
Dua hari telah berlalu, Billa telah kembali bersama teman-teman KKN nya untuk melanjutkan program wajib dari kampusnya sebagai syarat akhir perkuliahan. Gadis itu kembali diantar oleh Kakaknya dan Istrinya.
"Sukses selalu Dek, jangan lupa sholat tepat waktu" Billa mengangguk dan meraih tangan Kakaknya lalu menciumnya dengan Takzim, gadis itu lalu berpamitan dengan Kakak Iparnya yang tengah tersenyum menatapnya.
"Jaga kesehatan sayang, sampai bertemu nanti" Ujarnya setelah Billa meraih tangannya.
"Terima kasih Mbak, aku pamit dulu. Assalamualaikum"
"Waalaikumussalam" kedua pasangan pengantin baru itu meninggalkan lokasi KKN Billa setelah memastikan Adiknya masuk kedalam Posko penginapannya.
"Assalamualaikum" ucap Billa menggema sambil memasukan banyak barang bawaan yang disiapkan dari Ibunya untuk teman-temannya.
"Waalaikumussalam, eh calon Istri sudah pulang. Calon mertua nitip apaan tuh ?" Billa hanya tersenyum menanggapi gurauan Raka sambil membuka banyak cemilan titipan Ibunya.
"Ini ada sedikit oleh-oleh dari Ibuku, bisa untuk stok ngemil kita ngerjain proker. Yang mau ambil saja ya."
"Sip, makasih ya Bill." Sahut Ridho langsung mendekat dan mengambil salah satu cemilan yang terlihat menggoda. Begitu pula dengan teman-temannya yang ikut mencicipi oleh-olehnya.
Gadis itu segera masuk kamar dan mengambil ganti untuk bersih-bersih menuju kamar mandi dapur.
"Teman-teman, besok insyaallah kita diundang dalam acara Perlombaan yang diselenggarakan oleh Kecamatan untuk warga desa. Kita bangun lebih awal untuk ikut menyiapkan acaranya, tadi Pak Lurah bilang kita ditunjuk sebagai panitianya." Alir memberitahukan info yang baru saja didapatnya setelah menerima telepon dari Lurah setempat.
"Ok" Jawab mereka serempak sambil mengemil oleh-oleh dari Billa.
"Gak kerasa ya.. kita udah dua puluh hari disini. Proker kita juga Alhamdulillah berjalan sangat baik. Ada ide enggak untuk malam terakhir kita ngadain acara yang wah agar bisa dikenang selama disini ?" celetuk Puri yang kini tengah merekap laporan harian selama KKN. Seluruh Mahasiswa yang mengikuti KKN wajib mencatat kegiatan harian yang dilakukan mereka selama empat puluh hari, beserta dengan bukti kuat yaitu dokumentasi. Maka dari itu setiap kegiatan mereka pasti menyempatkan waktu untuk berfoto.
"Gimana kalau kita adakan saja Pensi ? usul Dita yang langsung mendapatkan persetujuan dari teman-temannya.
"Wah seru tuh, kita bisa manfaatin anak-anak yang biasa belajar bareng kita sama remaja desa yang sudah mulai aktif memakmurkan masjid."
"Okey, kita susun acaranya dari sekarang, dan pekan depan kita harus sudah mulai latihan."
"Deal ya.., kita adakan Pensi untuk acara terakhir kita di Desa ini" Alir dan teman-temannya mulai menyusun acara yang akan dilaksanakan pada malam terakhir berada di Desa tempat mereka melaksanakan tugas KKN.
Billa yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan pakaian ala rumahan namun masih tertutup rapih dibuat terkejut saat melihat ruang tengah itu teman-temannya sudah berkumpul seperti sedang rapat.
"Apa kalian sedang rapat ?" Billa ikut duduk disamping Dita yang saat itu tengah mencatat kegiatan.
"Kita bakal adakan Pensi pada malam terakhir kita di desa ini. Lu ada ide enggak buat kasih penampilan apa." Billa nampak berfikir lalu kembali tersenyum saat menemukan sebuah Ide.
"Bagaimana dengan Drama ?" Tiwi langsung setuju dengan usul dari Billa.
"Hey, benar juga. Kita bisa tunjukan kemampuan kita semua lewat drama ini."
"Setuju, saat kita pulang nanti. Bertepatan sebelum hari kemerdekaan. Kita bisa memakai tema Hari Pahlawan." Usul Febri menambahkan.
"Sempurna!" Ide Billa dan teman-temannya sangat di setujui oleh teman-teman lainnya.
Siang itu posko dua satu dua disibukan dengan merancang kegiatan yang akan ditampilkan pada acara Pensi malam terakhir.
*
Pagi datang, Billa dan teman-temannya sudah bersiap dari subuh untuk menyiapkan acara perlombaan yang akan dilaksanakan hari itu juga. Kegiatan hari ini adalah memberikan penilaian dan mengawasi berbagai perlombaan antar desa.
Seperti yang dilakukan Billa, Puri, Raka dan Ridho,mereka berempat ditugaskan untuk menjadi panitia perlombaan tentang karya seni dari anak-anak desa yang memiliki bakat memanfaatkan barang bekas.
"Kalian hebat sekali, bagaimana bisa mengetahui kalau plastik bekas deterjen bisa dibuat berbagai karangan bunga dan tas pembawa barang seperti ini ?" Puri mulai mewawancarai ketiga anak yang diperkirakan kelas enam SD itu saat menunjukan karya seni yang telah dipajangnya dimeja penilaian.
"Kami mengumpulkan bahan ini dari rumah Kerumah, saat mendapatkan materi seni rupa dari Ibu Guru di Sekolah, kami mulai mempraktekkan dirumah dan hasilnya bagus. Maka dari itu Kami juga membuatnya untuk ikut perlombaan ini Kak" Jawab salah satu peserta kelompoknya.
"Berapa lama kalian mengumpulkan plastik ini sampai bisa membuat karangan bunga dan tas ini ?" Billa mulai penasaran dengan ide anak-anak desa yang dinilai sangat kreatif itu.
"Kurang lebih hampir satu Minggu. Kami juga mencarinya di berbagai kotak sampah, lalu kami mencucinya dengan bersih." Raka mengambil karangan itu lalu melihatnya dengan detail.
"Jika kalian yang mendapatkan juara satu, kalian akan menggunakannya untuk apa ?" Ridho mulai penasaran dengan tujuan dari ketiga anak tersebut mengikuti perlombaan.
"Hehe, kami hanya ingin menunjukan kalau kami bisa membuat karya bagus dari bahan bekas. Jika kami mendapatkan imbalan, maka itu bonus untuk tambahan uang jajan." Raka tersenyum lucu saat mendengar jawaban dari salah satu anak itu.
"Lalu, jika kalian tidak menang ?" ujarnya meledek sambil terus mengamati karya yang ada di hadapannya.
"Mungkin kami tidak lagi mengumpulkan plastik lagi dan berhenti membuat karya." Billa dan teman-temannya saling menatap mencari jawaban atas penuturan dari anak yang seperti putus asa dalam harapan.
"Sayang.., bukankah kalian tadi bilang kalau kalian hanya ingin menunjukan bisa membuat karya ? lalu kenapa kalian berhenti jika tidak menang ?" tanya Puri penasaran.
"Karena kami sebenarnya ingin mendapatkan hadiah agar bisa membeli sepatu baru." Raka meneliti sepatu yang dipakai ketiga anak perempuan itu lalu menghela napasnya dalam.
"Kenapa tidak meminta kepada kedua orangtua kalian ?"
"Mereka hanya bekerja sebagai buruh tani, upah mereka tidak seberapa dalam sehari. Jadi kami memutuskan untuk mengumpulkan uang sendiri."
"Baiklah, karya kalian sangat bagus. Kami akan mengecek karya dari teman kalian lainnya. Semoga beruntung ya.." Billa kembali melihat raut dari wajah anak-anak polos itu dengan sesak.
"Aku pikir, jika nantinya mereka tidak bisa meraih hadiah juara itu. Kita mungkin bisa membantu mereka sedikit." Billa memberikan usulnya kepada Raka yang saat itu memang berniat ingin memberikan uang kepada ketiga anak itu secara diam-diam.
"Hem, kita bisa melakukannya saat nanti selesai acara" Billa tersenyum tipis saat mendengar penuturan dari teman lelakinya itu.
"Kau tahu, KKN ini begitu banyak memberikan kita pengalaman." Ucap Ridho yang langsung disetujui oleh teman-temannya.