Habibillah Hawaari

Habibillah Hawaari
Ayam Goreng Lengkuas, Capcay dan Salad Buah



Billa melihat paper bag yang ada dihadapannya sekarang dengan tatapan yang sulit diartikan. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Billa sangat menghargai niat dosennya. Namun rasa kecewa dengan masa lalunya jelas membuatnya ragu untuk melangkah. Billa membuka pemberian dari Ibu Dosennya itu dengan tenang, dilihatnya menu sarapan lengkap tertata rapih disana. Sekilas membuatnya tersenyum tipis sambil mengeluarkan satu persatu makanan yang di tata rapih menggunakan kotak makan.


"Umma..." satu kata lolos dari bibirnya ketika melihat deretan menu lengkap dihadapannya, Billa langsung teringat dengan Umma yang selalu menyiapkan masakan lengkap ketika dirinya sedang libur dirumah. Ibu Nadia khusus memasak sendiri untuk calon menantunya yang belum ACC itu. Menu ayam goreng lengkuas dan capcay bakso beserta sayuran yang lengkap jelas menggugah selera anak kosan diwaktu yang rawan ini. Tak lupa potongan buah segar yang sudah dibuat menjadi salad buah tentu saja menjadi nilai plus Dimata Billa.


"MaaSyaAllaah..., Ibunya Pak Dosen baik sekali. Eh.., bisa-bisanya Ibunya tadi bilang yang membuat khusus ?" Billa menggigit bibir bawahnya lantaran penasaran bagaimana bisa Ibunya menyiapkan makanan untuk mahasiswi anaknya.


"Astaghfirullah..., apa beliau bilang ke Ibunya ?" tebak Billa merasa tidak enak hati menerimanya. Billa berjalan mondar-mandir sambil memegang ponsel ditangannya. Bingung antara ingin menanyakan dengan Dosennya langsung atau membiarkan saja.


"Mana boleh begitu Billa..., gak sopan namanya." Gumamnya lirih. Billa menggeleng pelan saat ada niat ingin bersikap cuek dan masa bodoh.


Ding


{"Apa sudah sarapan ?"}~Pak Ricky Dosen Mentopen


Billa memandang ponselnya tanpa ada niat untuk membalas, terlalu malu jika harus terus meladeni Dosen itu. Billa bahkan berniat menghindari kontak selain membahas perkuliahan. Gadis itu hanya membacanya, setelah itu meletakkan kembali diatas meja.


Ricky berjalan memasuki ruangannya dengan senyum sumringah. Pria itu sepertinya benar-benar sedang kasmaran. Padahal jelas sekali Billa belum menerima CV ta'aruf nya. Suara ketukan membuatnya beranjak dari kursi kerjanya dan membuka pintu ruangannya.


"Selamat pagi Pak.., Saya Adel. Mahasiswi Bapak pada mata kuliah Statistik" ucapnya tersenyum manis. Ricky hanya menatapnya datar kemudian mempersilahkan Mahasiswinya masuk tanpa menutup pintu ruangannya.


"Ada keperluan apa Anda ?" Dosen itu akan terlihat kalem sesuai dengan tempatnya. Ricky akan terlihat menengangkan jika menghadapi model Mahasiswi seperti Adel. Wajahnya yang tampan jelas membuat banyak Mahasiswi yang kebetulan menerima mata kuliahnya sering menemuinya tanpa kepentingan yang jelas. Tak jarang Dosen yang terlihat ramah di kelas itu akan memperlakukan Mahasiswi yang kelewat batas berurusan dengan bagian kemahasiswaan.


"Saya ditugaskan untuk mengatur kelas statistik Bapak di kelas kami. Dikarenakan hari Rabu lalu Bapak absen dari kelas." Ricky mengangguk tanpa menatap Adel yang sejak tadi menatapnya lekat.


"Sepertinya Jadwal saya padat pekan ini. Ganti dengan tugas saja. Saya akan kirimkan tugas pada email kelas kalian." Ucapnya tetap menunduk sambil memeriksa jadwal pada ponselnya. Adel tersenyum kecut ketika mendengar penuturan Dosennya.


"Tapi Pak.. bukankah Bapak seharusnya hadir untuk menjelaskan materi populasi dan sampel ?" ucap Adel penuh dengan kelembutan.


"Benar. Saya akan rekap dengan pertemuan pekan depan." Jawabnya menahan emosi. Melihat Mahasiswinya yang diam saja tak kunjung bergerak keluar membuat Ricky menarik nafasnya dengan kasar dan beranjak berdiri..


"Keluar sekarang atau menghadap Pak Ghani bagian Kemahasiswaan." Titahnya dingin seraya memegang ponselnya untuk menghubungi rekan kerjanya pada bagian kemahasiswaan.


'Sial, Lihat saja. Pak Ricky pasti menjadi milikku.' Batinnya mendumel kesal. Adel memaksakan senyumnya semanis mungkin sebelum beranjak dari kursinya.


"Baik Pak.. Saya tunggu email dari Bapak ya.." ucapnya lembut seraya bangkit dan hendak mengambil tangan Dosennya untuk di cium. Ricky menyembunyikan tangan kanannya seraya mundur beberapa langkah dengan menatap tajam Mahasiswinya.


"Upsss.. Sorry. Sampai jumpa pekan depan Bapak sayang" Adel melenggang pergi dengan santainya setelah mengatakan hal menjijikan di telinga Ricky. Pria itu segera menghubungi rekannya untuk menangani Adel secepatnya, agar menjadi pelajaran untuk Mahasiswi lainnya dalam bersikap.


"Pagi-pagi kenapa sudah membuat moodku berantakan. Padahal baru saja aku bahagia karena Billa." Ujarnya berbicara sendiri sambil memutar kursi kerjanya yang sedang Dia duduki. Ricky segera mengambil ponselnya untuk mengecek balasan dari gadisnya yang imut itu. Namun sayang, chatnya hanya dibaca oleh Billa tanpa dibalas.


"Huh.. Apa dia masih marah karena Aku datang ke kosannya ?" ucapnya sambil berlalu meninggalkan ruangan untuk mengajar dikelas lain.


.


Billa melihat pantulan bayangannya dicermin. Gadis itu tengah bersiap untuk melaju ke kampus. Waktu masih menunjukan pukul Setengah sepuluh, sedangkan hari ini Billa hanya ada mata kuliah jam satu siang. Bukan tanpa alasan gadis imut itu berangkat awal. Billa memutuskan untuk mengerjakan tugas lainnya di perpustakaan pusat. Dia juga sudah membuat janji dengan teman dekatnya Ratna. Suara klakson motor milik Ratna mengagetkan Billa yang sedang melamun sambil menatap dirinya dicermin.


"Tunggu..!"teriak Billa dari dalam kamar seraya menenteng laptop dan tasnya.


"Hayuk, udah siap kan ?" Billa mengangguk dan menaruh laptopnya di meja ruang tamu.


"Aku mau kunci kamar dulu. Nebeng ya hari ini, males banget mau bawa motor. Hehe"


"Bilang aja bensinnya habis." Sindir Ratna bergurau meledek teman dekatnya.


"Hehe, ada sih. Cuman beneran lagi males." Ucapnya membela diri. "Udah makan belum ? itu ada sayur sama lauk kalo mau sarapan" tawar Billa karena merasa tidak akan bisa menghabiskan masakan Ibu dari Dosennya dalam sehari.


"Wih, habis dapet kiriman kah ?" ucap Ratna sambil membuka satu persatu menu yang tersaji dihadapannya. Billa tidak menjawab pertanyaan temannya. Dirinya hanya sibuk menyiapkan nasi dan minum untuk Ratna untuk sarapan.


"MaaSyaAllaah..., enak banget ini. Ibu kamu pintar masak ya.." ujarnya sambil terus melahap makanannya.


"Hem., kalau lagi makan jangan banyak bicara. Cepat habiskan nanti keburu siang perpus tutup istirahat" jawab Billa mengalihkan topik agar temannya tidak curiga.


"Idih apaan sih, tadi nawarin, sekarang minta cepet-cepet. Ikhlas enggak sih bo" cicit Ratna kesal.


"Astaghfirullah.., iya maaf. Sekarang habiskan ya.. Jangan banyak tanya lagi. Gak baik juga nanti kesedak" Ratna mengacungkan jempolnya sebagai tanda setuju.


"Ih sumpah ini enak banget. Aduh mana ada saladnya juga. Aku mau dong..."Billa menggeleng pelan seraya mengambilkan permintaan teman dekatnya.


"Salad buahnya memang enak banget, Aku suka banget sama buatan Ibunya Pak Ri-" Billa menggantungkan ucapannya setelah sadar telah berbicara panjang. Gadis itu segera menutup mulutnya rapat saat menyadari Ratna menatapnya dengan curiga.


"Ibunya Pak Ri siapa ?"