
"Abang gak kerja ?" Tanya Billa di sela-sela sarapan paginya bersama keluarga. Reza menoleh ke arah adiknya yang cerewet itu dengan tersenyum.
"Enggak dek, ini hari libur" Ujarnya mengingat kan. Billa hanya mengangguk kikuk sebagai respond.
"Buya, Billa boleh ikut ke ladang ?"
"Ngapain ? Tidak usah nak, lebih baik kamu dirumah sama Umma bikin apa gitu yang seger2." Jawab Buya sambil mengelus rambut putrinya dengan sayang.
"Benar nak, kita buat Rucuh Dugan saja bagaimana ? nanti siang saat Buya pulang pasti enak diminum saat cuaca panas2." Usul umma yang di angguki oleh Reza.
Sebenarnya tujuan Billa ingin ikut aktivitas Buya ke ladang agar dirinya tidak menengok handphone nya. Dia benar-benar ingin melupakan pikiran negatif nya kepada Syafik.
"Baiklah, Abang yang ambil dugan nya di belakang rumah." Perintah Billa yang di acungi jempol oleh Reza. Keduanya pergi ke pekarangan belakang rumah untuk mengambil buah Dugan beberapa biji untuk dibuat minuman.
"Abang sudah berbicara dengan teman Abang ?" tanya Billa saat menangkap buah kelapa muda yang baru dipetik abangnya dengan tangga.
"Sudah, semalam Abang temui teman Abang langsung. Dan memang benar, dia tidak jujur soal perempuan itu sama Abang." Billa mengangguk sebagai respond.
"Alasannya apa sampai tidak jujur?" Billa semakin kepo dengan temannya dulu yang sangat tidak dia sukai itu.
"Karena perempuan itu sepupunya teman Abang, dia berharap jika Dita bersama Abang. Dita akan berubah menjadi lebih baik." Ujarnya seraya turun dari tangga merasa sudah cukup mengambil kelapa muda yang ingin dibuat minuman segar. Billa mengangguk dan segera mengumpulkan beberapa buah kelapa muda yang sudah dipetik langsung dari pohonnya.
"Bukankah jika proses ta'aruf harus jujur secara transparan ?"
"Hem, ini salah Abang juga, tidak menanyakan tentang perempuan itu dengan detail."Billa mengangguk mengerti.
"Ambil serutan sama mangkuk yang besar, biar Abang yang kupas kamu yang serut. Nanti umma yang kasih gula sama cendol biar enak." Ujar Reza mengintruksikan adiknya. Billa mengangguk pasti dan masuk kedalam untuk mengambil yang diperintahkan oleh Abangnya. Keduanya asyik mengobrol banyak topik sambil membuat rucuh yang sedang diberi gula dan cendol oleh Umma mereka.
*
Di sebuah asrama yang di huni oleh beberapa mahasiswa yang sedang menuntut ilmu, terdapat dua pemuda yang sama-sama sedang asyik dengan ponsel yang sudah diterima oleh mereka beberapa hari sejak hari libur tiba.
"Fik, asyik banget chatting nya. Memangnya Billa sudah liburan juga ?" tanya Rahman yang sedang asyik bermain game online di ponselnya. Syafik gelagapan dengan pertanyaan yang dilontarkan sahabatnya. Pria itu tidak menjawab pertanyaan malah asyik membalas pesan dari seseorang. Rahman yang penasaran karena sahabat nya yang biasanya terbuka dan menceritakan apapun itu soal gadisnya. Mendadak sejak liburan semester lalu berubah menjadi pria yang tertutup lagi. Ya, Syafik memang baru menghubungi Billa saat liburan semester empat ini kalau dirinya boleh memegang ponsel saat libur. Selama liburan semester satu sampai tiga dirinya tidak pernah menghubungi Billa kecuali pada pekan ke dua dan ke empat saat ada jadwal menelfon. Rahman sahabatnya pun tidak mengetahui hal itu. Keduanya sibuk urusan masing-masing. Namun hari ini Rahman melihat gelagat syafik yang tidak biasanya.
'Mau nelfon siapa sih, biasanya juga gak Sampek keluar kamar' batin Rahman mulai curiga. Dirinya diam-diam membututi langkah syafik yang ternyata memang sedang menghubungi seseorang.
"Maafkan aku, aku tidak bisa meninggalkan Billa sekarang. Aku butuh waktu untuk menjelaskan kepadanya Dita" Ucap Syafik tanpa mengetahui Rahman sudah di belakangnya dan mendengarkan pernyataan sahabatnya dengan jelas. Rahman mengepalkan tangannya kuat, dia menekan emosinya untuk tetap mendengar kan apapun yang akan di katakan sahabatnya itu kepada lawan bicaranya di handphone.
.
Rahman berlari ke arah masjid dan menenangkan emosi yang bisa dipastikan jika dirinya saat ini bertatap muka dengan syafik, akan melayangkan tinjunya pada wajahnya yang sok ganteng itu. Rahman sangat menyayangkan sikap syafik. Dirinya berfikir syafik adalah sosok yang setia, bahkan dirinya yang sering mengobral perhatian ke gadis-gadis nya tidak pernah menjanjikan bahkan mengajak nikah tanpa dirinya pikirkan baik-baik. Rahman tau betul syafik telah membuat janji kepada Billa untuk menikahinya setelah lulus. Bahkan di sela-sela jam menelfon pada pekan kedua. Pemuda itu terang-terangan mengajak nikah Billa saat itu juga. 'Gila, aku tidak pernah menyangka' Batinnya kesal. Rahman segera mengambil ponselnya dan menghubungi kekasih nya yang sudah dia pastikan hanya satu-satunya wanita yang ingin dia nikahi.
"Assalamualaikum Ra" ucapnya dengan nafas memburu. Membuat gadisnya heran dengan suara pria itu.
"Waalaikumussalam, ada apa ? kamu seperti orang habis lari"
"Hem, apa kamu sering bertukar kabar dengan Billa ?"
"Alhamdulillah masih sering, tapi memang aku jarang menelfon karena handphone ku bermasalah dari awal masuk. Alhamdulillah ini baru saja di kirim lagi oleh ayah" Ujar Ara menjelaskan.
"Pantas saja kalau di telfon tidak bisa, lalu selama ini kalau kita berkomunikasi itu kamu pake handphone siapa ?" tanya Rahman penasaran.
"Hehe, pinjam handphone teman. Tapi pakai kartuku. Hari ini baru saja nyampe handphone nya yang dikirim ayah. Makanya Kamu telfon langsung bisa" Rahman mengangguk dan mulai memahami.
"Jadi Billa tidak tau, kalau kamu setiap liburan semester boleh memegang handphone ?" tanya Rahman memastikan.
"Tidak, aku hanya menghubunginya jika ponsel temanku nganggur. Sama seperti aku menghubungi mu. Memangnya ada apa ?" Ara benar-benar dibuat bingung dengan percakapan dirinya dengan Rahman. Tidak biasanya Rahman mau membicarakan tentang orang lain saat bertukar kabar.
"Hubungi temanmu. Nasehati lah untuk jangan mengharap kan syafik." Ucap Rahman emosi. Ara mengernyit heran saat Rahman memerintahkan dirinya untuk menasihati sahabatnya. Rahman pun menceritakan yang di dengar dengan gamblang olehnya saat menguping tadi.
"Aku tidak menyangka, Tunggu, tadi kau bilang Dita ?" Rahman tidak menjawab melainkan hanya mengucapkan
"Hem" Dirinya benar-benar kecewa dengan sahabatnya telah berbuat seenaknya dengan Billa. Rahman tahu betul bagaimana perjalanan Syafik hingga mampu seperti ini dengan Billa. 'Astaghfirullah' batinnya kesal.
"Apa nama lengkapnya Anindita Aulia Renata"? tanya Ara menggebu.
"Mana aku tau, memangnya kenapa dengan nama itu ?"
"Astaga, jika sampai benar yang di maksud Dita itu, maka berikan pukulan yang pantas untuk temanmu itu" ucap Ara emosi. Ara akhirnya menceritakan sosok Dita kepada Rahman dengan detail dan memerintahkan Rahman untuk jangan menegur nya sekarang.
"Selidiki lah dengan baik selama liburan ini, Pumpung boleh memegang handphone pasti mereka sering bertukar kabar saat ini" Ucap Ara dengan nada kesal membuat Rahman mengangguk pasti seolah Ara mengetahui gerakan itu.
"Dasar Pemain hati bermuka datar" Ucapnya lagi.