Habibillah Hawaari

Habibillah Hawaari
Dia tersenyum



Billa dan teman-teman KKN lainnya kini tengah mendapat sambutan dari Bapak Camat beserta jajarannya dan warga setempat. Serah terima penitipan kelompok posko dua satu dua yang dipimpin langsung oleh Dosennya itu berlangsung sukses dan sesuai sebagaimana mestinya.


"Saya titip anak-anak saya disini Pak, jangan sungkan menghubungi pihak kampus apabila mereka berbuat sesuatu yang merugikan dan meresahkan masyarakat, saya juga mohon bantuannya untuk membimbing mereka dalam melaksanakan program kerja yang akan dilakukan selama empat puluh hari ke depan." Ucap Pak Ricky memohon dengan hormat dan santun.


"Siap Pak, sebisa mungkin kami akan membimbing mereka dan mengawasi mereka dengan baik. Jangan sungkan juga jika Bapak ingin menjenguk mereka disela-sela kegiatan yang berlangsung. Setelah ini staf kantor akan mengantarkan mereka kesebuah rumah yang dikhususkan untuk tempat tinggal mereka selama di desa ini." Kedua orang penting itu terus mengobrol membicarakan program yang akan dilaksanakan didesa setempat.


"Baiklah, Bapak dan anak-anak Mahasiswa tolong ikuti Pak Anton. Beliaulah yang akan menunjukan lokasi rumah yang akan menjadi tempat tinggal selama mereka disini. Mohon maaf sebelumnya karena tidak bisa mengantar juga. Ada prihal yang harus segera saya urus."


"Terima kasih sebelumnya Pak, tidak apa-apa semoga dilancarkan urusannya." Jawab Pak Ricky mengangguk hormat setelah menjabat tangan orang nomor satu di desa setempat.


Kantor kecamatan yang jauh dari tempat tinggal warga dan medan jalan yang tidak memungkinkan bus bisa melewati rute lokasi, membuat seluruh Mahasiswa tidak bisa melanjutkan perjalanan menggunakan Bus. Dengan terpaksa mereka harus berjalan kaki lumayan jauh untuk sampai ke lokasi tempat tinggal mereka dengan masing-masing menyeret koper dan barang bawaan lainnya.


"Mari Pak, saya antar. Perkenalkan nama Saya Anton."Ucap staf tersebut sambil menyodorkan tangan untuk berjabatan.


"Salam kenal Pak Anton, saya Ricky Irawan, maaf sudah merepotkan untuk mengantar kami."Balas Ricky menerima jabatan tangan dari Anton.


"Tidak masalah Pak, mari.."ujar Anton mengawali melangkah yang disusul oleh Ricky dan Mahasiswanya.


"Pak, boleh tidak kami balik lagi sekarang mengambil motor untuk berkendara disaat-saat tertentu. Kami tidak mungkin membeli produk atau kegiatan lainnya tanpa kendaraan disini." Ucap Alir memberanikan diri menghadap DPL poskonya yang kini juga sedang berjalan disamping staf kecamatan.


"Boleh, kamu nanti ikut saya pulang lagi ke kampus dengan menggunakan Bus. Nanti, kamu datang lagi kesini dengan membawa motormu. Kamu hafal rute ke lokasi ini kan ?"


"Hafal Pak, kami sempat cek lokasi sebelum pemberangkatan. Kami bahkan sempat beres-beres rumah yang akan menjadi tempat tinggal kami pekan lalu." Ricky mengangguk mengerti dan menepuk pundak Mahasiswanya.


"Persis dengan dugaan saya. Kalian pasti melakukan yang terbaik untuk proker kalian selama disini. Belum memulai saja kalian bisa terfikir untuk melakukan hal itu. Saya mengapresiasi kerja keras kalian." Ucap Ricky dengan penuh rasa bangga.


"Terima kasih Pak." Gumam Alir tersenyum haru mendapatkan apresiasi dari DPL langsung.


"Lir, lo gak kira-kira apa nyari tempat buat nginep kita semua. Ini terlalu sempit woy" ujar Raka dengan raut kesalnya.


"Hey, kalo kalian mau rumah yang lebar. Kita bangun rumah aja disini. Lo kira kita mudah nyari rumah buat tempat tinggal kita disini. Masih untung kita dikasih tempat tinggal sama Pak Camat. Cuma disini yang kosong Bro, yang lainnya rumah penduduk. Kalo kita sewa rumah penduduk, mereka tinggal dimana ? dan memangnya mereka mau menyewakan rumah untuk kita. Empat puluh hari coy. Itu bukan sehari dua hari." Jawab Alir kesal lantaran baru sampai dengan membawa paling banyak barang-barang yang diperlukan kelompok dan barang milik pribadinya sendiri.


"Sudah, dimana-mana KKN memang seperti ini. Kalau mau fasilitas dan rumah yang lebar. Kalian bukan KKN namanya, tapi liburan di vila milik pribadi." Ujar Dosennya menengahi keributan kecil yang terjadi oleh Mahasiswanya.


"Tapi serius Pak, ini terlalu kecil. Belum lagi kamar tidur yang juga kecil untuk kami semua. Itu hanya cukup untuk barang pribadi kami." Keluh Febri mewakili teman-teman lainnya.


"Begini saja, coba sekarang kalian atur tempat tidur nya. Setelah dibagi kamarnya, kalian bisa menentukan berapa orang dalam satu kamar. Untuk yang laki-laki kalian berempat tidak harus tidur dalam kamar. Kalian pasti bisa tidur diruang Tengah yang cukup lebar. Biarkan para wanita yang menempati kamar." Kesal tentunya, namun memang seperti itulah kondisi yang mereka alami. Tidak melulu soal kesenangan, apapun yang mereka alami nanti akan menjadi cerita yang patut dikenang.


Semua sepakat dengan usul yang diberikan oleh Dosennya, cukup lama dosen itu di lokasi. Selain membantu membereskan, beliau juga ikut serta merancang Program kerja kelompok mereka dengan memberikan berbagai usulan. Sedangkan Pak Anton yang sejak tadi melihat huru hara yang terjadi sudah kembali ke kantor camat untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Saya pamit dulu, insyaallah satu seminggu sekali saya akan datang menjenguk dan mengontrol program serta keadaan kalian selama disini. Ketua posko tolong bagi nomor kamu dan save nomor saya. Hubungi saya jika terjadi sesuatu. Kalian harus mengingat pesan saya sebelum berangkat." Ucap Ricky mewanti-wanti Mahasiswanya. Netranya mencuri pandang seorang gadis imut yang sejak tadi terlihat lelah dan cuek terhadap kehadirannya. Ricky sadar, dia tidak boleh berlebihan pada situasi yang mengharuskan baik Billa dan Ricky tidak boleh menimbulkan huru hara di lokasi KKN.


"Baik Pak, terima kasih karena sudah mengantar dan ikut membantu kami beres-beres di rumah ini. Sungguh kehormatan bagi kami bisa bersama Bapak lumayan lama" celetuk Ridho yang langsung membuat Ricky tersenyum.


"Siapa diantara kalian yang akan ikut saya kembali ke kampus untuk mengambil motor ?" tanya Ricky sekali lagi.


"Saya dan Raka yang akan ikut Pak, kami akan membawa motor kami kesini untuk keperluan kami selama disini."


"Baiklah, untuk kalian yang ditinggal oleh ketua kalian. Tolong kondisikan posko kalian dengan baik. Jaga barang-barang kalian dengan Baik. Silahkan beristirahat, besok kalian sudah harus menjalankan proker kelompok maupun individu kalian." Ujar Ricky memberikan wejangan terakhir. Ketiga pria itu akhirnya beranjak berdiri dan berjalan keluar rumah.


"Saya pamit, semoga Allah mudahkan tugas kalian selama empat puluh hari ke depan. Assalamualaikum" ucapnya lantang dan melambaikan tangannya setelah keluar dari rumah itu. Billa hanya mengangguk kecil saat keduanya tak sengaja saling bertatapan. Gadis itu tidak ikut melambaikan tangan, namun senyum di bibir tipisnya ikut menyertai langkah kaki pria itu.


'Dia tersenyum' ucap Ricky dalam hati. Bibirnya tersenyum senang disepanjang jalan menuju bus mereka yang terparkir dihalaman kantor kecamatan.