri." Ujarnya berlalu meninggalkan Ratna yang sedang uring-uringan karena ulah temannya.
"Hey, kamu bahkan tidak menyentuh makananmu tadi. Mubazir Bila." Gerutu Ratna setelah duduk di jok belakang motor Billa.
"Siapa bilang mubazir, makanannya sudah aku sedekahkan dengan anak itu." Billa merasa tidak mood untuk makan siang, gadis itu berinisiatif memberikan makanannya kepada seorang anak yang sejak tadi mengamen di sebrang jalan. Dia juga menitipkan sejumlah uang kepada pelayan ketika mengantarkan makanan untuk anak itu.
"Wah..., benar-benar kamu ini. Buat aku semakin iri saja, kenapa pahalamu semakin bertambah saja." Billa tidak menjawab pernyataan teman dekatnya, gadis itu lebih memilih untuk fokus mengendarai motornya agar segera sampai mengantar temannya.
***
Hari berlalu sangat cepat, Billa dan teman-teman barunya baru saja menaiki bus besar yang akan mengantarkannya ke lokasi tempatnya KKN, sebelumnya Billa dan teman-teman lainnya telah mendapatkan pelatihan dan pembinaan selama kurang lebih satu Minggu untuk siap terjun kelapangan guna memberdayakan masyarakat. Puluhan Bus besar telah berjejer rapih dihalaman rektorat kampus, untuk mengantarkan masing-masing kelompok diberbagai daerah guna menyelesaikan program KKN selama empat puluh hari.
"Kalian bawa peralatan yang gue list di grup kita kan ? lokasi kita cukup jauh dari pusat perbelanjaan. Jadi kemungkinan bakalan serba apa adanya. Tapi tenang aja, internet di lokasi KKN kita masih aman. Kita masih beruntung dibandingkan dengan kelompok lainnya." Terang Alir ketua posko Billa dan teman-temannya.
"Siap, kami sudah bawa semua barang yang ada di list kok" jawab Dita mewakili teman-teman lainnya.
"Okeh, kita berdoa semoga tugas kita selama empat puluh hari ke depan, Allah mudahkan dan proker kita berjalan sukses." Ungkap Alir lagi memberikan semangat untuk kelompoknya. Billa dan teman-teman lainnya sepakat untuk berdoa bersama sebelum supir berjalan kearah lokasi. Kali ini bukan Alir yang memimpin Doa tetapi sosok pria dewasa yang sangat tampan telah memasuki bus untuk mengantarkan Mahasiswanya ke lokasi KKN.
"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh, selamat pagi semuanya. Kalian pasti sudah tahu, saya Disini sebagai DPL kelompok kalian yang akan memantau dan mengarahkan program kerja kalian selama empat puluh hari ke depan. Selamat bekerja sama dengan tim kalian, jaga tutur kata dan sikap kalian selama berada dilingkungan masyarakat setempat. Berprilaku baiklah dengan warga agar mempermudah proker kalian masing-masing. Kalian pasti sudah merancang program kelompok dan individu kalian masing-masing. Saya harap kalian mampu melaksanakannya dengan maksimal dan baik. Apapun kesulitan kalian tolong beritahu saya. Insyaallah, saya akan membimbing kalian sebisa mungkin." Ucap Ricky gamblang sebelum melantunkan doa keselamatan selama berkendara dilafalkan. Pria itu benar-benar menuntun Mahasiswanya untuk melafalkan Doa berkendara agar selamat sampai tujuan. Ricky mengambil posisi duduk disamping supir dan dapat memantau seluruh Mahasiswanya melalui kaca.
"Astaga, sumpah gue kaget pas Pak Ricky tiba-tiba masuk." Ucap Febri kepada teman perempuan lainnya. Billa berusaha bersikap tenang seperti teman-teman lainnya. Gadis itu bahkan mengacuhkan pria yang sejak tadi mencuri pandangan kepadanya. Billa asyik menanggapi pertanyaan teman sebangkunya Tiwi, Keduanya mencoba akrab dan saling mulai terbuka.
"Sumpah demi apa, orang nomor dua di kampus selevel Pak Ricky mau nganterin Mahasiswanya ke lokasi KKN. Sedangkan kadang beliau diundang ke acara BEM saja diwakilkan. Sungguh suatu kehormatan bagi kita guys.." ucap Ridho bisik-bisik dengan teman-temannya di kursi belakangan. Billa yang saat itu tengah melamun sambil menatap keluar jendela,tetap bisa mendengar bisikan dari teman lelakinya Ridho karena memang tempat duduknya berada didepan tempat duduk ridho dan teman-teman lelakinya.
"Lo kenapa Bill ? dari tadi diem aja. Lo mabuk kendaraan ya.. ?" tanya Tiwi merasa teman barunya sejak tadi diam dan melamun.
"Enggak apa-apa kok, aku cuma lagi mikirin proker apa yang pas buat individu aja. Hehe."
"Yaelah... pikir nanti aja pas udah tau kondisi disana. Nanti buat programnya yang sesuai sama keadaan disana aja. Biar lebih bermanfaat." Billa mengangguk dan tersenyum hangat mendengar saran dari teman barunya.