
"Kamu hutang penjelasan kepadaku bill" ucap Ratna cukup tegas. Matanya menyipit tajam seolah ingin mencubit pipi chubby milik teman dekatnya itu.
Billa tidak menggubris perkataan nya melainkan malah berdiri dan membayar pesanan dirinya dan Ratna. Mau tidak mau Ratna bangkit dan mengikuti langkah temannya. Keduanya diam tidak ada yang mau memulai percakapan. Sampai di kelas keduanya mengambil posisi duduk di depan meja dosen. Billa sengaja mengambil duduk di depan karena tidak mau di tanya banyak hal oleh Ratna. Tidak di sangka ternyata Ratna mengikutinya. Sambil menunggu dosen. Billa membuka ponselnya dan mendapatkan notice dari teman sebelah nya. Secara spontan Billa mencubit pipi Ratna dengan gemas.
"Apaan sih, sakit tau." Uarnya sambil memegang pipi nya yang memerah karena cubitan Billa.
"Kamu mau dengar penjelasan apa lagi ? bukannya aku udah ceritain awal mula kenal Zafran." Jawabnya dengan gemas.
"Iya juga ya, kenapa bisa chatting sih bill, kalian dekat ya .. " cecar nya seraya merapatkan bangkunya dengan bangku Billa.
"Kamu baca sendiri saja chatting nya. Males banget aku bahas laki-laki itu." Billa pun memberikan ponselnya ke tangan Ratna. Dengan cepat handphone itu sudah beralih ke tangan Ratna. Ratna mulai khusyuk membaca semua pesan yang terkirim dari Zafran ke Billa.
"Gila, kamu cuek banget sih sama Zafran, hati-hati Bill, jangan terlalu cuek. Dari cuek bisa saja jadi suka." Ujarnya sambil mengembalikan ponsel milik Billa.
"Kalau aku suka, terus kamu gimana ? bukannya kamu menyukai Zafran ?" jawabnya sambil tersenyum hangat.
"Ya kalau kamu suka dia aku ikhlas, insyaallah jodoh tidak kemana, wkwkwkwk."
Sebenarnya Ratna tidak menyukai Zafran, hanya mengagumi tidak lebih. Dirinya yang tidak pernah mendengarkan seorang mengaji dengan merdu, baru pertama mendengarkan lantunan indah itu dari mulut pemuda yang ternyata masih berstatus mahasiswa baru sama seperti nya membuatnya respect dengan Zafran. Tetapi kalau dijadikan kandidat calon suami atau pacar seperti nya tidak terfikir oleh Ratna. Ratna memiliki idaman yang jauh lebih dewasa. Dia sudah sering putus dengan pacarnya saat SMA membuat dirinya memutuskan untuk lebih baik tidak pacaran lagi dan mencari yang lebih dewasa dan berumur.
"Aku tidak tertarik" jawab Billa tanpa menoleh ke arah Ratna yang sedang memperhatikan nya dengan lekat. Billa bahkan cenderung sangat malas membahas Zafran. Entah apa yang membuatnya begitu kesal terhadap pemuda itu. Padahal suara Zafran dalam mengaji jauh lebih merdu di bandingkan dengan laki-laki yang dulu di sukai nya yaitu Rahman.
*
Billa sampai di kosan tepat setelah adzan ashar. Hari ini hanya ada Dua jadwal kuliah. Jam kedua dimulai pukul satu sampai setengah tiga sore. Setelah menyelesaikan perkuliahan nya Billa langsung pulang ke kosan dan istirahat sebentar sambil merebahkan tubuhnya pada ranjang kesayangan nya. Ditatapnya langit-langit kamarnya yang berwarna putih itu. Ada rasa yang tidak biasa ketika Billa mulai mempertimbangkan perkataan sang kakak. 'Aku harus bagaimana' ucapnya dalam hati. Penat dengan pikiran yang tidak ada habisnya membuat Billa sangat pusing dan segera melesat ke kamar mandi. Membasuh tubuhnya dengan air yang dingin membuatnya rileks dan sedikit tenang. Cukup lima belas menit melakukan ritual mandinya. Gadis itu keluar sudah memakai kaos pendek dan celana pendek wanita ala rumahan. Gadis itu langsung menggelar sajadahnya dan memakai mukenanya dengan rapih. Empat rakaat sholat ashar dia lakukan dengan khusyuk. Diakhiri dengan berdzikir dan bersholawat kepada nabi. Cukup lama gadis itu larut dalam bersholawat, tangannya bergerak menyentuh mushaf dan memulai melantunkan nya dengan merdu, ayat demi ayat dia lantunkan dengan menghayati setiap huruf dan rakaat agar tepat dalam membacanya. Membuat Billa melupakan segala kegelisahan yang ada pada benaknya. Sayup-sayup Billa mendengar kamarnya di ketuk oleh teman kosannya. Billa beranjak dengan segera merapihkan alat sholatnya dan beranjak membuka pintu.
"Ada apa Re ?"
"Bill, cari makan yuk buat nanti malem. Pumpung belum Maghrib. Nanti kalo udah Maghrib mager lagi buat pergi. ujung-ujungnya mie lagi" ujarnya seraya mengingat kan untuk tidak boleh terlalu sering mengkonsumsi makanan instan itu.
"Boleh nitip aja enggak sih Re, aku males keluar wkwkwk."
"Tunggu dulu ya, aku mau ganti. Pake motor mu aja ya, motorku sudah di masukin ke dalem."
"Iya" kata Rere sambil melenggang keluar kosan. Gadis itu menunggu Billa di motor sambil memainkan ponselnya.
.
Keduanya memutuskan untuk membeli pecel ayam saja. Rere memang teman kosan Billa yang paling dekat dengan nya. Mereka akrab karena kamar mereka yang bersebelahan, membuat nya sering bertemu dan mengobrol ketika sedang menyantap sarapan dan makan malam. Rere anak yang cuek sama dengan Billa. Keduanya enggan berbagi masalah pribadi. Lebih tepatnya tidak mau ikut campur urusan masing-masing. Rere juga berbeda fakultas dengan Billa, gadis itu mengambil jurusan ekonomi yang artinya fakultas bisnis. Sedangkan Billa mengambil fakultas tarbiyah atau lebih di kenal dengan keguruan. Saat keduanya asyik mengobrol sambil menunggu pesanan, ada dua pemuda duduk tepat di hadapan Billa dan Rere. Keduanya mendongak menatap sekilas siapa gerangan yang duduk tanpa izin, kedua gadis itu saling melirik seolah ingin mempertanyakan satu sama lain. Sementara itu, kedua pemuda tersebut sedang memesan makanan yang sama dengan Billa dan Ratna. Billa mengenali salah satu pemuda yang sedang menatap nya lekat itu, tapi dia tidak tahu siapa pemuda satunya yang juga sedang menatap Rere bahkan menggeser bangku nya untuk lebih dekat dengan bangku Rere. Rere mencoba untuk berbicara kepada Billa dengan berbisik.
"Kita balik aja yuk, tinggalin pesanannya. Biar aku bayar dulu." Ujarnya sambil berbisik.
Billa mengernyit heran kemudian mengangguk, keduanya lantas berdiri dan hendak melangkah. Namun suara berat seseorang memanggil namanya dengan sendu.
"Re, aku perlu ngomong sama kamu" ucapnya seraya berdiri dan hendak menggandeng tangan Rere. Namun Rere segera menepis tangan pemuda itu dengan kasar. Billa sampai mundur satu langkah karena tidak menyangka Rere begitu kasar kepada laki-laki.
"Aku gak mau ngomong sama kamu sampai kapan pun" ujarnya seraya menarik tangan Billa. Namun keduanya menghentikan lagi langkah kakinya setelah mendengar suara yang sangat familiar di telinga Billa.
"Bill, aku juga mau ngomong" ucapnya tegas seraya bangkit dari kursi. 'Apaan sih, Zafran ngapain segala pengen ngomong, Deket aja kagak. Kenal juga barusan.' Batinnya.
"Kamu mau ngomong sama cowok itu ?" tanya Rere seraya menoleh kearah Billa.
"Hem, lebih baik kita jangan bicarakan disini. Kamu selesaikan masalah mu dengan laki-laki itu. Aku juga ingin dengar, sebenarnya apa yang mau dibicarakan oleh Zafran" jawab Billa tenang.
"Baiklah, kita bawa saja pesanan kita, habis itu ikut mereka mau bicara dimana." Ucap Rere seraya membayar dua porsi miliknya dan Billa.
*
"Mau ngomong apa kamu ?"