Habibillah Hawaari

Habibillah Hawaari
Akrab,



"Salam kenal Billa, Saya Dinda. Alhamdulillah akhirnya bisa ketemu kamu di kampus ini." Ucapnya ramah sambil mencoba berjabat tangan dengan Billa dan Ratna.


"Iya kak,Salam kenal juga. Apa kita saling kenal sebelumnya kak ?" jawab Billa sambil tersenyum.


"Belum dek, tapi insyaallah sebentar lagi kita akan saling mengenal satu sama lain, sekaligus Ratna kalau mau gabung ke UKM kami juga sangat boleh loh.." jawabnya dengan senyuman khas yang menawan.


Keduanya larut dalam obrolan ringan dan berakhir dengan saling tukar nomor ponsel. Saat ini Billa dan Ratna melanjutkan niatnya untuk pergi ke kantin.


"Kenapa tidak masuk ke Bahasa saja sih.. ? malah masuk ke bagian UKM binaan dakwah. Memangnya kamu mau belajar ceramah ya ?" ucap Ratna sambil menggerutu. Ratna memang sedikit bar bar dan selalu menunjukan jika tidak menyukai suatu hal. Contohnya saat ini, sejak keluar dari area stand sampai menuju kantin terus saja menggerutu dan kesal sendiri.


"Bukan belajar ceramah, tetapi mencari teman untuk tetap Istiqomah, kamu tadi penasaran kan apa aku tidak panas memakai baju dan jilbab yang panjang seperti ini ?" ujarnya sambil mencubit pipi teman bawelnya.


"Betul, lebih baik jangan terlalu panjang begini. Nanti panas, kamu malah tidak konsen waktu belajar di kelas. Kau tau ? dosen kita itu katanya Kating banyak yang killer loh, alias sudah lumayan banyak yang berkepala empat, jadi ya gitu."


"Tidak masalah untukku Ratna, justru aku nyaman dengan pakaianku, aku merasa terlindungi dengan apa yang melekat padaku. Justru kita sebagai Muslimah wajib menutup aurat kita" ujarnya sambil tersenyum.


"Baiiklah jika tidak panas, kalau kamu nyaman aku juga tak masalah. Sebenarnya aku juga ingin belajar seperti kamu Bill, tapi belum siap. Hehe,"


"Pelan-pelan saja Rat, dimulai dengan ikut agendaku dengan ka Dinda yuk." Ujarnya semangat.


"Boleh, tapi apa tidak masalah aku memakai pakaianku yang tidak panjang sepertimu ?"


"Tidak sama sekali." Jawabnya sambil menggandeng tangan Ratna, keduanya akan kembali ke gedung serba guna Fakultas Tarbiyah Keguruan untuk melanjutkan acara penutupan Ospek mereka.


.


Setelah mengikuti Ospek selama kurang lebih satu Minggu, kini mereka di nyatakan sebagai Mahasiswa yang sah di Fakultas dan prodi masing-masing. Sorak ramai dan kegembiraan di raut terpancar jelas dirasakan oleh para mahasiswa baru. Acara penutupan di meriahkan dengan berbagai pertunjukan dari panitia Ospek Mahasiswa Baru. Tidak ada rasa canggung lagi antar sesama mahasiswa, bahkan sudah mulai banyak yang mengenal dan hafal nama teman satu jurusan masing-masing. Tidak sedikit para mahasiswa yang mengabadikan momen penutupan ini dengan berfoto sebagai kenangan dan upload di media sosial. Begitupun dengan Billa, gadis itu juga sesekali ikut berfoto dengan teman satu prodi dan sekelasnya. Ada satu yang menarik disini, ketika ada seorang Kating menghampiri gadis itu sambil tersenyum ramah.


"Dek, Bisa kita ngobrol sebentar sebelum pulang ?"


"Boleh ka, Kakak mau ngobrol apa ?" jawab Billa tanpa basa basi.


"Besok datang ya, jam satu siang di masjid At-Taqwa. Disana akan banyak teman yang juga alumni Pondok Pesantren seperti mu. Kamu juga pasti mencari teman kajian kan ?" ujarnya.


"Okey, Kakak tunggu ya.. Assalamualaikum." Ujarnya seraya berjabat tangan dan melambaikan tangan kepada Billa.


'Ratna mana sih, kok lama banget foto-fotonya. Katanya mau pulang bareng ' batin Billa.


"Hoy, ngelamun sih, tadi kenapa Ka Dinda nyamperin ?"tanya Ratna sambil ikut duduk dan mendekat ke samping Billa.


"Ngagetin aja, dari mana aja sih, kok lama banget. Ayok pulang. Besok ikut aku ya, Tadi ka Dinda ajak kajian jam satu siang di masjid At-Taqwa belakang kampus besok" jawab Billa dengan semangat.


"Boleh, aku jemput tapi ya.., soalnya besok motorku kayaknya dipakai sama sepupuku. "


"Okey, yang penting aku sampai rumah Nenekmu kamu sudah siap. Jangan molor. Yuk pulang udah gerah banget aku Rat."


"Cuss"


Keduanya memang sudah sangat akrab. Bahkan sering menjemput satu sama lain. Billa yang terkadang malas membawa motor dan Ratna yang sering sekali motor nya di pakai sepupu membuat keduanya saling mengandalkan dan menawarkan siapa yang mau di jemput terlebih dahulu. Contohnya sekarang, Billa tidak membawa motornya, tadi pagi Ratna menjemput Billa di kost dikarenakan Billa malas menyetir. Akhirnya sampai pulang pun mereka harus bareng, untung saja kosan Billa dengan rumah Nenek Ratna tidak terlalu jauh. Cukup Lima belas menit sudah sampai.


"Jangan lupa besok jam satu siang ya Rat" ucapnya setelah turun dari motor Ratna dan pamit masuk ke kosan.


"Okeh, Kamu jangan lupa jemput aku boo" balasnya sambil memutar haluan untuk melaju pulang ke rumah. Billa mengangguk dan mengacungkan jempol kanannya pertanda siap.


*


Hari telah berganti, tepat pukul setengah tiga dini hari Billa terbangun karena suara alarm yang memekik di samping tempat tidurnya. Jam alarm yang sama membangunkannya untuk bangun malam menunaikan Sunnah Rasul yang sangat besar pahalanya bagi orang yang mau melakukannya. Jam itu di hadiahkan oleh Ara untuk Billa sebagai kenang-kenangan di hari pertama mereka menjalin sahabat. Keduanya bertukar kado jam alarm hanya beda bentuk dan warna. Tujuannya sama yaitu untuk membangunkan sholat malam. dan benar saja, begitu bangun Billa dan Ara pasti tersenyum karena melihat jam yang ada di sampingnya masing-masing. Mengingatkan mereka saat di Pondok, keduanya bangun untuk menunaikan Sunnah dan melanjutkan membaca Alquran di masjid dan tidak tidur sampai pagi. 'Duh, pasti Ara sekarang bukan jam segini bangunnya, lebih bangun awal lagi karena banyak hafalan. Makin kurus tu anak pastinya' batin Billa sambil tersenyum dan berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka dan mengambil wudhu.


Dua rakaat salam dan satu rakaat witir Billa tunaikan dengan khusyuk, setelah berdzikir Billa lantas menengadahkan kedua tangannya ke atas, memohon kepada sang pemilik hati untuk di tetapkan dalam ketentuan yang baik. Billa mengutarakan segala kegundahan hatinya yang rapuh, meminta petunjuk yang terbaik dari kegalauan yang sedang menimpanya.


"Ya Rabb, jika dia yang terbaik maka dekatkanlah dan berikanlah petunjuk untukku agar mengetahui nya, apabila dia buruk maka jauhkanlah secara baik." Ucapnya sambil menangis. Puas menangis dan mengadu, Billa melanjutkan aktivitas nya dengan membaca Ayat demi Ayat dengan merdu hingga tidak terasa sudah membaca sampai lima lembar ayat. Billa tidak melanjutkan tidur nya kembali melainkan membuka email yang sudah pernah dia baca sebelum nya. Di tatapnya layar leptopnya menunjukan data diri seorang laki-laki disertai foto setengah badan yang menunjukan wajah tampannya dan badan tegap nya.


.


"Syafik Putra Dewantara" gumamnya serius.