
Pagi itu Billa dan teman-temannya telah sampai di kampus setelah menempuh hampir dua jam perjalanan dari desa tempat KKN menuju kampus. Gadis itu menyeret kopernya dan menenteng Paper bag barang bawaannya setelah diturunkan dari Bus. Nampak puluhan Bus lainnya yang membawa teman-teman satu angkatan Billa juga baru sampai dihalaman rektorat Kampus.
"Kawan, kita berpisah disini. Untuk laporan, kita kerjakan laporan individu terlebih dahulu, sedangkan laporan kelompok kita atur waktunya di grup. Selamat beristirahat, sampai jumpa" ucap Alir saat teman-temannya sudah berkumpul turun sambil membawa koper masing-masing.
"Okey, selamat beristirahat semua" Billa dan teman-temannya serempak meninggalkan lokasi setelah bersalaman. Billa sudah menghubungi adik tingkatnya yang kebetulan satu tempat kosan dengannya. Gadis itu menyeret kopernya mencari tempat yang teduh untuk menunggu jemputan.
"Bila!! teriak seseorang yang begitu familiar di telinganya.
"Ratna !!" kedua perempuan itu berpelukan erat setelah sekian lama tidak bertemu. Billa mengamati perut teman dekatnya yang sudah sangat menonjol.
"Hey sayang, apa kamu baik-baik saja disana ? Kamu tidak rewel kan selama ikut Mamamu KKN ?" gumam Billa lirih menyentuh perut Ratna sambil berjongkok.
"Aku sangat baik Tante, aku hanya rewel sedikit kok" celetuk Ratna bersuara seperti anak kecil. Keduanya terkekeh bersama sembari berpelukan kembali.
"Aku sangat merindukanmu Bill,"
"Hem, aku juga." Keduanya mengobrol asyik sambil menunggu jemputan masing-masing.
"Ratna, apa kau akan kembali ke Banten setelah ini ?" tanya Billa sambil terus mengelus perut temannya.
"Hem, Sepertinya begitu, Kau lihat sendiri bukan ? Si Utun sudah sangat besar sekarang." Billa tersenyum hangat sembari mencium keponakannya kembali.
"Sayang.., Tante insyaallah akan menikah satu pekan lagi, apa kamu bisa hadir di acara penting itu ?" Ratna melepas cemilan ditangannya begitu saja lalu menoleh menatap teman baiknya yang kini tengah menatapnya dari bawah.
"Duduklah, katakan dengan baik Bill" ujarnya mencoba bersikap tenang dan tidak menimbulkan kehebohan. Mengingat keduanya saat ini tengah berada di kampus yang masih sangat ramai orang karena baru saja turun dari Bus.
"Ratna, insyaallah aku akan menikah Minggu depan, tepatnya pada hari Jum'at. Bisakah kau datang pada acara itu bersama dengan keponakanku ini ?" Ratna memeluk erat teman dekatnya dengan perasaan haru. perempuan itu bahkan sampai meneteskan air matanya lantaran begitu bahagia mendengar kabar baik Billa akhirnya datang.
"Aku akan datang, aku sangat bahagia mendengar kabar baik ini. Jaga dirimu baik-baik Billa, oh ya ampun.. calon pengantin wanita bahkan masih berkeliaran diluar saat satu pekan akan menikah." Billa tersenyum hangat menanggapi ocehan teman dekatnya.
"Kak Billa" sapa seseorang sambil memainkan kunci motornya ditangan kanannya. Billa menoleh dan benar saja, adik tingkatnya telah datang untuk menjemputnya.
"Aku harus pergi sekarang, jaga dirimu baik-baik. Kita sambung lewat telepon. Assalamualaikum" Billa pergi setelah memeluk erat teman dekatnya.
Setelah sampai di kosan, gadis itu tidak langsung beristirahat. Billa dengan cekatan mengemasi barang-barang yang hanya seperlunya dibawa. Kakaknya Reza telah menghubunginya untuk bersiap-siap pulang.
Billa merebahkan tubuhnya yang lelah diatas kasur mungilnya yang telah lama ditinggal. Kantuk yang sempat menyerang saat di Bus mendadak hilang saat mengingat sebentar lagi dirinya akan menikah.
"Aku serahkan segalanya kepadamu Ya Rabb, jika memang dia yang terbaik maka turunkan Ridho kepada kami." Gumam Billa lirih menatap langit-langit pada kamarnya. Suara ponselnya yang memekik membuatnya segera bangkit menyambar ponsel yang diletakan diatas meja belajar.
"Assalamualaikum Dek, Abang didepan. Sudah siap kan ?"
"Waalaikumussalam Bang, iya. Billa akan keluar." Sesuai prediksinya, Kakaknya itu pasti akan menjemput secepatnya. Mengingat, Umma dan Buya begitu khawatir tentang dirinya yang sebentar lagi menikah namun tidak ada dirumah.
"Makasih Bang, Mbak Winda kenapa gak Ikut ?" tanya Billa saat Kakaknya sudah memasuki mobilnya.
"Dirumah lagi repot, Sayang.. kita mampir sebentar ke rumah makan ya.. Kamu juga pasti lapar" Billa mengangguk setuju sembari tersenyum. Kedua Kakak beradik itu begitu menikmati perjalanan, Reza banyak memberikan wejangan kepada Adiknya yang sebentar lagi mengemban amanah menjadi seorang Istri.
"Apa Ricky tidak menghubungimu sama sekali Dek ?" tanya Reza penasaran.
"Beliau sempat menghubungi tapi sepertinya setengah bulan yang lalu saat masih KKN." Reza mengangguk mengerti lalu memarkirkan mobilnya dengan lihai saat sudah sampai.
"Ayo Dek, kita makan siang dulu. Perjalanan lumayan lama." Reza menggandeng tangan Adiknya saat memasuki restoran cepat saji itu.
"Dek, tunggu disini. Abang ke toilet sebentar." Billa mengangguk mengerti sembari mencari tempat duduk ternyaman baginya. Saat hendak duduk, netranya menangkap bayangan sosok laki-laki yang sangat dikenalnya tengah duduk bersama dengan seorang perempuan yang sangat cantik yang juga dikenalinya.
"Bukankah dia.." Billa segera mengambil posisi duduk dengan memunggungi kedua orang tersebut saat seorang wanita cantik tersebut ingin melihatnya.
"Dek, kenapa ?" tanya Reza melihat gelagat aneh dari Adiknya seperti sedang menghindari seseorang.
"Gak Apa-apa kok Bang, cuman capek aja" celahnya mencoba bersikap tenang dan cuek dengan sekitar. Reza memesan makanan dan minuman sesuai dengan selera keduanya.
"Bang, apa Abang mengenali seseorang yang sedang duduk di arah pukul tiga dari tempat duduk Abang ?" tanya Billa saat Kakaknya hendak menyantap makanannya. Reza langsung melihat sekitar dan benar dugaan Billa, Kakaknya pasti mengenal seseorang yang sedang duduk tak jauh dari tempat duduk Reza dan Billa.
"Astaghfirullah. Kenapa bisa kebetulan begini. Mau pindah restoran ?" tanya Reza saat melihat wajah Adiknya begitu mendung.
"Tidak perlu, kita disini untuk makan. Anggap saja kita tidak mengenal ataupun mengetahui keberadaan mereka disana."Jawab Billa dengan tenang, Gadis itu nampaknya mencoba untuk bersikap acuh dan baik-baik saja.
"Baiklah, kita segera selesaikan makanannya dan langsung pulang. Buya sudah menghubungi Abang tadi." Billa mengangguk sembari menyantap makanannya dengan tenang.
Billa melangkah keluar dari restoran terlebih dahulu, saat Kakaknya melalukan pembayaran. Gadis itu memang sengaja menghindari dari kedua orang yang dikenalnya cukup baik.
"Annisa" ucap seseorang dengan suara beratnya yang sangat dikenali oleh Indra pendengaran Billa. Gadis itu cukup kaget namun berusaha setenang mungkin untuk bersikap.
"Iya ?" Keduanya saling menatap sekilas dengan Billa yang memutuskan terlebih dahulu untuk memandang ponselnya.
"Bill, Aku -"
"Billa, Ayo Dek," Reza dengan tenang mengambil tangan Adiknya untuk digandeng menuju parkiran. Gadis itu menatap sekilas pria yang begitu dikenalnya sebelum meninggalkannya sendirian.
"Aku minta maaf, sungguh aku menyesal karena telah bersikap bodoh saat itu" gumamnya lirih menatap kepergian seorang gadis yang masih begitu diharapkannya.
"Sayang.., dari tadi dicariin ternyata kamu diluar." Ucap seorang wanita dengan suara manjanya.