
Diperjalanan pulang ke kosan, Billa menyempatkan untuk membeli sebungkus makan siangnya. Gadis itu terlihat senang sekali karena tadi sempat bertukar pesan dengan sahabatnya Ara. Sebenarnya dia menunggu seseorang menghubunginya hari ini, tapi sepertinya waktu yang terbatas membuatnya menunda untuk menghubungi Billa. Setelah membasuh tubuhnya yang lengket, Billa lantas mengambil makanan yang tadi sempat di belinya, niat hati ingin makan siang di tunda karena panggilan telepon yang berbunyi nyaring.
Billa mengernyitkan dahi, tanpa pikir panjang dia menolak panggilan tersebut. Baru ingin meletakkan handphone nya kembali berbunyi.
.
Ding.
"Angkatlah, aku tidak punya waktu banyak."
By. Syafik Putra Dewantara
Hatinya diliputi rasa yang sulit di artikan, hanya sebuah pesan singkat dan nama yang tertera di bawah pesan membuatnya membeku dan lemas untuk beranjak. Seseorang yang sejak tadi pagi di nanti, ternyata menghubungi nya sekarang. Perempuan itu tidak langsung membuka pesan wa nya,dia hanya membaca lewat dinding ponsel pemberitahuan. Matanya berkedip beberapa kali untuk memastikan bahwa ini bukan halusinasi. Berulang kali dirinya berusaha tenang dengan menarik dan menuang nafas secara teratur. Lama tidak di respond membuat pria itu nekat menghubunginya kembali. Billa sebenarnya faham, kenapa syafik menelfon langsung. Mengingat waktu yang terbatas dalam berkomunikasi pasti membuat pria itu tidak mau membuang waktu untuk bertukar pesan. Lagi pula dia memang tidak suka bertele-tele. Pada deringan ketiga Syafik kira Billa tidak akan mengangkatnya, ternyata gadisnya merespon dengan panggilan tertera terhubung tetapi belum membuka suara.
.
Keduanya sama-sama hening, bingung bagaimana memulai percakapan mereka. Di ujung sana Syafik tersenyum dengan tingkah gadisnya. Bukannya mengucapkan salam malah diam seribu bahasa.
"Assalamualaikum Bill" ucapnya lembut.
"Waalaikumussalam" sebenarnya Billa tidak ingin salah tingkah seperti ini, entah sulit sekali baginya untuk berbicara santai seperti sebelumnya,lantaran sekarang waktunya Billa memberikan jawaban yang sudah dia istikharah kan dan pertimbangkan dengan matang.
"Aku tidak memiliki banyak waktu untuk kita berkomunikasi Annisa, aku yakin kamu mengerti maksudku menghubungimu hari ini. Aku siap dengan apapun jawabanmu" ucapnya gamblang penuh dengan kelembutan.
"Bagaimana kabarmu ?" Syafik tidak menyangka, bukan langsung menjawab Billa justru menanyakan kabar. Membuat pria itu tersenyum tipis dan ber dehem untuk menghilangkan rasa canggung yang luar biasa.
"Ehem', kabarku sangat baik. Bagaimana kabarmu disana ?"
"Alhamdulillah, aku disini baik juga" ada sedikit perasaan yang tidak bisa Billa ungkapkan setiap mendengar suara pria itu.
"Alhamdulillah.., Bagaimana dengan kuliahmu ?"
"Sangat menyenangkan, meskipun ini hal baru bagiku. Tapi aku menyukainya dan mulai bisa berdamai dengan keadaan" ujarnya mulai tidak canggung mengungkapkan apa yang dirasakan selama di kampus.
"Annisa, waktuku hanya dua puluhnmenit untuk berbicara, sepuluh menit lalu aku mengabari ibu dan ayahku kalau aku disini baik-baik saja. Setiap mahasiswa hanya diperkenankan melakukan panggilan selama tiga puluh menit setiap dua pekan sekali" ujarnya ingin Billa mengetahui apapun tentang syafik tanpa ada yang di tutupi.
"Hem, aku mengerti. Dengarkanlah dengan baik apa yang akan aku katakan kepadamu" ucap Billa seraya duduk menatap laptopnya yang sudah dia nyalakan sejak subuh tetapi belum di matikan. Ketika keyboard nya di sentuh kembali akan otomatis menyala, kini wajah syafik terlihat jelas di leptopnya. Billa memang sengaja membaca CV nya lagi tadi subuh, dia sudah membacanya sebanyak tiga kali untuk memantapkan hatinya dalam memutuskan apa yang akan dia berikan jawabannya jika hari ini syafik menghubungi nya.
"Iya.. "
"Berjanjilah untuk selalu mengabari ku jika ada waktu, jangan membuatku cemas dan tetaplah belajar disana dengan nyaman. Bissmillah aku akan mencoba menerimamu" ucapnya lega setelah mengungkapkan keputusan nya itu.
Sementara di sebrang sana tidak ada yang tahu bagaimana hati syafik sekarang berbunga-bunga setelah mendengar jawaban dari gadis yang selama satu tahun ini disukainya secara diam-diam. Bibirnya tersenyum lebar dan bergumam "Yes" dengan lirih.
"Tidak, Aku berjanji akan selalu berusaha untuk memberikan kabar untukmu. Belajar lah dengan tenang di kampus itu. Aku akan segera selesaikan kuliahku disini. Jaga hatimu untukku ya" ucapnya tenang.
"Hem, jaga dirimu baik-baik disana"
"Pasti, waktuku sudah habis. Terima kasih banyak telah memberikan kesempatan untukku. Aku harus pamit, berdoa lah untuk segala harapan kita. Semoga Allah menjagamu selalu. Assalamualaikum Annisa" ucapnya sendu.
"Waalaikumussalam" ucapnya penuh dengan rasa lega. Hatinya di penuhi oleh rasa bahagia, sebenarnya jika dibolehkan Billa lebih baik menikah sekarang saja. Mengingat sebenarnya apa yang di jalani dengan syafik merupakan hal yang di larang dalam syariat. Mengunci seseorang agar tidak menerima lamaran orang lain tanpa sebuah ikatan yang jelas. Jelas itu dilarang. 'Apa aku harus memintanya untuk meminang ku saja dulu, menikahnya nanti setelah lulus' batinnya bingung.
***
Disudut ruangan kantor, seorang pemuda dengan wajah tampan dan tegas itu sedang sibuk dengan buku-buku para santri yang baru saja diterimanya untuk dikoreksi. Zafran baru saja selesai mengajar dan mengoreksi soal latihan yang di berikan oleh nya. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya di ruangan itu, untuk membuang rasa rindunya agar tidak selalu mengingat Billa.
.
Ding.
"Zafran, maafkan aku, tolong dengar dulu penjelasan ku. Aku ingin bertemu denganmu, bisakah kita bertemu di tempat favorit kita dulu ?"
Pria itu menghela nafasnya dengan berat, memejamkan matanya sejenak dan mulai mengatur nafasnya untuk menemukan ketenangan.
"Sore ini, tepat pukul setengah lima. " jawabnya singkat.
"Baiklah" dibumbui emoit love.
Pria itu lantas keluar ruangan untuk menunaikan kewajiban sholat ashar menuju masjid pondok. Dia juga menjadi imam sholat kali ini, Abah yang juga sedang mengontrol aktivitas pondok, tersenyum melihat anak bungsunya yang sudah mulai terjun ke pondok. Keduanya bertemu saat Zafran hendak kembali ke ruangannya untuk mengambil kunci mobil yang tertinggal.
"Zafran, Abah senang kamu mulai aktif di pondok nak, Abah ingin melihat CV calon menantu Abah. Apa sudah ada di tanganmu ?"
"Belum bah, sepertinya Zafran harus berusaha lebih keras untuk mendapatkan nya. Gadis itu menolak untuk Zafran nikahi sekarang. Tapi dia juga tidak menolak Zafran jika ingin menunggu" jawabnya sedikit berbohong. Padahal jelas-jelas Billa melarangnya untuk menunggu.
"Nak, Abah rasa yang di lakukan dia untuk kebaikan kalian, mungkin saja dia belum siap untuk menikah. Zafran, anak teman Abah juga banyak yang Sholihah, apa kamu mau Abah kenalkan jika memang sudah ingin menikah maka Abah tidak akan menghalangi mu untuk memanen kebaikan" ucap Abah bijak, sebenarnya Abah bisa melihat ada rasa kecewa di mata anaknya saat mengatakan pihak perempuan menolak untuk nikahi putra nya. Tapi Abah tidak akan ikut campur, mungkin saja memang dengan cara ini Zafran akan fokus ke pondok dan kuliahnya.
"Zafran pamit ya bah, Zafran ada janji untuk bertemu seseorang, Abah bawa mobil sendiri kan ?"
"Iya nak, Hati-hati saat mengemudi. Sampai bertemu di rumah"
"Assalamualaikum" pamit Zafran meraih tangan Abah dengan takzim.
***